
Zayen yang merasa tidak enak hati terhadap ayah mertuanya pun langsung menggeser ayam geprek miliknya, sebenarnya ada rasa yang tidak enak dihatinya. Mau bagaimana lagi, pikirnya. Mau tidak mau, Zayen harus memberikan separuh ayam geprek miliknya yang masih sisa di piring kecilnhya.
"Ini, Pa ... ayam gepreknya. Sebelumnya Zayen minta maaf, jika harus memberikan separoh ayam geprek bekas Zayen untuk papa." Ucap Zayen yang merasa tidak enak hati, sebenarnya Zayen ingin memesannya lagi. Namun, ayah mertuanya menolak untuk dipesankan lagi. Justru ayah mertuanya lebih memilih ayam geprek miliknya, sedangkan sang ayah mertua menggeser ayam gepreknya untuk Zayen.
Dengan seksama, tuan Tirta mengamati ayam geprek milik Zayen yang penuh lumuran sambal.
"Pa, itu ayam gepreknya terlihat sangat pedas. Papa yakin, mau memakannya? itu sambelnya sangat banyak." Ucap Afna menimpali untuk mengingatkan ayahnya yang sedang tergiur ayam geprek milik Zayen, suaminya.
"Kenapa tidak yakin, papa rasa ayam geprek milik Zayen memang sangat menggoda." Jawab sang ayah berusaha untuk meyakinkan putrinya.
Afna yang sedari tadi hanya fokus pada ayam geprek yang berlumuran sambal, Afna hanya bisa menelan salivanya dan menggelengkan kepalanya penuh dengan rasa heran.
"Iya, Pa. Yang dikatakan Afna ada benarnya, kasihan perut papa. Nanti kalau mulas, bagaimana?" sang ibu pun ikut mengingatkan, takut jika setelahnya akan mendapat getahnya.
"Sudahlah, kalian bertiga kenapa menatap papa seperti itu. Percayalah, ayam gepreknya tidak seperti yang kalian kira." Sindirnya sambil menarik piring kecil yang ada ayam geprek yang berlumuran sambel yang tengah menggoda tuan Tirta.
Zayen maupun Afna dan ibu mertuanya hanya mengalah atas pilihan yang diminta tuan Tirta. Sedangkan Zayen dan istrinya maupun sang ibu mertua mulai menikmati ayam gepreknya.
Zayen mulai mengunyah ayam geprek yang sudah ditukar oleh ayah mertuanya. Meski hambar tidak terasa pedas, Zayen tetap memakannya dengan lahap.
Berbeda dengan ayah mertuanya, tuan Tirta mulai serba salah saat menikmati ayam gepreknya. Lidahnya semakin panas dan terasa terbakar api.
Zayen yang memperhatikan ayah mertuanya yang menahan rasa pedas yang berlebihan merasa kasihan dan tidak enak hati, Zayen yang melihat ekspresi ayah mertua hanya menelan salivanya dengan susah payah.
Tidak hanya itu, Afna dan ibunya pun ikut menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
"Pa, minum air dinginnya." Ucap sang ibu menyodorkan air putih yang dingin kepada suaminya, karena merasa kasihan saat melihat ekspresinya.
"Jangan, Ma. Disaat makan makanan yang pedas tidak baik minum air dingin, biar Zayen ambilkan air hangat." Ucap Zayen menimpali, dan kemudian segera mengambilkan air hangat untuk ayah mertuanya.
"Ini, Pa. Silahkan diminum, maafkan Zayen yang sudah membuat papa kepedasan." Ucap Zayen sambil memberikan air minum hangat untuk ayah mertuanya.
Tuan Tirta benar benar menyesal tidak mempercayai menantunya, dan kini merasa tidak tahan merasakan pedasnya sambal punya menantunya. Tuan Tirta segera meminumnya, beliau sudah tidak tahan menahan lidahnya yang terasa seperti terbakar. Ditambah perutnya yang juga terasa panas, dan tidak karuan rasanya.
"Bagaiman rasa pedasnya, Pa? pedasnya sangat enak 'kan?" ledek sang istri dibarengi senyum.
"Papa nyesel, tidak tahunya sangat pedas. Kamu memang benar benar jagonya pedas ya, Zayen. Papa kapok, sudah tidak mempercayai omongan kamu." Ucapnya sambil menahan rasa pedas dan lidahnya yang terasa terbakar.
"Sekali lagi maafkan Zayen ya, Pa. Zayen sudah membuat makan malam papa tidak karuan rasanya." Merasa tidak enak hati, Zayen berkali kali meminta maaf. Sedang ayah mertuanya merasa puas dapat menikmati ayam geprek yang penuh tantangan bersama anak istri beserta menantunya.
Afna dan kedua orang tuanya sedang menunggu Zayen sambil duduk didekat parkiran. Karena merasa tidak ingin mengganggu putrinya dan menantunya, sang ayah mengajak istrinya untuk pulang lebih dulu.
Namun, belum berpamitan dengan kedua putrinya sudah didahului oleh putrinya.
"Pa, Afna pulangnya belakangan bersama suami Afna. Tidak apa apa kan, Pa ... Ma."
"Tidak apa apa, papa dan mama tidak melarangmu kemanapun kamu dan suami kamu berpijak. Kalau begitu, papa dan mama pulang duluan." Jawab sang Ayah dengan lembut.
"Selamat malam putriku, jangan terlalu larut malam pulangnya. Sayangi kesehatan kamu dan suami kamu, jalan jalan malamnya masih banyak waktu untuk dinikmati." Pamit sang ibu dan memberinya pesan, Afna hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah bayangan kedua orang tua Afna tidak nampak lagi, tiba tiba Zayen menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil menunggu sang suami yang sedang membayar tagihan makan malamnya.
__ADS_1
"Mama dan papa ada dimana? kenapa tidak terlihat batang hidungnya." Tanya Zayen kemudian ikut duduk disamping istrinya sambil celingukan mencari keberadaan kedua orang tua istrinya.
"Papa dan mama sudah pulang lebih dulu, tadi hanya berpesan untuk kita agar tidak pulang larut malam." Jawab Afna dengan santai.
"Ooh! begitu, lalu apa yang ingin kamu inginkan. Jalan jalan atau kembali ke rumah untuk istirahat." Ucap Zayen sambil menatap lekat istrinya yang sedang duduk berdekatan.
"Aku ingin membawamu kesuatu tempat, apakah kamu mau menuruti keinginanku?" jawab Afna sambil memasang wajahnya penuh harap.
"Kemana?" tanyanya penasaran.
"Nanti kamu juga akan mengetahuinya, yang terpenting kamu mau menuruti kemauanku." Jawab Afna mencoba meyakinkan suaminya, meski sang suami akan menolaknya. Setidaknya Afna sudah berusaha untuk membujuk sang suami agar menuruti permintaannya.
"Baiklah, asal jangan yang aneh aneh saja. Aku akan menuruti kemauan kamu, itupun jika kamu tidak meminta yang memberatkanku. Karena aku bukan orang kaya sepertimu, yang bisa melakukan apapun yang diinginkan." Ucap Zayen berusaha untuk merendah, meski permintaan istrinya bukanlah sebuah materi.
"Ayo, kita berangkat. Karena aku sudah tidak sabar, aku ingin secepatnya sampai ke tempat tujuan." Ajak Afna yang sudah tidak sabar ingin sampai ke suatu tempat yang diinginkannya.
"Baiklah. Ayo, aku gendong kamu. Jangan banyak protes, aku suami kamu." Ucap Zayen yang kemudian langsung menggendong istrinya. Sedangkan Afna hanya bisa pasrah, dan kembali memperlihatkan kemesraannya didepan orang banyak sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya.
Setelah sampai didalam mobil, Zayen membantu sang istri untuk memasang sabuk pengamannya. Setelah itu, Zayen segera memasang miliknya sendiri, Afna hanya tersenyum saat melihat sang suami yang begitu perhatian dengannya.
"Pak, kita berdua akan pergi ke suatu tempat. Nanti Afna yang akan beritahu arah jalannya, bapak tinggal mengikutinya."
"Baik, Nona." Jawabnya singkat, kemudian pak supir segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Didalam perjalanan keduanya sama sama terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
__ADS_1