Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
#BONUS CHAPTER 15


__ADS_3

Sesudah mengantarkan tuan Dana, tuan Ganan dan yang lainnya segera pulang ke rumah.


Dalam perjalanan pulang, Kazza nampak lega. Tidak ada lagi kekhawatiran yang tengah menghantuinya. Semua masalah dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lama kemudian, Kazza dan sang ayah telah sampai didepan rumahnya. Lalu, segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.


"Bagaimana dengan pembebasan tuan Dana? semua baik baik saja, 'kan?" tanya nyonya Nessa.


"Baik baik saja, tidak ada suatu halangan apapun ketika tuan Dana mengakhiri masa tahanannya. Hanya saja, masalah baru tengah muncul pada tuan Dana." Jawab tuan Tirta sambil duduk disofa dan bersandar, sang istri memberikannya air putih. Kemudian melepaskan sepatu yang masih melekat pada kedua kaki suaminya.


"Masalah baru? masalah apa lagi yang menimpa tuan Dana?" tanya sang istri penasaran.


"Kita belum berbicara kebenarannya, seperti apa ceritanya belum diceritakan oleh tuan Dana Jadi, masih tanda tanya soal masalah baru pada tuan Dana. Semoga saja, tidak ada masalah yang rumit atau sesuatu dendam." Jawab tuan Tirta, kemudian melepaskan jaketnya dan menyerahkannya pada sang istri. Lalu, keduanya segera masuk ke kamar untuk beristirahat.


"Oh iya, bagaimana dengan pernikahan Kazza dengan Vella? apakah pernikahannya akan segera dipercepat? aku takut, akan ada masalah baru jika tidak disegerakan." Tanya nyonya Nessa sambil menapaki anak tangga menuju kamarnya.


"Sepertinya memang akan dipercepat, aku tidak ingin sesuatunya terlalu lama. Membuang buang pikiran dan waktu saja, lebih baik lebih cepat." Jawabnya, kemudia membuka pintu kamarnya dan menjatuhkan badannya dan terlentang diatas tempat tidur. Begitu juga dengan sang istri, ikut berbaring disebelah suaminya. Keduanya pun sama sama menatap langit langit kamarnya yang tengah menjadi saksi ketika menjadi pengantin baru.


Disaat itu juga, tuan Tirta dan sang istri teringat saat menjadi sepasang pengantin baru. Keduanya sama sama tidak saling mengenal, pertemuannya berawal dari sesuatu yang konyol ketika sang istri sedang menjajakan dagangannya. Namun tanpa disangkanya, jika keduanya berjodoh dan dikaruniai anak kembar yang bernama Kazza Danuarta dan Afanya Danuarta.


"Tidak terasa, kini kita tidak lagi muda. Sekarang kita sudah memiliki cucu dan sebentar lagi kita akan mempunyai menantu perempuan, benar benar begitu cepat perjalanan hidup kita. Sebentar lagi, sesuatu yang kita miliki akan terlewati begitu saja. Kita benar benar tidak bisa membanggakan diri, kita akan menjadi lemah seperti orang tua pada umumnya." Ucap tuan Tirta sambil menatap langit langit, kemudian menoleh kesamping. Tepatnya sang istri yang ikut berbaring disebelahnya.


"Iya, akhirnya kita telah menua bersama. Semoga, kita tetap diberi kesehatan dan umur panjang. Berharap, kita masih bisa menikmati kebersamaan di ujung usia kita." Jawab sang istri, tuan Tirta dan sang istri tersenyum bersama. Kebahagiaan yang benar benar ia dapatkan tidak dapat ia hitung dan dilukiskan.

__ADS_1


"Aku akan selalu berada disampingmu, dan selalu menemanimu hingga diujung usiaku. Terima kasih, atas kesetiaanmu yang selalu menemaniku dan memperhatikanku selama ini. Semoga ketulusanmu akan tetap terus seperti ini, sampai diujung usiamu." Ucap tuan Tirta, kemudian mengecup kening mesra milik sang istri.


Sedangkan Kazza, dirinya masih sibuk dengan ponselnya. Entah godaan dari mana, Kazza mendadak seperti anak remaja. Kazza seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, dan sulit untuk mengontrolnya.


Begitu juga dengan Vella, ia pun sama halnya seperti pasangannya. Yang entah darimana datangnya itu godaan, seakan dirinya sendiri sulit untuk meletakkan ponselnya.


Vella masih sibuk dengan ponselnya ditaman belakang, tanpa disadarinya ada sosok yang sedang mengawasinya dekat sedekatnya.


"Yang sudah tidak sabar, buruan bilang sama Papa. Jika kamu minta segera dipercepat hari pernikahan kamu, biar aku tidak dalam terus setiap melihatmu seperti cacing kepanasan yang butuh perlindungan." Ledeknya sambil menyilangkan kedua tangannya didada bidangnya.


"Ih! apa apaa sih, kak Gio ini. Dari tadi bikin tensi ku naik, mendingan kak Gio segera mencari calon istri. Supaya kak Gio tidak lagi mengikutiku terus." Jawab Vella dan mengerucutkan bibirnya.


Seketika, Vella dan Gio membelalakan kedua bola matanya. Apa yang tengah didengarnya seperti ada kesalahan pada pendengarannya masing masing.


Tanpa pikir panjang, Vella langsung merebut apa yang tengah dipegang ibunya. Setelah mendapatkannya, Vella langsung membuka benda yang mirip sebuah album namun tepatnya bukanlah Album foto keluarga.


Disaat itu juga, lagi lagi Vella kembali tercengang ketika melihat beberapa lembaran foto besar yang sangat anggun dan cantik.


"Ma, maksud Mama ini apaan?" tanya Vella serasa tidak percaya. Gio yang penasaran langsung merebutnya dari tangan adiknya.


"Wah ... ini pilihan baju pengantin, Ma? sangat mempesona bila Vella yang mengenakannya. Sungguh, sangat anggun dan terlihat sangat cantik untukmu, Vell." Ucap sang kakak memujinya.

__ADS_1


"Kak Gio! sudah deh, jangan berlebihan." Jawab Vella, kemudian mencoba merebutnya kembali.


"Nih, kamu pilih salah satu yang kamu sukai." Ucap sang kakak sambil menunjukkan beberapa pilihan baju pernikahan, sang ibu hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat kedua anaknya yang selalu bikin heboh di dalam ruangan.


"Ma, apakah tidak ribet dadanan seperti ini? Vella kan tidak pernah mengenakan pakaian yang feminim." Tanyanya dengan lesu.


"Makanya, kalau berpenampilan itu jangan seperti preman." Ledek sang kakan dan menjulurkan lidahnya.


"Hem, biarin." Jawab Vella singkat dan tidak mau kalah ikutan menjulurkan lidahnya.


"Sudah sudah, kalian berdua itu dari dulu tidak pernah berubah. Sekarang cepetan balik ke kamar kalian masing masing dan segera mandi." Perintah sang ibu pada kedua anaknya.


Sedangkan di kediaman keluarga tuan Alfan, semua sedang duduk bersama di ruang keluarga. Kini, didalam rumah kembali ramai. Meski hanya ada sosok Zicko yang paling kecil. Namun, sejak hadirnya sosok Zicko membuat suasana tidak lagi sepi. Tuan Alfan dan istrinya merasa tidak kesepian, kerinduan putra laki lakinya yang begitu dalam dikala itu, kini terbayarkan sudah oleh hadirnya sang cucu laki laki dalam keluarganya.


"Zayen, apakah kamu mengenal keluarga paman Dana?" tanya sang ayah pada putranya.


"Zayen kurang paham, Pa. Karena setiap ada acara keluarga, Zayen tidak pernah ikut maupun menghadiri acara keluarga. Zayen memilih untuk keluar malam bersama Ziko menyelesaikan pekerjaan terlarang itu." Jawab Zayen, kemudian ia berusaha mengingatnya. Namun, tetap saja ia tidak mendapatkan jawabannya.


"Coba kamu ingat ingat kembali, siapa tahu ada sosok yang kamu ingat." Ucap sang ayah mencoba mengingatkannya.


"Yang Zayen tahu, Mama asuh Zayen adalah kakak dari paman Dana. Itu saja sih, Pa. Oh iya, kak Seyn. Iya, kak Seyn pasti mengetahuinya. Kalau begitu, sejarang juga Zayen akan menemui kak Seyn." Jawab Zayen yang tiba tiba teringat dengan saudara laki lakinya.

__ADS_1


__ADS_2