
Setelah menerima surat panggilan orang tua, jam berikutnya diminta untuk berkumpul di tengah lapangan untuk melakukan acara dalam masa orientasi siswa hingga waktunya selesai.
Cukup lama menerima materi maupun tugas lainnya, rupanya membuat para siswa-siswi merasa kecapekan dan tidak terasa sudah waktunya untuk pulang.
Zicko yang baru saja membereskan bukunya, bersiap-siap untuk pulang.
"Bro, aku nebeng ya. Tadi pagi aku nebeng tetangga. Biasalah, motor buntut ku lagi di bengkel, belum ada uang." Ucap Joni.
"Boleh. Tapi Lu yang bonceng ya. Eh si Rudi gimana pulangnya?"
"Tenang aja, aku nebeng sama Izo. Ya udah ya, aku duluan. Kalau kalian ada waktu, main lah ke rumah ku. Gak jauh kok dari sekolahan sini." Sahut Rudi yang tengah memasukkan bukunya.
"Besok aja lah, hari ini aku bakal kena hukuman sama orang tua gue. Jadi, gak mungkin bisa main. Ya udah kalau mau pulang duluan." Ucap Zicko.
Rudi pun segera pulang bersama Izo. Sedangkan Joni pulangnya bareng Zicko. Begitu juga dengan Jenny bersama teman-temannya, pun segera pulang.
"Bro, Lu aja lah yang bonceng. Kapan kapan aja aku boncengnya." Ucap Joni yang belum terbiasa menggunakan motor miliknya Zicko.
Tentunya ada perasaan takut jika sampai terjadi sesuatu, pikirnya.
"Ya udah gak apa-apa. Ayo kita pulang." Jawab Zicko dan mengajaknya pulang.
Sambil menikmati perjalanan pulang, Zicko mengajak Joni mampir ke warung makan.
"Kok berhenti di sini sih, Bro. Mau ngapain? laper, Lu."
"Iya, gue laper. Habisnya tenaga gue tadi udah habis gegara berdebat tuh sama kakak kelas yang resek tadi." Jawab Zicko sambil turun dari motor.
"Hem. Kamu itu mah, kapan gak berantem. Kalau orang tua Lu marah besar, kek mana coba. Apa Lu gak takut? kalau kalau nih, kamu dipindah sekolahnya gimana, Bro?"
"Enggak bakal. Soalnya itu sekolahan sebagian investasi dari keluarga kakek gue. Jadi, tinggal merayu Oma dah cukup."
"Enak Lu mah, orang kaya mah bebas. Gak kek gue, susahnya hidup, dan pahitnya kehidupan."
Seketika, Zicko teringat pesan dari kembaran ayahnya, yakni jika bermasalah di sekolahan, bakal di tarik jadi warga negara asing.
"Woi! bengong aja, Lu. Mau masuk ke dalam gak nih?"
"Iya dong, aku dah lapar. Yuk ah, kita masuk." Jawab Zicko dan bergegas masuk kedalam bareng Joni.
Saat sudah memesan makanan, Zicko dan Joni mencari tempat duduk.
__ADS_1
"Di sana aja, gimana?"
Joni pun menunjukkan tempat yang kiranya nyaman.
"Boleh. Ayok kita ke sana." Jawab Zicko dan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh Joni.
Setelah pesanan datang, mereka berdua menikmati makan siangnya. Joni yang selalu ditraktir oleh Zicko, merasa tidak enak hati. Namun, dia bisa apa, hanya bisa mengucap syukur atas kebaikan Zicko kepada dirinya.
Meski sering di traktir oleh Zicko, Joni tidak menjadikan sosok anak pelajar yang malas. Joni selalu mempunyai kesibukan untuk mendapatkan pekerjaan, meski hanya separuh waktu. Bagi Joni, waktu adalah uang.
"Zicko, makasih banyak ya, udah sering nraktir aku. Kapan-kapan kalau aku ada sisa, nanti aku akan traktir kamu balik." Ucap Joni membuka obrolan, meski sambil makan sekalipun.
Zicko yang sedang mengunyah makanan, pun mengangguk angguk.
"Boleh. Sekali-kali aku ngerasain gajiannya Lu, dong. Tenang, jangan dipaksakan kalau gak ada. Aku seharusnya malu sama kamu, sedangkan aku hanya mengandalkan pemberian dari orang tuaku. Tapi kalau gak aku pakai, untuk siapa lagi, coba! Adik kaga punya akunya."
"Mujur banget hidup Lu."
"Tapi sepertinya kamu lebih menikmati hidup ketimbang diriku yang gak pernah kerja keras. Entar dah kalau nanti udah lulus sekolah, terus kuliah, aku mau nyari duit sendiri."
"Oke, aku bakal tunggu kamu sukses dengan caramu." Kata Joni.
"Dahlah, habisin dulu makanannya. Setelah ini kita langsung pulang, takutnya orang tuaku udah dapat telepon dari pihak sekolah, bisa berabe nanti." Ucap Zicko yang tidak ingin bertambah masalah dengan orang tuanya.
Setelah mereka berdua selesai makan, dan habis tak tersisa, keduanya segera pulang.
Dengan kecepatan tinggi, Zicko mengendarai motornya. Bahkan, tidak peduli dengan jalanan yang tengah dipadati banyaknya kendaraan yang lalu lalang.
Hanya memakan waktu beberapa menit saja, akhirnya sampai juga di depan rumahnya Joni.
"Dah sampai. Ya udah ya, aku pulang." Ucap Zicko.
"Makasih banyak ya, Bro. Maaf, sudah merepotkan." Jawab Joni berterimakasih.
"Gak ngerepotin, kita kan searah dan teman. Ya udah ya, aku pulang. Besok aku jemput berangkatnya." Ucap Zicko dan langsung pamit pulang.
Setelah pamitan, Zicko segera melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Cukup jauh antara jarak rumah dan sekolah, karena memilih dipinggiran kota dari pada ke sekolahan yang ada di kota, sekolah elit.
Namun, siapa sangka jika dirinya dipertemukan dengan perempuan bernama Jenny yang tergila-gila dengannya.
Perjalanan yang memakan waktu yang cukup jauh, rupanya mampu membuat Zicko tidak kelelahan.
__ADS_1
Saat sudah sampai di depan rumah, Zicko langsung masuk ke rumah. Siapa sangka jika kedua orang tuanya sudah ada di rumah.
Dengan penampilan yang sudah berantakan, alias acak-acakan, membuat sang ayah bangkit dari posisi duduknya. Sedangkan ibunya masih duduk.
"Baru pulang, kemana aja kamu?" tanya sang ayah yang kedengaran sedang menginterogasi.
Zicko yang seperti terdakwa, berusaha untuk tetap tenang dan seolah tidak ada masalah pada dirinya.
"Zicko capek, Pa. Em- mandi dulu ya, Pa. Oh iya, ini ada kejutan buat Papa dan Mama. Bentar, Zicko ambil dulu didalam tasnya.
Sang ayah yang sebenarnya sudah mengetahui apa yang akan diberikan oleh putranya tetap bersikap biasa-biasa saja dan seolah tidak mengetahuinya.
"Mana, kejutaan apaan? sini, berikan kepada Papa."
Tuan Zayen langsung mengulurkan tangannya yang seperti mau menerima sesuatu dari putranya.
Zicko yang degdegan dan bercampur aduk karena takut kena marah, langsung memberikannya kepada sang ayah. Kemudian, ia cepat-cepat naik ke atas dan masuk ke kamarnya dengan terburu-buru karena takut mendapat omel dari ibunya yang paling utama, pikirnya.
Tuan Zayen menggelengkan kepalanya. Rasanya begitu geram ketika mendapati tingkah putranya yang super dan melebihi dirinya dimasa remajanya.
Dengan kasar, Tuan Zayen membuang napasnya. Lalu, mengusap wajahnya.
"Duduk dulu, Pa. Tahan emosi, dan jangan gegabah ketika menghadapi Zicko." Ucap istrinya mencoba untuk tidak membuat suaminya hilang kendali ketika sedang diuji lewat anak laki-lakinya.
Meski sudah mendapat telepon dari pihak sekolah, Tuan Zayen tetap menyimpan rasa penasaran. Pelan-pelan, Tuan Zayen membuka amplop yang berisi surat panggilan dari pihak sekolahan.
Dengan seksama dan juga dengan teliti, Tuan Zayen membaca isi surat tersebut tidak ada yang dilewatkan satu kalimantan pun.
"Kenapa kata suratnya, Pa?" tanya sang istri penasaran dengan apa yang disampaikan oleh pihak sekolahan.
"Zicko benar-benar ceroboh." Jawab Tuan Zayen dengan penuh geram yang baru saja membaca suratnya.
"Ceroboh kenapa, Pa?" tanyanya lagi ingin mengetahuinya.
"Zicko membuat cidera siswi satu kelasnya. Mau salah ataupun benar, harus menerima konsekuensinya. Besok Papa diminta untuk datang ke sekolahan. Kata di surat yang tertulis, akan dipertemukan dengan orang tua si pihak korban, dan juga temannya korban yang ikut andil dalam pembelaan." Jawab Tuan Zayen sambil menghela napasnya.
"Ya udah, Papa datang aja. Cari solusi yang baik, atau gak dipisah saja kelasnya." Ucap sang istri mencoba untuk memberi solusi.
"Gak TK, gak SD, gak SMP, gak SMA, selalu aja membuat gaduh. Apa iya, pindah sekolah lain saja, Ma?"
"Setiap anak beda-beda, Pa. Yang terpenting Zicko masih mempunyai sikap baik, dan tidak buruk-buruk amat nilainya. Toh, dari SD sampai SMP aja selalu mendapatkan peringkat utama. Jadi, ya mungkin memang udah jiwanya seperti itu. Kita sebagai orang tua itu, ya tetap mendukung poin utamanya, dan mendoakan yang terbaik untuk anak kita, Pa." Kata sang istri.
__ADS_1
Tuan Zayen yang mendengarnya, pun mengiyakan dengan saran yang disampaikan oleh istrinya.