Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kabar bahagia dan kabar sedih


__ADS_3

Afna semakin tidak karuan sesuatu yang dirasakannya. Tidak hanya kepalanya yang terasa pusing, perutnya juga terasa sangat mual. Wajahnya pun terlihat sangat pucat, hingga membuat ibunya Adelyn sangat mengkhawatirkan kondisi keponakannya.


Ibunya Adelyn segera menelfon ibunya Afna untuk memberi kabar kondisi putrinya yang terlihat kurang sehat.


"Adelyn, ayo temani mama mengantar Afna periksa ke Dokter. Mama takut terjadi apa apa dengan Afna, lihatlah wajah Afna yang terlihat sangat pucat." Ucapnya kepada putrinya, Adelyn pun mengangguk.


"Tidak usah repot repot, tante. Mungkin Afna hanya masuk angin." Ucap Afna yang tidak merepotkan.


"Afna, muka kamu benar benar terlihat sangat pucat. Kamu harus periksa ke Dokter, akupun tidak ingin terjadi apa apa denganmu." Ucap Adelyn ikut menimpali.


"Sudah, ayo kita berangkat." Ajak ibunya Adelyn, kemudian menggandeng tangan milik Afna.


"Iya, nak Afna. Cepatlah periksakan diri, kakek tidak ingin melihatmu sakit." Ucap sang kakek mengingatkan, Afna yang terasa sudah sangat lemas dan menahan rasa mual pada perutnya. Dirinya pun tidak mampu untuk menjawab pertanyaan dari kakek Zio.


Didalam perjalanan, Afna nampak melamun sambil menyandarkan kepalanya di jendela kaca mobil. Ibunya Adelyn hanya menatap sedih melihat keponakannya yang terlihat pucat dan tidak bersemangat.


"Sabar ya, Afna. Sebentar lagi kita sampai, bersabarlah." Ucap Adelyn membuka suara, sedangkan Afna hanya mengangguk lemas. Bibirnya terlalu berat untuk berucap, bahkan rasanya sudah tidak lagi karuan.


'Malang sekali nasibmu, Afna. Fisikmu yang terlihat tidak sehat, ditambah lagi kondisi suami kamu saat ini. Semoga kamu kuat unyu menjalaninya, dan pasti kesabaran yang luas ada pada diri kamu.' Batin ibunya Adelyn sambil melihat Afna yang yang terlihat sedang melamun.


Tidak lama kemudian, telah sampai didepan rumah sakit. Afna, Adelyn, dan juga ibunya Adelyn segera melepas sabuk pengamannya. Setelah itu, Afna dibantu jalannya sampai kedalam.


Ibunya Adelyn segera mendaftarkan Afna untuk mendapat nomor urutan. Beruntung, di rumah sakit tidak begitu ramai. Jadi, tidak perlu menunggu lama, nomor urut milik Afnapun cepat mendapatkan panggilan.

__ADS_1


Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya dibantu Adelyn dan juga ibunya Adelyn.


Didalam ruangan, Afna diberi pertanyaan bermacam macam tentang keluhan yang dirasakannya. Dokter pun dapat menebaknya, kemudian segera dilakukan pemeriksaan.


Afna berbaring dengan kondisi badannya yang terasa sangat lemah, ditambah lagi sarapan paginya hanya dengan roti dan juga susu.


Afna hanya bisa mengangguk dengan apa yang diperintahkan sang Dokter.


"Nona Afna, lihatlah. Kabar bahagia yang kamu dapati hari ini. Lantas saja, kamu merasakan mual dan juga pusing dibagian kepala kamu."


"Maksud Dokter? keponakan saya, hamil?" tanya ibunya Adelyn tersenyum mengembang terasa tidak percaya dengan penuturan dari sang Dokter.


"Benar, Nona Afna sedang hamil." Jawab sang Dokter, kemudian membantu Afna untuk bangkit dari posisi berbaringnya. Afna pun segera pindah ke kursi dibantu oleh Adelyn.


"Sekali lagi, selamat atas kehamilan nona Afna. Dijaga selalu kesehatannya dan juga pola makannya." Ucap sang Dokter lagi menasehati.


"Jadi, saya benar benar hamil, Dok? Dokter tidak lagi bohong, 'kan?" tanya Afna serasa tidak percaya.


"Iya, Afna. Benar kata ibu Dokter, bahwa kamu hamil. Selamat ya, Afna. Semoga sehat selalu, kamu dan calon bayi kamu ini." Ucap Adelyn memberi selamat kepada saudaranya.


"Kalau begitu, ini ada vitamin. Jangan lupa, sering seringlah periksakan kandunganmu dan minumlah susu dan vitamin dengan rutin. Tidak hanya itu, jaga pola makannya. Hindari makanan yang siap saji, dan perbanyak buah dan sayuran dan lainnya." Ucap sang Dokter menasehatinya, Afna mengangguk dan tersenyum.


'Sayang, aku ada kabar bahagia untuk kamu. Tapi, aku sangat sedih. Seharusnya kamu yang mendampingiku untuk menerima kabar bahagia ini, tapi kenapa kamu lama sekali.' Batin Afna dengan sedih, harapannya tidak sesuai yang diharapkan.

__ADS_1


Afna, Adelyn, dan juga ibunya Adelyn segera keluar dari ruangan pemeriksaan dan langsung pulang. Mengingat kondisi Afna yang sedang hamil muda, butuh istirahat yang cukup.


Saat melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah sakit, tiba tiba dikagetkan dengan sosok ibu paruh baya berlarian kecil menghampiri putrinya.


"Afna ... kamu kenapa, sayang? kamu sakit? katakan pada mama, sayang." Ucap sang ibu langsung memeluk putrinya yang terlihat pucat.


"Afna tidak kenapa napa, ma ... Afna baik baik saja. Afna ada kabar bahagia untuk mama dan papa, dan juga kak Kazza maupun suami Afna. Mama tahu? Afna hamil, ma ... Afna sedang mengandung anak dari suami Afna, Zayen." Jawab Afna dengan senyum mengembang sambil menatap ibunya dengan serius.


Ibunya pun langsung memeluk putrinya kembali, air mata bahagia dan juga sedih kini menjadi satu dipelupuk kedua mata sang ibu. Dadanya terasa sesak, bibirnya tidak lagi dapat berucap apapun selain kata selamat atas kehamilan. Siapa yang tidak sakit, saat kabar bahagia itu datang. Musibah datang dengan mudahnya, tanpa menunggu bahagia dapat dilewati.


Afna segera melepas pelukan ibunya yang terdengar menangis sesenggukan.


"Mama, kenapa menangis? mama kenapa bersedih? seharusnya mama bahagia mendengar kabar bahagia dari Afna. Afna membawa kabar bahagia ini untuk keluarga Danuarta, semua pasti sangat bahagia. Kenapa mama bersedih? apakah tidak ada yang menginginkan kabar bahagia dari Afna." Tanya Afna kebingungan melihat sang ibu menangis didepannya. Ibunya hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah kosa kata apa yang harus dususun sedemikian rupa agar dapat dipahami.


"Selamat atas kehamilan kamu, sayang. Mama sangat bahagia mendengarnya, tidak hanya mama yang bahagia. Semua yang mendengarkannya pasti sangat bahagia dengan kabar bahagia yang kamu sampaikan. Apalagi suami kamu, tidak hanya bahagia. Bahkan kebahagiaannya tidak dapat dihitung dengan jari maupun dengan butiran debu sekalipun." Jawab sang ibu berusaha untuk tersenyum, meski berat.


"Mama yakin? jika mama tidak menyembunyikan sesuatu dibelakang Afna. Mama tidak seperti biasanya, dan mama terlihat sangat sedih. Bahkan, mama terlihat cemas." Tanya Afna untuk meyakinkan, berharap sang ibu tidak ada sesuatu yang disembunyikannya.


"Yakin, mama tidak ada rahasia dibelakang kamu. Mama hanya terbawa suasana saja, karena mama kelewat bahagia. Hingga ekspresi mama terlihat sangat mencurigai dimata kamu. Oh iya, kamu pulang kerumah ikut mama. Tadi, suami kamu berpesan kepada mama. Bahwa suami kamu sedang ada kesibukan yang sangat penting, jadi tidak ada waktu meski hanya pulang sebentar." Jawab ibunya menjelaskan penuh beralasan, berharap putrinya tidak mencurigainya.


"Sayang sekali, padahal Afna ingin cepat cepat memberi kabar bahagia ini kepada suami Afna." Ucapnya bersedih.


"Masih ada waktu untuk besok, sayang." Jawab sang ibu menenangkan.

__ADS_1


'Maafkan kita semua, Afna. Harus berbohong denganmu untuk sementara, sedangkan kondisi kamu ini sedang lemah. Kita semua tidak mungkin langsung memberi kabar sedih kepada kamu. Percayalah, setelah kondisi kamu sudah lebih baik kita semua akan berkata jujur terhadapmu.' Batin ibunya Adelyn.


__ADS_2