
Zayen masih dengan emosinya, otaknya tidak lagi mampu untuk berpikir tentang dirinya sendiri yang seakan menjadi robot yang remot kontrolnya berada pada ayah asuhnya. Dengan berat, Zayen menarik nafasnya yang sudah terasa panas. Darahnya yang terasa mendidih, bahkan tatapan matanya seakan ingin memb*unuh.
"Zayen, Zayen. Begitu bodohnya kamu ini, apakah kamu tidak merindukan kedua orang tua kamu? nasib kedua orang tua kamu sudah berada pada genggamanku. Sekali aku bertindak, maka hancurlah keluarga kamu. Bahkan, kamu tidak lagi mendapati kedua orang tua kamu bernafas." Ancam sang Ayah asuhnya dengan terang terangnya, Seyn yang melihat ekspresi Zayen hanya tersenyum melebar.
"Apa yang barusan papa katakan, jawab!!!" ucap Zayen dengan suara kerasnya, dan dengan beraninya Zayen mencengkram kerah baju milik ayah asuhnya.
"Lepaskan tangan kotormu itu, Zayen. Asal kamu tahu, bahwa kamu tidak mempunyai hak sedikitpun atas perlakuan kamu terhadap papaku. Apa perlu, peluru ini menembus kepala kamu, Zayen." Ucap Seyn sambil mengarahkan pistolnya tepat pada pelipis milik Zayen.
Dengan pelan, Zayen melangkah kakinya untuk mundur demi menyelamatkan dirinya sendiri. Dirinya tidak ingin mati sia sia hanya karena mencengkram kerah baju ayah asuhnya yang biadab itu, pikirnya.
"Kamu tahu, bahwa sebenarnya kedua orang tua kamu itu masih hidup. Bahkan yang akan menjadi sasaran empukku adalah kamu. Sekarang kamu tinggal pilih, istrimu atau kedua orang tua kamu." Ucap tuan Arganta menantang.
Zayen benar benar prustasi dengan caranya untuk berpikir, Zayen merasa tidak mampu untuk melakukannya.
"Cepat! kamu pilih kedua orang tua kamu, atau istri kamu." Ucapnya lagi, Seyn tertawa puas melihat Zayen yang sangat kesulitan untuk memilihnya.
"Katakan, siapa orang tuaku. Cepat!! katakan! cepat."
"Kamu pikir, aku ini bodoh. Dengan mudahnya aku menjawab pertanyaan kamu, memangnya kamu pikir aku ini siapa?" jawab Seyn, kemudian tertawa lepas.
"Brengs*ek!!" seru Zayen dengan emosinya yang memuncak. Andai saja yang dihadapannya adalah orang yang tidak dikenalnya, mungkin Zayen sudah menghabisinya dengan mudah.
__ADS_1
Zayen masih berusaha mengimbangi antara emosi dan pikiran jernihnya. Dirinya berusaha untuk mencari jalan keluar tanpa harus ada pertumpahan darah.
"Apa kamu lupa, siapa kamu yang sebenarnya, Zayen? apa perlu aku bocorkan pekerjaan kamu didepan istri kamu dan didepan mertua kamu. Bahkan ke keluarga besar istri kamu, bahwa kamu memiliki pekerjaan yang menimbun perhiasan illegal dan juga senjata illegal, bahkan kamu memiliki penambangan emas illegal. Semua yang kamu miliki adalah illegal, apakah kamu siap." Ucap Seyn kembali mengancam.
Viko yang berada didekat Zayen pun tidak dapat berbuat apa apa, Viko sendiri masih tidak berani untuk bertindak sebelum dirinya mendapat perintah dari Zayen. Begitu juga dengan anak buah lainnya, hanya bisa memantau Zayen yang sedang menghadapi Ayah asuhnya sendiri dan juga sang kakak.
'Sial!! rencana apa lagi yang akan papa dan kak Seyn lakukan untuk menghancurkan hidupku.' Batin Zayen sambil penuh kekesalan.
"Bagaimana, Zayen? kamu tinggal pilih. Hidup bersama kedua orang tuamu dengan bahagia, atau hidup sengsara bersama istri kamu." Ucap sang Ayah asuhnya mengancam.
"Pilihan macam apa, itu!" jawab Zayen dengan geram.
Sedangkan di kediaman tuan Tirta, Kazza dan tuan Alfan maupun ayah Kazza sendiri sedang membicarakan tentang suami Afna. Siapa lagi kalau bukan Zayen, yang selama ini dicurigai oleh kakak iparnya sendiri, yaitu Kazza Danuarta.
"Kazza, apa kamu yakin akan menggerebek adik ipar kamu sendiri." Ucap tuan Alfan serasa tidak tega, jika melaporkan suami keponakannya. Terasa sangat menyakitkan, jika Afna mengetahui keburukan dari suaminya. Tuan Alfan benar benar tidak tega melihat keponakannya harus berpisah dalam jeruji besi, sungguh tidak dapat dibayangkan oleh tuan Alfan.
Tuan Alfan sendiri teringat akan ancaman dari pesan yang misterius tentang keselamatan putranya. Ditambah lagi dengan kondisi Zayen yang mungkin saja, nasibnya tidak jauh beda dengan putranya.
"Kazza, apa sebaiknya kamu coba cek lagi. Siapa tahu saja, tuduhan kamu itu salah. Hati hatilah jika kamu menghadapi masalah yang kamu cari sendiri, Kazza. Papa hanya mengingatkan kamu, agar kamu berhati hati." Ucap sang ayah ikut menimpali.
"Benar, Kazza. Pikirkan baik baik, jangan sampai laporan kamu itu tidak ada buktinya." Ucap tuan Alfan berusaha meyakinkan.
__ADS_1
"Bukankah paman yang sudah memerintahkan anak buah paman untuk menyelidiki markas Zayen."
"Benar, tapi jika kenyataannya polisi tidak menemukan hasil. Dan pastinya ulah kamu akan diketahui Zayen. Ingat! Kazza, Seyn maupun ayahnya pun ikut andil dalam kejahatan itu." Ucap tuan Alfan mengingatkan.
"Kapan lagi, kalau bukan sekarang kita lakukan penggerebekan untuk Zayen dan kakaknya maupun ayahnya sekaligus."
"Kamu dapat pesan dari siapa? anak buah kamu atau kamunya yang asal menebaknya." Tanya sang ayah memastikan.
"Aku tidak mendapatkan pesan, tetapi telfon dari anak buah paman Alfan yang pastinya, pa. Tadi dirinya mengaku anak buah paman Alfan. anak buah Alfan mengatakan, bahwa Seyn dan tuan Arganta maupun Zayen dan Viko kaki tangan Zayen berada dalam satu markas." Jawab Kazza berusaha meyakinkan pamannya dan juga ayahnya sendiri.
"Kenapa tidak kamu rekam pembicaraan kamu dengan anak buahku untuk dijadikan bukti dalam laporan." Ucap tuan Alfan yang merasa masih tidak percaya dengan panggilan telfon tersebut dari anak buahnya.
Tuan Alfan tidak pernah mengajari anak buahnya untuk menelfon. Itulah rahasia tuan Alfan untuk menjaga privasi dalam penyelidikan. Agar tidak mudah untuk dibohongi oleh siapapun.
"Paman minta, jangan kamu laporkan Zayen. Sepertinya ada pihak ketiga yang ikut masuk didalamnya." Ucap tuan Alfan berusaha mencegah niat dari keponakannya untuk menangkap suami keponakannya.
"Tidak! paman. Tekadku sudah bulat, aku tidak mau adikku bersuamikan seorang penjahat. Apalagi dengan pekerjaannya yang menjual barang barang illegal, lebih baik Afna berpisah dengan Zayen. Itu jauh lebih baik, dari pada Afna harus makan makanan hasil yang tidak benar." Jawab Kazza dengan emosinya yang sudah tidak sabar ingin melaporkan adik iparnya. Kazza sangat berharap, bahwa adiknya secepatnya lepas dari laki laki yang bernama Zayen.
Sedangkan tuan Tirta sendiri bingung memberikan keputusan untuk putranya, ingin mencegahnya pun salah. Tidak mencegahnya pun juga salah, tuan Tirta hanya bisa diam. Dirinya benar benar belum mendapatkan keputusan yang baik untuk keduanya.
"Pa, mau tidak mau Kazza akan melaporkan Zayen dan Seyn maupun tuan Arganta. Kazza tidak ingin masa depan Afna akan hancur, bahkan akan memiliki generasi yang juga akan rusak seperti ayahnya." Ucap Kazza meyakinkan ayahnya, agar mendapat dukungan untuk menggerebek markas milik adik iparnya.
__ADS_1