
Sesudah menghubungi Seyn untuk datang kerumah, Zayen memelih untuk segera membersihkan diri sebelum sang kakak datang kerumahnya. Dengan pelan Zayen menapaki anak tangganya dan diikuti sangat istri dari belakang.
Sesampainya di dalam kamar, Zayen meletakkan jaketnya diatas sofa. Kemudian sang istri membantu melepaskan sepatunya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Setelah itu, sang istri menyiapkan air untuk suaminya mandi. Lalu ia menyiapkan pakaian gantinya dan kembali duduk di sebelah suaminya.
Dengan sigap, Zayen menarik istrinya hingga terjatuh disebelahnya. Keduanya pun saling menatap satu sama lain, Zayen tersenyum melihatnya.
Afna yang mendapati tatapan yang mencurigakan pada suaminya itu hanya pasrah, ia mengerti apa yang diinginkan suaminya.
Zayen yang terbawa suasana hening, tanpa pikir panjang ia memulai aksinya. Afna pun pasrah tanpa memberontaknya, hingga keduanya menyelesaikan ritual panjangnya.
Setelah ritual panjangnya selesai, Zayen memeluk istrinya dengan erat. Kemudian, mencium lembut kening milik istrinya.
"Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah menemaniku hingga saat ini, semoga seterusnya akan terus seperti ini. Aku pun janji, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu maupun menyakitimu, dan berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku pun tidak akan menuntutmu untuk memberiku anak yang kedua. Cukup setiamu itu dan perhatianmu itu sudah lebih dari cukup." Ucap Zayen sambil membelai rambut istrinya yang terurai.
Afna yang mendengarnya pun hanya mengangguk dan mencium pipi milik suami tercintanya. Lalu, Afna semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami.
Setelah dirasa sudah cukup mengobrol, Zayen dan Afna segera membersihkan badannya bersama sang suami didalam kamar mandi.
Usai semuanya beres, Zayen membantu sang istri untuk mengeringkan rambut panjangnya yang lebat.
"Hari ini aku ada obrolan yang sangat penting, sepertinya aku tidak bisa diganggu. Jika kamu ingin keluar jalan jalan, aku tidak melarangmu. Tapi ingat, tidak jauh jauh. Itupun kamu harus mengajak mama dan Omma, kamu mengerti?" ucap sang suami sambil menyisiri rambutnya sendiri.
Afna yang sudah selesai, ia segera bangkit dari posisi duduknya. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatap wajah sang suami.
"Oooh, mau membicarakan soal paman Dana?" tanya Afna menebaknya.
"Iya, aku sudah menghubungi kak Seyn untuk segera datang ke rumah." Jawab Zayen, lalu segera merapihkan penampilannya dan segera turun setelah dirasa tidak ada yang kurang.
Afna sendiri hanya mengikutinya dari belakang. Sesampainya diruang keluarga, Zayen mendapati sang kakak tengah duduk bersama sang ayah dan kakeknya.
Seyn yang memperhatikan penampilan Zayen yang terlihat segar pun hanya tersenyum.
"Cih! senyum senyum tidak jelas, Egar mana? tidak diajak kah?" ucap Zayen dan bertanya. Kemudian Zayen langsung duduk di sebelah sang kakak.
"Tidak, aku sengaja tidak mengajaknya. Takut, jika ada sesuatu hal penting dan nanti akan menggangunya." Jawab Seyn.
"Maaf Paman, apakah ada sesuatu yang penting?" tanya Seyn penasaran.
"Iya Seyn, ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Ini mengai keluarga kamu, Paman berharap ada kebenaran pada diri kamu." Jawab tuan Alfan, sedangkan kakek Zio hanya menyimak.
"Katakan saja apa yang ingin paman katakan, Seyn akan menjawabnya dengan jujur." Ucap Seyn yang semakin penasaran.
"Begini kak, maksud kita semua adalah ingin membahas soal paman Jojo alias paman Ordan, maksudku paman Dana." Jawab Sayang menimpali.
"Oh, paman Dana. Memangnya ada apa dengannya, Zayen? bukankah paman Dana sudah dibebaskan dari tahanan?" tanya Seyn yang masih penasaran.
__ADS_1
"Bukan soal masa tahanan paman Dana, kak. Tetapi sosok paman Dana dari keluarga kakak." Jawab Zayen membenarkan.
"Begini Seyn, bukankah kamu itu adalah keponakannya? jadi, kita semua ingin mencari tahu siapa dan siapa bagian keluarga paman kamu." Ucap tuan Alfan menimpali.
"Oooh, soal itu. Seyn sendiri kurang tahu juga sih, Paman. Kenapa tidak temui saja paman Dana, kita bicarakan bersama. Itu akan Lebuh jelas, dan tidak membingungkan." Jawab Seyn memberi solusi.
"Ah, iya. Kenapa tidak dari tadi kita mendatangi rumahnya paman Dana, kalau begitu ayo kita langsung berangkat." Ucap Zayen yang baru menyadarinya.
"Makanya, kalau kurang jatah itu jangan di empet. Begini nih jadinya, bahas satu orang harus bergantian berpikir. Yang sedangkan yang dibahas tidak diikut sertakan, hem." Ucap kakek Zio sambil menggelengkan kepalanya yang tidak mengerti cara berpikir menantunya dan cucunya sendiri.
Tuan Alfan maupun Zayen hanya tersenyum pepsodent didepan kakek Zio, lalu menggaruk tengkuk lehernya yang sama sama tidak gatal.
Seyn pun tertawa kecil saat melihat Zayen dan tuan Alfan yang merasa kikuk oleh kakek Zio.
"Sudahlah, permasalahannya diselesaikan besok. Lagian juga tuan Dana baru bebas dari tahanan, biarkan tuan Dana beristirahat. Apakah kalian ini tidak kasihan dengannya, hah?" ucap kakek Zio mengingatkan.
"Ah iya juga, ya. Ya sudah kalau begitu, kita datang ke rumah paman Dana besok saja, bagaimana Pa?" jawab Zayen dan melontarkan pertanyaan pada ayahnya.
"Iya, benar kata kakek. Hari ini biarkan paman Dana kalian beristirahat." Jawab tuan Alfan.
"Ya sudah kalau begitu, Seyn langsung pamit pulang saja ya, Paman, kakek." Ucap Seyn berpamitan.
"Ya Kak, tidak apa apa. Besok kak Seyn jangan lupa, datang kesininya pagi saja. Karena malamnya aku ingin mengajak anak dan istriku jalan jalan dimalam hari." Jawab Zayen menimpali.
"Baiklah, aku usahakan untuk datang pagi. Kalau begitu, aku pamit pulang." Ucap Seyn berpamitan pada adiknya, Zayen pun mengangguk dan tersenyum.
Setelah tidak terlihat lagi bayangan Seyn, tuan Alfan dan kakek Zio maupun Zayen kembali masuk ke kamarnya masing masing. Ketiganya tiba tiba berhenti begitu saja saat mau masuk ke kamarnya. Disaat itu juga, tuan Alfan serta kakek Zio dan Zayen sama sama menepuk keningnya karena ternyata sang istri masing masing tidak ada satupun yang dirumah.
Karena kesepian, sang ayah, sang anak dan sang cucu akhirnya memilih untuk beristirahat sambil menunggu istri istrinya pulang. Tanpa disadari, Zayen tertidur hingga sampai jam tiga pagi.
Dengan pelan pelan, Zayen mencoba membuka kedua matanya. Dan dirasakan pada perutnya yang terasa perih dan terasa lapar. Zayen pun segera bangkit dari posisi tidurnya dan msuk kekamar mandi untuk buang air kecil dan cuci muka serta menggosok gigi.
Setelah itu, Zayen keluar dari kamarnya. Dengan pelan dan sangat hati hati, Zayen menapaki anak tangga agar tidak kedengaran oleh para pelayan rumah.
Sesampainya di dapur, Zayen membuka kulkas untuk mencari makanan yang dapat mengganjal perutnya yang lapar. Namun sayangnya, tidak ada stok makanan yang tinggal memanaskan. Semua bahan mentah, Zayen pun prustasi dibuatnya.
"Sial, kenapa tidak ada makanan satupun yang tersisa. Benar benar membuatku untuk menguji kesabaran didalam perutku ini." Batin Zayen sambil mengusap perutnya berulang ulang sambil menahan rasa lapar.
Karena tidak ada apa apa yang bisa dimakan, Zayen memilih untuk kembali masuk kedalam kamarnya lagi. Dengan perut yang seperti bunyi Karaokean, Zayen berusaha menahannya dan kembali tidur di sebelah istrinya hingga pagi tengah membangunkannya.
"Sayang, bangun. Sudah pagi, nih ... malu tuh sama Zicko yang sudah bangun dan mandi." Ucap Afna sambil membuka selimut yang tengah menggulung suaminya.
"Selamat pagi, Papa Yayen." Sapa putra kecilnya sambil duduk disebelah sang ayah yang masih meringkuk kedinginan.
"Pagi juga jagoan Papa, Zicko sudah mandi?" tanya sang ayah sambil menatap putranya.
"Udah dong, Pa ... kalau Papa jorok, bau, belum mandi." Ucap Zicko dengan gayanya yang lucu.
__ADS_1
"Papa capek, semalam kelaparan. Coba sini papa cium, beneran sudah mandi atau belum?" jawab Zayen. Kemudian menarik putranya dan menc*iuminya sampai Zicko memberontaknya karena ulah dari ayahnya sendiri.
"Sudah, sudah ... ayo buruan bangun. Kak Seyn sudah datang loh." Ucap Afna mengagetkan suaminya.
"Kak Seyn sudah datang? yang benar saja kamu, pasti mau mengerjaiku." Jawab Zayen, kemudian tanpa pikir panjang langsung menarik istrinya hingga terjatuh didekat suami dan putranya.
Berulang ulang Zayen mengerjai istrinya dibantu sang anak, Afna pun kegelian saat mendapatkan ulah dari suami dan putranya yang sudah bekerja sama untuk mengerjai nya.
"Lepaskan, sayang. Zicko, kamu jangan balain Papa. Papa kamu itu belum mandi, bau dan jorok." Ucap Afna berusaha menyingkir dari ulah suaminya dan Zicko putranya yang ikut ikutan menyerangnya.
Setelah dirasa sudah kualahan, Zayen menghentikan aksi konyolnya. Kemudian segera ia bangkit dari posisinya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Afna membereskan tempat tidurnya bersama putranya untuk mengajarkan kerapihan dan sikap mandiri.
Setelah semua sudah beres, Zayen beserta anak dan istrinya segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
Sesampainya diruang makan, benar adanya Seyn yang sudah datang dan ikut duduk bersama keluarganya dimeja makan.
Seyn tidak sendirian, ada Neyla istri Seyn dan juga Egar putranya yang sudah duduk rapih diruang makan.
"Wah ... sarapan pagi yang sangat spesial ini. Kenapa aku baru mengetahuinya? jika kak Seyn sudah datang." Ucap Zayen serasa tidak percaya.
"Hem ..." kakek Zio pun hanya berdehem sambil menatap cucunya itu, siapalagi kalau bukan Zayen.
Sedangkan Zayen sendiri hanya tersenyum pepsodent pada kakek Zio, kemudian segera duduk bersama yang lainnya.
Selesai makan, semua kembali duduk bersama diruang keluarga.
"Omma sengaja meminta Neyla dan Egar datang kerumah untuk jalan jalan bersama. Sudah lama 'kan? tidak jalan jalan bersama. Jadi, hari ini kita kita kaum perempuan mau memanjakan diri untuk jalan jalan. Sedangkan kalian kaum laki laki, selesaikan permasalahan yang harus segera dituntaskan. Semoga, semua dapat diselesaikan dengan baik." Ucap Omma Serly.
"Hem ... iya deh, kita kaum laki ngalah saja." Jawab Zayen pasrah.
"Ya sudah, buruan berangkat dan datangi rumah tuan Dana. Agar masalahnya cepat diselesaikan, dan tentunya tidak ada lagi kekhawatiran yang cukup genting." Perintah kakek Zio.
"Iya Pa," jawab tuan Alfan disertai anggukan.
"Iya Kek," jawab Zayen sedikit menahan malu.
Setelah mendapat perintah dari kakek Zio, tuan Alfan serta Zayen dan Seyn segera berangkat menuju rumah yang ditempati tuan Dana.
Selama perjalanan, tidak ada satupun yang membuka suara. Semua diam dan tentunya hening tanpa ada sepatah katapun yang terucap.
Tidak memakan waktu lama, Tuan Alfan bersana anak dan keponakannya telah sampai dimana tuan Dana tinggal. Setelah melepas sabuk pengamannya, tuan Alfan maupun Zayen dan Seyn segera turun dari mobil.
Dengan hangat, tuan Dana menyambutnya. Sesampainya didalam rumah, tuan Dana mempersilahkan untuk duduk.
"Silahkan duduk, mari ... oh iya, ngomong ngomong ada apa, ya?" tanya tuan Dana sembari duduk.
__ADS_1