
Pagi buta, Afna terbangun dari tidurnya. Dengan pelan membuka kedua matanya, kemudian tersenyum saat dirinya mendengar detak jantung suaminya pada dada bidangnya. Dilihatnya sang suami yang masih tertidur pulas, Afna sendiri enggan untuk membangunkan suaminya. Afna memilih untuk bangun, takut didahului ibu mertua maupun ayah mertuanya.
"Hem ... mau kabur rupanya, jangan bangun dulu. Kamu tahu? aku masih merindukanmu, aku tidak ingin melepasnya." Ucap Zayen semakin mengeratkan pelukannya, Afna sendiri merasa sesak untuk bernafas.
"Sayang ... jangan kuat kuat dong ... aku susah untuk bernafas." Jawabnya sambil melepaskan tangan milik suaminya, berharap dirinya bisa bernafas dengan leluasa. Zayen yang teringat akan janin yang dikandung istrinya pun segera melepaskan pelukannya, hingga membuatnya saling beradu pandang dengan jarak yang begitu dekat.
"Maafkan aku sayang, aku sampai lupa ada calon buah hati kita didalam rahimmu. Jaga baik baik untukku ya, sayang ... maafkan aku, jika waktu yang tidak lama lagi kita harus saling belajar untuk sabar. Berharap, cinta kita akan semakin kuat." Ucapnya tersenyum, kemudian mengusap rambut panjangnya. Afna pun membalas senyum dari suami tercintanya.
"Aku akan menjaganya bukan hanya untukmu, tetapi untuk kita. Aku sudah tidak sabar, ingin menyambutnya hadir ke Dunia ini." Jawab Afna dan tersenyum, kemudian segera bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Sedangkan Zayen sendiri duduk dan bersandar diatas ranjang pasien sambil menyibukkan dengan ponselnya.
Tidak lama kemudian, Afna telah selesai dan keluar dari kamar mandi sambil membawakan sikat gigi dan juga sabun cuci muka.
Dengan telaten, Afna membantu suaminya dalam kesulitan saat sedang mencuci mukanya.
"Sayang, bolehkah aku membantumu untuk mengelap badanmu dengan air hangat?" tanya sang istri sedikit gugup.
"Hem ... masih kepagian, sayang ..." jawabnya sambil menunjukkan jam dinding yang ada didalam ruangan.
"Tidak apa apa, biar badan kamu terasa lebih segar." Ucapnya dengan tatapan memohon.
"Baiklah, jika itu maunya kamu. Tapi .... awas loh, kalau sampai kamu nakal." Jawabnya meledek.
"Hem ... nakal dikit tidak apa apa, 'kan?" goda Afna sambil mengedipkan matanya. Zayen yang melihat tingkah istrinya hanya menelan salivanya susah payah seperti mengunyah singkong dan menelannya tanpa air minum.
"Hem ... terserah kamu saja. Yang terpenting kamu tidak merasa keberatan, aku takut kamu akan kecapekan melakukannya." Jawabnya.
__ADS_1
Setelah meminta izin, Afna kembali ke kamar mandi untuk mengambilkan air hangat untuk mengelap anggota tubuh milik suaminya yang dapat dijangkaunya. Dengan telaten, Afna membantu suaminya untuk membersihkan diri.
Saat dirasa sudah selesai, Afna membantu mengenakan pakaian lengkapnya. Zayen pun tersenyum bahagia, mendapati perhatian penuh dari sang istri tercintanya.
"Terimakasih, sayang ... kamu sudah perhatian denganku." Ucapnya dan tersenyum.
"Sudah menjadi kewajibanku untuk merawatmu dan memberi perhatian untukmu, tapi ..." jawabnya terhenti.
"Tapi kenapa, sayang?" tanya suami penasaran.
"Aku tidak lagi bisa memberi perhatian penuh untukmu setelah kamu menjalani hukumanmu, aku takut jika tidak ada yang merawatmu nantinya." Jawabnya menunduk sedih.
"Bukankah sudah aku bilang, jangan mengkhawatirkan aku. Percayalah, semua akan baik baik saja. Aku hanya butuh kamu memberi semangat untukku dan memberiku doa, itu jauh lebih dari cukup." Ucap Zayen meyakinkan, berharap sang istri tidak begitu mencemaskan. Ia takut, akan janin yang sedang dikandungnya jika sang istri banyak pikiran.
"Tapi, di tahanan bukannya semua disamaratakan. Tidak pandang pilih yang sakit ataupun tidak sakit, apalagi tempat tidurnya. Aku tidak bisa membayangkannya dengan kondisi kamu yang seperti ini." Jawab Afna dengan tatapan sedihnya, Zayen yang melihatnya pun berusaha untuk tersenyum. Agar sang istri dapat melihat suaminya tanpa ada beban sedikitpun.
"Aku bukakan pintunya sebentar, mungkin saja mama atau papa yang ingin masuk." Jawab Afna, suaminya pun mengangguk dan melepaskan tangan istrinya. kemudian segera Afna membuka pintunya.
Ceklek, Afna membukanya dengan pelan.
"Mama, silahkan masuk." Ucap Afna dan tersenyum ramah, ibu mertuanya pun membalasnya. Kemudian segera masuk dan mendekati putranya, lalu Afna kembali menutup pintunya.
"Selamat pagi, Ma ..." sapa Zayen dan tersenyum.
"Pagi juga, anakku ... ngomong ngomong masih pagi beginu kamu sudah terlihat segar, apakah istrimu yang melakukan pekerjaan ini?" tanya sang ibu sambil menunjuk baskom yang berisi air dan memperhatikan putranya yang sudah terlihat segar.
__ADS_1
"Maaf Ma, Afna lupa membereskannya kembali." Ucap Afna dengan malu, dan segera ia menyingkirkannya ketempat semula.
"Tidak apa apa, namanya juga lupa. Oh iya, bagaimana dengan kaki kamu. Apakah masih terasa sangat sakit? jika ia, katakan saja pada mama. Nanti biar Papa dan paman Ganan yang akan mencarikan Dokter untuk mengobati luka kamu ini, agar cepat sembuh. Mama juga khawatir saat kamu tidak dalam pengawasan mama." Jawabnya, kemudian kembali bertanya dan menatap putranya dengan tatapan sedihnya. Bagaimana tidak bersedih, baru saja bertemu harus kini berpisah kembali.
"Kenapa Mama menatapku seperti itu? Zayen baik baik saja kok, Mama tidak perlu mencarikan Dokter untuk Zayen, dikarenakan rasa sakitnya sudah terbayar dengan kehadiran sang buah hati. Semua beban dan rasa sakitpun tidak lagi terasa berat dan juga sakit." Jawab Zayen berusaha untuk tidak membuat ibunya terlalu mengkhawatirkannya.
"Baru saja kita bertemu, namun harus berpisah kembali denganmu. Mama benar benar tidak rela, jika kamu harus masuk ke tahanan." Ucapnya bersedih.
"Ma, doakan saja Zayen. Semoga Zayen mendapatkan kemudahan untuk melewati ujian ini, mau tidak mau Zayen harus bertanggung jawab atas perbuatan Zayen selama ini. Zayen tidak ingin menjadi pengecut yang mengandalkan uang sebagai jaminan, biarlah Zayen menjalani hukuman sebagaimana mestinya. Mungkin, ini akan membuat Zayen jera dan tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya. Cukup doa dari mama yang bisa membuat Zayen bisa melewati ujian ini dengan mudah, doa mama sangat berarti untuk Zayen. Mama jangan bersedih, Zayen masih ada istri
yang juga menjadi penyemangat untuk melewati ujian ini." Jawab Zayen, kemudian memeluk ibunya dengan kasih sayang.
Afna yang melihatnya pun terharu, dan menitikan air matanya. Meski baru bertemu beberapa hari, namun keduanya menunjukkan kasih sayangnya masing masing antara anak dan orang tua.
Tok tok tok suara ketukan pintu tengah mengagetkannya, Afna segera membukanya.
Ceklek, Afna membukanya dan tersenyum.
"Papa, silahkan masuk." sapa Anna, kemudian kembali menutup pintunya.
"Selamat pagi, Nak ... bagaimana keadaan kamu, apakah sudah ada perubahan?" sapa sang ayah dan bertanya.
"Pagi juga, Pa ... sudah lumayan mendingan. Rasa sakitpun sudah tidak begitu sakit, hanya saja terasa kaku." Jawabnya.
"Sepertinya besok kamu sudah tidak lagi di rumah sakit, kamu siap?" ucapnya.
__ADS_1
DEG! Afna terasa tersambar petir mendengar ucapan dari ayah mertuanya, seakan gelap dalam pandangannya.