Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Merasa tidak nyaman


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Zayen mengenakan pakaiannya dibantu sang suami untuk menganjingkan baju kemejanya dan membantu sang suami mengenakan dasi.


"Sudah sayang, sekarang lebih baik kamu mandi. Aku bisa menyisiri rambutku sendiri, lebih baik kamu mandi saja. Aku tunggu di ruang kerja, kalau sudah selesai temui aku diruang kerja." Ucapnya sambil meraih sisir rambut yang tidak jauh dari jangkauannya, Afna pun mengangguk dan segera mandi.


Sedangkan sang suami kini sudah berada didepan cermin menyisiri rambutnya, sekaligus merapihkan penampilannya. Kemudian, segera ia masuk ke ruang kerjanya. Afna sendiri sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri agar terasa lebih segar dan tidak terasa gerah. Tentunya badan lebih nyaman dan tidak terlihat lesu.


Waktu membersihkan diri pun telah selesai, Afna segera keluar dari kamar mandi. Lalu, ia mengenakan pakaiannya. Disaat ingin mengenakan pakaiannya, Afna merasa baju yang ia kenakan benar benar sudah tidak nyaman untuk ia pakai.


"Kenapa terasa sempit, dan juga terasa panas. Ah iya, perutku kini nampak jelas mulai membesar. Tentu saja terasa sempit dan juga panas, bagaimana ini? aku harus meminta suami untuk berbelanja baju." Gerutunya sambil melepaskan pakaiannya kembali dan mencarinya yang lebih longgar, meski terasa tidak nyaman.


Mau tidak mau, Afna mengenakan kaos oblong milik suaminya. Afna sendiri tidak memiliki pilihan lain selain pakaian dari suaminya. Setelah mengenakan kaos punya suami, Afna segera menyisiri rambut panjangnya. Kemudian, segera ia menemui sang suami dan mengajaknya untuk sarapan pagi.


Dengan pelan, Afna melangkahkan kakinya. Berharap suaminya itu tidak kaget saat melihat istrinya yang memakai baju kaos milik sang suami.


Zayen sendiri masih sibuk dengan laptopnya, ia tidak menyadari sosok istrinya yang sudah berada didepannya. Afna sengaja pelan pelan masuk, berharap sang suami tidak melihatnya.


"Ehem ehem." Afna pun berdehem, Zayen pun masih fokus dengan laptopnya.


"Sebentar, sayang. Masih nanggung, duduklah." Ucap sang suami tanpa mendongakkan kepalanya, Zayen masih saja fokus pada pandangannya. Afna sendiri akhirnya mendekati sang suami, tanpa disadari oleh Zayen, kini Afna sudah berada di sampingnya.


"Sayang, ayo kita turun. Papa dan Mama dan juga Omma maupun kakek dan Adelyn, pasti sudah menunggu kita." Ajak Afna sambil memegangi punggung suaminya.

__ADS_1


Zayen pun segera mematikan laptopnya, kemudian ia menoleh ke arah samping. Disaat itu juga, Zayen tercengang melihat penampilan istrinya yang benar benar sangat berbeda.


"Sayang, kenapa kamu pakai baju kaos?" tanyanya penasaran.


"Bajuku sudah tidak ada yang terasa nyaman, sayang. Jadi, aku memakai baju kamu. Aku tidak memiliki pilihan lain, semua bajuku terasa sempit dan gerah." Jawab Afna menjelaskan, Zayen pun segera bangkit dari posisi duduknya. Lalu, berdiri dihadapan sang istri. Zayen meletakkan kedua tangannya diatas pundak istrinya.


"Nanti aku akan meminta Viko untuk mengantarkan pakaian kamu, jangan khawatir. Nanti pelayan yang akan memilihkannya, dan Viko yang mengantarkannya. Aku tidak mengizinkan kamu untuk pergi tanpa ada aku yang mendampingi kamu, dan aku rasa jika berbelanja akan membuatmu lelah. Maka, biar suruhanku yang akan membelanjakannya." Ucap Zayen meyakinkan istrinya.


"Terima kasih ya, sayang. Kamu benar benar suamiku yang penuh perhatian, kalau begitu ayo kita turun." Jawab Afna dan tersenyum, kemudian ia mengajak suaminya segera turun untuk sarapan pagi.


Lagi lagi Zayen selalu menggandeng istrinya, ia benar benar takut jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya. Dengan pelan, keduanya menuruni anak tangga dan menuju ke ruang makan.


Semua yang berada di ruang makan, menatap heran dengan penampilan Afna yang berbeda.


"Pagi juga ..." jawab semuanya serempak, lalu ikut tersenyum.


"Afna, ayo duduk sayang. Oh iya, ada apa dengan penampilan kamu? kenapa kamu mengenakan baju milik Zayen? oooh ... Mama tahu sekarang, pasti baju kamu sudah terasa sempit dan juga gerah." Tanya ibu mertua dan mencoba menebaknya, Afna pun tersipu malu mendengarnya. Kemudian, Zayen menarik kursinya kebelakang. Lalu mempersilahkan sang istri untuk segera duduk.


"Iya Ma, baju Afna sudah tidak ada lagi yang nyaman untuk dipakai. Karena tidak ada pilihan yang lain, Afna memakai baju milik suami Afna." Jawab Afna malu malu.


"Kamu jangan khawatir, nanti Mama pesankan baju yang pas dan nyaman untuk kamu pakai. Mama juga pernah mengalaminya seperti yang kamu rasakan sekarang. Percayalah, tidak akan lama kamu akan melewati masa masa kehamilan kamu. Sekarang nikmati momen momen bahagia kamu saat mengandung calon buah hati kamu, semua akan terbayar setelah kehadiran sang buah hati dalam dekapan kamu nantinya." Ucap sang ibu meyakinkan menantunya, berharap agar tidak terlalu cemas untuk memikirkannya.

__ADS_1


"Iya Ma, Afna mengerti. Afna selalu menikmati hari hari Afna bersama calon sang buah hati, Afna tidak akan menyia nyiakannya." Jawab Afna dan tersenyum.


"Mama tidak perlu memesankan baju untuk Afna, karena Zayen sudah memesankannya." Ucap Zayen ikut menimpali.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita sarapan pagi." Ajak sang ibu.


Dengan suasana yang tenang, semua menikmati sarapan paginya. Bahkan, tidak ada satupun yang membuka suara sepatah kata pun.


Setelah selesai menikmati sarapan paginya, satu persatu meninggalkan ruang makan. Kini, tinggal lah Zayen dan Afna yang masih berada di ruang makan, sedangkan Adelyn sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap siap berangkat ke Kantor.


"Sayang, ini vitaminnya jangan lupa diminum. Itu juga, susunya dihabiskan. Aku tidak ingin calon anak kita kekurangan asupan gizi, jadi jangan sampai kamu lalai." Ucap Zayen mengingatkan, Afna pun mengangguk. Kemudian segera ia meminum vitaminnya dan juga menghabiskan susu untuk wanita hamil.


"Sudah, aku sudah menghabiskan semuanya. Sekarang, aku akan mengantarkan kamu sampai didepan rumah." Ucap Afna, Zayen maupun Afna segera bangkit dari. posisi duduknya, lalu pergi keluar.


Begitu juga dengan Adelyn, ia berlari kecil mengejar saudara kembarnya. Dirinya tidak ingin jika harus berangkat satu mobil bersama Viko. Dengan langkahnya yang gesit, Adelyn sudah berada didepan rumah.


Namun, yang ia dapati justru Viko yang sudah berdiri tegak didepannya. Adelyn pun kaget dibuatnya, benar benar di luar dugaannya.


'Kenapa sekilat ini sih, kenapa juga sudah berdiri tegak di depan rumah. Benar benar sudah seperti jin iprit nih pria batu ini, sungguh menyebalkan.' Batin Adelyn berdecak kesal.


"Nona, jangan banyak melamun. Nanti usia anda lebih cepat tua dibandingkan denganku, ayo masuklah ke mobil." Ucap Viko membuyarkan lamunannya, Adelyn sendiri hanya menelan salivanya.

__ADS_1


Mau tidak mau, Adelyn tidak bisa menolaknya. Meski harus memasang muka masamnya sekalipun, sedangkan Viko sendiri tetap dingin seperti yang dipikirkan Adelyn.


__ADS_2