
Dikediaman keluarga tuan Alfan, pagi pagi disibukkan dengan kesibukannya masing masing. Zayen sendiri sedang bersiap siap untuk berangkat ke Kantor, sedangkan sang istri sudah berada di dapur bersama adik iparnya. Siapa lagi kalau bukan Adelyn, meski sudah memiliki rumah pemberian dari sang suami. Tuan Alfan memintanya untuk tinggal sementara bersamanya, selain itu untuk menjadi teman Afna agar tidak kesepian. Ditambah lagi dengan situasi yang sedang tidak lagi aman.
Saat Zayen selesai menyisiri rambutnya, Zayen meraih ponselnya yang berada diatas meja dekat Sofa.
Karena penasaran, Zayen mengusap layar ponselnya. Kemudian dilihatnya sebuah pesan masuk, lalu dibukanya.
"Kak Seyn?" ucapnya lirih. Kemudian dengan lekat membaca pesan dari sang kakak.
"Mengajak pertemuan? ah! iya, aku sampai lupa. Bukankah semalam aku tengah menghubunginya." Ucapnya lirih, kemudian segera ia keluar dari kamarnya.
Dengan langkahnya yang terburu buru, Zayen menuruni anak tangga dengan gesit.
"Zayen, kenapa kamu terlihat terburu buru? ada masalah di kantor?" tanya sang ayah penasaran.
"Tidak ada masalah di Kantor kok, Pa. Zayen ada pertemuan dengan kak Seyn, ingin mengajaknya untuk menyelidik." Jawab Zayen sambil menarik kursi dan duduk dihadapan sang ayah.
"Papa hanya bisa berharap, semoga ada titik terang dalam kasus yang sedang kita selidiki sekarang ini. Dan, semua masalah tidak lagi menghantui keluarga kita. Papa sangat mengkhawatirkan Afna dan juga calon cucu Papa." Ucap sang ayah menatap serius depan putranya.
"Semoga saja, Pa. Zayen hanya bisa berusaha semampunya, semoga segera terungkap." Jawab Zayen, kemudian dilihatnya sang istri yang terlihat sangat berbeda dengan penampilannya yang semakin membesar bagian perutnya. Namun, tetap saja masih terlihat cantik.
Tidak lama kemudian, Viko ikut duduk bersama di ruang makan. Kemudian disusul Kakek Zio, omma Serly dan ibunya Zayen ikut duduk di ruang makan.
Adelyn dan Afna telah selesai menyiapkan sarapan pagi dan dibantu para pelayan dapur untuk menggidangkannya di atas meja. Setelah itu, Adelyn dan Afna duduk didekat suaminya masing masing.
__ADS_1
Kini, keluarga kakek Zio benar benar sudah lengkap kebahagiaannya. Meski masih dihantui beberapa masalah yang tengah menghadangnya, namun tidak patah semangat untuk melewati ujian yang begitu berat untuk dipikul nya. Perjalanan hidup dari kecil hingga kini sudah menjadi seorang kakek yang renta, tanpa lelah kakek Zio menghadapi setiap masalah yang ia lewati.
Dari kecil yang berawal seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan bersama kedua sahabatnya, kakek Zio akhirnya menjadi keluarga dari kedua sahabatnya. Tidak hanya itu, perempuan yang pernah ia sukai secara diam diam harus menjadi istri sang kakak. Kenyataan pahit yang harus ia terima ketika pulang dari luar Negri. Penuh harap akan meminang sang pujaan hati, namun kenyataannya harus kecewa dan harus lapang. Meski berat, dan sangat menyakitkan sekalipun.
Disaat kakek Zio menemukan perempuan yang dapat melengkapi kehidupannya, kakek Zio harus berpisah dengan keluarganya dan harus tinggal di Amerika. Ujian pun belum berakhir begitu saja. Ketika putrinya mendapatkan kebahagiaan, disaat itu juga harus kehilangan cucu laki laki kesayangannya.
Dan kini, ujian itu masih berlangsung pada cucunya. Kegelisahan yang terus menghantuinya, hingga membuat keluarga kakek Zio semakin geram dan ingin segera menangkap dan menjebloskannya dalang dari sebuah masalah yang sedang dihadapinya untuk tinggal di balik jeruji besi yang jauh dari kota selama lamanya.
"Zayen, Besok adalah jadwal istri kamu untuk periksa ke Dokter. Mama minta kamu jangan pergi ke Kantor, temani istrimu untuk pergi periksa kandungan. Kamu tidak perlu khawatir, Papa akan memberi penjagaan ketat untukmu dan istrimu selama perjalanan." Ucap sang ibu ikut menimpali.
"Iya, Ma. Zayen akan meluangkan waktu Zayen untuk Afna. Dan, kamu Viko. Aku minta bantuan kamu untuk mengungkap dalang dari semuanya." Jawab Zayen, kemudian beralih pada Viko.
"Tenang saja, aku sudah kerahkan anak buahku untuk menyergapnya. Hanya saja, anak buahku membutuhkan waktu untuk mencari ide yang tidak bisa dikelabui oleh lawan." Jawab Viko.
"Sudahlah, ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin, dan rasanya akan hambar dilidah." Ajak sang kakek untuk menghentikan obrolannya.
Semua tidak ada yang protes jika kakek Zio sudah menyuruhnya, semua nurut bak anak kecil yang takut pada orang dewasa.
Setelah selesai sarapan, Zayen dan Viko sama sama berangkat ke Kantor. Hanya saja, keduanya tidak lagi satu Kantor. Namun, Zayen dan Viko sama sama memiliki tanggung jawab yang sama.
Didalam perjalanan, Zayen menghubungi saudara laki lakinya yaitu Seyn untuk mengajaknya pertemuan disebuah tempat yang lumayan cukup privat.
Tidak lama kemudian, Seyn maupun Zayen telah sampai di tempat yang dituju secara bersamaan.
__ADS_1
Kemudian, keduanya segera turun dari mobilnya masing masing. Lalu, masuk ke sebuah ruangan khusus dan bersifat privat.
"Kak Seyn tidak masuk Kantor?" tanya Zayen sambil memeriksa penampilan sang kakak.
"Aku sengaja libur, aku penasaran kenapa kamu menelfon ku?" jawabnya dan balik bertanya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu hal pada kak Seyn." Jawab Zayen.
"Tanyakan saja, apa yang ingin kamu tanyakan padaku. Aku akan menjawabnya dengan benar, itupun jika pertanyaan dari kamu memang benar." Ucap Seyn dengan tatapannya yang serius.
"Apakah kak Seyn ada masalah yang belum terselesaikan dengan Reina, mantan istri kak Seyn?" tanya Zayen penuh selidik.
"Mungkin saja karena dia berada dibalik jeruji besi." Jawab Seyn singkat, sedangkan Seyn masih penasaran dan mencoba mencerna kalimat yang Zayen tanyakan.
"Kalau begitu, apakah istri kak Seyn tidak memiliki masa lalu?" tanyanya terus menyelidiki.
"Aku hanya tertuju pada seorang laki laki yang pernah menjalin hubungan dengan istriku. Laki laki itu bernama Hendi, yang juga satu angkatan dengan kita. Tepatnya di padepokan bela diri." Jawab Seyn menjelaskan.
"Apa iya, laki laki yang bernama Hendi itu ikut andil dalam dalang pelakunya? aku masih mencurigainya saat ini." Ucap Zayen menebak.
" Aku ingat sekarang, Merry. Iya! aku ingat sosok Merry yang pernah aku pecat dia dari Kantorku, karena tengah bersikap kurang ajar dengan Adelyn. Tidak hanya itu, Merry juga taman sekolah Neyney. Maksud aku Neyla istri kak Seyn." Ucapnya lagi dengan serius, Zayen pun menebaknya lagi ketika ia teringat seorang Merry yang pernah bermasalah dengannya disaat di Kantor.
"Kamu yakin?" tanya Seyn.
__ADS_1
"Aku tidak yakin, hanya saja menebaknya." Jawab Zayen yang tiba tiba sedikit ragu.