
Mendengar kabar bahagia dari ayah mertuanya, Zayen tertunduk sedih. Seakan dirinya tidak pantas untuk menjadi seorang ayah, dirinya merasa kotor dan terhina. Bahkan, dirinya merasa tidak bisa menjadi contoh untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk anak anaknya kelak.
"Kenapa kamu bersedih, nak? bukankah seharusnya kamu bahagia mendengar kabar bahwa istrimu hamil?" tanya sang ibu sambil menggenggam tangan milik putranya.
"Apa Zayen pantas menjadi seorang ayah, sedangkan Zayen sendiri begitu kotor akan perbuatan Zayen selama ini." Jawabnya tertunduk sedih, bahkan menatap wajah ibunya pun terasa berat. Dirinya tidak berani menunjukkan wajahnya didepan ayah mertuanya karena sangatlah malu, dan merasa sangat bersalah akan semua kesalahan dan kebohongannya selama ini.
"Kata siapa, kamu tidak pantas menjadi seorang ayah. Kamu tetap pantas menjadi seorang ayah dan menjadi contoh yang baik untuk anak anakmu kelak, Papa bisa mengerti dengan apa yang kamu hadapi selama ini. Semua orang berhak berubah untuk menjadi lebih baik lagi, Nak ... diluaran sana, banyak orang yang pernah melakukan kesalahan. Namun, bukan berarti tidak memiliki hak untuk berubah. Percayalah dengan papa, kamu pasti akan menjadi ayah yang baik untuk anak anakmu nanti." Ucap ayah mertua ikut menimpali, dan memberi semangat untuk menantunya.
"Benar, anakku. Kamu pantas menjadi seorang ayah, belum tentu orang lain sekuat kamu untuk menjalani hidup yang harus menjadi dua peran dalam setiap langkahmu. Kamu berhak bahagia, dan juga berhak menggapai impianmu. Janganlah berputus asa, karena hanya sebuah kesalahan yang terpaksa kamu lakukan, kamu harus menghakimi diri kamu sendiri." Ucap ayah Alfan meyakinkan putranya, berharap untuk tidak mudah menyerah dan putus asa.
"Iya dong, kak. Kakak harus semangat, kakak tidak boleh putus asa. Adelyn yakin, kakak pasti bisa melewatinya. Adelyn percaya sama kakak, bahwa kak Zayen pasti mampu menggapai impian kakak yang selama ini kakak impikan." Ucap Adelyn yang juga berusaha memberi semangat untuk saudara kembarnya, Zayen pun tersenyum mengembang. Dirinya benar benar tidak menyangka, jika dirinya masih memiliki keluarga yang utuh. Ditambah lagi, keluarganya tidak jauh dari pandangannya. Sungguh, Zayen menemukan kebahagiaannya.
"Kalau begitu, papa pamit pulang. Jaga diri kamu baik baik, semoga lekas sembuh. Kalu tidak perlu khawatir, papa akan merahasiakan masalah kamu ini. Papa dan papa kamu, akan berusaha menutupi masalah kamu hingga selesai masa tahanan kamu. Tidak hanya itu, kita semua akan berusaha mencari bukti untuk mengurangi masa tahanan kamu. Kamu yang sabar, dan tetap jaga kesehatan kamu." Ucap ayah mertua berpamitan.
"Baik, Pa. Terimakasih, papa masih berbuat baik terhadap Zayen." Jawab Zayen dengan lemas, ditambah lagi dirinya masih membutuhkan pendonor darah untuk memulihkan kondisinya.
Setelah berpamitan, tuan Tirta segera pergi dari ruangan rawat Zayen. Sedangkan Zayen, kini beristirahat kembali. Agar kondisi tubuhnya tidak semakin melemah, karena banyaknya mengobrol. Hingga membuat jadwal istirahatnya berkurang.
Didalam perjalanan, tuan Tirta benar benar lega. Bahwa kekhawatirannya sedikit sedikit mulai terungkap, hanya saja dalang yang sesungguhnya belum dapat ditemukan. Ditambah lagi, tuan Arganta telah meninggal sebelum mengatakan siapa pelakunya yang sebenarnya.
__ADS_1
'Aku semakin penasaran, siapakah yang sebenarnya ingin menghancurkan bagian keluarga Wilyam. Mungkinkah masih dalan satu keluarga, atau ... rekan kerja, atau ... teman, atau ... karena asmara. Aah! itu bisa aku pikirkan nanti, sekarang yang terpenting adalah Kazza. Aku harus mengupas tuntas dengan sikap Kazza yang semakin mengkhawatirkan. Ditambah lagi, Afna yang masih hamil muda. Pastinya tidak diperbolehkan banyak pikiran dan lain sebagainya.' Batin tuan Tirta penuh kekhawatiran terhadap keluarganya sendiri, maupun keluarga menantunya.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama dalam perjalanan, tuan Tirta telah sampai didepan rumahnya. Dengan perasaan yang campur aduk, tuan Tirta berusaha untuk menunjukkan sikap tenangnya. Berharap, putrinya tidak mengintimidasi sang ayah.
Dengan langkah kakinya yang santai, tuan Tirta menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Agar pikirannya tidak semakin kacau, dan dapat berpikir lebih jernih kembali.
"Papa, dari mana?" seru Afna menghentikan langkah kakinya yang hendak membuka pintu kamarnya. Sang ayah membalikkan badannya dan menghadap putrinya.
"Afna, kamu belum tidur?" tanya sang ayah mengalihkan pertanyaan dari putrinya.
"Afna belum mengantuk, kata mama ayah sedang menemani suami Afna. Kenapa papa tidak pulang bersama? apa, suami Afna langsung pulang ke rumahnya?" jawab Afna balik bertanya.
"Kamu mengkhawatirkan suami kamu? jangan khawatir, suami kamu baik baik saja. Malam ini dan beberapa waktu kedepan, suami kamu ada pekerjaan yang sangat mendesak. Jadi, suami kamu belum sempat menelfonmu. Sekarang, kamu istirahatlah. Sayangi kesahatan kamu, ditambah lagi kamu sedang hamil. Tidak baik, wanita hamil bergadang sampai malam." Ucap sang ayah yang harus berbohong demi kebaikan putrinya, sang ayah sangat takut jika putrinya akan menjadi shok dan banyak pikiran, jika mengetahui masalah yang sedang dihadapi suaminya.
Tuan Alfan kembali memutar badannya dan segera masuk kedalam kamar, sedangkan istrinya sudah duduk diatas tempat tidur. Seakan ingin segera mendengar kabar dari menantunya, berharap tidak ada masalah yang lebih serius. Tuan Alfan segera mengunci pintunya, agar tidak ada yang tiba tiba masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa kamu belum tidur juga? apa kamu juga ingin memberondong pertanyaan kepadaku?" tanya sang suami sambil melepas pakaiannya.
"Bagaimana dengan Zayen? aku sangat ketakutan, jika Afna mengetahu masalah yang sedang dialami suaminya." Tanya sang istri yang juga merasa cemas.
__ADS_1
"Zayen baik baik saja, hanya masih kurang transfusi darah. Aku bingung harus mencari kemana untuk mendapatkan darah yang cocok untuk Zayen."
"Memangnya, golongan darah milik Zayen, apa?"
"Golongan darah Zayen O-, sangat sulit ditemukan."
"Kazza, kenapa kamu lupa dengan putra kamu sendiri. Bukankah golongan darah Kazza juga O- sama seperti Afna."
"Kazza menolak dengan keras, hanya tuan Alfan yang dapat mendonorkan darahnya. Ah iya, aku sampai lupa menberikan kabar bahagia. Kamu tahu? ternyata, tuan Alfan ada orang tua kandung Zayen. Adevin adalah Zayen, tuan Arganta telah mengatakannya dengan jujur saat hembusan nafas terakhirnya."
"Apa!!! Zayen adalah Adevin? kamu tidak lagu bercanda, 'kan?"
"Untuk apa aku bercanda dan berbohong. Ceritanya panjang, jika pikiranku sudah tenang akan aku ceritakan semuanya kepadamu. Sekarang yang terpenting adalah Kazza, aku harus mengintrigasinya. Aku tidak ingin masalah ini semakin besar, dan Kazza akan menjadi kambing hitam selanjutnya. Aku tidak ingin putraku menjadi sasaran empuk oleh orang yang akan menghancurkan keluarga kita maupun keluarga Wilyam." Ucap sang suami menjelaskan panjang lebar kepada istrinya.
"Syukurlah, aku ikut bahagia. Meski masih banyak kecemasan yang belum terselesaikan, semoga kita dapat melewatinya dengan mudah."
"Semoga, kita hanya bisa berusaha dan terakhir hanya bisa pasrah." Ucapnya, kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, agar badannya terasa segar.
Sedangkan didalam kamar, Kazza tersenyum puas saat melihat berita bahwa Zayen tengah tertangkap polisi.
__ADS_1
"Rencanaku berhasil, yes!! Zayen tengah masuk ke media manapun. Aku yakin, dirinya akan merasa sangat malu atas perbuatannya itu." Gerutunya dengan tawa kecil didalam kamar.
Entah beberapa demit yang tengah menguasi otaknya, hingga sikapnya semakin menjadi tidak terkontrol. Bahkan sifat buruknya kini tengah menguasai emosinya yang seharusnya tidak ia lakukan terhadap saudara iparnya sendiri.