Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Gregetan


__ADS_3

Setelah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, nyonya Nessa dan tuan Tirta memejamkan kedua matanya karena menahan kekonyolan pelayannya yang memberi kabar jauh dari pemikiran kedua orang tua Afna.


"Aduh ... kenapa Nyonya dan Tuan, pingsan?" gerutu Yuni semakin panik saat melihat kedua majikannya yang tiba tiba menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, ditambah lagi kedua majikannya memejamkan kedua matanya.


"Nyonya, Tuan. Aduh! bagaimana ini? aku bingung untuk membangunkannya." Gerutunya yang masih panik didekat majikannya.


Kedua orang tua Afna masih menahan tawa ketika pelayannya yang masih bingung dengan semuanya.


Karena merasa kasihan dengan pelayannya yang kebingungan, nyonya Nessa segera bangkit dari posisinya.


"Yuni, sekarang lebih baik kamu keluar dan bawa seprei ini dan selimutnya untuk kamu cuci. Soal Afna, kamu tidak perlu cemas. Semua akan baik baik saja, kamu mengerti?" Perintah majikannya untuk menghindar dari berbagai pertanyaan. Karena tidak mungkin menjelaskannya di depan suaminya.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi untuk keluar dari kamar ini." Jawab Yuni sambil mengangguk, meski pada diri Yuni masih menyimpan rasa penasaran atas maksud darah yang berada pada seprei majikannya.


Sedangkan nyonya Nessa segera membangunkan suaminya yang masih menahan tawa akan kepolosan pelayannya.


Karena nyonya Nessa pun teringat masa lalunya saat bersama suaminya, ketika pada waktu itu menjadi pengantin baru. Dan disaat dirinya melakukannya bersama sang suami, tuan Tirta pun kebingungan saat ada banyak dar*ah disepreinya.


"Sayang, bangun. Yuni sudah aku perintahkan untuk keluar, dan juga aku menyuruhnya untuk segera mencuci spreinya." Ucapnya sembari membangunkan suaminya.


Tuan Tirta pun segera bangun dari posisi tidurnya, kemudian segera duduk disamping istrinya.


"Aku sudah sangat khawatir dengan putriku, sampai sampai aku ketakutan jika terjadi hal buruk dengan Afna. Tidak tahunya pagi pertama, eh! benar, kan sayang?" ucap tuan Tirta dan tersenyum melebar saat mengingat darah yang ditunjukkan oleh pelayannya.


"Berarti, Afna dan Zayen?"

__ADS_1


"Aku yakin, keduanya sudah saling menerima kekurangan satu sama lainnya." Ucap tuan Tirta mencoba menebaknya.


"Lalu, apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang menantumu itu? aku masih penasaran dengannya. Meski aku merestui hubungan mereka berdua, tetapi aku masih punya rasa penasaran dengan Zayen. Dia tidak terjun di perusahaan ayahnya, ada apa? jika tidak ada masalah dalam keluarganya kenapa tidak terjun bersama sang kakaknya yaitu Seynan."


"Aku pun belum bisa mendapatkan informasinya, yang aku ketahuinya hanya pengiriman barang. Tapi aku tidak mengetahuinya, barang apa yang dijadikan bahan pekerjaannya. Semoga pemikiranku salah, jika benar maka aku harus bertindak."


"Maksud kamu?" tanya sang istri semakin penasaran.


"Pengiriman barang terlarang. Tapi aku tidak berani berasumsi tentang keburukannya, karena aku belum mengetahuinya sendiri. Aku tahu, prasangka buruk itu dapat menimbulkan kebencian sebelum mengetahui kenyataannya. Sudahlah, pemikiran kamu tidak akan sanggup untuk menangkap penjelasan dariku. Aku yakin, Zayen bukan orang yang kita sangka buruk. Sekarang, ayo kita keluar. Aku masih ada pekerjaan, dan kamu istirahatlah. Jika tidak keberatan, buatkan aku kopi pahit dan cemilan yang bisa menemaniku didepan layar laptopku."


"Baiklah, aku akan segera membuatkannya untukmu."


"Ingat! beri pelajaran untuk Yuni, bukankah Yuni adalah tetangga kamu. Jadi beri pelajaran tentang kewanitaan, takutnya jika tambah oleng. Bercak dar*ah pun tidak tahu, sungguh luar biasa." Ucap tuan Tirta tanpa menyadarinya sendiri, bahwa dirinya pun dahulunya sangat ketakutan saat istrinya mengeluarkan dar*ah pada bagian sensi*tiv sang istri.


Sedangkan sang istri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tidak jelas saat mendengar penuturan dari suaminya.


"Aku ini kaki laki, jadi wajar dong jika aku tidak tahu. Lah itu, si Yuni kenapa tiba tiba mendadak amnesia."


"Wajar dong, jika Yuni tidak tahu. Karena Yuni gadis tua yang pernah gagal dalam pernikahan dan pernah mengalami trauma, jadi wajar jika dirinya tidak mengetahuinya. Meski Yuni wanita yang pernah mengalami trauma, tetapi dia orangnya sangat giat dalam bekerja. Tidak hanya rajin, tetapi juga cekatan." Jawab sang istri menjelaskan akan kebenaran dari tetangganya.


Tuan Tirta yang mendengarnya pun merasa kasihan akan keadaan Yuni yang begitu memprihatinkan. Tuan Tirta sangat bersyukur, meski putrinya gagal menikah, tetapi kini sudah mendapatkan suami yang benar benar bertanggung jawab. Walau kenyataannya menantunya terlihat misterius dalam pikirannya.


Sedangkan Yuni kini sedang didalam ruangan khusus untuk mencuci pakaian dan menjamurnya. Tiba tiba Yuni dikagetkan oleh teman kerjanya, yang tidak lain sama sama menjadi pelayan di keluarga Danuarta.


"Eh, Yun." Panggil temannya sambil menepuk punggung milik Yuni yang sedang fokus membersihkan noda merah pada seprei milik Afna.

__ADS_1


Yuni pun sontak kaget saat temannya tiba tiba datang menepuk punggungnya. Yuni langsung menoleh kebelakang dan mencari sumber suara.


"Kamu May, ngagetin aku saja. Ada apa, Mey?"


"Tadi aku melihat Nyonya dan Tuan seperti terburu buru masuk ke kamar Nona muda. Bukankah kamu tadi juga berada di kamar Nona. Sebenarnya ada apa di kamar Nona muda, Yun?" tanyanya penasaran.


"Ini loh, May. Tadi saat aku masuk ke kamar Nona muda, tiba tiba aku dikagetkan dengan tempat tidur miliknya tidak ada seprei maupun selimut. Kaget pastinya, dan aku pun panik dan ketakutan. Lalu aku segera melihat kondisi kamar mandi takut ada sesuatu yang mencurigakan. Nah, tiba tiba aku mendapati selimut dan sepreinya. Tahu tidak, Mey. Banyak dar*ah di seprei milik Nona, dan aku langsung menelfon Nyonya. Aku takut terjadi apa apa dengan Nona muda. Kamu tahu sendiri dengan suami Nona, 'kan? sangat menyeramkan penampilannya. Maka aku segera menghubungi Nyonya, dan menyuruhnya untuk segera pulang. Eeee! tidak tahunya setelah aku beritahu tentang kondisi seprei milik Nona, Tuan dan Nyonya pingsan." Jawabnya menjelaskan panjang lebar.


Sedangkan May yang mendengar penjelasan dari Yuni pun tidak kalah uniknya dengan majikannya, May langsung menepuk keningnya sendiri dan langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai.


"May, bangun! kenapa kamu seperti Nyonya dan Tuan. Kamu jangan ikutan pingsan, May. May ..... bangun!"


"Kamu pura pura amnesia, atau... memang sedang amnesia sih Yun .....!!"


"Maksud kamu, May?" tanya Yuni yang merasa bingung dan juga cemas dengan keadaan May yang tadinya pingsan.


"Nona muda itu, habis melakukan kewajibannya sebagai istri, Yuuuuuuun!!"


"Apa ......!! maksud kamu, May?" Yuni sambil melotot saat mendengar ucapan dari temannya.


"Kenapa kamu menjadi mendadak amnesia sih, Yuuuun .... hah!" May semakin geram dengan jalan pikiran temannya.


Berkali kali Yuni pun mencoba mencerna setiap kata kata yang keluar dari mulut temannya. Tiba tiba Yuni baru tersadar dan tercengang sendiri.


"Jadi maksud kamu, Nona habis una una ina?"

__ADS_1


Teman Yuni pun kembali menepuk keningnya, begitu juga dengan Yuni sendiri yang ikut menepuk keningnya sendiri dan menjatuhkan dirinya ke lantai dengan pelan. Kemudian, keduanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


__ADS_2