Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Seperti mimpi


__ADS_3

Tuan Alfan masih dengan posisinya, menunduk disamping ranjang pasien. Begitu juga dengan tuan Tirta dengan posisinya yang membungkukkan badannya sambil menggenggam sisi ranjang.


"Maaf tuan, Pasien telah meninggal dunia." Ucap sang Dokter dengan serius. Sedangkan tuan Alfan masih tidak percaya, jika tuan Arganta telah berpulang.


"Dok, jangan bohongi saya. Periksa kembali, Dok. Cepat! Dok, saya mohon. Mungkin Dokter ada kesalahan saat memeriksanya, Dok! mungkin pasien sedang tidur. Cepat! lakukan pegangannya kembali, Dok." Jawab tuan Alfan berulang ulang, dirinya masih tidak percaya jika tuan Arganta telah meninggal. Sedang tuan Alfan masih berharap untuk mendapatkan bukti siapa pelaku yang sesungguhnya.


"Tuan Alfan, ayo kita keluar dari ruangan ini. Sekarang, temuilah putramu. Bukankah kamu sangat merindukannya? sekarang sudah kamu temukan. Aku yakin, Zayen sangat merindukanmu seorang ayah. Cepat, temuilah putramu. Zayen sangat membutuhkan kamu, aku yakin itu." Ucap tuan Tirta membujuk, tuan Alfan pun mengangguk.


Dengan langkahnya yang tidak sulit untuk dikejar, tuan Alfan telah sampai didepan ruangan putranya yang sedang bertarung dengan lukanya.


Berderainya air mata tuan Alfan begitu sulit untuk dibendungnya. Bertahun tahun mencari putranya yang tengah hilang lebih dari dua puluh tahun, tetap saja tidak ditemukan titik terangnya. Bahkan, tuan Alfan benar benar sudah sangat prustasi dalam mencari sosok anak laki laki kesayangannya.


Tuan Tirta segera menarik paksa tuan Raska, dan memintanya untuk menyingkir sebentar dari ruangan Zayen dirawat. Setelah itu, tuan Tirta segera menghubungi istri dari tuan Alfan untuk diminta segera datang ke rumah sakit.


Sedangkan tuan Alfan sendiri dengan pelan membuka pintunya dengan sangat hati hati.


Ceklek, tuan Alfan menutupnya kembali. Dilihatnya wajah putranya begitu lekat, tuan Alfan semakin mendekatkan dirinya disamping putranya yang sedang terbaring lemas diatas ranjang pasien dirawat.


Sesekali tuan Alfan mengusap lembut bagian wajah milik putranya dengan penuh kerinduan yang begitu dalam sedalam lubuk hatinya. Buah hati yang sangat dinanti nantikan, hilang begitu saja. Dan kini, saat dipertemukan dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Orang tua mana yang tidak terpukul perasaannya, saat mendapat kabar bahagia dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.


Dengan lembut, tuan Alfan mengecup kening putranya yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu. Bahkan, tuan Alfan sendiri belum sempat menimang nimang putranya. Kini dilihatnya sudah tumbuh dewasa dan tampan, bahkan sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik.

__ADS_1


Rasa penasarannya yang masih tersimpan, tuan Alfan mencoba melihat lengan bagian kiri milik Zayen. Tuan Alfan benar benar ingin memastikan kebenarannya, apakah benar yang dikatakan oleh tuan Arganta.


Dengan pelan, tuan Alfan mencoba untuk melihatnya. Berharap, apa yang dikatakannya tuan Arganta adalah benar.


Saat itu juga, tuan Alfan benar benar tercengang melihatnya. Ternyata, apa yang dikatakan tuan Arganta adalah benar adanya tanda lahir dari putranya. Senyum bahagia terlintas pada kedua sudut bibir tuan Alfan, bahwa dirinya sangat bahagia atas dipertemukan nya dengan putra kesayangannya yang telah lama menghilang.


"Adevin, kamu benar Adevin putraku. Ini papa, nak. Papa sangat merindukanmu, bahkan mama kamu hampir prustasi karena papa tidak lagi bisa menemukanmu. Maafkan papa, yang selama ini telah melalaikan kamu. Papa berjanji, papa akan menemukan pelakunya. Papa juga tidak akan membiarkan kamu yang menjadi korban kebiadaban dari orang orang yang tidak bertanggung jawab." Ucap tuan Alfan sambil memegangi tangan milik putranya.


Tidak lama kemudian, istri dari tuan Alfan bersama putrinya yaitu Adelyn telah sampai dirumah sakit. Tepatnya sudah berada didepan ruangan yang dimana Zayen dirawat.


"Maaf tuan Tirta, ada masalah apa ya? kenapa tuan Tirta menelfonku? apakah suamiku mengalami kecelakaan?" tanyanya penuh kecemasan. Ditambah lagi, sosok suaminya yang tidak lagi terlihat disekeliling tuan Tirta. Begitu juga dengan Adelyn, yang juga penasaran dengan jawaban yang akan disampaikannya.


"Tidak ada masalah sama sekali, bahkan suami kamu baik baik saja. Oh iya, ada kejutan untuk kamu dan Adelyn. Masuklah kedalam ruangan ini, kalian berdua akan menemukan jawabannya. Silahkan, masuklah." Jawab tuan Tirta, kemudian tersenyum.


"Baiklah, kita berdua akan segera masuk. Kalau begitu, permisi ..." ucapnya, kemudian membalikkan badannya dan dengan pelan membuka pintunya.


Ceklek. Ibunya Adelyn pun membuka pintunya dengan pelan.


Dilihatnya sang suami yang sedang duduk disamping pasien, kedua matanya pun tertuju dengan sosok laki laki yang sedang terbaring diatas ranjang pasien.


Begitu juga dengan Adelyn, dirinya menaroh rasa penasaran dengan sosok laki laki yang tengah terbaring lemas.

__ADS_1


Setelah berada disamping suaminya, yang dilihatnya adalah Zayen yang terbaring lemas diatas ranjang pasien.


"Sayang, ada apa dengan Zayen? kenapa kamu menangis? Zayen kritis? Zayen butuh donor darah? Zayen kenapa, sayang?" tanyanya memberondong berbagai macam pertanyaan. Sedangkan tuan Alfan masih diam, dirinya hanya menggelengkan kepalanya.


Sang istri yang melihat ekspresi suaminya hanya menatapnya dengan perasaan bingung. Adelyn pun juga merasa ada sesuatu yang cukup aneh dengan ayahnya yang terlihat sangat berbeda.


"Kamu merindukan putramu, 'kan?" tanya tuan Alfan yang masih pada posisinya sambil mengusap usap telapak tangan milik putranya.


"Iya pastinya, siapa yang tidak merindukan anaknya yang telah hilang bertahun tahun. Memang ada apa dengan ucapan kamu itu? dan kenapa juga berbicara diruangan pasien. Apakah sekarang ini adalah jadwal kamu untuk menjaga Zayen?" tanya istrinya yang masih belum bisa mencerna ucapan dari suaminya itu.


"Iya, Pa. Maksud papa berkata seperti itu, kenapa?" tanya Adelyn yang juga ikut penasaran dengan ucapan dari sang ayah. Tuan Alfan bangkit dari posisi duduknya, kemudian menuntun istrinya mendekatkan putranya disamping kiri sang anak yang sedang berbaring diatas ranjang.


Kedua tangan tuan Alfan diletakkannya diatas bahu milik istrinya dan ditatapnya lekat wajah sang istri.


Sambil menarik nafas panjangnya, dan dikeluarkan dengan pelan. Tuan Alfan berusaha untuk tenang, dan berharap sang istri tidak menangis histeris saat mengetahui kebenarannya.


"Kamu sangat merindukan putramu, 'kan?" tanya tuan Alfan yang masih menatap lekat istrinya.


"Iya, aku sangat merindukannya." Jawabnya kemudian mengangguk, Adelyn melihat kedua orang tuanya pun semakin bingung dibuatnya. Berkali kali berusaha mencernanya, namun tetap saja tidak dapat menemukan jawabannya.


"Zayen, Zayen adalah putramu yang selama ini kamu rindukan. Zayen adalah Adevin, lihatlah tanda lahirnya." Ucap tuan Alfan dengan tatapan seriusnya.

__ADS_1


"Apa!!! Zayen? maksud kamu, Zayen adalah Adevin? kamu tidak lagi berbohong, kan? kami tidak lagi membuat drama, 'kan?" tanya sang istri serasa tidak percaya mendengar penjelasan dari suaminya. Seketika itu juga tubuhnya gemetaran, bibirnya kelu untuk berucap. Apa yang tengah didengarkannya benar benar terasa mimpi, semua seperti kabar angin yang kemudian pergi begitu saja.


__ADS_2