
Adelyn yang mendengarnya pun serasa tersambar petir disiang bolong. Adelyn benar benar masih seperti mimpi menerima kenyataan yang sesungguhnya. Dengan pelan, Adelyn mendekati kedua orang tuanya. Berharap yang dikatakan dari sang ayah benar adanya, tanpa ada rekayasa yang dibuat buat untuk bermain drama terhadap ibunya yang sangat merindukan akan kehadiran putranya yang telah hilang begitu lamanya.
"Benarkah, Zayen adalah putra kita yang hilang selama ini?" tanya sang istri kembali untuk meyakinkan pada dirinya sendiri. Tuan Alfan mengangguk, kemudian mempersilahkan istrinya untuk segera duduk didekat putranya.
Sebelumnya, sang ibu membelai lembut pada pucuk kepala putranya. Tidak hanya itu, sang ibu pun mengecup kening putranya penuh kasih sayang yang telah lama tidak pernah beliau memberinya kasih sayang kepada putranya. Air matanya pun mengalir begitu deras, hingga ikut membasahi pipi milik putranya yaitu Zayen.
Dengan pelan, jari jemari Zayen tengah bergerak, dan kedua matanya pun mulai terbuka. Tuan Alfan dan istrinya maupun Adelyn tersenyum mengembang saat melihat putranya telah sadar dari pingsannya.
Setelah mendapati putranya tengah sadarkan diri, tuan Alfan maupun istrinya saling menatap satu sama lain. Keduanya bingung harus berkata apa dengan putranya, tidak mungkin yang tiba tiba mengatakan kebenarannya. Tuan Alfan segera menekan tombol untuk memanggil sang Dokter agar segera datang dan memeriksa keadaan Zayen.
"Paman, ada dimana aku? dimana Afna. Istriku baik baik saja kan, paman?" Tanya Zayen yang tiba tiba teringat dengan istrinya.
"Afna sedang di rumah ayah mertua kamu, keadaan Afna baik baik saja. Jangan banyak pikiran terlebih dahulu, sayangi dulu kesehatan kamu." Jawab tuan Alfan meyakinkan, Zayen hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian, Dokter pun telah datang dengan cepat. Setelah itu, sang Dokter segera memeriksa kondisi Zayen yang belum lama mendapatkan pendonor darah. Sedangkan tuan Alfan dan istrinya maupun putrinya menyingkir tidak jauh dari Zayen.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Tuan Alfan penasaran.
"Keadaannya sudah mendingan, hanya saja masih membutuhkan pendonor darah lagi. Agar fisiknya segara pulih, dikarenakan lukanya ada pada kedua kakinya. Pasien masih beruntung, dua buah peluru tidak menembus tulang pada kedua kakinya. Jika sampai tembus ke tulang, makan bisa cacat permanen. Mungkin saja, jarak tembaknya yang lumayan jauh. Hingga tidak membuat tulang pada kakinya rusak." Jawab sang Dokter menjelaskan.
"Terimakasih, Dok. Akan segera saya carikan pendonor untuknya." Ucap tuan Alfan, kemudian sang Dokter segera pergi meninggalkan ruangan.
Setalah sang Dokter talah keluar, kini giliran tuan Tirta segera masuk untuk melihat kondisi menantunya. Tuan Tirta segera mendekati menantunya, walau sekedar menyapa. Sedangkan tuan Raska sendiri sudah pamit pergi, dikarenakan ada acara dengan keluarganya. Hingga tidak bisa untuk ikut menjenguk Zayen yang tengah sadar dari pingsannya.
"Pa-pa ...." ucap Zayen merasa malu dan merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Maafkan Zayen, Pa. Zayen sudah mengecewakan Papa, Afna, dan juga keluarga Papa." Ucap Zayen dengan tatapannya yang dipenuhi rasa bersalahnya.
"Kamu tidak bersalah, ini musibah." Jawab tuan Tirta yang justru merasa bersalah atas perbuatan putranya, hingga membuat menantunya harus menanggung resiko yang begitu berat.
"Zayen, apa kamu tidak merindukan keluarga kamu?" ucap tuan Tirta mencoba untuk bertanya.
"Papa, kak Seyn. Bagaimana keadaan mereka berdua, pa?" tanya Zayen yang juga mengkhawatirkan keadaan orang tua asuhnya. Meski tidak pernah bersikap Adil, Zayen tetap menganggap tuan Arganta adalah orang tuanya. Meski kenyataannya, dirinya bukanlah putra kandungnya dan perlakukan kasar terhadapnya.
"Maafkan papa yang tidak menolong papa kamu, sebenarnya ...." jawab ayah mertua terhenti, terasa berat untuk berkata jujur. Ditambah lagi kondisi Zayen yang masih belum pulih sepenuhnya.
"Kenapa papa diam, ada apa dengan papanya Zayen, pa?" tanya Zayen yang semakin penasaran.
"Papa minta sama kamu untuk berlapang dada, dan menerima semua yang sudah menjadi takdir. Bahwa papa kamu sudah berpulang, dokter pun sudah tidak bisa menolongnya." Jawab ayah mertua sebisa mungkin untuk berkata jujur, meski kematiannya karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
"Apa!! papa? papa berpulang? tidak, tidak mungkin. Papa tidak lagi bohong, 'kan? jawab." Ucap Zayen tidak percaya.
"Maksud papa?" tanya Zayen yang masih belum mengerti maksud dari ayah mertuanya itu. Sedangkan tuan Alfan sendiri masih berdiri didekat putranya, begitu juga dengan Adelyn maupun ibunya sedang duduk di dekat Zayen sebelah kiri.
Sebisa mungkin, tuan Alfan mengatakannya dengan jujur. Dengan pelan, tuan Alfan menunjukkan tanda lahir milik Adelyn untuk dicocokkan milik Zayen.
"Zayen ..."
"Iya, paman."
"Apa kamu kamu mengenal tanda ini?" tanya tuan Alfan yang seketika itu juga membuat Zayen tercengang. Percaya tidak percaya, kenyataan tidak dapat dipungkiri.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Kamu adalah Adevin saudara kembar dari Adelyn."
"Benarkah? tidak, tidak mungkin. Zayen tidak percaya, kalian hanya bersandiwara." Ucap Zayen yang masih belum percaya. Dirinya benar benar shok atas pengakuan dari ayahnya sendiri. sang ibu tidak henti hentinya menangis tersedu sedu dihadapan putranya, Zayen yang melihatnya pun tiba tiba merasa tersentuh hatinya saat melihat seorang wanita paruh baya menangis di depannya.
"Benar, Zayen. Yang dikatakan papa kamu, benar adanya. Kamu adalah Adevin, yang tidak lain adalah saudara kembar Adelyn. Golongan darah kamu pun sama dengan golongan darah papa kamu, dan bukti tanda lahir kamu cukup kuat bahwa kamu adalah saudara kembar Adelyn. Ayah kamu, Arganta. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Beliau mengatakan yang sejujurnya. Bahwa kamu adalah putra dari keluarga Wilyam, yang telah hilang sejak kamu masih bayi." Jawab ayah mertua menjelaskan kebenarannya.
Saat itu juga, kedua mata Zayen berkaca kaca saat memandangi ibunya yang kini tidak lagi muda. Namun, wajah cantiknya masih terlihat jelas. Zayen menatap satu persatu dari sang ayah, ibu, dan juga saudara kembarnya. Begitu juga dengan sang ibu, nafasnya pun terasa sesak saat mendapati sebuah kebenaran. Sungguh, semua terasa mimpi, pikir sang ibu dan menangis sesenggukan sambil menatap lekat wajah putranya. Berharap, putranya kan mengakuinya dan memanggilnya dengan sebutan mama ataupun ibu.
"Ma - ma," panggil Zayen terasa kelu dengan nafasnya yang terasa sesak saat memanggil dengan sebutan mama. Seumur hidupnya, baru pertama kalinya dirinya memanggil sebutan Mama. Dari kecil, Zayen selalu mendapat larangan untuk memanggil ibu asuhnya dengan sebutan mama maupun ibu. Zayen selalu diperlakukan berbeda, namun tidak membuat dirinya lemah. Zayen tetap menunjukkan sikapnya selayaknya seorang anak.
"Putraku, kamu putraku ..." ucap sang ibu membelai rambut putranya dengan tangisan bahagia, dan mencium pipi sebelah kiri milik Zayen. Rasa rindu yang bertahun tahun tertahan, kini terbayar sudah dengan pertemuan yang sangat mengharukan.
Tuan Tirta kemudian membantu menantunya untuk sedikit menyandarkan tubuhnya, agar dapat memeluk ibunya dan juga ayah maupun saudara kembarnya dengan leluasa. Meski sedikit menahan rasa sakit pada kedua kakinya.
Tuan Tirta yang melihatnya sangat haru, pertemuan yang tidak pernah disangka sangkanya. Kebahagian yang telah lama dinantikan, kini terjawab sudah doa doa dari kedua orang tua Zayen maupun keluarga besarnya. Harapan yang hampir saja pupus, kini telah didapatkannya dengan cara yang sangat indah.
"Zayen." Panggil ayah mertua mengagetkan. Kedua orang tuanya maupun Adelyn pun segera sedikit menyingkir, agar Zayen dapat leluasa untuk berbicara.
"Iya, Pa. ada apa?" tanya Zayen sedikit lemas. Dengan pelan, ayah mertuanya segera mendekati menantunya.
"Ada kabar bahagia untuk kamu, bahwa Afna ... Afna hamil. Afna sedang mengandung calon anak kamu. Selamat ya, Zayen." Jawab ayah mertua dan tersenyum.
"Apa .... Afna hamil? papa tidak lagi bohong, 'kan?" tanya Zayen seperti tidak percaya.
__ADS_1
"Benar, anakku. Istrimu sekarang tengah hamil, mama yang mengantarkannya untuk periksa. Selamat ya, putraku. Semoga kamu lekas sembuh, dan segera menjalani peraturan yang berlaku. Mama yakin, Afna pasti akan mengerti alasan kamu selama ini." Ucap sang ibu ikut menimpali dan berusaha menguatkan putranya.