Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pertemuan


__ADS_3

Neyla masih menyimpan rasa kekesalannya, emosinya hampir saja meluap. Namun, ia mencoba untuk mengendalikan dirinya agar tidak mudah menuruti egonya.


"Ney, ok! aku jujur sekarang. Waktu itu memang benar aku melakukan acara pertunangan dengan Eva, itu karena aku dijodohkan dengan kedua orang tuaku. Aku sudah berusaha untuk menghindarinya dan juga menolaknya, namun usahaku gagal." Ucap Hendi berusaha untuk menjelaskan.


"Usahamu gagal, karena apa? apa karena aku arogan. Ooh, tidak! pasti karena aku dari keluarga yang tidak punya. Ayo, katakan saja yang sebenarnya. Dan sekarang kamu menemuiku pasti ... ah, sudahlah. Aku rasa memang tidak perlu mengatakannya denganmu. Aku sudah mengerti maksudmu yang sekarang ini, pergilah." Jawab Neyla yang sudah tidak sabar harus meladeni orang yang menurutnya tidak begitu penting untuk dijadikan obrolan.


"Ney, aku mohon. Kita bersama lagi seperti dulu, aku janji denganmu. Aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi, percaya denganku." Ucap Hendi terus berusaha untuk meluluhkan Neyla.


"Ehem." suara seorang laki laki tengah berdiri dengan tegak sambil berdehem, membuat Neyla dan Hendi mendadak kaget.


"Seyn ..." sapa Hendi dengan reflek, Seyn pun mengangguk.


Neyla pun tercengang melihatnya, ia penuh keheranan dengan kedatangan Seyn secara tiba tiba.


Neyla pun segera memutar otaknya untuk mencari ide, berharap ia tidak kehabisan ide saat dalam situasi yang sangat sulit.


"Sayang, kenapa kamu bisa berada disini?" sapa Neyla dengan berakting, dan sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan milik Seyn. Disaat itu juga, Seyn terkejut bukan main. Bagaimana tidak terkejut dan sok, tiba tiba ia dipanggil dengan sebutan sayang.


Seyn pun kembali memutar otaknya, sebisa mungkin untuk mencerna disetiap kata yang diucapkan dari Neyla.


'Ini perempuan tidak lagi konslet, 'kan? ada angin ribut dari mana, bisa bisanya memanggilku dengan sebutan sayang. Benar benar sudah akut ini anak, hem.' Batin Seyn sambil mengatur pernafasannya, sebisa mungkin untuk mengimbangi semua omongan dari Neyla. Meski kedengaran sangat konyol dan mustahil, pikirnya.


"Sayang? kalian berdua?" tanya Hendi penuh tanda tanya didalam pikirannya.


"Iya, lelaki ini adalah calon suamiku. Kamu tahu? sebentar lagi kita akan segera menikah, namanya Seyn Arganta. Jadi, penjelasanku ini sudah cukup sangat jelas, 'kan?" jawab Neyla dengan cepat.


Seyn yang mendengar penuturan dari Neyla semakin sok tidak karuan, bahkan ia merasa ucapan Neyla benar adanya. Namun, Seyn segera menyadarkan pikirannya sendiri agar tidak terbawa suasana yang sedang mengajaknya untuk berakting.

__ADS_1


"Apa? kalian berdua akan menikah? tidak, aku tidak percaya. Bukankah Seyn akan menikahi seorang gadis dari keluarga yang kaya raya, yaitu pemilik Restoran Merpati Jaya. Aku yakin ini hanya omong kosongmu, mana mungkin seorang Seyn Arganta mau menikahi wanita baw ..." tiba tiba Hendi teringat akan siapa wanita yang ada dihadapannya itu. Hendi pun menyadarinya, jika Neyla akan menikah dengan Seyn tidak ada yang salah, pikirnya yang teringat siapa Neyla yang sebenarnya.


"Jadi, kalian berdua pernah ada hubungan? oooh." Tanya Seyn pura pura menebak.


"Iya, Seyn. Tapi, rupanya Neyla sudah menjadi milikmu. Yang berarti aku tidak lagi memiliki kesempatan, aku pergi." Jawab Hendi, dan pergi begitu saja.


Sedangkan kini tinggal lah Seyn dan Neyla yang masih berdiri tanpa ada sepatah katapun lagi yang terucap dari mulut keduanya.


"Hem ... rupanya dia mantan kekasih kamu, tampan. Kenapa kamu mesti berbohong dengannya, apakah dia seorang penghianat? jika iya, kasihan sekali nasib kamu." Ucapnya dan bertanya.


"Bukan urusan kamu, sekarang kamu pergilah. Aku sudah tidak membutuhkan kamu lagi, sebelumnya aku ucapkan terima kasih sudah membantuku tadi." Jawabnya, kemudian segera pergi meninggalkan Seyn.


"Tunggu, mau kemana kamu? kamu harus membayarku. Kamu sudah melibatkan aku dengan urusan pribadi kamu, ikut aku." Ucap Seyn menghentikan langkah kaki Neyla yang hendak pergi dari hadapan Seyn.


Mau tidak mau, Neyla kembali membalikkan posisinya. Hingga keduanya kembali saling berhadapan satu sama lain.


"Baiklah, aku akan mengatakannya langsung, aku berharap kamu tidak lagi jantungan." Ujar Seyn, kemudian tersenyum tipis dihadapan Neyla.


"Iya ya, cepetan katakan." Ucapnya yang sudah tidak sabar.


"Tidak jadi, aku lupa untuk mengatakannya." Jawab Seyn yang tiba tiba merubah pikirannya.


"Apa? kamu bilang lupa? menyebalkan." Tanya Neyla merasa geram, seakan dirinya tengah dikerjai.


"Sejak kapan kamu masuk di tempat ini, sepertinya aku tidak pernah melihatmu berada disini." Tanya Seyn basa basi sambil melangkahkan kakinya untuk berkeliling disekitaran area pelatihan.


"Aku lupa, cukup lama aku berada disini. Aku kesini karena Zayen, habisnya aku jenuh tidak ada kegiatan. Selain ikut balap motor, aku ikut pelatihan bela diri. Ya, walaupun aku tidak semahir kamu. Aku hanya seorang murid gadungan, tidak ada yang istimewa aku disini. Tapi, di tempat ini aku banyak teman. Meski temanku hanya Vella seorang, setidaknya aku ada teman. Kamu sendiri, kenapa baru kali ini aku melihat kamu? apakah ini tempat juga tempat latihan kamu? ayo, katakan saja." Jawab Neyla yang berusaha untuk mengimbangi langkah kaki Seyn dan juga memberi pertanyaan untuknya.

__ADS_1


"Latihan aku di malam hari, di siang hari aku sibuk dengan kegiatanku. Tentu saja, aku tidak pernah melihatmu. Begitu juga denganmu, kamu juga tidak pernah melihatku. Berbeda dengan Zayen, dia sibuk di malam hari." Jawab Seyn mencoba menjelaskan.


"Oh, pantas saja. Aku tidak pernah melihatmu, rupanya kamu latihannya dimalam hari." Ucapnya.


"Cie ... yang lagi ada obrolan serius, dunia terasa milik kalian berdua." Ledeknya.


"Apaan sih, Vell. Kamu itu, ya ... dari dulu suka begitu. Eh, dimana calon suami kamu. Kenapa tidak kamu ajak kesini? hem ..." jawab Neyla yang tidak mau kalah meledek sahabatnya.


"Hem ... tenang saja, calon suamiku lagi diluar Negri. Oh iya, aku pulang duluan ya, Ney. Salam buat keluarga dari ku, Vell." Ucap Vella berpamitan.


"Tenang saja, nanti salam dari kamu akan aku sampaikan. Salam juga buat keluarga kamu dariku, Neyla." Jawabnya yang juga ikut menitipkan salam.


"Ok, aku pulang." Ucapnya, kemudian segera pergi meninggalkan sahabatnya.


Setelah Vella pulang, kini tinggal Seyn dan Neyla yang masih tertinggal.


"Neyla, wanita tadi itu siapa?" tanyanya sedikit canggung.


"Tenang, aku tidak tertarik dengannya. Jadi aku tidak akan merebut wanita tadi dari calon suaminya." Ucapnya lagi untuk menjelaskan, ia takut disangka akan merebut milik orang lain.


"Oh, Vella. Kamu belum mengenalnya?" jawabnya bertanya.


"Kalau aku sudah mengenalnya, ngapain aku tanya sama kamu segala. Seperti tidak ada pekerjaan yang lain saja, hem." Jawabnya.


"Vella itu calon istri kak Kazza, kakak dari Afna mantan kekasih kamu itu. Mereka berdua dijodohkan, itu yang aku tahu." Ucapnya.


"Oooh ... bukan urusanku." Jawabnya dengan enteng.

__ADS_1


"Apa? tadi bertanya, kenapa sekarang baru bilang bukan urusanku. Maksud kamu itu apa? mau memancing emosiku, hah?" ucap Neyla dengan geram. Seyn pun hanya tertawa kecil, Neyla pun berkali kali mencubit pinggang milik Seyn. Seketika Seyn merasa geli dibuatnya.


__ADS_2