Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Keputusan yang sulit untuk diterima


__ADS_3

Selesai membagi beberapa banyak sembako untuk lingkungan rumahnya yang dahulu, Zayen memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Kini, Afna dan Zayen dalam perjalanan untuk pulang. Keduanya nampak menikmati perjalanannya, meski lumayan cukup jauh.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai di halaman rumahnya. Mobil yang di naikinya pun berhenti tepat didepan rumah yang cukup besar.


"Sayang, sepertinya Adelyn sudah kembali. Lihat lah, bukankah itu mobilnya Viko?" tanya Afna menebak sambil melepas sabuk pengamannya.


"Ah, iya. Viko dan Adelyn sudah pulang, cepat sekali mereka berdua." Jawab Zayen sambil memastikan lewat jendela kaca mobil. Kemudian, keduanya segera turun dan masuk kedalam rumah.


"Tara ... aku sudah datang." Seru Adelyn sambil lari kecil menghampiri kakak iparnya, yaitu Afna. Lalu, Adelyn memeluk Afna bukti sapaannya. Kemudian, Afna melepaskan pelukannya. Ia. merasa tidak nyaman saay dipeluk dalam kondisi perut yang semakin membesar.


"Kenapa kamu terburu buru untuk datang kesini? apakah kamu tidak capek? sayang sekali, pengantin baru harus banyak istirahat." Goda Afna dan tersenyum menggoda.


"Apa apaan sih, Afna. Ngeledek nih, ceritanya. Oh iya, aku dan Mama tadi telah menyiapkan makan siang. Ayo Afna, kita makan siang bersama." Jawab Adelyn tersenyum malu malu, dan mengajaknya untuk makan siang bersama.


Sedangkan Zayen, kini telah duduk dan mengobrol bersama adik iparnya. Siapa lagi kalau bukan Viko, yang pernah menjadi kaki tangannya Zayen.


Nasib Viko tidak jauh berbeda dengan ayah mertuanya, yang berawal menjadi kaki tangan salah satu keluarga Wilyam dan menjadikannya sebagai menantu. Hanya saja, nasib yang tidak mujur telah dirasakan oleh tuan Alfan bertahun tahun. Namun, pada akhirnya semua mimpinya begitu sempurna dihari tuanya.


"Loh loh loh, kenapa masih duduk duduk santai. Ayo Zayen, Viko, kita makan siang terlebih dahulu. Setelah itu, kita bisa melanjutkan obrolannya nanti." Ajak kakek Zio pada cucu laki lakinya dan juga pada cucu menantunya, yaitu Viko. Kemudian, keduanya menjawabnya dengan serempak dan segera bangkit dari posisi duduknya.

__ADS_1


Sedangkan Afna masih berada didalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang sudah dirasa gerah dan tidak lagi nyaman. Setelah itu, ia segera ikut berkumpul di ruang makan untuk makan siang bersama.


"Adelyn, dimana Afna?" tanya Zayen celingukan kearah dapur sambil mencari sosok istrinya.


"Sedang berada didalam kamar, barusan mengatakan mau mengganti pakaiannya. Kata Afna, ia merasa tidak nyaman dan terasa gerah. Maka dari itu, ia kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya." Jawab Adelyn menjelaskan.


"Oooh, aku kira sedang sibuk di dapur."


"Nah, itu Afna." Ucap sang ibu menunjuk kearah menantunya yang terlihat berbeda penampilannya yang hanya mengenakan daster rumahan, Zayen hanya menelan ludahnya kasar.


'Kenapa penampilannya terasa menggodaku, pakaian daster dari mana itu. Perasaan aku tidak pernah membelikannya, dan dia juga tidak pernah membelinya.' Batin Zayen yang merasa tergoda dengan penampilan istrinya yang terlihat semakin berisi.


"Tidak ada apa apa kok, Ma. Hanya heran saja kok, Ma. Memangnya Afna dapat pakaian daster itu dari mana, Ma?" tanya Zayen yang tanpa sadar sudah ada sang istri didekatnya.


"Mama yang membelikannya, dan ternyata setelah aku coba terasa nyaman dan tidak gerah. Mama membelikannya dengan kualitas yang cukup bagus, jadi sangat nyaman untuk aku pakai." Jawab Afna menimpali.


"Baiklah, besok aku akan memborong banyak pakaian daster untuk kamu dengan kualitas yang paling tinggi." Ucap Zayen yang merasa kurang memperhatikan istrinya, sedangkan Afna hanya menahan tawa saat melihat ekspresi suaminya yang terlihat cemburu karena telah didahului oleh ibunya dalam memberi perhatian pada istrinya.


Tidak hanya itu saja, Viko maupun Adelyn dan kedua orang tuanya dan juga kakek Zio beserta istrinya hanya tersenyum geli melihat ekspresi seorang Zayen.

__ADS_1


"Ngobrolnya nanti dilanjut lagi, sekarang kita makan siang dulu. Papa sudah sangat lapar, dan sudah tidak sabar untuk mencoba masakan dari putri Papa." Ucap sang ayah untuk mengajak anggota keluarganya menikmati makan siang.


Sang ibu dan kedua anaknya maupun kedua menantunya dan juga kakek Zio beserta istrinya yaitu Omma Serly hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan tuan Alfan selaku yang mewakilkan kakek Zio sang pemilik pewaris.


Didalam ruangan seketika menjadi hening, semua fokus dengan suapannya masing masing hingga sampai selesai menikmati makanannya hingga bersih tanpa tersisa di piringnya masing masing.


Setelah dirasa sudah cukup dan tidak ada yang menambah porsinya, tuan Alfan mengajak anggota keluarganya untuk berkumpul di ruang keluarga.


Semua duduk dengan rapi dalam posisinya masing masing. Satupun tidak ada yang memberanikan diri untuk membuka suara selain tuan Alfan selaku orang tua dari Zayen dan Adelyn.


"Jadi begini, Papa sengaja mengumpulkan kalian semua untuk diajak berembuk dan mencari solusi yang baik dan juga yang tepat. Apapun yang sudah menjadi keputusan Papa dan Mama pilih, kalian tidak ada yang bisa menolaknya. Keputusan tetaplah keputusan, apapun itu harus diterima dengan lapang." Ucap tuan Alfan untuk kedua anaknya dan juga kedua menantunya. Keempatnya mengangguk mengerti dan menjawabnya dengan serempak.


"Baiklah, akan Papa jelaskan kembali apa yang dimaksudkan dengan keputusan Papa dan kakek Zio untuk kalian. Jadi begini permasalahannya, Zayen adalah pewaris yang akan memegang kendali atas apa yang dimiliki keluarga Zio. Namun, tetap saja akan dibagi dengan adil. Dikarenakan istri Zayen tengah hamil besar, Papa tidak bisa memaksakan Zayen dan Afna untuk tinggal di Amerika. Papa tetap akan memberi keputusan ini sesuai keadaan kalian masing masing. Bahwa Adekan dan Viko yang akan tinggal di Amerika, tidak ada pengecualian untuk kalian menolaknya. Mau tidak mau, kalian berdua akan tinggal di Amerika." Ucap tuan Alfan menatap serius kepada kedua anaknya dan kedua menantunya secara bergantian.


Adelyn dan Zayen saling menoleh dan terjadi tatap muka pada keduanya, keduanya sama sama menarik nafasnya dengan pelan. Sedangkan kedua orang tuanya penuh harap atas keputusannya untuk kedua anaknya agar tidak ada rasa iri maupun cemburu diantara keduanya.


"Jika Adelyn tidak bisa untuk tinggal di Amerika, aku dan Afna yang akan tinggal di Amerika setelah kelahiran buah hati kita. Tapi, itu bukan janji sepenuhnya, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah buah hati kita lahir. Bisa jadi, istri hamil lagi atau sesuatu yang memang tidak bisa untuk menggantikan posisi Adelyn." Ucap Zayen dengan tatapannya yang serius didepan kedua orang tuanya setelah menatap lekat saudara kembarnya itu.


"Kak Zayen jangan khawatir, aku dan Viko siap menerima keputusan dari Papa. Apapun keputusan dari Papa, pasti tidak akan salah." Ucap Adelyn dengan tenang, meski sebenarnya ia sendiri tidak ingin jauh dari saudara kembarnya. Namun mau bagaimana lagi, meski dirinya tidak tinggal di Amerika, maka Zayen lah yang akan tinggal di Amerika dan tetap saja akan berpisah, pikir Adelyn.

__ADS_1


__ADS_2