Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Melaporkan


__ADS_3

Di ruang yang lain, Adelyn tengah diberondong berbagai macam pertanyaan. Adelyn pun menarik nafasnya secara pelan, berharap tidak mudah terpancing emosinya.


"Adelyn, serius nih. Jika kamu mau menikah dengan sekretaris Viko? wah, beruntung banget kamu." Ucap salah satu teman OB nya.


"Iya benar, aku mau menikah dengan dejretaris Viko. Kamu, dan yang lainnya jangan lupa untuk datang di acara pernikahanku, ya? aku sangat berharap akan kedatangan kalian." Jawab Adelyn seramah mungkin.


"Pastinya, aku akan datang ke acara pernikahan kamu. Ngomong ngomong, acaranya benar di gedung milik keluarga pemilik Perusahaan ini?" Ucapnya bertanya karena penasaran.


"Iya, acara pernikahanku di Gedung milik keluarga Wilyam." Jawab Adelyn dengan santai.


"Berapa banyak itu biaya pernikahan kamu, Adelyn? pasti sangat mahal." Tanya salah satu temannya yang baru saja datang.


"Aku kurang tahu, semua sudah siap segalanya. Soal biaya aku tidak tahu menahu, karena aku malas pusing." Jawab Adelyn dengan santainya, lagi lagi semua yang mendengarnya saling beradu pandang satu sama lainnya. Semua heran dibuatnya, dan banyak berpikiran negatif atas ucapan yang Adelyn katakan.


Sasa yang mengerti akan situasinya, segera ia menarik lengan sahabatnya itu untuk pergi menjauh dari kerumunan.


"Sasa, ada apa?" tanya Adelyn penasaran.


"Kamu harus hati hati dengan bicara kamu, Adelyn. Takut akan banyak kesalahpahaman terhadapmu, mending kamu jangan terlalu menanggapi pertanyaan pertanyaan mereka." Jawab Sasa mencoba mengingatkannya.


"Oooh, iya ya. Aku sampai lupa, terima kasih kamu sudah mengingatkan aku. Kamu satu satunya sahabat aku yang peduli denganku, semoga kebahagiaan akan selalu kamu dapatkan. Oh iya, kita lanjutkan pekerjaan kita saja, yuk. Biar tugas kita cepat selesai, dan kita segera beristirahat. Hari ini aku akan mentraktir kamu makan siang." Ucap Adelyn dengan senyum merekah, Sasa pun membalasnya.


"Cie ... yang sebentar lagi mau menikah, pasti sudah tidak sabar dan ingin segera cepat cepat untuk bertemu dihari bahagia." Ujar Sasa sambil meledek, Adelyn pun tersenyum lebar mendengarnya.


Serasa sudah cukup mengobrol, Adelyn dan Sasa kembali kepekerjaannya masing masing.

__ADS_1


Adelyn pun dengan santainya melangkahkan kaki, tiba tiba ia berpapasan dengan salah satu staf laki laki.


"Hei, OB. Kamu tidak lagi sibuk, 'kan?" panggilnya. Disaat itu juga, langkah kaki Adelyn terhenti. Adelyn segera menoleh ke kebelakang, tepatnya kesumber suara.


"Pak Ardi, ada apa ya, pak?" tanya Adelyn penasaran.


"Tolong bersihkan sekitaran meja kerja saya, tadi air kopinya tumpah dan gelasnya pun pecah. Jadi, aku minta denganmu untuk membersihkan lantainya sekarang juga." Ucapnya tanpa ia tahu bahwa seseorang yang ia suruh yang tidak lain adalah calon istri sekretaris Viko.


"Baik, Pak. Ditunggu sebentar ya, Pak. Saya mau ambil lap dan alat pel." Jawab Adelyn tanpa ada beban dan kesal sedikitpun, Adelyn tetap menunjukkan sikap biasa biasa saja.


Dengan terburu buru, Adelyn segera mengambil alat pel beserta kain lap. Setelah itu, ia segera masuk keruangan yang dimana ditempati pak Ardi.


Dengan telaten, Adelyn membersihkan meja dan juga mengepelnya. Namun, tiba tiba pak Ardi sudah berkacak pinggang di hadapan Adelyn.


"Sudah selesai, Pak. Kalau begitu saya permisi, silahkan duduk kembali." Ucap Adelyn dengan ramah.


"Kamu bilang, apa? silahkan, duduk? kedua mata kamu bisa melihat dengan jelas tidak sih, hah? lihat itu meja. Jelas jelas terlihat kotor begitu, kamu menyuruhku untuk duduk? apa aku tidak salah dengar? bersihkan lagi." Jawab Pak Ardi yang masih mencerca Adelyn, sedangkan Adelyn berusaha untuk tenang. Setidaknya ia dapat mengetahui siapa siapanya yang suka semena mena dengan bawahan, Adelyn pun tidak tinggal diam. Ia pun harus mengatakannya kepada saudara kembarnya, berharap bisa membuat Pak Ardi jera, pikirnya.


"Baik Pak, akan saya bersihkan kembali." Ucapnya dan melanjutkan untuk membersihkan meja yang ditunjukkan oleh Pak Ardi.


'Rasain kamu, memang enak aku kerjain. Setelah ini, aku pastikan bahwa kamu akan segera dipecat dan aku bisa mendapatkan upah yang lumayan.' Batinnya penuh kemenangan, tanpa ia tahu siapa sosok Adelyn yang sebenarnya.


Dengan polosnya, Pak Ardi tanpa mencari tahu siapa itu Adelyn. Bahkan, kertas undangan yang ia terima tidak begitu ditelitinya.


"Eh, eh. Kamu ini kerja apa bagaimana sih, kerja begini saja kamu tidak becus. Sekarang juga akan saya laporkan ke Bos Zayen, biar kamu tahu rasa. Dan, secepatnya kamu akan dipecat." Ucapnya mengancam, sedangkan Adelyn kaget tidak percaya.

__ADS_1


"Pak, maksud ucapan dari bapak itu, apa? kenapa Pak Ardi mau melaporkan saya ke Bos." Tanya Adelyn penuh heran.


"Karena cara kerja kamu tidak becus, dan saya tidak ingin banyak karyawan yang kecewa dengan cara kerja kamu." Jawab Pak Ardi dengan nada sedikit meninggi.


"Tapi, Pak ... bukankah dari saya mulai bekerja disini tidak pernah bapak komplain?" tanya Adelyn mencoba membela diri.


"Itu karena saya sengaja untuk tidak komplain, dan sekarang saya baru berani komplain. Sekarang juga, kamu ikut saya untuk menemui Bos Zayen. Mau tidak mau, kamu harus menerima konsekuensinya." Jawabnya dengan percaya diri.


Adelyn pun hanya bisa pasrah, ia merasa percuma untuk melayani orang yang susah untuk diajak bicara dengan baik baik.


"Cepat, ayo ikut saya ke ruangan Bos Zayen. Jangan lupa, kembalikan alat pelnya. Aku tidak ingin Bos Zayen bertambah kesal melihatmu membawa alat pel yang kotor itu." Perintahnya yang sok tahu, tanpa ia mengetahui sosok seperti apakah Bosnya itu.


Adelyn yang sudah pasrah, ia pun mengikuti langkah Pak Ardi dari belakang. Semua karyawan di Kantor yang melihat Adelyn tengah membicarakan sosok Adelyn yang terlihat sedang terburu buru mengikuti langkah pak Ardi.


Sesampainya di depan pintu ruangan Zayen, pak Ardi segera mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dengan sendirinya.


Dengan rasa percaya dirinya, Pak Ardi masuk kedalam ruangan Bosnya bersama Adelyn. Sedangkan Adelyn segera mengkode saudara kembarnya itu, dan juga kakak iparnya yaitu Afna.


"Ada apa Pak Ardi datang kemari? apakah ada masalah?" tanya Zayen yang pura pura untuk tidak mengerti.


"Begini Bos, ini ada OB yang belum lama bekerja disini tengah menyusahkan saya. Dan, pekerjaannya pun sangat berantakan, bahkan sangat mengecewakan hasilnya. Sepertinya OB ini tidak pantas untuk bekerja di Kantor milik Bos, dan bagaimana kalau Bos menggantinya dengan yang lainnya." Jawab Pak Ardi penuh beralasan.


Sedangkan Zayen mengerti apa yang harus ia lakukan, Zayen pun tersenyum mendengarnya.


"Baiklah, jika apa yang dikatakan Pak Ardi itu benar adanya, maka akan saya pecat OB ini. Tapi, Pak Ardi harus segera mencari penggantinya." Ucap Zayen sambil melirik kearah saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2