
Masih di ruang tamu, Seyn masih duduk bersama dan mengobrol dengan keluarga Wilyam. Sedangkan Neyla sendiri sudah berada didalam kamar, ia tidak ingin menjadi bahan ledekan oleh kedua orang tuanya maupun sang kakek. Ney sendiri memilih untuk menghindar, berharap tidak ada sesuatu yang diinginkan. Karena waktu yang sudah hampir larut malam, Seyn berpamitan untuk segera pulang.
"Maaf Kek, Paman, Tante, kalau begitu Seyn pamit untuk pulang." Ucap Seyn berpamitan, ia tidak enak hati jika bertamu sampai larut malam.
"Iya, hati hati dijalanan. Sekali lagi, terimakasih sudah mengantarkan putriku. Jika ada waktu luang, datanglah kemari." Jawab tuan Ganan dan tersenyum, Seyn pun ikut membalasnya.
Setelah berpamitan, Seyn pun segera pulang. Seyn sendiri sudah terasa sangat lelah, ditambah lagi belum istirahat sama sekali dari tadi pagi hingga malam hari.
Dengan kecepatan sedang, Seyn melajukan mobilnya. Didalam perjalanan, Seyn tidak henti hentinya mengingat sesuatu yang sudah ia lewati bersama wanita yang baru ia kenal. Namun, secepat mungkin segera menepis pikiran halusinasinya.
'Kenapa aku kepikiran sama Ney, apa apaan ini. Apa aku ini laki laki kurang normal, hingga begitu murahnya untuk memikirkan orang yang tidak dikenal. Perasaan macam apa ini, lucu sekali.' Batin Seyn sambil fokus dengan setir mobilnya.
Sedangkan Neyla sendiri sedari tadi hanya senyum senyum tidak jelas dibalik selimut, Ney sendiri swperti menang lotre. Mendapatkan kesialan, namun berbuah manis.
"Kenapa laki laki tadi begitu unik, ya. Selain bawel, rupanya dia juga baik. Tapi ... bukankah pernah menyakiti Afna, dan membatalkan pernikahannya sendiri, lagi. Dan masih banyak lagi sisi miringnya, apakah benar begitu? kenapa aku menjadi penasaran seperti ini. Apa urusanku memikirkan laki laki tadi, aku mengenalnya saja belum ada satu hari." Gerutu Neyla sambil mengumpat didalam selimut, lalu segera ia membenarkan posisi tidurnya. Berharap akan bertemu malam yang panjang didalam mimpi.
Berbeda dengan Afna dan sang suami, keduanya terasa memiliki keinginan yang berlawanan. Hingga Afna maupun Zayen sulit untuk mengatasinya.
"Sayang, AC nya dimatiin dong ... aku kedinginan." Ucap Afna yang merasa kedinginan.
__ADS_1
"Tapi aku terasa gerah, sayang ... lihatlah aku. Apa kamu tidak melihatku yang tidak memakai baju tidur, sayang?" jawabnya sambil menunjukkan yang dapat ia tunjukkan kepada istrinya. Afna sendiri masih tergulung dalam selimut, ia benar benar merasa kedinginan.
Zayen sendiri ada rasa yang tidak tega melihat sang istri kedinginan, kemudian segera ia mematikan AC nya. Mau tidak mau, Zayen mengalah demi kesehatan istri tercintanya dan juga calon buah hati kesayangannya.
Zayen yang merasa gerah, dirinya mulai mencari ide agar bisa tidur dengan nyenyak dan juga nyaman tentunya. Setelah itu, ia mengambil satu bantal tidur kemudian dirinya pindah di ruang keluarga.
Sedangkan Afna sendiri sudah terlelap dari tidurnya, dirinya pun tidak menyadari bahwa sang suami telah pindah tempat untuk beristirahat agar bisa tidur nyenyak.
Dengan pelan, Zayen segera keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga. Dengan pelan dan sangat hati hati, Zayen menuruni anak tangga. Sesampainya di ruang keluarga, Zayen menyalakan AC nya. Kemudian, segera ia merebahkan badannya dan memejamkan kedua matanya. Berharap, ia dapat tidur dengan nyenyak tanpa ada yang mengganggunya.
Entah kenapa, akhir akhir ini banyak perubahan pada diri Zayen. Bahkan dirinya pun sangat sensitif, apapun yang merasa dirinya tidak cocok segera ia mencari jalan keluarnya. Sedangkan Afna kini mulai tidak begitu sensitif seperti waktu yang sudah sudah ia lewati, justru Zayen lah yang memiliki perubahan yang dapat berubah ubah sejak berads di Kantor.
Karena rasa kantuk yang tidak dapat di tahan, Zayen maupun Afna kini telah terlelap dari tidurnya masing masing ditempat yang berbeda.
Masih jam lima pagi, Afna terbangun dari tidurnya. Ia pun meraba sisi kanan dan kirinya, namun tidak ia dapati sang suami berada disampingnya. Segera ia bangkit dari posisi tidurnya, dan mencari keberadaan sang suami.
"Sayang, dimana kamu? dikamar mandi kah?" panggil Afna sambil mencari keberadaan suaminya di kamar mandi. Namun, tetap saja tidak ia temukan.
Sedangkan di ruang keluarga, Zayen mulai merasa kedinginan, ditambah lagi bajunya ia lepas karena gerah. Ia pun terbangun dari tidurnya, berharap dapat menemukan selimut. Tiba tiba ia tersadar, bahwa dirinya tidur di ruang keluarga. Tepatnya di atas sofa tanpa selimut yang menutupi badannya.
__ADS_1
Afna yang merasa kehilangan keberadaan sang suami, ia pun keluar dari kamarnya untuk memastikan keberadaan suaminya.
Saat mau menuruni anak tangga, Zayen dan Afna saling menatap satu sama lain.
"Sayang, kenapa ditangan kamu ada bantal? kamu tidur dibawah? atau ... tidur di kamar tamu? ada apa dengan kamu, sayang?" tanya Afna penasaran dan memberondong berbagai macam pertanyaan.
"Kita masuk dulu ke kamar, nanti akan aku jelaskan. Tidak baik berbicara di tangga, nanti kalau aku jatuh bagaimana?" jawab Zayen, kemudian menggandeng istrinya segera masuk kekamar. Afna pun hanya bisa nurut, dan mengikuti langkah suaminya masuk ke kamarnya.
Sesampainya didalam kamar, Zayen mengajak istrinya duduk diatas tempat tidur. Kemudian menatap lekat wajah istrinya, berharap sang istri tidak berpikiran buruk terhadapnya.
"Sayang, maafkan aku. Semalam aku terasa gerah, dan aku memutuskan untuk tidur di ruang keluarga. Aku hanya ingin kamu bisa tidur dengan nyenyak, begitu juga denganku. Kamu tidak marah, 'kan? aku meminta maaf karena aku takut kamu akan salah mengartikan. Aku sendiri bingung, kenapa aku mulai merasa tidak seperti biasanya." Ucap Zayen mencoba menjelaskan kepada istrinya, ia takut jika sang istri tidak mempercayainya.
"Apa jangan jangan kamu yang ngidam? soalnya aku sekarang aku tidak merasakan keluhan keluhan seperti yang sudah aku lewati. Bahkan, aku sudah tidak menyukai mangga muda dan juga rasa yang sangat asam." Jawabnya menjelaskan, seketika itu juga Zayen tercengang mendengarnya.
Zayen baru menyadari, jika dirinya sangat menyukai buah yang masam. Bahkan jika tidak ada rasa asam, terasa hambar.
"Pantas saja, waktu aku makan siang aku menginginkan perasan jeruk nipis. Begitu juga dengan makan malamku tadi, diam diam aku mengambil buah mangga dan aku memakannya tanpa sepengetahuan semuanya. Aku sengaja meminta pelayan untuk mengupas dan mengirisnya, kemudian meletakkannya dibawah nasi." Ucapnya jujur, Afna yang mendengarnya pun membelalakan kedua bola matanya.
Afna sendiri benar benar tidak menyangka akan perubahan pada suaminya. Kini, apa yang dirasakan Afna diawal bulan telah dirasakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Jadi, tadi kamu ke dapur itu mengambil buah Mangga? kenapa mesti bersembunyi , sayang?" tanya Afna penasaran.
"Hem, nanti semua orang di rumah pada heboh melihat perubahan keanehan pada suami kamu ini." Jawabnya pura pura cemberut, Afna pun tertawa kecil melihat ekspresi suaminya itu.