Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pasrah


__ADS_3

Vella yang mendengar permintaaan dari Kazza hanya bergidik ngeri mendengarnya, sedangkan Kazza kembali fokus dengan pandangannya lurus kedepan.


"Untuk apa sih Bos, kenapa harus pakai pacar bohongan segala. Kenapa juga tidak kenalkan saja pacar aslinya Bos, nanti kalau ketahuan bisa runyam permasalahannya. Aku tidak ingin mendapatkan resikonya yang lebih berat, apa lagi kalau sampai tuan Tirta dan nyonya Nessa tau, mau ditaruh kemana mukaku ini Bos." Ucap Vella menatap lurus kedepan, kemudian ia menoleh kearah Kazza yang sedang fokus dengan setirnya.


"Aku mohon Vel, malam ini saja. Setelah itu, kamu tidak perlu lagi melanjutkan aktingnya. Aku mohon ya, Vell. Malam ini ... saja, serius." Jawab Kazza penuh harap, Vella sendiri sibuk berpikir bagaimana caranya menolak.


"Kenapa harus menolaknya sih Bos, seharusnya Bos Kazza senang dong." Ucap Vella sambil membuka pesan masuk dari ponselnya.


Kazza yang mendapati Vella yang sedang sibuk dengan ponselnya pun merasa geram, seakan dirinya sedang diacuhkan begitu saja.


"Lanjutkan saja, tidak perlu menanggapi omonganku." Ucap Kazza sedikit kesal, Vella yang melihat ekspresi wajah Bosnya pun merasa heran dengan sikapnya yang terlihat aneh dan seperti menyimpan rasa cemburu. Vella sendiri segera menepis pikiran konyolnya yang sulit untuk dijangkaunya.


'Ini orang kenapa lagi sih, sudah tahu aku tidak bisa. Masih saja ngotot. Tidak tau apa, kalau aku pun sama rasanya diposisi kamu.' Batin Vella berdecak kesal.


"Bentar saja kok Bos, serius." Jawab Vella sambil menatap layar ponselnya, Kazza sendiri hanya bisa diam. Ia merasa bila dirinya tidak lagi dihiraukannya.


"Maafkan aku Bos, sepertinya aku harus kembali ke Asrama. Ada sesuatu yang penting, dan tidak bisa diganggu gugat. Boleh kan, Bos? sangat penting ini Bos." Ucap Vella sambil menatap Kazza penuh harap dan menangkup kan kedua tangannya, mau tidak mau Kazza pasrah dengan keputusan Vella yang tidak bisa menuruti permintaannya.


Tanpa menjawab ucapan dari Vella, dengan perasaan kesal Kazza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Bos, pelan dong ... aku belum menikah." Ucap Vella sedikit ketakutan.


"Makanya buruan menikah sama Gio." Jawabnya ketus.


"Bos ini, dari tadi kenapa Gio terus yang diomongin. Jangan jangan Bos Kazza menyukai wanita yang sama ya?" ledek Vella tanpa beban.


"Jangan gila kamu, mana ada aku mencintai wanita yang sama." Jawabnya datar.


"Siapa tahu saja, Bos Kazza sedang bersaing mendapatkan cinta yang sama." Ucap Vella menebaknya.

__ADS_1


'ini anak kenapa tidak peka, apa memang sedang konslet? hem.' Batin Kazza sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Aduh! Bos, kelabasan." Ucap Vella mengagetkan, dengan reflek Kazza menghentikan mobilnya.


DUG!! "Aw! sakit, Bos." Ucap Vella sambil mengusap keningnya berulang ulang sambil meringis kesakitan.


"Maaf, kamu sendiri yang mengagetkanku." Jawab Kazza yang masih terlihat jutek.


"Aku turun di sini saja Bos, kasihan jika Bos Kazza harus memutar balik." Ucapnya yang tidak ingin merepotkan.


"Serius? bagaimana kalau aku bantu kamu untuk menyebrang jalan." Jawab Kazza merasa tidak enak hati.


"Memangnya aku ini nenek nenek begitu? tenang saja, aku bisa menyebrangnya sendiri. Sebelumnya aku mau meminta maaf sama Bos, bahwa aku tidak bisa mengikuti perintah dari Bos Kazza. Ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan, maaf. Semoga Bos Kazza cocok dengan pilihan dari orang tua Bos Kazza." Ucap Vella dan berusaha untuk tersenyum.


"Vella ..." panggil Kazza yang tanpa sadar menahan tangan kanan milik Vella yang hendak keluar, kedua mata milik Vella pun terkejut saat melihat tangan kanannya yang tertahan oleh Kazza. Dengan cepat, Kazza langsung melepaskannya.


"Maaf, bukan maksudku untuk lancang. Aku hanya berharap kamu bisa membantuku, tapi kenyataannya kamu bernasib yang sama denganku. Pergilah, aku tidak akan memaksamu." Jawab Kazza dengan kecewa, dan ia tidak lagi menatap wajah Vella. Pandangannya lurus kedepan, namun tetap saja menunggu bayangan Vella hingga tidak terlihat lagi.


Kazza pun hanya memperhatikannya didalam mobil sampai hilangnya bayangan Vella, setelah itu Kazza kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan, Kazza tidak bersemangat sedikitpun. Seakan begitu dilemanya akan perasaannya, jika ia harus menerima perjodohan dari kedua orang tuanya. Berkali kali Kazza mengacak acak rambutnya semakin terlihat berantakan karena prestasinya akan perjodohan yang harus ia terima dengan terpaksa.


"Hidup semakin rumit, tidak bisa lepas dari kata perjodohan. Sungguh, aku benar benar pusing memikirkannya." Ucapnya lirih sambil membelokkan setirnya masuk kehalaman rumahnya.


Dengan malas, Kazza keluar dari mobil dengan tubuhnya yang terasa sempoyongan.


Sesampainya di rumah, kedua mata Kazza terasa silau saat melihat perubahan pada ruang tamunya. Kazza sendiri semakin pusing melihat disetiap sudut ruangan yang benar benar terlihat berbeda dengan waktu sebelumnya.


"Kakak ... sudah pulang?" sapa Afna menyambut saudara kembarnya yang baru saja pulang.

__ADS_1


"Apa apaan ini, ada acara apa?" tanya Kazza pura pura tidak mengerti.


"Bukankah Papa sudah mengirim pesan kepada kakak, bahwa malam ini akan ada pertemuan dari keluarga paman Raska dan tante Arsyla." Jawab Afna dan tersenyum.


"Lalu ... apa hubungannya dengan kakak, hem." Tanyanya lagi, seolah olah lupa segalanya.


"Ah! sudahlah, sekarang kak Kazza segera masuk kamar dan mandi. Aku sudah menyiapkan pakaian yang terbaik untuk kakak, agar kakakku ini terlihat sangat tampan." Jawab Afna berusaha menyenangkan saudara kembarannya, meski dirinya sendiri ingin menjerit tanpa adanya sang suami berada di sampingnya.


"Terserah kamu saja, kakak hanya bisa pasrah. Asal kamu senang, maka kakak pun ikut senang." Ucapnya, kemudian segera masuk ke kamarnya dan sesampainya di kamar langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


'Andai saja, yang dijodohkan itu .... ah! mikirin apa aku ini.' Batinnya, kemudian segera bangkit dari tempat tidurnya dan segera ia membersihkan diri.


Sedangkan di tempat yang lain, ada Vella yang sudah berada dirumah orang tuanya segera ia masuk kedalam kamar dengan sangat pelan, berharap kedua orang tuanya tidak melihatnya saat ia pulang. Namun sayangnya, sang ibu sudah lebih dulu berada di dalam kamar putrinya sedang sibuk memilihkan pakaian yang pas dan cocok untuk putri kesayangannya.


"Mama, kenapa sudah berada di kamar Vella?" tanyanya dengan lesu.


"Jangan banyak bertanya, buruan segera mandi. Malam ini kita akan melakukan pertemuan di rumah sahabat Papa, yang tidak lain acara perkenalan kamu dengan putra dari sahabat Papa. Sampai kapan kamu akan terus terusan seperti ini, hah? apa kamu tidak malu? setiap hari hanya kesana kemari tanpa tujuan yang pasti. Sudah saatnya kamu untuk menikah, kamu sudah besar." Ucap sang ibu sambil menyiapkan pakaian untuk putrinya.


"Ma ... bukannya ada kak Gio, kenapa mesti Vella sih? biarkan Vella memilih pilihan Vella sendiri sih, Ma." Jawabnya sedikit memohon, dan berharap akan dibatalkan atas perjodohannya dengan putra dari sahabat orang tuanya.


"Setelah kamu menikah, kakak kamu juga akan menyusulnya. Buruan segera mandi, lama tunggu di ruang keluarga." Ucap sang ibu mencoba meyakinkan dan pergi meninggalkan Vella sendirian didalam kamarnya.


"Kenapa sih, masih saja seperti jaman dahulu. Perjodohan dan perjodohan, heran aku. Tidak suka melihat anaknya memilih dengan pilihannya sendiri. Benar benar menjengkelkan, apa aku Kabur saja apa ya? aaah! bikin pusing saja." Gerutunya penuh kekesalan.


Dengan langkahnya yang malas, Vella masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah cukup lama membersihkan diri, Vella segera keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh sang ibu.


"Yang benar saja, kalau tahu begini tadi aku beralasan ada pekerjaan yang sangat penting. Lebih baik berpura pura jadi kekasihnya Bos Kazza, dari pada aku harus menerima perjodohan ini." Ucapnya lirih sambil memegangi pakaian yang akan dikenakannya.


Sedangkan diruang tamu sudah ada Gio dan juga ayahnya yang sedang menunggu dua wanita yang sedang bersiap siap.

__ADS_1


"Pa, yakin nih jika Vella dan calon suaminya tidak mengetahui rencana yang sudah papa rencanakan. Gio takut, jika diantara mereka berdua akan membenci orang tuanya masing masing." Tanya Gio sedikit cemas, ditambah lagi jika sang adik akan mengetahui rencana dari orang tuanya dan juga sahabat dari orang tuanya sendiri.


__ADS_2