Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Mengerjai


__ADS_3

Zayen dan Seyn kini duduk ditepi Danau, Zayen duduk di sebelah sang istri. Sedangkan Seyn duduk di sebelah Viko, tepatnya berhadapan dengan Afna. Namun, tidak membuat keduanya saling pandang.


Tidak lama kemudian, pesanannya pun telah datang sesuai permintaan Zayen. Sesekali Afna memeriksa porsi ayam gepreknya, dan berkali kali ia mencari buah jeruk yang dipesankan sebelumnya.


Afna pun melirik kearah suaminya dengan tatapan sedikit memasang muka masamnya. Zayen yang mendapati sang istri terlihat cemberut pun menatapnya penuh kegerahan, lalu segera ia menanyainya.


"Kenapa wajah kamu ditekuk begitu, sayang? apakah kamu sudah tidak lagi selera makan?" tanya sang suami penasaran melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat cemberut.


"Kenapa kamu lupa sih, sayang? lihatlah pesanan ayam gepreknya masih ada yang kurang." Jawab Afna sambil menunjukkan porsi ayam gepreknya sedikit cemberut, Zayen sendiri masih belum mengerti akan maksud dari sang istri.


"Bukankah sebelum berangkat, Nona Afna berpesan dan meminta sambal ayam gepreknya diberi perasan lima buah jeruk nipis." Ucap Viko mengingatkan, seketika itu juga Zayen baru teringat akan pesanan dari sang istri.


Disaat itu juga, Zayen menatap istrinya dan tersenyum. Sedangkan Afna masih cemberut sambil menatap suaminya.


"Maafkan aku, sayang. Aku benar benar lupa, serius. Tunggu sebentar, ya. Aku ambilkan jeruk nipisnya, tunggu sebentar." Ucap Zayen, kemudian segera mengambilkan jeruk nipis sesuai permintaan istri tercintanya.


Sedangkan kedua mata Seyn melihat dimeja sebelahnya terdapat jeruk nipis, segera ia meraihnya. Namun, akhirnya Seyn mengurungkan untuk mengambilkan jeruk nipisnya. Seyn takut disangkanya mencari perhatian pada Afna, ia memilih untuk tidak mengambilkannya.


Tidak lama kemudian, Zayen kembali sambil membawa jeruk nipis seperti pesanan dari sang istri.


"Ini, sayang. Cuman ada tiga, masih kurang?" tanya Zayen sambil memberikan jeruk nipisnya. Seketika itu juga, Afna masih terlihat murung mendengar ucapan dari sang suami.


Seyn yang tidak tega melihat Afna pun akhirnya segera meraih jeruk nipis yang ada dimeja sebelahnya.


"Nih, jeruk nipisnya masih banyak." Ucap Seyn menimpali dan memberikannya mangkok kecil yang berisi ada beberapa jeruk nipis kepada Afna, disaat itu juga kedua mata Afna pun terlihat berbinar. Senyum mengembangnya pun tengah terlihat pada kedua sudut bibirnya.


Zayen pun kembali duduk pada posisinya yang semula, yaitu disebelah istrinya tanpa bersuara. Afna pun segera menoleh kearah sang suami, serasa ada kecemburuan terhadap suaminya.

__ADS_1


Afna pun tidak merasa cemas maupun gelisah, justru Afna tersenyum saat melihat suaminya yang sedang menyeruput teh hangatnya.


"Kenapa tersenyum? ada yang lucu kah?" tanya Zayen sambil melihat istrinya yang terlihat sedikit aneh menurutnya.


"Suapin." Jawab Afna singkat, tanpa ia sadari ada mantan kekasihnya didepannya. Zayen sendiri merasa tidak enak hati untuk menyuapi sang istri didepan kakaknya sendiri. Sedangkan Seyn berpura pura tidak mendengarkannya, dan dirinya fokus menikmati ayam gepreknya.


"Iya, sayang. Sini, piringnya." Ucap Zayen, kemudian segera ia mengiris jeruk tipisnya dan memeraskannya pada sambelnya.


Viko yang melihatnya pun terasa ngilu pada bagian semua gigi miliknya.


"Nona, apa tidak ngilu tuh sambalnya? yang benar saja kamu, lima jeruk nipis kamu peras semua pada sambal." Tanya Viko yang ikutan terasa ngilu.


"Justru sambalnya akan terasa segar dan menggugah selera, kalau kamu tidak percaya bisa mencobanya. Pasti kamu akan ketagihan nantinya, cobalah." Jawab Afna, Viko sendiri hanya menelan salivanya. Tanpa Viko sadari, Seyn tengah memeraskan dua jeruk nipis pada sambalnya tanpa sepengetahuan Viko. Seyn pun menahan tawanya, berharap Viko tidak curiga dengannya.


Zayen yang melihat sang kakak yang tengah berbuat jail terhadap Viko, sebisa mungkin untuk menahan tawanya. Viko sendiri merasa aneh melihat Zayen yang terlihat sedang menahan tawa. Zayen sendiri tidak menyadari juga, bahwa Afna telah menukar ayam gepreknya dengan milik suaminya ketika pada perasan jeruk yang ketiga kalinya.


'Aku pastikan, kalian pasti akan meringis keasaman.' Batin Afna sambil tersenyum, lagi lagi Viko merasa aneh melihat Afna yang tiba tiba tersenyum tanpa sebab yang jelas.


"Sialan, siapa yang memberi perasan jeruk nipis nya pada sambal ayam geprek ku?" tanya Viko menahan ngilu pada giginya. Setelah itu Viko segera menyeruput teh hangatnya. Kemudian, Viko langsung menoleh kearah Seyn. Tatapannya tertuju pada Seyn yang penuh keseriusan, Seyn sendiri hanya tertawa kecil melihat ekspresi Viko yang terbilang sangat lucu.


Zayen maupun Afna sendiri ikut tertawa kecil melihat ekspresi Viko.


"Oh, ini pasti ulah kak Seyn. Hem ... pantas saja kalian bertiga sama sama menahan tawa." Ucap Viko sambil menunjuk satu satu kearah yang bergantian.


"Mau atau tidak mau, ayam gepreknya kita tukaran. Yang benar saja, aku harus menikmati perasan jeruk nipis." Udah Viko lagi, kemudian langsung menukarnya dengan miliknya Seyn.


Dengan senang hati, Seyn menerima permintaan Viko. Seyn pun kembali menahan tawanya, berharap Viko tidak mencurigainya kembali sebelum menikmati ayam geprek miliknya.

__ADS_1


Sedangkan Zayen masih sibuk menyuapi istrinya dengan fokus, dirinya sendiri belum menikmati ayam geprek miliknya.


Dengan senyumnya yang lebar, Viko segera menikmatinya kembali dengan ayam geprek milik Seyn.


"Sial!!" teriak Viko yang terasa semakin asam pada sambal ayam gepreknya, Viko kembali menyeruput teh hangatnya.


"Gil*a, gila. Kalian bertiga sudah kompakan sepertinya, hem." Ucap Viko sambil melirik kearah Seyn, lagi lagi Seyn tertawa kecil mendengarkannya.


"Sini, jika kamu tidak suka. Aku kembalikan lagi milik kamu, aku jamin tidak seasam milikku ini." Jawab Seyn sambil menukar ayam gepreknya kembali.


"Sayang, aku makan sendiri saja. Nanti ayam geprek milikmu terasa hambar, jika kamu menikmatinya menunggu nanti." Ucap Afna yang menyudahi untuk suapan yang tinggal beberapa suapan lagi, Zayen pun mengangguk dan menyudahinya.


Kini, Seyn kembali menahan tawa saat melihat sang adik yang akan menikmati ayam gepreknya.


"Sayang, diminum dulu teh hangatnya. Agar tenggorakan kamu tidak tersedak saat makan sambalnya." Ucap Afna mengingatkan dan tersenyum saat menatap suaminya, berharap ulahnya pun tidak diketahui oleh sang suami.


Zayen pun nurut dengan apa yang diucapkan oleh istrinya, Zayen menyeruput teh hangatnya sebelum menikmati ayam gepreknya.


Dengan santainya, Zayen menikmati ayam gepreknya. Saat mengunyah, kedua bola mata Zayen tiba tiba melotot.


Disaat itu juga, Seyn dan Afna menunduk sambil menahan tawa. Berbeda dengan Viko, justru Viko tidak berpikiran jika ekspresi dari Zayen bukan dari sambal yang sangat asam.


"Sambalnya kepedasan, ya Bos?" tanya Viko penasaran.


Seketika itu juga, Zayen langsung menelannya. Kemudian segera menyeruput teh hangatnya hingga tersisa setengah gelas, Zayen langsung menoleh kearah istrinya dengan tatapan serius.


Afna hanya tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang terlihat tidak kalah lucunya dengan ekspresi Viko barusan.

__ADS_1


"Adil, 'kan? rasa ayam gepreknya sama sama asam." Ujar Afna sembari tersenyum menatap sang suami. Zayen sendiri hanya menelan salivanya sambil menahan rasa ngilu.


Kini, mau tidak mau Zayen dan Viko maupun Seyn menikmati ayam gepreknya sambil meringis menahan ngilu pada sambalnya masing masing.


__ADS_2