
Ibunya Afna kembali ke ruang makan, kemudian kembali duduk di posisinya yang semula dan menoleh kearah putranya.
"Kazza," panggil sang ibu kepada putranya.
"Iya Ma, ada apa? bagaimana dengan Afna?" jawab Kazza dan bertanya.
"Afna baik baik saja, hanya saja ada sesuatu yang diminta oleh adik kamu." Jawab ibunya seperti menunjukkan tatapan memohon.
"Afna menginginkan sesuatu? apa yang diinginkan Afna? katakan saja, Ma." Tanya Kazza kembali yang masih penasaran.
"Afna memintamu untuk mencarikan jeruk yang masam dan segar, itu saja permintaannya." Jawab sang ibu yang merasa kasihan melihat putrinya yang begitu tersiksa saat masa hamil mudanya tanpa seorang suami yang ada disampingnya.
Tidak hanya itu, semua yang mendengar permintaan Afna pun merasa prihatin dengan kondisi Afna yang berpisah jarak dan waktu dengan suaminya. Sungguh, sangat menyakitkan untuk dibayangkannya.
"Hanya itu saja permintaan Afna? kalau begitu, Kazza akan segera pergi mencarikan buah jeruk yang segar untuk Afna." Ucap Kazza, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya.
"Kazza, aku ikut denganmu. Aku akan menemanimu mencarikan buah jeruk yang masih segar." Ucap Gio ikut menimpali.
"Serius? aku tidak melarangmu." Jawab Kazza, kemudian segera pergi meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan dengan Vella karena lupa akan statusnya yang sekarang.
Gio sendiri mengikuti langkah kaki Kazza dari belakang, tiba tiba Gio teringat akan adiknya yang masih duduk di ruang makan.
"Kazza, kamu tidak mengajak Vella? kasihan sekali ditinggal sendirian. Apakah kamu tega membiarkan Vella mengobrol dengan ibu ibu dan bapak bapak? hem." Tanya Gio, seketika itu juga langkah kaki Kazza terhenti. Kazza pun baru teringat akan keberadaan Vella yang duduk disampingnya sekaligus calon istrinya sendiri. Dengan cepat, Kazza langsung menoleh kebelakang.
"Kamu saja yang mengajaknya, aku takut dia akan menolaknya." Jawab Kazza.
"Kok aku? memangnya siapa yang menjadi calon suaminya? ada ada saja kamu Bos, yang benar saja." Ucap Gio sambil meledek dan memanggil dengan sebutan Bos, Kazza yang mendengarnya hanya menautkan alisnya.
"Baiklah, kamu tunggu saja disini. Awas! kalau sampai kamu kabur, jangan harap kamu akan aman." Ancam Kazza, kemudian kembali masuk ke rumah mengajak Vella untuk menemaninya mencari jeruk sesuai yang diinginkan sang adik yang tengah hamil muda.
Sesampainya di ruang makan, Kazza mengatur pernapasannya. Berharap dirinya tidak kamu saat meminta Vella untuk menemaninya.
"Vella, maukah kamu temani aku keluar sebentar?" pinta Kazza dengan suara sebaik mungkin.
Vella pun menoleh kearah belakang, disaat itu juga Vella merasa grogi dan sedikit malu.
"Jangan malu untuk menjawabnya, katakan saja jika kamu mau menemani calon suami kamu." Ucap ibunya, agar putrinya tidak merasa rendah malu.
Vella pun menoleh kearah ibunya Kazza, nyonya Nessa pun mengangguk dan tersenyum.
"Vella pamit ya, Tante ... Ma, Pa, Paman." Ucap Vella berpamitan dan menatap satu persatu, semua mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Hati hati dijalan, jangan ngebut." Ucap tuan Raska mengingatkan.
"Baik, Paman." Jawab Kazza, kemudian segera keduanya keluar untuk berangkat.
"Biar aku saja yang menyetir, kalian berdua duduk saja dibelakang." Ucap Gio sambil menunjukkan wajah menggodanya.
"Hem! mulai." Jawab Kazza, kemudian membukakan pintu mobil untuk Vella.
Dengan rasa canggung, Vella segera masuk tanpa berucap sepatah kata pun. Gio yang melihatnya hanya bisa menahan tawa.
Kazza sendiri segera masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Vella, keduanya sama sama tidak bersuara. Sungguh sangat membosankan, pikir Kazza maupun Vella.
"Kenapa kalian diam idaman begitu, mana aksi kalian berdua jika bertemu. Bahkan ruangan mobil ini terasa sangat bising, sekarang berubah sepi seperti kuburan saja." Sindir Gio sambil fokus dengan setirnya.
Kazza mapun Vella masih sama sama diam tanpa berucap sepatah katapun.
Gio hanya memperhatikannya lewat kaca dan menahan tawanya saat melihat ekspresi pada keduanya yang bisa berubah 180° dalam waktu pertemuan.
"Ngapain kamu memperhatikan ku lewat kaca, kurang kerjaan kamu? hem." Ucap Kazza sedikit ketus, Gio hanya tertawa kecil mendengarkannya.
"Tertawa, lagi. Garing tuh gigi kamu, diam." Ucapnya lagi dengan ketus, lagi lagi Gio hanya tertawa melihat dan mendengarnya.
'Kenapa juga aku harus dijodohkan sama ini laki laki. Sudah kaku, ketus lagi.' Batin Vella sambil menatap luar jendela.
Gio maupun Kazza dan Vella segera melepas sabuk pengamannya. Setelah itu Gio segera keluar dari mobil, sedangkan Vella merasa kesulitan untuk melepaskannya.
Kazza yang melihatnya pun segera membantu untuk melepaskannya.
"Diam, jangan bergerak kalau tidak ingin tersentuh." Ucap Kazza, kemudian membungkukkan badannya dan membantunya untuk melepaskan sabuk pengaman pada Vella.
Dengan perasaan gugup, Vella berusaha untuk tenang. Disaat itu juga, detak jantungnya berdegup sedikit kencang. Vella berusaha untuk tenang, agar dirinya tidak terlihat gugup didepan Kazza.
Setelah selesai melepaskan sabuk pengamannya, Kedua mata milik Kazza dan Vella sama sama saling beradu pandang satu sama lain. Keduanya hampir teehipnotis karena suasana yang begitu mendukung.
"Nikah dulu woi, cepetan turun. Tidak sabaran banget kalian berdua ini, sudah cepetan turun." Ucap Gio mengagetkan.
"Awas! kamu Gio, bakalan ngiler kamu nanti." Jawab Kazza memanasi.
"Tidak ngaruh bagiku, hem. Sudah cepetan turun dan beli jeruk masamnya, kasihan adikmu yang sudah ngiler sama jeruk segernya." Ucap Gio, kemudian Kazza maupun Vella turun dari mobil.
Setelah itu, ketiganya masuk ke toko khusus buah. Kazza maupun Gio dan Vella celingukan mencari buah jeruk sesuai yang diinginkan Afna.
__ADS_1
"Aku menemukan jeruk seperti yang dicari, sepertinya jeruk yang ini sangat masam dan terlihat masih segar." Ucap Vella sambil menunjukkan buah yang menurutnya bagus.
Kazza dan Gio segera mendekatinya, lalu keduanya saling melempar pandangannya satu sama lainnya. Seolah memintanya untuk mencicipinya.
"Coba kamu cicipin dulu jeruknya, manis tidak manis tetap dibayar nanti." Pinta Gio pada Kazza.
"Aku? tanya Kazza sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Memang siapa lagi kalau bukan kamu, Bos Bos, Bos. Bukannya Afna yang meminta saudara kembarnya untuk mencarikan jeruk yang masam? hem." Jawab Kazza sambil meledek.
"Hem! gitu, ya." Ucap Kazza ketus, kemudian segera ia mengambil jeruk yang ada didepannya dan langsung mengupasnya dan memakannya. Seketika itu juga, Kazza meringis menahan rasa ngilu pada gigi giginya.
"Sialan!" ucap Kazza reflek, dan melemparkan jeruknya pada Gio. Dengan reflek pula, Gio menangkapnya.
"Namanya juga jeruk masama, yang berani makan hanya orang ngidam dan memang menyukainya." Ucap Gio menjelaskan.
"Apakah kamu yakin? jika Afna menyukainya, aku jadi ragu." Jawabnya yang masih belum percaya.
"Sudah cepat, ambilkan dua kilo gram. Terus bayarin jeruknya, nih ATM nya." Perintah Kazza yang lupa akan status Gio yang sekarang, dengan entengnya Kazza menyuruh Gio tanpa ia sadari.
"Yang benar saja, kenapa mesti aku yang bayar." Jawab Gio mengerjai.
"Ah! iya, sekarang kamu sudah jadi Gio Gantara. Sialan, kamu. Awas ya, aku kerjain balik nanti." Ucap Kazza ketus dan sambil memilih buah jeruk yang ada didepannya.
"Tidak perlu memilih, aku sudah mengambilkannya. Silahkan jika mau membayarnya, aku tunggu disini." Ucap Vella memberikan buah jeruk sesuai yang Kazza minta.
"Terimakasih," jawab Kazza dan segera membayarnya.
Setelah itu, ketiganya segera pulang ke rumah dengan waktu yang tidak lama dalam perjalanan. Kazza maupun Gio dan Vella telah sampai di rumah dengan waktu yang tepat.
"Ma, dimana Afna?" tanya Kazza sambil menenteng buah jeruk sesuai yang dimintai saudara kembarnya.
"Afna masih istirahat di kamarnya, apa kamu mendapatkan buah jeruknya?" jawabnya dan bertanya balik.
"Iya Ma, ini buah jeruk sesuai yang dimintai Afna. Semoga tidak salah, kita bertiga hanya mendapatkan yang seperti. Begitu banyak pilihan, hanya ini yang menurut kita bertiga yang pas." Jawab Kazza sambil menyerahkan buah jeruk yang berada di tangannya.
"Baiklah kalau begitu, Mama mau mengantarkannya ke kamar." Ucap sang ibu menerima buah jeruknya.
"Tante, kita berdua sekalian pamit. Dikarenakan waktu pun sudah malam, dan Papa maupun Mama juga sudah pulang." Ucap Gio berpamitan.
"Tidak apa apa, hati hati diperjalanan. Buat kamu Vella, sering seringlah datang kemari. Kamu bisa menjadi teman untuk putriku, sekarang ini Afna sendirian." Jawab ibunya Kazza dan meminta Vella untuk menjadi teman sepinya Afna, yaitu putrinya.
__ADS_1
"Iya Tante, akan Vella usahakan. Kalau begitu Vella pamit pulang, Tante. Salam buat Afna, maafkan Vella yang tidak bisa menemuinya." Jawab Vella, kemudian segera berpamitan dan pulang bersama sang kakak.