Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Potong Rambut


__ADS_3

Zayen masih terus mengatur pernapasannya, berusaha untuk tenang dan tidak gelisah. Viko yang sedari tadi memperhatikan Zayen hanya bisa menahan tawa, takut siempunya ekspresi mengetahuinya.


"Bos, jadi masuk atau tidak?" tanya Viko antusias.


"Ayo, kita turun." Jawabnya yang sudah tidak sabar, namun juga gelisah.


"Bos, lepasin dulu itu sabuk pengamannya. Yang benar saja, Bos Zayen mau keluar dengan posisi badan masih mengenakan sabuk pengaman." Ucap Viko mengingatkan, dan masih menahan tawanya.


"Aah! iya, bod*oh sekali aku ini."


'Baru tahu apa, Bos. Kalau Bos Zayen ini sedang bod*oh karena cinta, cih!' batin Viko sambil melepas sabuk pengamannya.


Setelah melepaskan sabuk pengamannya, Zayen dan Viko segera turun dari mobilnya. Dengan malas, Zayen masuk kedalam.


"Bos, serius nih mau potong rambut? nanti disangka preman pensiun lagi." Tanya Viko sambil meledek.


"Iya juga, ya. Aaah! ini kejutan buat istriku, Vik." Jawab Zayen tanpa sadar telah berkata jujur.


"Bagus itu, Bos. Tandanya istri Bos pingin melihat suaminya terlihat tampan dan terlihat rapi." Ucap Viko tanpa sadar tengah menyindirnya, sedangkan Zayen hanya melirik. Viko yang mendapati lirikan tajam langsung segera duduk dan menyibukkan dengan ponselnya.


'Nah! kan .... apa aku bilang, si Bos ini sedang bodoh karena cinta. Sampai sampai potong rambut karena istrinya, preman takut istri kali ya. Hus! diam itu lebih baik, Viko.' Gumamnya dalam hati penuh keheranan dengan sosok Bosnya.


Tidak lama kemudian, Zayen duduk depan cermin dengan berbagai peralatan potong rambut didekatnya. Zayen masih melihat dirinya lewat cermin dengan lekat.


'Benarkah, jika aku akan potong rambut untuk istriku. Secepat inikah aku jatuh cinta dengannya, aaaah kenapa pikiranku semakin kacau.' Batinnya merasa seperti mimpi jika dirinya akan potong rambut.


"Maaf Tuan, mau potong model seperti apa? bukankah waktu itu baru dirapihkan. Kenapa sudah datang kemari? apa ada kesalahan waktu itu?"


"Tidak ada yang salah, potonglah rambutku ini sebagus mungkin. Ingat! brewoknya ditipisin, bukan dihabisin. Awas! kalau sampai salah semuanya, aku jamin kamu hidup hanya dengan baju yang kamu kenakan." Ancam Zayen sambil menatap cermin dengan sorot matanya yang begitu tajam, bahkan elang pun kalah tajamnya jika Zayen sudah menunjukkan emosinya.


"Baik, Tuan. Akan saya lakukan dengan sebaik mungkin."


"Bagus, cepat."

__ADS_1


"Iya, Tuan ..."


Dengan telaten, rambut Zayen mulai dipotong. Zayen sedikit merasa tidak percaya jika dirinya sedang potong rambut, bahkan Zayen masih fokus melihat dirinya sendiri di depan cermin dengan lekat.


Sedangkan Viko masih sibuk dengan ponselnya. Dirinya tidak ingin memperhatikan Zayen yang sedang potong rambutnya, Viko takut jika tidak bisa menahan tawanya karena penampilan Zayen yang berubah begitu saja.


Karena takut tidak sesuai dengan hasil yang diinginkannya, Zayen memejamkan kedua matanya saat rambutnya mulai dicukur. Semua yang ada disekililingnya pun memperhatikan Zayen yang masih di cukur rambutnya.


Setelah memakan waktu cukup lama, kini Zayen sudah selesai melakukan potong rambutnya.


"Maaf, Tuan. Coba dibuka kedua matanya, jika masih kurang baik bisa kami benarkan kembali." Ucapnya meyakinkan.


"Yang benar, sudah selesai nih cukur rambutnya. Awas! kalau hasilnya kacau, aku tidak segan segan membuat kamu miskin semiskinnya." Tanya Zayen sambil mengancam.


"Iya, Tuan. Saya bersedia jika hasilnya tidak sesuai yang Tuan inginkan." Jawabnya lumayan ketakutan.


Dengan pelan, Zayen menepuk nepuk pipinya serasa tidak percaya dengan perubahan penampilannya sendiri.


"Benar nih, sudah dipotong."


Zayen segera bangkit dari tempat duduknya, dan segera mendekati Viko yang sedang sibuk dengan ponselnya.


Dengan tubuhnya yang tinggi, Zayen berdiri tegak di depan Viko.


"Vik, bagaimana menurutmu."


Viko masih fokus dengan ponselnya, entah apa yang dilihatnya. Entah gambar mantannya atau video anehnya.


"Vik!!" kali ini Zayen membentaknya.


"Iya iya iya iya iya iya ..." ucap Viko sambil menangkap ponselnya yang hampir jatuh karena ulah Zayen.


"Apa ..... ini ka ... mu!! Bos ....?" Viko masih tidak percaya dengan tatapannya. Berkali kali Viko memiringkan kepalanya ke kanan ke kiri berkali kali silih berganti, Zayen pun ngikutin gerakan Viko yang oleng itu. Semua orang tersenyum lebar melihatnya, bahkan ada yang menahan tawa karena keduanya seperti sedang bergurau dengan anak kecil umur satu tahun.

__ADS_1


"Kamu tidak lagi oleng, kan Vik?" tanya Zayen yang kemudian menempelkan tangannya ke kening milik Viko.


Viko yang tersadar dari lamunannya pun segera menyingkirkan tangan milik Zayen dengan cepat.


"Bos! jangan gil*a dong! aku masih normal, masih waras."


"Ah! iya. Aku kira kamu lagi kesambet demit seksi, tidak tahunya hem!"


"Mending amat Bos, kesambet demit seksi. Tapi sayangnya, demit seksi takut denganku Bos."


"Ah iya, itu sudah nasibnya kamu Vik."


"Bos, apa Bos Zayen tidak takut dengan penampilan yang sekarang?"


"Kenapa? terlihat culun?"


"Bukan, tepatnya banyak wanita yang klepek klepek dengan Bos Zayen."


"Tidak mungkin, jangan ngaco kamu. Ayo! kita pulang, aku sudah sangat mengantuk."


'Bilang saja Bos, sudah tidak tahan ingin anu ini.' Batin Viko sambil ngikuti langkah Zayen yang begitu cepat seperti jin iprit.


Keduanya kini sudah berada didalam mobil, berkali kali Zayen bercermin dikaca sepion mobil. Viko yang memperhatikannya sampai bosan dan geli sendiri.


'Yakin deh Bos, sudah ganteng sudah .... dari tadi ngaca terus, itu spion bisa bisa patah mendadak. Miring sana sini dan ongklek sana ongklek sini, beginikah kalau ganti casing? Dunia bisa gile dibuatnya.' Batin Viko sambil geleng geleng kepala melihat tingkah Zayen yang mendadak seperti anak baru gaul, sangat terpesona dengan ketampanannya sendiri.


Sedangkan Afna didalam kamar tidak bisa tidur, perasaannya gelisah. Pikirannya benar benar tidak tenang, sedari tadi hanya bolak balik posisi tidurnya. Namun, sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya.


"Kenapa aku jadi gelisah begini, ya? dan aku merasa sangat nyaman saat dirinya ada didekatku. Meski gondrong dan menyeramkan, aku merasa tidak bisa jauh darinya. Dan kini, aku sangat mengkhawatirkannya. Apakah aku sedang jatuh cinta, aaah! kenapa aku seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta." Gerutu Afna didepan cermin, memandangi wajah cantiknya dengan malu.


Diperjalanan, Zayen mulai tegang saat dirinya ingin memberikan kejutan sesuai yang diinginkan istrinya. Apa lagi kalau bukan potong rambut, Zayen pun mulai mencari ide untuk mengerjai istrinya dengan gaya rambutnya yang baru.


"Bos, sadar Bos! jangan melamun. Sekarang kita sudah sampai didepan rumah, ayo kita turun." Ucap Viko mencoba membuyarkan lamunan Zayen, sedangkan Zayen sendiri masih belum meresponnya.

__ADS_1


'Kejutan potong rambut melebihi kejutan potong kueh, yang benar saja Bos.' Batin Viko yang masih heran dengan Zayen yang sedari tadi sibuk dengan potongan rambutnya.


__ADS_2