Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Menikmati ayam bakar


__ADS_3

Setelah tuan Alfan pergi meninggalkan kantor, kini tinggal lah Viko dan Zayen yang masih berada didalam ruangan kerja milik Zayen.


"Bos, sekarang impianmu sudah terwujud." Ucap Viko membuka suara.


"Impian apa, Vik?" tanyanya Zayen yang tidak mengerti.


"Tempat ini, bukankah Bos Zayen pernah bercerita. Bahwa Bos Zayen bermimpi ingin duduk di kursi seperti yang Bos duduki sekarang." Jawab Viko membuka masa lalu.


"Iya, tapi bukan hasil keringatku. Melainkan milik kedua orang tuaku, mau tidak mau aku tetap menerimanya." Ucap Zayen.


"Tidak masalah, Bos. Milik orang tua pun juga milik anak juga. Kalau bukan anaknya, lalu siapa lagi yang akan menjadi penerus keluarganya Bos. Sedangkan Bos Zayen anak laki laki, siapa lagi kalau bukan Bos Zayen yang jadi penerusnya." Ujar Viko membenarkan.


"Ah, sudahlah. Jangan kamu bahas begituan, perutku sudah lapar. Bagaimana kalau kita makan di kantin kantor ini saja, sekalian mengawasi Adelyn." Ucap Zayen yang tiba tiba terasa lapar.


"Boleh juga, Bos. Kebetulan sekali, aku pun sudah lapar juga. Kira kira ada ayam bakar tidak, ya." Jawab Viko yang juga sudah terasa lapar.


"Ayam bakar, sepertinya enak juga itu. Sambal yang super ekstra pedas, terus sambalnya diberi perasan jeruk nipis. Makannya sambil menelfon Afna lewat video, wah! mantap." Ujar Zayen yang tiba tiba menginginkan sambal yang masam.


"Sip, Bos. Kalau begitu, ayo kita pergi ke kantin." Aja Viko, disaat itu juga Zayen dan Viko langsung bergegas pergi ke kantin.


Kini keduanya berjalan saling beriringan, dengan santai Zayen dan Viko berjalan menuju kantin. semua karyawan kembali di buat heboh dengan sosok dua laki laki yang sama tampannya berjalan beriringan. Keduanya pun terlihat dingin, namun tetap berkarisma.


Adelyn yang sedang menikmati makanannya pun ikut tercengang saat kedua laki laki yang tidak asing baginya sudah berada di ambang pintu. Semua karyawan masih tercengang dari penglihatannya, bahkan sampai terhenti saat menikmati makanannya.


'Kenapa semua memperhatikan kak Zayen dan Viko, setampan apa sih Viko itu. Sampai sampai masih ada yang terpesona dengannya.' Batin Adelyn yang terasa berisik mendengar wanita wanita yang tengah berdecak kagum dengan sosok Viko dan saudara kembarnya.


"Bos, lihatlah. Semua yang ada di kantin ini seperti mendapat remot kontrol darimu? apakah semuanya terpesona denganmu, Bos?" tanya Viko sambil celingukan mencari sosok yang sedang ia cari.


"Ngapain ngurusin mereka, aku sudah lapar. Ayo kita cari tempat duduk yang tidak berpenghuni, bila perlu kosong. Aku mau menikmati makan siang bersama istri tercintaku, kamu tahu? hari ini aku sudah gila karenanya." Ucap Zayen yang sudah tidak sabar.


"Baik, Bos. Lihatlah disudut sebelah sana, sepertinnya kosong dan juga tidak berpenghuni, bagaimana kalau kita duduk disana? aku rada tempatnya sangat cocok." Jawab Viko sambil menunjuk tempat duduk yang terlihat kosong tidak ada yang menempatinya.

__ADS_1


"Kamu pesan saja dulu, setelah itu kamu menyusulku." Perintah Zayen, sedangkan Viko hanya mengangguk dan memesannya.


Semua karyawan masih memperhatikan Zayen, semua tidak ada yang menyia nyiakan kesempatan emas untuk melihat sosok Zayen yang begitu tampan dan mempesona.


Sedangkan Zayen sendiri tetap cuek dan bersikap masa bodoh, dirinya pun tidak memperdulikannya. Zayen sudah terbiasa menjadi bahan perbincangan, meski yang saat ini penuh pujian. Namun, tidak membuatnya berubah dengan jati dirinya. Zayen yang dulu tetaplah Zayen yang dulu, kesederhanaan dan tidak mudah tergoda dengan sesuatu hal yang dapat mencelakai dirinya sendiri maupun orang yang di cintainya.


Dengan tenang, Zayen menarik kursinya. Kemudian, segera ia duduk dengan santai. Setelah itu, Zayen merogoh sakunya untuk mengambil sebuah ponsel yang ia bawa.


Semua karyawan masih saja ada yang sibuk memperhatikannya, Zayen sendiri tetap sibuk dengan ponselnya. Disaat mau menekan warna hijau, tiba tiba dirinya dikagetkan dengan sosok yang menurutnya tidak ada sopan santun sedikitpun tanpa ada rasa malu.


"Maaf, aku mengganggu." Ucapnya yang sudah duduk di hadapan Zayen.


Zayen masih diam, dirinya pun tidak meresponnya. Zayen tetap pada pandangannya ke layar ponselnya yang terdapat foto foto bersama sang istri yang sangat ia cintai.


"Ayen, kamu lupa denganku?" tanyanya dengan percaya diri. Seketika itu juga, Zayen mendongakkan kepalanya dan menatap sosok wanita yang ada didepannya.


"Aku tidak mengenalmu, dan ada perlu apa kamu menemuiku? katakan. Jangan banyak alasan, aku sudah lapar." Jawab Zayen dan bertanya balik dengan datar. Setelah itu, Zayen kembali menatap ponselnya.


"Merry, oh ... kamu." Ucapnya yang masih fokus dengan layar ponselnya.


'Sombong banget sih, Mentang mentang anak orang kaya dan menjadi Bos. Sampai sampai lupa dengan masa lalunya yang hidup pas passan.' Batin Merry yang belum mengetahui siapa sosok Zayen yang sebenarnya.


Tidak lama kemudian, Viko pun telah datang. Dan dilihatnya sosok wanita yang berada di hadapan Zayen, seketika itu juga segera mengusirnya.


"Maaf, permisi mbak. Saya tegaskan, bahwa pak Bos tidak terbiasa duduk bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya. Sekarang juga, menyingkirlah dari sini." Ucap Viko yang berusaha untuk mengusirnya, meski apa yang diucapkannya salah tebakan.


"Aku ini teman sekolahnya, kita berdua saling mengenal. Bahkan kita satu kelas waktu itu, dan kamu tidak memiliki alasan untuk mengusirku." Jawab Merry dengan rasa percaya dirinya.


"Sudah, jangan dilanjutkan. Pesanannya kamu bawa saja ke ruangan kerjaku." Perintah Zayen pada Viko, sedangkan Viko hanya mengangguk dan segera mengambil pesanannya untuk dibawanya ke ruangan kerja milik Zayen.


"Dan kamu Merry, dijaga etika kamu. Dan perbaiki penampilan kamu itu, ini kantor tempatnya untuk bekerja. Bukan tempat ajang lomba kecantikan. Meski kamu teman sekolahku, kantor ini memiliki aturan. Baca baik baik peraturan yang sudah dibuat sebelum aku menginjakkan kaki di Kantor ini." Ucapnya yang risih melihat penampilan Merry yang terlihat sangat berlebihan. Pakaian yang seksi, dan juga sangat menyilaukan kedua mata laki laki.

__ADS_1


Zayen pun segera pergi dari kantin tersenut, ia sendiri lebih memilih untuk kembali ke ruang kerjanya dari pada menikmati makan siang bersama karyawan lainnya yang tidak henti hentinya memperhatikannya dan juga membicarakannya.


Sedangkan Merry terasa gondok saat mendengar ucapan dari Zayen, dirinya sendiri terasa dipermalukan. Kedua tangannya pun mengepal kuat, seakan ingin cepat cepat dapat menaklukkan Zayen.


Adelyn yang tidak jauh dari Merry, kedua sudut bibirnya tersenyum merekah.


'Sudah aku bilang, kak Zayen tidak akan pernah bisa tergoda dengan wanita lain. Hanya Afna lah yang dapat membuat kak Zayen tergila gila karena cinta.' Batin Adelyn sambil senyum senyum.


"Adelyn, kenapa kamu senyum senyum sendiri? ada yang lucu kah?" tanya Sasa penuh keheranan.


"Ah, tidak ada. Aku hanya teringat sesuatu, itu saja sih. Oh iya, ayo kita kembali ke ruangan kerja kita. Aku sudah bosan berada di tempat ini." Jawabnya beralasan, kemudian mengajak temannya untuk kembali bekerja.


Sedangkan Zayen dan Viko kini sedang mulai menikmati makan siangnya, tiba tiba Zayen kembali teringat sambal yang dirasa ada yang kurang.


"Vik, jeruk nipisnya mana? bukankah aku sudah bilang sama kamu. Bahwa aku memintamu untuk memberi perasan jeruk nipis pada sambalnya." Tanya Zayen yang merasa kurang berselera untuk makan, dikarenakan tidak ada rasa asam pada sambalnya.


"Ah iya, aku lupa. Tunggu sebentar ya Bos, aku akan mengambilkannya." Jawab Viko yang baru teringat akan pesanan yang dimintai oleh Zayen.


"Jangan lama lama, takut selera makanku hilang." Ucapnya, kemudian ia kembali menghubungi istrinya. Berharap sang istri segera menerima panggilan darinya.


Namun sayangnya, berkali kali Zayen menghubungi sang istri tidak ada jawaban darinya. Zayen pun mulai prustasi, dan akhirnya meletakkan ponselnya.


Tidak lama kemudian, Viko telah kembali dengan membawa beberapa jeruk nipis di tangannya.


"Ini Bos, jeruk nipisnya. Bos Zayen yakin? sangat masam loh, Bos." Ucapnya dan bertanya sambil meletakkan buah jeruk nipis didekat Zayen.


"Entah lah, Vik. Lidahku terasa hambar, dan entah kenapa aku menginginkan buah yang masam masam. Terasa segar dan menggugah selera makan, jika kamu ingin mencobanya silahkan." Jawab Zayen sambil memeras jeruk nipis pada sambalnya.


Viko yang melihatnya saja sudah terasa ngilu pada bagian semua giginya. Bahkan, dirinya sulit untuk menahan salivanya agar tidak terjatuh.


Dengan nikmat, Zayen menikmati ayam bakarnya dengan sambal yang ekstra pedas dengan perasan jeruk nipis.

__ADS_1


Setelah cukup lama menikmati makan siangnya, keduanya duduk duduk santai sambil mengobrol.


__ADS_2