Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Permintaan


__ADS_3

Keempat orang tersebut shok dan juga sangat takut saat mendapat keputusan dari majikannya.


"Maaf, Tuan. Kami benar benar menyesal dan akan berjanji, bahwa kami tidak akan lagi mengulanginya." Rengek keempatnya sambil bersimpuh dikaki tuan Tirta.


"Aku rasa sudah cukup kalian bekerja disini, kalian semua tidak mempunyai rasa takut sedikitpun. Bahkan, putriku dan menantuku kamu anggap lebih rendah dari kalian. Sekarang cepat tinggalkan tempat ini, uang pesangon sudah ada di kamar kalian masih masing." Ucapnya sambil menunjuk ke arah tempat yang dijadikan penginapan untuk para penjaga dan satpam.


Afna maupun Zayen yang melihatnya sedikit merasa kasihan. Meski sudah membuatnya kesal sekalipun, tetap merasa kasihan. Tetapi mau bagaimana lagi, kesalahan yang fatal sudah dilakukannya. Mau tidak mau, keempatnya harus angkat kaki dari kediaman keluarga Danuarta.


"Nak Zayen, Afna. Ayo, kita masuk ke dalam. Dan kamu Afna, kamu naik mobil saja. Biar suami kamu tidak kesusahan, kasihan suami kamu."


"Afna tidak mau, Pa. Afna maunya digendong suami Afna, biar pak Rudi yang membawa motornya." Jawab Afna dengan entengnya, sedangkan Zayen hanya menelan salivanya.


"Kalau begitu, silahkan turun pak Rudi. Biar aku yang membawa masuk mobilnya, pak Rudi yang membawa motor milik Zayen." Ucap tuan Tirta.


"Baik, Tuan."


"Tapi..." ucap Zayen terhenti.


"Tidak ada tapi tapian, cepatlah kalian berdua segera masuk kerumah." Perintahnya, kemudian segera masuk kedalam mobil dan melakukannya sampai di garasi mobil. Setelah itu, pak Rudi kini mengendarai motor milik Zayen.


Sedangkan Zayen masih bengong dipojokan pintu gerbang.


"Ayo, gendong aku." Ucap Afna yang tiba tiba membuyarkan lamunan suaminya, Zayen sendiri tidak menyangka dengan sikap Afna yang tiba tiba berubah menjadi manja.


'Istriku tidak lagi bermain drama, 'kan? kenapa tiba tiba sikapnya sangat menggodaku.' Batinnya yang masih bengong, Afna sendiri bingung dibuatnya.


"Kenapa kamu diam, apa kamu tidak mau menggendongku lagi." Ucapnya lagi dibarengi dengan cemberut.


"Aah! iya, aku lupa. Baiklah, aku akan mengendongmu sampai dikamar." Ucapnya dan meledek dengan kalimat terakhirnya.

__ADS_1


Afna hanya tersenyum tipis, dirinya sedikit takut jika sang suami tiba tiba berubah menjadi buas.


'Ah! kenapa tadi aku memintanya untuk digendong, kalau ternyata dia meminta haknya bagaimana? aku belum siap.' Batinnya sedikit dilema saat dirinya hanya berdua didalam kamar, ditambah lagi harus menginap. Afna benar benar tidak dapat membayangkannya.


"Sekarang, kenapa kamu yang melamun? hem ..."


"Ah iya, maaf."


Tanpa pikir panjang, Zayen langsung menggendong istrinya. Tanpa rasa canggung, Afna melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami. Keduanya nampak serasi dan juga terlihat sangat romantis, meski dengan penampilannya yang terbilang sangat sederhana sekalipun. Namun, mampu membuat para pelayan tercengang dan juga kagum.


Semua pelayan yang menyambutnya pun tidak menyangka dengan penampilan Afna dan juga suaminya yang sangat sederhana, hingga membuat keduanya tetap saling menerima dengan kondisi yang berbeda.


Setelah sampai di ruang keluarga, dengan pelan Zayen menurunkan istrinya ke sofa.


"Selamat sore Ma, Pa ..." sapa Afna dan Zayen serempak, saat kedua orang tua Afna baru saja berada di ruang keluarga.


"Siang juga nak Zayen, Afna. Bagaimana kabar kalian berdua?"


"Kabar mama dan papa juga baik, mama sangat senang kalian berdua datang ke rumah."


"Dan, kenapa kalian tidak memberitahu Papa atau mama. Jika kalian mau datang kerumah, papa kan bisa mengirim supir untuk menjemput kalian. Jadi, tidak mengalami kejadian seperti tadi." Ucap sang ayah menimpali.


"Loh, memang ada kejadian apa, Pa? nak Zayen? Afna? kenapa mama tidak tahu." Tanya sang ibu penasaran.


"Tidak ada apa apa kok, Ma. Hanya masalah kecil saja, tidak lebih." Jawab Zayen beralasan, dirinya tidak ingin memperpanjang masalah dan juga menambah banyak cerita. Zayen lebih memilih untuk tidak membicarakan keburukan orang lain. Tuan Tirta hanya tersenyum, saat melihat menantunya begitu baik dalam menyampaikan masalah.


"Ooooh, ua sudah kalau begitu, Mama pikir ada masalah besar atau yang lainnya. Habisnya, papa menyampaikannya terlihat serius."


"Karena papa sudah lapar, jadi semua nada bicara papa sangat menegangkan. Sekarang, kita bersiap siap untuk berangkat ke Restoran."

__ADS_1


"Tapi, Pa ... kita sudah terbiasa makan di tempat yang sederhana." Jawab Afna sedikit lesu.


"Baiklah, tunjukkan arahnya saja. Nanti pak Rudi yang akan mengikuti petunjuk kalian, Papa akan ikut denganmu kemana arahnya."


"Yang benar nih, nanti papa tidak suka dengan tempatnya, bagaimana?"


"Apa yang tidak papa suka, semuanya papa suka. Bahkan makan dengan pecel dan tempe goreng saja papa sangat suka, bahkan lahap." Jawab sang ayah meyakinkan.


Sedangkan Zayen merasa tidak enak hati, seakan tidak bisa memberi nafkah yang setara dengan kehidupan orang tua Afna. Mau bagaimana lagi, Zayen tidak ingin menunjukkan kemewahannya jika pada akhirnya akan membuat mertuanya murka.


Zayen lebih menunjukkan kesederhanaannya, dari pada harus menunjukkan kemewahannya. Jika pada akhirnya tidak akan dimilikinya, hanya itu yang dikhawatirkan seorang Zayen.


"Lebih baik, kalian berdua segera bersiap siap. Papa sudah menyiapkan pakaian untuk suami kamu, jadi tidak perlu khawatir jika tidak ada baju ganti."


"Terimakasih, Pa. Maafkan Zayen yang sudah merepotkan papa."


"Jangan bicara seperti itu, papa maupun mama tidak merasa direpotkan. Justru, papa ingin kalian berdua tinggal dirumah ini. Dan papa berharap, Zayen masuk ke perusahaan papa."


"Maaf, Pa. Zayen belum siap, Zayen masih belum bisa lepas dari pekerjaan yang sudah Zayen tekuni sejak dulu. Tidak hanya menolak permintaan Papa, tetapi juga menolak permintaan papa Arganta yang meminta Zayen untuk kembali masuk ke perusahaan orang tua Zayen sebdiri." Jawab Zayen berusaha beralasan sebaik mungkin, agar tidak melukai perasaan ayah mertuanya.


"Papa mengerti maksud kamu, dan papa tidak akan memaksa kamu. Pasti kamu ingin berbuat adil, 'kan? papa mengerti akan posisi kamu. Papa juga tidak melarang kamu untuk bertahan dengan pekerjaan kamu, itu hak kamu sepenuhnya. Putri papa tidak merasa keberatan dengan keadaan kamu, itu sudah membuat papa sangat bersyukur. Karena kamu berhasil memberi pelajaran yang berharga untuk putri papa."


"Papa berlebihan, Zayen tidak mempunyai kemampuan apa apa. Zayen hanya dapat memberi kesederhanaan kepada Afna, tidak lebih. Dan maafkan Zayen, Pa. Jika Zayen belum bisa memberi kebahagiaan kepada Afna, seperti papa memberi kebahagiaan kepadanya. Zayen akan terus berusaha untuk memberi kebahagiaan untuknya."


"Mama sangat bersyukur, Afna mendapatkan suami seperti kamu. Kamu benar benar suami yang bertanggung jawab, mama tidak pernah menyangkanya." Ucap sang ibu menimpali.


"Papa ada tiket untuk kalian." Ucap sang ayah, Zayen dan Afna saling menoleh satu sama lain.


"Kenapa kalian berdua saling menengok, apa kalian sudah tidak sabar? baiklah, akan papa kasih bocoran untuk kalian berdua. Ini ada tiket untuk kalian berdua, gunakan sebaik mungkin. Tetapi ini tiket untuk berbulan madu, bukan untuk liburan. Apakah kalian berdua mengerti? kalau tidak, mama yang akan memberitahunya."

__ADS_1


Zayen maupun Afna hanya saling beradu pandang dan menelan salivanya masing masing.


__ADS_2