Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tegang


__ADS_3

Viko melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa perduli dengan kendaraan berseliweran dari arah berlawanan.


Berkali kali Viko menghubungi Zayen namun tidak ada jawaban, setirnya pun dijadikan sasaran olehnya.


"Bos! kenapa tidak angkat telfonnya, ini sangat genting. Bahkan nyawa kita ada di ujung tanduk, Bos." Gerutu Viko sambil memukul setirnya berulang ulang.


Di satu sisi, Afna dan Zayen masih dalam perjalanan. Dengan erat, Afna memeluk suaminya sambil menyandarkan kepalanya di punggung milik suaminya.


"Kapan kita akan sampai?"


"Sebentar lagi, bersabarlah." Jawab Zayen sambil fokus dengan mengendarai motornya.


Setelah memakan waktu yang cukup lumayan lamanya, kini telah sampai dan keduanya segera turun. Afna masih seperti sebelumnya, memakai tongkat penyangganya untuk menopang badannya.


Saat berdiri tidak jauh dari Danau tersebut, Afna terbelalak saat melihat disuatu tempat yang begitu nyaman untuk berduaan bersama orang dicintai. Danau kecil yang terdapat rumah rumah kecil di atas pinggiran Danau, ditambah lagi diterangi dengan lampu lampu dengan cahaya warna warni. Menjadikan Danau tersebut sangat cantik dan enak dipandang mata, membuat sepasang kekasih ingin segera menempatinya.


"Ini tempat apaan? seperti hotel, tapi ... kenapa dipinggiran Danau. Sepertinya sangat nyaman untuk menginap, tapi ...." ucapannya tiba tiba terhenti, Afna bingung untuk mengenai status hubungannya dengan Zayen. Antara saling cinta atau hanya nafsu semata, itu lah yang selalu hadir dalam bayangan Afna sendiri.


"Tapi kenapa?" tanya Zayen yang tiba tiba berada di sampingnya. Arsy pun langsung menoleh kearah suaminya yang sudah berdiri tegak disampingnya.


"Tidak ada tapi tapian, terus kita mau kemana?"


"Kita akan berbulan madu singkat, aku bukan orang kaya sepertimu. Jadi, seperti inilah caraku mengajakmu untuk berbulan madu."


"Apa! bulan madu?" tanya Afna tercengang.


"Tidak segitunya juga kali, ah! sudahlah sini aku gendong kamu. Kita akan menikmati malam ini hanya berdua denganmu." Jawab Zayen yang langsung menggendong istrinya menuju tempat yang sudah di pesannya.


Afna pun sontak kaget, saat suaminya mendadak seperti sedang kasmaran. Hingga membuat pikirannya tidak karuan, Afna langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Sedangkan Zayen menitipkan tongkat penyangga milik istrinya kepada tukang parkir.


Semua orang tiba tiba pemandangannya tertuju pada Zayen dan Afna, keduanya nampak serasi dan membuat orang yang melihatnya merasa iri.

__ADS_1


"Kita jadi bahan sorotan, untung aku bukan artis. Kalau aku jadi artis, muka kita akan jadi pasaran." Bisik Afna di dekat telinga suaminya.


"Biarin, kita akan terkenal setelah ini." Jawab Zayen dengan posisinya yang masih menggendong istrinya.


Dan benar saja, banyak kamera menuju Afna dan Zayen yang sedang mengambil gambarnya.


Cekrek cekrek cekrek, suara kamera tidak ada henti hentinya membisingkan kedua telinga Afna dan Zayen.


"Kenapa kamu bisa santai begitu, kalau papa dan mama melihat tingkah kita ini bagaimana? aku tidak ingin menjadi sorotan kamera. Apalagi jika masuk didunia media sosial, bisa bisa kak Kazza akan murka denganku."


"Tenang, setelah pulang nanti kamu bisa cek sendiri melalui laptop, kamu tidak perlu khawatir." Zayen berusaha menenangkan pikiran istrinya.


'Kamu tidak perlu pusing, aku jamin orang lain tidak akan bisa memunculkan raut wajah kita di media sosial.' Gumamnya dan tersenyum tipis.


Setelah banyak berbicara, Afna dan Zayen telah sampai ditempat yang sudah dipesannya.


"Buka, pintunya." Perintah Zayen yang masih menggendong istrinya.


"Ah! iya, aku lupa. Kuncinya ada dikantong celanaku."


"Diam, jangan bergerak. Nanti aku bisa salah ambil, bisa repot aku." Jawabnya sedikit malu.


"Salah ambil? tidak apa apa, itu yang sedang aku inginkan." Ucap Zayen menggoda, sedangkan Afna mencoba merogoh saku celana milik suaminya dengan sangat hati hati. Afna sangat takut jika dirinya akan salah mengambil.


"Cepat, keburu anu."


"Diam." Sambil tersenyum mengembang, Afna telah mendapatkan kunci dari saku kantong celananya.


"Aku sudah mendapatkannya."


"Cepetan buka, kamu sangat berat." Perintahnya beralasan, padahal dirinya sudah tidak bisa mengendalikannya.

__ADS_1


Ceklek, Afna membukanya dengan pelan. Kemudian segera masuk kedalam dan kembali mengunci pintunya. Dilihatnya disetiap sudut ruangan yang terlihat begitu elegan dan sangat mewah. Membuat Afna tercengang melihatnya, dirinya tidak menyangka dari penampilan luarnya terlihat sangat sederhana. Namun, setelah masuk kedalam terlihat begitu mewah.


Sedangkan Zayen benar benar sudah tidak sabar mendapatkan momen yang sudah dinanti nantikannya, kini Afna sudah dijadikan candu baginya. Tanpa pikir panjang, Zayen langsung melakukan aksinya hingga keduanya kembali tidak terkontrol, semakin panas semakin liar. Zayen terus dan terus, sampai keduanya dititik puncaknya. Zayen maupun Afna kini terbaring lemas terkulai, tenaganya benar benar terkuras habis. Kini keduanya benar benar tidak bisa berbuat apa apa selain beristirahat.


Tiba tiba ingatan Zayen kembali teringat akan janjinya dengan Viko. Dengan sigap, Viko langsung meraih ponselnya di atas meja dekat tempat tidurnya. Zayen yang menghidupkan ponselnya, dirinya khawatir jika Viko dalam bahaya.


Tidak menunggu lama, Ponselnya kembali menyala. Zayen mulai menggeser layarnya dan membuka pada bagian panggilan.


Kedua mata Zayen terbelalak melihatnya, saat melihat berapa banyak pesan masuk dari Viko.


Zayen langsung menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


Dilihatnya sang istri yang sedang tertidur pulas karena rasa lelah yang sudah Zayen lakukan pada istrinya, hingga tenaga Afna ikut terkuras.


'Bagaimana ini, jika aku meninggalkannya. Tidak mungkin aku meninggalkan dirinya sendiri. Jika aku ajaknya pulang juga tidak mungkin, ditambah lagi belum makan malam. Kenapa aku sampai lupa jika aku ada pekerjaan yang sangat penting.' Gumamnya dengan pikirannya yang kacau, Zayen pun langsung mengacak rambutnya hingga terlihat berantakan.


Dengan pelan, Afna mencoba membuka kedua matanya. Meski sangat berat, Afna berusaha untuk bisa membuka kedua matanya.


Keduanya masih sama sama polos, Afna masih dalam balutan selimut yang menempel pada tubuhnya.


Dilihatnya sang suami yang terlihat sangat gelisah, membuat Afna penasaran dan juga ikut cemas.


"Kamu kenapa? ada masalah? katakan, siapa tahu aku bisa membantumu." Tanya Afna sedikit takut.


"Tidak ada apa. Aku hanya lupa, jika malam ini aku ada pekerjaan. Dan Viko sudah menungguku, aku bingung harus meninggalkan kamu."


"Jika memang sangat penting dan memang itu pekerjaan kamu, berangkatlah. Aku bisa tinggal dirumah, dan kamu tidak perlu cemaskan aku. Kalau kamu dipecat, kamu tidak mempunyai pekerjaan lagi." Ucap Afna berusaha meyakinkan suaminya.


"Benar, kamu tidak marah? jika kamu tidak menginginkanku untuk berangkat, aku tidak akan berangkat. Bagiku tidak masalah jika aku dipecat, aku masih bisa mencari pekerjaan lainnya." Jawab Zayen berusaha mencari alasan, meski sebenarnya tidak semudah yang ia katakan.


"Aku tidak marah, untuk apa aku marah. Sedangkan kenyataannya pekerjaan kamu hanya bisa dilakukan pada malam hari."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memesan makanan untuk dibawa pulang. Aku hanya bisa menemani kamu makan malam, setelah itu aku harus berangkat. Sebelumnya, aku sangat berterimakasih denganmu. Kamu benar benar mengerti akan kesibukan ku. Aku janji akan selalu menberikan kamu kebahagiaan, walaupun nyawaku yang harus menjadi taruhannya." Jawab Zayen berusaha untuk meyakinkan istrinya.


__ADS_2