
Afna melihat dari raut wajah Vella, dilihatnya memang benar benar tidak ada kebohongan denganya. Afna pun percaya dengan apa yang tengah dijelaskan oleh Vella, dan tidak lagi penasaran. Namun, dibenak Afna masih ada sedikit mengganjal dengan sosok Vella. Apapun penjelasan Vella, Afna tetap mempercayainya. Meski harus berusaha untuk mencari tahu tentang sosok Vella, Afna akan terus berusaha.
'Sepertinya dua orang ini benar benar misterius, tapi ... ah sudahlah. Aku hanya bisa berusaha untuk sembuh, setelah itu aku harus mencari tahu sosok keduanya.' Gumam Afna sambil melamun.
"Jadi tempat ini adalah tempat untuk anak anak jalanan, milik keluarga Gantara? tunggu!" ucap Afna tiba tiba teringat dengan nama Gantara.
"Kenapa, ada masalah?" tanya Zayen yang juga kaget.
"Tempat ini milik keluarga Gantara? berarti pemiliknya adalah paman Raska Gantara, dong." Jawab Afna berusaha menebak.
"Sok tahu, kamu."
"Benarkah kamu mengenalnya?" tanya Zayen lagi.
"Benar, aku sangat mengenalnya. Paman Raska adalah sahabat papa, dan putrinya akan di jodohkan dengan kak Kazza. Tetapi keduanya belum pernah ditemukan, entahlah. Perjodohan yang rumit menurutku, ditambah lagi kak Kazza sudah berada di luar Negri."
"Oooh, jadi benar. Pemiliknya adalah orang yang kamu kenal, syukurlah." Ucap Zayen.
"Kak Zayen ...." seru bocah kecil umur 10 tahun memanggil Zayen sambil berlari mendekat.
"Rio ..." seru Zayen yang juga ikut memanggil. Zayen langsung memeluknya, kemudian langsung melepaskan pelukannya.
"Kak Zayen, kenapa kakak begitu lama tidak pernah datang. Apakah kakak sedang sibuk?" tanya Rio sambil melirik kearah Afna.
"Maafkan kak Zayen, kakak benar benar lagi sibuk. Oh iya, ini kak Afnaya. Sekarang kakak sudah mempunyai istri, dan kak Afnaya lah istri kakak."
"Istri kakak sangat cantik, kenapa kakak tidak memberi kabar kepada Rio."
"Karena pernikahan kakak saat itu mendadak, kak Vella saja tidak kakak undang. Tapi sekarang sudah tahu, 'kan?" Rio mengangguk.
"Kakak Afna, perkenalkan. Namaku Rio, selamat datang di gubuk masa depan anak anak."
"Salam kenal ya, adik Rio. Semoga kelak, kamu dan teman kamu yang lainnya akan sukses. Semangat untuk belajarnya, dan jangan patah semangat sedikitpun."
__ADS_1
"Pastinya, kak. Kalau begitu, Rio kembali masuk kedalam ruangan dulu ya, kak Afna dan kak Vella dan juga kak Zayen."
"Iya, Rio. Salam buat anak ana yang lainnya ya, Rio." Jawab Afna, sedangkan Rio mengancungkan dua jempolnya dan kembali berkumpul bersama teman temannya.
"Rupanya tempat ini tidak membosankan, pantas saja kamu mengatakan akan banyak teman. Ternyata ini maksud kamu, bahkan rasa sakit pada kakiku ini belum seberapa dengan rasa sakit dan kecewanya anak anak yang tanpa kedua orang tua mereka. Seharusnya aku bersyukur, dan tidak banyak mengeluh." Ucap Afna merasa tidak bersyukur.
"Semua sudah ada jalan ceritanya masing masing, setidaknya kita terus bersyukur dengan apa yang sudah ditakdirkan untuk kita. Tidak hanya itu, kita pun tetap harus berusaha untuk merubahnya menjadi lebih baik lagi, dan jangan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya." Jawab Zayen mengingatkan.
"Iya, Nona. Apa yang dikatakan suami Nona ada benarnya."
"Iya, Vella. Kamu benar, aku baru menyadarinya."
"Nah! gitu dong." Zayen tersenyum.
"Lalu, maksudnya kamu mengajakku kemari untuk apa? aku masih belum mengerti." Tanya Afna yang masih penasaran.
"Aku kemari untuk memberikan donasi yang tidak seberapa, karena pemiliknya tidak menyukai sebuah transferan. Maka dari itu, aku mengajak kamu untuk mendatangi tempat ini. Aku tidak ingin kamu mencurigai aku disaat aku keluar rumah, karena pastinya kamu akan curiga." Jawab Zayen berusaha untuk menjelaskan.
"Maaf, jika aku terlalu mencurigai kamu. Karena aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap kamu, sekali lagi maafkan aku."
"Baiklah, aku akan menunggu kamu disini ditemani Vella."
Zayen pun segera beranjak pergi meninggalkan Afna dan Vella yang sedang duduk diteras.
Keduanya kini bergantian untuk bercerita, keduanya sama sama menjaga lisannya. Takut, jika ada ucapan yang tidak sengaja keluar tanpa disadari oleh keduanya.
"Vella, bolehkah aku bertanya sesuatu kepada kamu?"
"Tentu saja, katakanlah."
"Vella, kenapa kamu membohongi aku dan kak Kazza. Kenapa kamu berbohong, jika kamu akan pindah ke luar kota. Dan kenyataannya kamu berada disini, sebenarnya kamu ini siapa? apa kamu mata mata keluargaku? maaf, bukan maksudku untuk berprasangka buruk terhadapmu. Hanya saja, kamu sangat misterius bagiku."
"Maafkan aku, Nona Afna. Jika aku sudah berbohong tentang identitasku, dan aku pun bukan mata mata di keluarga kamu. Aku real yang pernah bekerja di Restoran kamu, tapi aku berhenti. Karena ini hidupku dan pilihanku, jadi Nona tidak perlu khawatir dan penasaran tentangku."
__ADS_1
"Kenapa kamu masih tidak berterus terang, apa kamu ada masalah dengan kak Kazza? atau.. yang lainnya."
"Aku tidak mengenal kakak kamu, Nona. Aku hanya sebagai karyawannya saja, tidak lebih." Jawab Vella beralasan, dirinya sebisa mungkin untuk keluar dari pertanyaan Afna. Namun, justru dirinya semakin terpancing oleh Afna.
"Maaf, jika aku banyak pertanyaan untuk kamu. Karena aku penasaran dengan kamu, dan aku ingin kamu berterus terang dan jujur denganku."
"Nona sangat berlebihan, aku hanya orang biasa seperti yang lainnya."
"Itu ucapanmu, tetapi berbeda dengan pendapatku."
"Terlihat sangat serius, bahkan terlihat tegang. Ada apa dengan kalian berdua? tidak lagi sedang berantem, 'kan?" tanya Zayen yang tiba tiba sudah berada di dekat Afna maupun Vella.
"Tidak ada apa apa, kita berdua hanya mengobrol tentang wanita." Jawab Vella berusaha untuk tidak terlihat curiga didepan Zayen.
"Aku kira sedang berantem, soalnya aku lihat wajah kalian terlihat sedang tegang dan juga panas dingin." Ucap Zayen menebaknya, sedangkan Afna maupun Vella berusaha untuk terlihat tenang dan tidak terlihat gelisah.
"Tidak, kita berdua baik baik saja. Bagaimana, apakah kamu sudah memberikan donasi untuk anak anak?"
"Sudah, dan sekarang kita pulang atau... mau mampir ke rumah orang tua kamu. Siapa tahu saja kamu ingin bertemu dengan kedua orang tua kamu."
"Benarkah? serius, kamu mau mengajakku ke rumah papa dan mama."
"Apa aku ini sedang berbohong?"
"Tidak, aku percaya denganmu."
"Bagus lah. Dan buat kamu Vella, aku dan istriku pamit untuk pulang. Salam untuk pemilik tempat ini, dan katakan maaf jika donasiku sedikit berkurang." Ucap Zayen berpamitan.
"Tidak perlu khawatir, pesanmu akan aku sampaikan kepada pemilik tempat ini."
"Kalau begitu, aku pamit pulang. Sering seringlah datang ke rumah suamiku, aku tidak mempunyai teman." Ucap Afna menimpali.
"Akan aku usahakan, Nona." Jawabnya, kemudian tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu kedatangan kamu. Sampai bertemu dilain waktu ya, Vella." Ucap Afna berpamitan, kemudian Zayen kembali menggendong istrinya dan menurunkan di atas jok motornya. Sedangkan Vella membantu membawakan tongkat penyangga milik Afna.
'Beruntung sekali kamu, Nona Afna. Mendapatkan suami yang begitu perhatian, sungguh sangat beruntung. Apa aku mampu seperti kamu, aah! kenapa aku memikirkan yang jauh dari anganku.' Gumam Vella sambil berjalan dan memperhatikan sikap Zayen terhadap istrinya.