
Setelah keduanya mencuci muka dan menggosok gigi, Afna masih tertawa melihat suaminya yang benar benar unik akan perubahannya.
"Tertawa terus ... ngomong ngomong badanku terasa gerah, sayang ... tiba tiba juga aku menginginkan sesuatu." Ucap Zayen sambil memutar otaknya untuk memastikan sesuatu apa yang ia inginkan.
"Ingin sesuatu? apaan, sayang? apakah kamu menginginkan ayam geprek? ayam panggang? jeruk nipis? atau ... mangga muda?" tanya Afna menyebutkan beberapa pilihan. Namun, tidak ada satupun yang membuat Zayen tergoda.
"Hem ... bukan itu, sayang ... aku ingin bermanja manja denganmu." Jawabnya dengan enteng dan tersenyum mengembang sambil menatap wajah cantik milik istrinyaa, Afna pun membulatkan kedua bola matanya. Sesuatu yang sangat aneh dan langka menurutnya. Biasanya yang menginginkan bermanja manja adalah wanita hamil, namun kini justru berbanding berbalik.
Afna sendiri masih tidak percaya akan keanehan yang dialami suaminya sendiri, ingin menolak namun takut akan berubah menakutkan.
"Bermanja manja? maksudnya yang seperti apa, sayang?" tanya Afna yang masih belum mengerti dengan apa yang ada dalam pikiran suaminya itu.
"Duduklah diatas tempat tidur, kemudian luruskan kaki kamu. Lalu, bersandarlah. Aku menginginkan tidur dalam pangkuanmu. Aku merindukanmu sosok wanita yang baru pertama aku kenali, sungguh aku merindukan masa masa itu. Biarkan aku menatap wajahmu sambil mencium perutmu yang semakin membesar ini, aku membelai calon buah hati kita." Ucap Zayen memohon, Afna pun tidak dapat menolaknya.
Afna sendiri pun merasakan apa yang diinginkan suaminya, ia juga sangat merindukan masa masa saat dirinya baru pertama kalinya mengenal sosok sang suami yang pernah Afna takuti dengan penampilan suaminya apa adanya.
Dengan pelan, Afna mengganti posisi duduknya seperti apa yang dimintai oleh sang suami. Keduanya saling tersenyum bahagia, bahkan tidak ada beban sedikitpun diatas pundak milik keduanya. Terlihat jelas senyum mengembang pada kedua sudut bibir sepasang suami istri.
Zayen sendiri memposisikan sesuatu apa yang diinginkannya, dengan lembut Zayen mengusap perut istrinya dan menciumnya.
__ADS_1
"Bayi kecil, sehat terus ya, sayang ... Papa dan Mama sudah tidak sabar ingin menimang nimang kamu, sayang ..." ucap Zayen sambil mengusap usap perut istrinya yang kini mulai terlihat membesar. Tidak hanya itu, Zayen menciumnya berulang ulang.
Afna pun tersenyum bahagia dengan sikap suaminya yang terlihat begitu menyayangi calon buah hatinya dan juga istri tercintanya.
Zayen kembali menatap wajah cantik milik istrinya, kemudian segera ia bangkit dari posisi tidurnya. Zayen duduk disebelah sang istri, lalu memeluknya dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya. Setelah itu, Zayen menempelkan dagunya pada pundak istrinya. Dengan reflek, Afna menoleh kesamping. Dan disaat itu juga, Zayen mengambil kesempatan emas dan mendaratkan ciu*mannya dibibir manis milik istrinya.
"Jangan berubah dan jangan pernah berpaling dariku, tetaplah bersamaku selamanya dan untuk membesarkan buah hati kita. Aku berjanji, apapun kondisi kamu setelah melahirkan. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan aku akan selalu menjagamu. Bahagiaku hanya untukmu, untukmu dan untukmu selamanya." Ucapnya lirih didekat telinga istrinya, namun masih terdengar jelas oleh sang istri. Zayen pun kembali mencium pipi kiri milik istrinya dengan lembut, Afna tersenyum bahagia.
Afna yang mendengarnya pun tidak bisa berkata apa apa selain rasa bersyukur dan beruntung memiliki suami yang begitu sempurna, bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari perhatiannya, hingga bukti cintanya yang setiap hari ia dapatkan.
Afna membalikkan posisinya, hingga kini keduanya saling berhadapan. Zayen masih menatapnya dengan lekat, hingga membuat sang istri serba salah tingkah.
Lagi dan lagi, Zayen mendaratkan ciu*mannya pada kening milik istrinya dengan lembut. Afna tiba tiba tersipu malu, bahkan dirinya sedari tadi belum mendapat kesempatan untuk menc*ium suaminya sendiri.
"Terus, kapan aku akan menc*iummu. Kenapa aku selalu terakhir untuk mendapatkan kesempatan itu, kamu curang lagi." Ucap Afna dibuat jutek, ia teringat sangat dirinya cemberut dikarenakan tidak mendapatkan kesempatan untuk menc*ium suaminya.
Zayen yang melihat ekspresi istrinya tersenyum lebar dan tertawa kecil, kemudian mulai menggoda istrinya dengan cara mengerucutkan bibirnya.
"Tudak lucu, kamu curang." Ucap Afna sambil menunjukkan muka masamnya, lagi lagi Zayen greget saat melihat istrinya yang sangat menggemaskan.
__ADS_1
"Tuh, kan ... senyum senyum begitu. Tidak ada yang lucu! aku mau turun saja kalau begitu." Ucap Afna kembali, kemudian segera ia bangkit dari posisi duduknya.
Namun sayangnya, tangan Afna tertahan oleh suaminya. Hingga membuatnya sulit untuk meninggalkan suaminya didalam kamar, kemudian Afna menoleh kebelakang.
"Sayang, jangan begitu dong ... aku masih ingin bermanja manja dengan kamu, sayang ... iya deh, aku tidak melarangmu untuk menc*iumku. Aku mohon ... duduklah didekatku, sebentar ... saja." Bujuk Zayen pada istrinya seperti meringik menginginkan sesuatu.
"Telat, aku sudah tidak ingin menc*iummu. Sudah hilang hayalanku tadi, kamunya curang kebablasan." Jawab Afna masih memasang muka masamnya.
"Sayang ... ayolah, duduk sebentar saja disini. Apa kamu tega, melihat suami kamu yang ingin bermanja manja denganmu." Ucapnya berusaha untuk merayu istrinya.
Mau bagaimana pun, rasa cinta pada keduanya tidak dapat dipungkiri. Meski ada rasa gregetan, namun tetap saja tidak bisa membuat keduanya untuk marah.
Afna mulai mendekati suaminya, kemudian duduk disebelahnya. Zayen pun tersenyum melihat istrinya yang juga mau menuruti kemauannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku sama sekali tidak ada niat untuk mengerjaimu, ataupun membuatmu kesal. Bukankah sudah aku katakan, aku sendiri bingung dengan kondisiku yang sekarang yang berubah ubah. Percayalah padaku, cintaku tidak akan pernah berubah." Ucap Zayen sambil meletakkan telapak tangan istrinya di dada bidangnya.
"Aku percaya sama kamu kok, sayang. Aku mengerti dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Maafkan aku juga, yang terkadang bersikap seperti anak kecil. Yang terkadang berubah menjadi sensitif, bahkan membuat orang lain kebingungan." Jawab Afna sambil menatap suaminya dengan lekat.
"Sayang, lihatlah jam berapa sekarang. Sepertinya sudah waktunya untuk mandi, dan hari ini juga aku ada jadwal padat di kantor. Kalau begitu, aku mau mandi terlebih dahulu. Kamu duduklah dengan santai, lalu temani aku untuk sarapan pagi." Ucap Zayen yang baru teringat, bahwa dirinya kini sudah mulai aktif di dunia perkantoran.
__ADS_1