Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kejujuran


__ADS_3

Keduanya masih terbalut dalam selimut, Zayen segera meraih pakaiannya yang berserakan.


"Aw!" Afna merasa sakit pada bagian tertentunya dan berusaha untuk menahannya. Berharap segera hilang rasa sakitnya, dan tidak lagi merasakan rasa sakit.


"Kenapa, sakit?" tanya Zayen sembari memperhatikan sang istri yang terlihat menahan rasa sakit.


"Iya, sakit." Jawab Afna sambil menunduk malu, Zayen yang melihat ekspresi istrinya langsung menggendongnya yang masih terbalut selimut menuju kamar mandi. Afna hanya bisa nurut dengan suaminya, dirinya sudah pasrah dengan apa yang akan suaminya lakukan terhadapnya.


Setelah sampai dikamar mandi, Zayen menurunkan istrinya dengan pelan.


"Jangan protes, aku akan membantu kamu untuk membersihkan diri."


"Tapi aku bisa sendiri, aku tidak ingin membuatmu kerepotan." Jawab Afna yang masih merasa malu.


"Sudahlah, diam. Semakin kamu banyak bicara, semakin aku bosan mendengarnya. Cukup nurut denganku saja, itu sudah lebih dari cukup."


"Maafkan aku,"


"Sini, aku bantu lepaskan selimut yang sudah membalut tubuhmu. Berendamlah dengan air hangat, agar otot ototnya tidak lagi tegang." Ucap Zayen memberi saran, sedangkan Afna hanya mengangguk.


Zayen tengah mengangkat istrinya untuk berendam dengan air hangat, kemudian membantu sang istri menggosok badannya dengan sabun dan sekaligus dengan tenaga pijatnya. Afna merasakan enaknya pada bagian punggungnya, mendapat pijatan yang begitu enak untuk dirasakannya.


Setelah merasa sudah cukup membantu istrinya membersihkan diri, kini giliran Zayen yang membersihkan diri. Tanpa rasa malu atau gugup, Zayen tetap menikmati mandinya dengan aroma sabun dan shampo menjadi satu didalam ruangan kamar mandi.


Sedangkan Afna sedari tadi hanya menutup matanya sambil berendam. Dirinya begitu merasa malu saat satu kamar mandi dengan suaminya. Zayen yang melihatnya hanya tersenyum tipis, dan segera menyelesaikan ritual mandinya.


Setelah merasa sudah cukup, Zayen langsung menyambar handuk yang ada di dekatnya dan kemudian segera melilitkan pada pinggangnya. Dan disaat itu juga, Afna baru berani membuka telapak tangannya yang tengah menutup kedua matanya. Zayen tidak henti hentinya tersenyum tipis, sedangkan Afna hanya menelan salivanya saat melihat dada bidang milik suaminya yang tengah menggodanya. Tidak hanya itu, Afna pun tercengang saat melihat tubuh suaminya yang terbilang kejar dan terlihat sangat kekar. Afna baru menyadarinya, bahwa suaminya lelaki yang sangat tampan yang tertutup oleh penampilannya yang sangat sederhana.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku begitu, apa kamu sudah ketagihan memandangiku yang ternyata suami kamu laki laki yang terbilang sangat tampan." Ucap Zayen dengan percaya dirinya, Afna sendiri hanya menelan salivanya dengan susah payah.


"Kata siapa, aku rasa kamu laki laki yang pas pasan. Tidak tampan dan juga tidak buruk, itu saja sih! menurutku." Jawab Afna dengan percaya diri.


"Ah! sudahlah. Ayo, aku bantu kamu untuk menyelesaikan ritual mandinya. Waktu kita tidak lama, setelah ini kita akan segera pulang." Ucapnya yang langsung membantu istrinya untuk menyelesaikan ritual mandinya.


Afna masih merasa sangat malu, ditambah lagi dirinya tanpa mengenakan sehelai benang pun. Setelah selesai ritual mandinya, Zayen langsung menggendong sang istri dan menurunkan diatas tempat tidur.


Zayen segera membantu sang istri untuk mengenakan pakaiannya. Sedangkan Afna masih terasa sedikit sakit pada sesuatunya.


"Sini, aku bantu kamu untuk mengenakan pakaian kamu. Jangan menolak, aku ini suami kamu. Bahkan aku sudah melihatmu sepenuhnya, lalu kenapa kamu masih terasa takut dan gugup."


"Aku hanya baru pertama kalinya berhadapan dengan laki laki dalam kondisi seperti ini, jadi wajar saja jika aku masih mengingat dengan jelas. Dan tentunya masih membekas rasa sakitnya, bagaimana aku bisa lupa." Jawabnya dengan polos, Zayen yang mendengar penuturan dari istrinya hanya tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum begitu, apa kamu sudah melakukannya dengan." Tiba tiba Zayen menghentikan ucapan istrinya dan langsung membungkam mulut Afna dengan sigap.


"Lepas, bukan maksudku untuk berbicara seperti itu. Maaf, aku tidak akan mengulanginya." Ucap Afna merasa bersalah, sebenarnya hanya ingin meledek suaminya. Namun, justru sang suami langsung membungkam mulutnya.


"Maaf, aku sudah mengacaukan pikiranmu. Sekarang aku percaya sama kamu, bahwa kamu tidak seburuk dari penampilan kamu."


Setelah selesai memakai pakaiannya, Afna dibantu sang suami duduk di depan cermin. Kemudian, Afna meraih sisir rambutnya. Saat hendak meraih sisir, Zayen lebih dulu mengambilnya.


"Sini, aku mau menyisiri rambutku." Pinta Afna sambil meraih sisir rambut yang sudah dipegang suaminya.


"Jangan bawel, aku yang akan membantumu untuk menyisir dan mengeringkan rambutmu ini. Kamu lebih baik diam, dan jangan protes." Jawab Zayen sambil menyisir rambut istrinya, agar mudah saat di keringkan.


"Tapi kamu belum mengganti pakaian kamu, coba lihat dengan benar." Ucap Afna mengingatkan untuk menjadi alasan.

__ADS_1


Dengan seksama Zayen memandangi dirinya sendiri didepan cermin, Zayen pun tersenyum saat melihat handuk yang masih melilit pada bagian pinggangnya. Zayen pun tersadar, bahwa dirinya belum mengenakan pakaian sehelai benang pun.


"Tidak masalah, pintu sudah aku kunci. Didalam kamar ini hanya ada kita berdua, 'kan? lantas untuk apa takut." Jawab Zayen diimbangi dengan senyumnya.


"Iya, setidaknya kamu pakai pakaian kamu." Afna terus meminta suaminya untuk mengenakan pakaiannya.


"Baiklah, aku akan mengenakan pakaianku setelah aku selesai membantumu mengeringkan rambutmu." Jawab Zayen sambil melanjutkan menyisiri rambut milik istrinya, kemudian setelah itu langsung membantu untuk mengeringkan rambut dan mengucirnya.


"Sudah selesai, aku mau memakai pakaianku." Ucapnya, kemudian segera mengambil pakaiannya. Seperti biasa, Zayen hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Tetapi kali ini hanya celana pendek yang dikenakannya. Terihat santai dan tidak memiliki banyak beban.


Afna yang memperhatikan penampilan suaminya pun serasa ingin meniru penampilan sang suami yang terlihat sederhana.


"Kenapa kamu memperhatikanku seperti itu, apakah kamu sudah tidak sabar ingin melihatku dengan rambut pendek ku?" tanya Zayen sedikit heran.


"Itu pasti, tetapi bukan itu yang sedang aku pikirkan." Jawabnya yang masih fokus pandangannya pada penampilan suaminya.


"Lalu, apa yang sedang kamu pikirkan? tidak lagi membuat rencana yang extrem, 'kan?"


"Sama sekali tidak ada, aku hanya memperhatikan penampilan kamu yang terlihat sangat sederhana. Itu saja yang ada dalam pikiranku, tidak ada yang lain."


Zayen kembali mendekatkan dirinya disamping sang istri.


"Aku tidak mempunyai nyali untuk mengenakan sampul seperti orang orang sukses pada umumnya, aku sangat lemah dengan hal kerapian. Bukan berarti aku tidak bisa melakukannya, aku hanya tidak mempunyai nyali."


"Maksud kamu tidak mempunyai nyali, itu apa? aku masih belum mengerti dengan apa yang kamu maksud."


"Aku takut, orang orang akan segan dan enggan terhadapku. Aku tidak butuh dihormati secara jabatan atau... yang lainnya. Maka dari itu, aku tidak mempunyai nyali. Bagiku sangat sulit untuk mendekati orang orang yang sederhana dan polos."

__ADS_1


"Begitu, maksud kamu? ternyata kamu sangat spesial yang pernah aku kenal. Apa yang kamu katakan memang benar adanya."


"Sekarang kamu sudah tahu, 'kan? apa yang aku maksud. Aku hanya ingin belajar dari kesederhanaan, karena aku sendiri tidak akan pernah tahu nasibku selanjutnya. Setidaknya aku belajar hidup keras, saat badai menerjangku."


__ADS_2