Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Hanya sebuah gelang


__ADS_3

Sampailah Sasa didepan pintu sekretaris Viko, disaat itu juga segera mengetuk pintunya.


Namun, sebelum Sasa mengetuk pintunya. Viko yang lebih dulu membuka pintunya.


"Kak Seyn? ada perlu apa kak Seyn datang kemari?" tanya Viko penasaran.


"Antarkan aku ke ruangan Zayen, aku ada perlu dengannya." Jawab Seyn yang terlihat sudah tidak sabar ingin bertemu dengan adiknya.


"Maaf Pak, kalau begitu saya permisi." Ucap Sasa berpamitan, Viko pun mengangguk. Sasa sendiri tidak peduli mau dijawab ataupun tidak, setidaknya Sasa sudah berpamitan dengan sopan.


Sedangkan Viko sendiri segera mengantar Seyn untuk menemui adiknya.


Tanpa disadari dari arah berlawanan, ada sosok wanita yang terburu buru tanpa melihat sisi kanan kiri maupun kedepan dengan fokus. Wanita tersebut dengan gesit terus melangkah, terkadang berlari kecil.


BRUK!!!


"Aw!!!" teriaknya meringis kesakitan. Seyn maupun wanita yang ada dihadapannya saling menatap satu sama lain, bahkan tidak ada satupun yang berkedip. Viko sendiri hanya berdiri tegak seolah tidak melihatnya.


"Ma--af, aku tidak sengaja." Ucapnya meminta maaf tanpa memperhatikan sosok laki laki yang ada didepannya.


"Tidak apa apa, aku pun jalan tidak fokus dengan langkahku." Jawab Seyn.


"Tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu. Kamu ... Seyn, 'kan? saudara kak Zayen? benarkah?" tanyanya menebak.


"Iya, dan kamu saudaranya kembarnya, 'kan?" jawabnya dan ikut menebaknya.


"Iya, aku Adelyn." Ucap Adelyn menyebutkan namanya, sedangkan Viko sendiri seakan tidak melihatnya. Viko fokus memalingkan pandangannya ke lain arah.


"Viko, ayo antarkan aku ruangan Zayen." Ajak Seyn yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mengantarkannya, sekaligus aku mau minta izin keluar." Ucap Adelyn ikut menimpali.


"Tidak, kamu sudah dilarang untuk pergi keluar sendirian. Sekarang juga kembalilah ke ruangan kkamu." Jawab Viko dengan tatapan seriusnya, sedangkan Adelyn hanya bisa nurut. Dirinya tidak ingin menambah masalah dengan orang tuanya, karena Adelyn sendiri sudah mengatakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang kedua kalinya.


"Iya, aku mengerti." Ucap Adelyn dengan lesu, serasa sudah tidak ada pilihan lain selain pasrah dengan apa yang dikatakan Viko. Adelyn pun kembali ke ruangannya, rencanya yang sudah ia susun untuk bertemu akhirnya tidak terkabul.


Kini, Seyn dan Viko sudah berada di depan pintu ruangan milik Zayen, Viko sendiri segera menekan kode yang sudah diberi amanat oleh Zayen. Hanya Viko dan sang ayah lah yang dapat membukanya dengan kode, selain itu harus menekan bel pintu dan mengetuknya.


"Permisi, Bos." Ucap Viko yang sudah berada dihadapan Zayen.


"Kak Seyn, duduklah. Dan kamu Vik, panggil dan bawa Adelyn ke ruangan ini." Perintah Zayen.


"Baik, Bos. Kalau begitu, aku permisi." Jawab Viko, kemudian segera ia memanggilnya.


Sedangkan Seyn kini tengah duduk dan berhadapan dengan adiknya.


"Ada perlu apa kak Seyn datang kemari? apakah ada sesuatu pada Kantor kakak?" tanya Zayen penasaran.


"Kode? ah iya, aku lupa. Aku telah menggantinya, kodenya tanggal lahir kakak sendiri. Memangnya ada apa dengan lemari kecil itu? apakah masih ada sesuatu tentang papa?" jawabnya dan balik bertanya dengan penasaran.


"Tidak ada, hanya ada satu gelang di lemari itu. Ya sudah kalau begitu, aku pulang. Terima kasih ya, Yen." Jawabnya, Zayen yang mendengar jawaban dari sang kakak hanya tercengang seketika. Zayen pun hanya bisa mengangguk mendengar sang kakak berpamitan untuk pulang dan kembali ke Kantornya.


Setelah sang kakak keluar dari ruangannya, Zayen hanya menggelengkan kepalanya serasa penuh keheranan dengan kakaknya sendiri.


"Hanya berisi satu gelang? yang benar saja, lalu untuk apa dulu memintaku untuk mengganti lemari itu. Aku kira ada sesuatu yang penting dari Papa, tidak tahunya hanya sebuah gelang. Ada ada saja kak Seyn, untung saja didalam lemari itu bukan kolor ijo seperti milik Viko." Ucapnya menggerutu, Zayen pun teringat saat dirinya bersama Viko dimintai untuk melepaskan pakaiannya dan hanya tersisa kolor ijo dan kuning karena ulahnya sendiri yang mencoba menberikan kejutan untuk istrinya ketika mencukur rambutnya.


Setelah cukup lama menunggu, kini Adelyn sudah berada di hadapan sang kakak. Adelyn masih memasang muka masaknya dihadapan saudara kembarnya.


"Kenapa kamu terlihat jutek begitu, hah? kalian berdua habis berantem?" tanya Zayen pada saudara kembarnya dengan memasang muka masamnya.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin meminta izin keluar. Tetapi Viko tidak mengizinkan aku untuk menemui kakak." Jawabnya dengan cemberut.


"Memangnya kamu mau meminta izin kemana?" tanyanya lagi.


"Neyla menghubungiku, dia mengajakku untuk ..."


"Balap motor?" dengan cepat Zayen menyambar ucapan dari saudara kembarannya itu. Adelyn pun tercengang mendengarnya, ia benar benar tidak menyangka jika saudara kembarannya begitu cepat mengetahuinya.


Seketika itu juga, Adelyn menoleh kearah Viko. Seakan Viko lah yang tengah memberitahunya, karena Viko ibarat jiwa dan raga dengan saudara kembarnya. Apapun yang berhubungan dengan saudaranya akan mudah baginya untuk melacak siapapun orangnya yang di tuju.


"Kamu itu perempuan, kamu tidak layak berlaga seperti laki laki. Kamu tidak perlu menunjukkan kehebatan kamu, aku tahu jika kamu mampu. Tapi ingat, kamu ini perempuan." Ucap Zayen mengingatkan dengan cara lebih tegas, kini tanggung jawab Zayen tidak hanya seorang istri. Namun, ada seorang adik perempuan yang perlu ia nasehati dan diberi pengarahan yang lebih baik.


"Kenapa Neyla dengan mudahnya bisa melakukan yang diinginkannya, padahal Neyla memiliki dua orang kakak." Jawabnya mencari alasan.


"Neyla? biarkan saja, paman Ganan sudah memiliki cara lain untuk mengatasinya. Jadi, tidak perlu kamu iri pada diri saudara kamu." Ucap Zayen menjelaskan.


"Hem, otakku tidak sampai untuk mengimbangi daya pemikiran kakak. Tetap saja, aku tidak bisa mengartikannya. Tapi ... untuk apa kakak memintaku untuk datang kesini?" jawabnya dan bertanya.


"Papa memintamu untuk pulang, ada sesuatu yang penting untuk disampaikan kepada kamu. Yang pasti aku tidak tahu, dan Viko yang akan mengantarkan kamu pulang." Jawabnya.


"Pulang? jangan bilang jika Papa mau berangkat ke Amerika."


"Hem, sepertinya hampir benar tebakanmu. Tapi bisa saja tebakan kamu itu salah, sekarang pulanglah."


"Dan kamu, Vik. Antarkan Adelyn untuk pulang, pastikan dia tidak menangis histeris." Perintah Zayen pada Viko.


"Baik, Bos. Aku pastikan, bahwa Nona Adelyn tidak akan menangis." Jawab Viko mencoba meyakinkannya. Sedangkan Adelyn yang mendengarnya serasa geram dibuatnya.


Setelah itu, Viko mengajaknya untuk segera keluar dari ruang kerja milik Zayen. Dengan langkah kakinya yang terasa berat, Adelyn terpaksa menuruti perintah dari saudara kembarnya.

__ADS_1


Semua karyawan dibuat heran dengan Adelyn yang selalu bersama Viko, bahkan keduanya benar benar terlihat sepasang kekasih.


__ADS_2