
Seketika itu juga, Adelyn kaget bukan main. Tubuh Adelyn terasa ketakutan saat menabrak seseorang yang terlihat menakutkan, tubuh Adelyn pun gemetaran tatkala orang yang ditabraknya menatap dengan tatapan sangat tajam.
"Heh! kalau jalan itu lihat lihat, main tabrak aja. Sekarang kamu harus ganti rugi, karena kamu sudah membuang waktuku dengan sia sia." Ucapnya dengan sorotan matanya yang sangat tajam, Adelyn pun ketakutan saat menatapnya. Kemudian, ia segera menundukkan kepalanya.
"Maaf, saya benar benar tidak sengaja." Jawab Adelyn dengan tubuhnya yang gemetaran, bahkan otaknya pun sulit untuk berpikir.
"Heh! beraninya cuman sama perempuan, laki laki macam apa kamu." Ucap dari sosok laki. laki yang tidak jauh dari Adelyn dan laki laki yang ditabraknya, Adelyn sendiri masih memilih untuk tidak menoleh ke sembarang arah. Adelyn tetap pada posisinya yang menunduk, bahkan tidak berani untuk menggeser posisinya.
"Mau menjadi jagoan, hah! sini kalau berani." Ucapnya menantang tanpa mengingat siapa yang tengah dihadapinya.
"Dasar, bodoh! kamu pikir ini Restoran tempat untuk berkelahi. Apa kamu sedang belajar kebodohan, sampai sampai kamu tidak tahu siapa pemilik Restoran ini. Pergilah! sebelum kamu menyesa, cepat!" jawabnya yang ikut membentak.
"Aku tidak perduli, perempuan ini sudah menabrak ku. Tidak hanya itu saja, perempuan ini sudah membuang waktu dengan sia sia." Ucapnya meminta timbal balik.
"Berapa yang kamu mau, katakan. Tunjukan nomor rekeningmu, setelah ini akan segera aku transfer." Ucap Viko yang sudah tidak lagi sabar.
Setelah itu, lelaki yang tengah memeras Adelyn segera memberikan nomor rekeningnya kepada Viko. Tanpa pikir panjang, laki laki itu segera mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan nominal yang cukup besar untuk di transfer ke laki laki murahan yang ada di depannya.
Setelah cukup puas, pria yang mengancam Adelyn segera pergi meninggalkan tempat.
Kini, tinggal lah Adelyn yang masih berdiri mematung tanpa menggeser posisinya sejengkal pun.
Adelyn sendiri masih saja menunduk, dirinya berusaha mencerna suara lelaki yang menurutnya tidak asing di telinganya. Adelyn terus menerka nerka sosok yang tengah menolongnya. Sesekali ia ingin menoleh ke sumber suara, namun ia tidak kuasa.
Karena rasa penasarannya terus menghantui pikirannya, Adelyn segera menoleh kearah yang membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Viko ..." seru Adelyn dengan suara yang sangat jelas, tanpa pikir panjang segera ia mendekatinya. Kemudian tanpa rasa malu, Adelyn langsung memeluk tubuh Viko sangat erat. Bahkan lingkaran kedua tangannya membuat pikiran Viko semakin tidak karuan.
"Rupanya kamu sangat bandel, sampai sampai kamu uji coba pergi ke Restoran tanpa pengawasan." Ucap Viko yang masih belum berani menyentuh Adelyn, meski Adelyn sendiri tengah memeluknya.
"Aku tidak sendirian, aku pergi ke Restoran ini bersama keluarga. Aku hanya izin ke toilet saja, serius." Jawab Adelyn yang masih memeluk Viko, sedangkan Viko sendiri bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin melepaskan Adelyn begitu saja, pikirnya.
"Oooh, aku kira." Ucap Viko singkat.
'Kenapa sih, laki laki ini masih saja seperti batu. Bahkan, kedua tangannya masih saja tidak bergerak.' Batin Adelyn yang masih tidak ingin melepaskan pelukannya.
Karena merasa sedikit dongkol, dan sedikitpun tidak ada reaksi dari Viko. Adelyn segera melepaskan pelukannya, lalu ia pergi sembarang arah dan meninggalkan Viko begitu saja.
Viko yang mengerti akan perasaan Adelyn, segera ia mengejarnya.
"Adelyn!! tunggu!! teriak Viko sekencang mungkin sambil berlari, Adelyn pun tidak mempedulikannya dan terus berlari agar bayangannya tidak diketahuinya. Setelah dirasa cukup aman, Adelyn terus berjalan mencari sebuah tempat yang menurutnya dapat menenangkan pikirannya.
Sedangkan Viko masih celingukan mencari keberadaan Adelyn, ia pun sangat takut jika terjadi sesuatu pada diri Adelyn. Meski ia sudah lepas tangan atas tugasnya untuk menjaga Adelyn, Viko masih merasa itu tugas untuk selamanya menjaga Adelyn. Yang tidak lain adalah saudara kembar dari sahabatnya yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Viko sendiri merasa prustasi mencari keberadaan Adelyn, kesana kemari sudah ia jelajahi. Namun, hasilnya tetap saja nihil.
'Tidak mungkin aku menghubungi Bos Zayen, bisa bisa aku kena amuk darinya. Ini memang salahku yang tidak peka akan perasaannya, mungkin dia sedang marah besar terhadapku. Dari mana aku harus memulainya, aku benar benar bodoh untuk soal perasaan.' Batinnya yang terus mengutuki dirinya sendiri.
Viko masih terus mencoba mencari keberadaan Adelyn, namun tetap saja tidak ia dapatkan. Bahkan, setiap sudut ruangan sudah ia lihat. Tetap saja, bayangannya pun tidak terlihat.
Sedangkan Adelyn sendiri sedang menangis sesenggukan mengutuki dirinya sendiri karena harus memendam perasaannya, nafasnya pun mulai terasa panas. Detak jantungnya terasa tidak beraturan, pikirannya pun melanglang tidak karuan. Kedua matanya pun kini terlihat sembab karena air matanya yang terus membanjiri kedua pipi mulusnya.
__ADS_1
Disaat itu juga, Kedua bola mata Viko tertuju pada sebuah ruangan kaca yang berukuran kecil. Didalamnya terdapat sosok wanita yang sangat ia kenali, Viko segera menghampirinya. Meski sedikit gugup, dirinya berusaha untuk segera menepis pikirannya yang sulit untuk dituangkan menjadi sebuah kalimat yang dapat diterima oleh Adelyn.
Dengan pelan, Viko melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Meski dengan nafas yang berat, Viko berusaha untuk berani.
Tanpa Adelyn sadari, kini Viko tengah berasa dibelakangnya. Viko masih berdiri tegak seakan memberi kejutan kepada orang yang dicintainya.
"Sampai kapan kamu akan terus memendam perasaanmu? kamu pikir aku sanggup melihatmu terus terusan seperti ini?" tanyanya secara tiba tiba
JEDDDUUARR!!!
Adelyn tercengang, lehernya terasa tercekik. Tubuhnya mendadak menegang, seakan sulit untuk digerakkan. Bahkan ia terasa sulit untuk menoleh ke sumber suara, Adelyn benar benar seperti mimpi mendengarkannya.
Adelyn masih diam mematung, tubuhnya masih terasa sulit untuk ia gerakkan. Viko sendiri segera mengganti posisinya hingga kini saling berhadapan, Viko duduk manis didepan Adelyn.
Sedangkan Adelyn sendiri terasa kikuk dibuatnya, ia benar benar tidak menyangka jika Viko sudah berada di hadapannya. Ditambah lagi dengan pertanyaannya yang membuatnya mabuk kepayang.
"Maksud kamu?" tanya Adelyn mencoba meyakinkan pertanyaan Viko yang tengah dilontarkan padanya.
Viko masih diam dan tersenyum sambil menatap lekat wajah cantik milik Adelyn.
"Apakah tadi kamu tidak mendengarkannya? aduh, sayang sekali. Padahal itu kalimat sangat indah untuk di dengar, tapi kamu tidak mendengarkannya." Jawab Viko yang masih suka membuat Adelyn naik darah.
"Oooh, begitu. Sayang sekali, kenapa tadi aku tidak mendengarkannya dengan jelas ... mungkin aku harus periksa ke Dokter spesial." Ucap Adelyn yang juga tidak mau kalah dari Viko.
Dengan tatapannya yang memabukkan, Adelyn semakin salah tingkah ketika Viko sedang memperhatikannya dengan pandangan yang begitu dekat.
__ADS_1
Seketika itu juga, Viko segera bangkit dari posisi duduknya. Kemudian, segera ia mendekati Adelyn yang masih dengan posisi duduknya.