Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kejutan


__ADS_3

Adelyn masih menyimpan rasa penasarannya, sedangkan Viko hanya senyum senyum tidak jelas.


"Baiklah, jika memang harus menutup kedua mataku ini. Awas saja, kalau sampai kamu membuatku jantungan." Ucapnya sambil dibuat buat memasang muka masamnya, berharap calon suaminya itu tidak akan mengerjainya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan mengerjaimu. Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu, itu saja." Jawabnya mencoba untuk meyakinkan, Adelyn pun mengangguk pasrah. Karena dirinya pun sudah tidak sabar ingin mengetahui kejutan apa untuknya.


Dengan pelan, Viko menutup kedua mata milik calon istrinya itu.


Setelah sudah tertutup kedua mata milik Adelyn, keduanya segera melanjutkan perjalanannya. Adelyn merasa sudah tidak sabar, rasanya ingin cepat cepat sampai ke lokasi yang sudah siapkan oleh calon suaminya itu.


Perjalanannya pun memakan waktu yang lumayan cukup lama, dan tidak terasa mobilpun telah berhenti disuatu tempat yang sudah dijanjikan oleh Viko.


"Sayang, apakah kita sudah sampai?" tanya Adelyn yang merasa bahwa mobil yang ia naiki tengah berhenti.


Suasana pun sunyi, Viko masih diam dan tidak menjawab pertanyaan dari calon istrinya.


"Ih, kenapa tidak mau menjawabnya sih, sayang ... kamu jangan gitu dong ... jangan kerjain aku beginian. Aku takut, sayang ..." ucap Adelyn yang merasa mulai sedikit takut.


"Hem ... diamlah, aku akan menuntunmu sampai ke suatu tempat yang sudah aku janjikan. Sekarang aku akan bantu kamu untuk melepaskan sabuk pengamannya, kamu cukup nurut denganku itu sudah cukup." Jawab Viko, kemudian segera membantu Adelyn untuk melepaskan sabuk pengamannya.


"Iya, terserah kamu saja. Yang terpenting jangan membuatku jantungan, itu saja." Ujar Adelyn sambil meraba pintu mobil.


"Diam dulu, aku mau turun." Ucapnya, kemudian segera turun dan membukakan pintu mobil dan menuntuk Adelyn untuk turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil, Viko menuntun calon istrinya dengan sangat hati hati. Adelyn pun hanya bisa nurut dan tidak berani untuk membuka suara, ia takut jika suasana yang sudah diatur sedemikian rupa akan hilang begitu saja.


Hanya beberapa langkah, Viko menghentikan langkah kakinya.


"Kita sudah sampai, jangan takut." Ucap Viko, Adelyn pun hanya mengangguk.


"Tetap tutup mata kamu, sebelum aku memintamu untuk membukanya. Apakah kamu mengerti?" Ucapnya lagi, Adelyn kembali mengangguk dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun pada calon suaminya itu.

__ADS_1


Dengan pelan, Viko membuka penutup mata pada Adelyn. Sedangkan Adelyn masih memejamkan kedua matanya.


"Buka lah kedua mata kamu dengan pelan, kamu akan segera mengetahui kejutan dariku." Perintah Viko sambil berdiri disebelah Adelyn.


Sedikit demi sedikit, Adelyn mencoba membuka kedua matanya.


Seketika itu juga, Adelyn terpenganga melihat apa yang ada dihadapannya itu. Adelyn benar benar seperti mimpi melihatnya, sungguh ia tidak menyangkanya.


"Ini benar, 'kan? serius? kamu tidak lagi membohongiku, 'kan?" tanya Adelyn serasa tidak percaya saat dirinya sudah berada didepan rumah. Adelyn melihat rumah yang tidak begitu besar, namun terlihat sangat puas dan sesuai yang diinginkan Adelyn.


"Iya, sayang. Ini kejutan dariku, aku membelinya untuk tempat tinggal kita berdua. Bagaimana menurutmu? apakah kamu menyukainya? katakan saja, jika kamu tidak menyukainya aku akan mencari yang kamu sukai." Jawab Viko.


"Tidak perlu mencari yang lain, aku sangat menyukai rumah yang model seperti ini. Eh tunggu, itu seperti ada motor. Apakah kamu yang membelinya?" tanya Adelyn penasaran.


"Iya, bukankah kamu suka motor? aku membelinya untuk mengajakmu jalan jalan berkeliling keliling. Bukankah kamu belum mengetahui siapa aku? nanti kamu akan tahu selain bekerja dengan kakak kamu." Jawab Viko menjelaskan.


Adelyn sendiri semakin penasaran, seperti apakah keseharian calon suaminya itu. Sedangkan Adelyn hanya mengetahui sosok Viko adalah orang yang baik, dan memiliki tanggung jawab, pikirnya.


"Nanti kamu tidak terkejut, setelah aku mendatangi sebuah tempat yang menurutku sangat spesial." Jawabnya yang semakin membuat Adelyn penasaran.


"Baiklah, aku nurut saja denganmu. Percuma juga aku merayumu, tidak akan pernah berhasil." Ujar Adelyn yang sudah menyerah.


"Bagaimana kalau sekarang aku ajak kamu untuk makan siang? kemudian, aku akan mengajakmu jalan jalan." Ajak Viko.


"Kita tidak masuk kedalam dulu, nih?" tanyanya heran.


"Itu nanti, sayang. Setelah kita sudah resmi menjadi suami istri, takut ada yang tidak beres nanti didalam." Jawabnya dan tersenyum menggoda, Adelyn hanya bergidik ngeri mendengarnya.


"Ah sudahlah, ayo kita makan siang. Aku akan mengajakmu kesuatu tempat, pastinya kamu akan menyukainya." Ajaknya, Adelyn pun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Viko dari belakang.


Keduanya kini tengah dalam perjalanan, Adelyn sibuk menatap luar lewat jendela kaca mobil.

__ADS_1


"Jangan banyak melamun, nanti keburu tua dariku." Ledek Viko sambil melambaikan tangannya dihadapan Adelyn. Seketika itu, Adelyn segera menoleh kesamping.


"Hem ... tidak akan mungkin, aku akan terus terlihat muda." Jawabnya yang tidak mau kalah.


"Benarkah? beruntung sekali aku ini, mendapatkan istri yang akan selalu terlihat muda." Viko pun membalasnya, hingga ketus tidak sadar telah sampai disuatu tempat yang tidak pernah Adelyn temukan.


"Tempat apa, ini?" tanya Adelyn penuh heran.


"Nanti kamu akan mengetahuinya, ayo kita turun. Apa perlu aku membantumu untuk melepaskan sabuk pengamannya? hem." Jawabnya.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Ucapnya dan segera melepas sabuk pengamannya.


Keduanya pun segera turun dari mobil, lalu Viko mendekati calon istrinya. Kemudian, Viko menggandeng tangan milik Adelyn dan mengajaknya untuk masuk.


"Tunggu! ini rumah makan?" tanya Adelyn penuh rasa penasaran.


"Bukan, nanti pesanan akan datang sendiri. Kita cukup menunggunya, sekarang ayo kita masuk." Jawab Viko dan mengajaknya, Adelyn pun masih menyimpan rasa penasarannya terhadap sosok calon suaminya itu.


"Hei, kenapa masih mematung. Ayo kita masuk, kita sudah ditunggu." Ucap Viko dan menarik tangan milik Adelyn, disaat itu juga Adelyn tersadar dari lamunannya dan mensejajarkan langkah kakinya dengan Viko.


"Sayang, kok sepi? tempat apa ini? jangan membuatku takut. Jangan bilang kalau kamu mempunyai markas baru, ayo katakan." Tanya Adelyn yang sedikit menyimpan rasa penasaran dan juga takut tentunya.


"Ini memang terlihat bangunan tua dan sepi, tapi didalam sana kamu akan menemukan keramaian dan tempat yang tidak membosankan." Jawabnya untuk meyakinkan calon istrinya, Adelyn pun mencoba untuk mempercayainya. Meski dirinya sendiri merasa penasaran dan ingin segera mengetahuinya.


"Aku hanya bisa nurut dengan apa yang kamu katakan, asalkan tidak membuatku takut saja." Ujar Adelyn yang mencoba untuk mempercayainya.


"Baguslah, aku sangat menyukai prinsip kamu. Semoga da seterusnya, kamu tidak selalu berpikiran buruk terhadapku." Ucapnya, Viko sendiri masih menggandeng tangan calon istrinya itu.


"Kak Viko!!!" teriak anak kecil sambil berlarian dan memeluk Viko dengan erat. Viko pun segera jongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya.


"Devin." Balasnya ikut menyebut namanya.

__ADS_1


__ADS_2