Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Salah menduga


__ADS_3

Zayen dan istrinya maupun Viko masih pada posisinya saling pandang silih berganti.


"Dua orang itu malingnya, siapa lagi coba." Ucap salah satu tetangga yang juga tidak mengenali penampilan Zayen yang baru potong rambut.


"Kalian berdua siapa, apa jangan jangan kalian berdua memang malingnya." tanya bapak paruh baya sambil menatap tajam.


"Dimana Zayen?" tanya yang satunya lagi.


"Aku Zayen Pak, serius! ini teman saya yang sering datang kemari. Dia ini Viko, Pak. Ini perempuan istri saya, Afna. Sayang ... katakan kepada mereka, aku ini suami kamu." Jawab Zayen sedikit ketakutan, karena para tetangga sudah bawa barang pukulan. Yang kapan saja bisa melayangkannya ke arah Zayen maupun Viko. Sedangkan Viko hanya menelan salivanya susah payah.


"Aku tidak percaya! sini kalian berdua." Perintah salah satu bapak bapak menatap tajam kearah Zayen, sedangkan Zayen bergidik ngeri melihat bapak tersebut membentaknya. Bagaimana tidak bergidik ngeri, penampilannya yang berkumis kaya clurit tumpul bikin Zayen pingin ngakak berjamaah.


"Iya pak," jawab Zayen berusaha tenang. Sedangkan Afna sudah ketakutan lebih dulu, dirinya pun tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan. Ditambah lagi wajah wajah para tetangga mendadak menjadi seram, Afna sendiri hanya bisa diam.


"Stop! periksa baju kalian sendiri, buka pakaian kalian. dan sisakan kolor kalian, aku tidak ingin ada pistol didalamnya, cepat!" Bapak kumis tadi pun membentaknya. Zayen maupun Viko tidak bisa mengelak, mau tidak mau harus menuruti warga sekitar.


'Aduh! mana kolorku ijo lagi, ada gambar pisangnya. Mampu*s gue, mau ditaro mana mukaku.' Batin Viko sambil menelan salivanya lagi.


'Apa apan ini bapak kumis, kenapa suruh lepasin pakaian.' Gerutu Zayen berdecak kesal.


Dengan terpaksa, Zayen maupun Viko terpaksa melepaskan pakaiannya. Dan tara .... hanya sisa kolor ijo dan kuning yang tersisa pada badan mereka berdua masing masing.


Semua yang menatapnya geli saat keduanya hanya mengenakan kolor saja.


"Pak, percayalah. Aku ini Zayen, tetangga bapak. Dan yang satu ini Viko, teman saya yang sering datang kesini."

__ADS_1


"Iya, Pak. Bos Zayen baru cukur rambut, jadi istrinya tidak mengenalinya. Lihat dong, bapak bapak. Teliti kembali sosok Bos Zayen, bila perlu tanyakan kepada istrinya." Ucap Viko mencoba menjelaskan, agar tidak masuk ke ranah hukum. Karena menghadapi masa itu lebih sulit untuk berlepas diri, ditambah lagi masa yang arogan dan main tangan.


Bapak berkumis tadi langsung mendekati Zayen untuk membuktikan kebenarannya. Berkali kali memeriksa Zayen dari ujung kepala sampai ujung kaki.


'Iya, benar. Dia ini memang benar benar Zayen, mampu*s dah! mana sudah aku telanjangi seperti ini. Ah! tidak mengapa, sekali kali mengerjai preman. Kapan lagi kalau bukan sekarang, iya kan ....' batin pak kumis penuh kemenangan, tanpa disengaja sudah mengerjai Zayen yang sudah dikenal preman.


"Pak, percayalah. Dia ini suami saya, Pak. Mungkin mau memberi kejutan untuk saya, namun caranya yang salah." Ucap Afna mencoba menjelaskan.


"Oooh! begitu, syukurlah kalau bukan maling. Maafkan kami semua nak Zayen, sudah sangat lancang telah berbuat sesuka kami. Tapi ngomong ngomong, istri nak Zayen sudah sembuh?"


Afna, Zayen, dan Viko pun kaget saat mendengar pertanyaan dari tetangga. Mau tidak mau, Zayen dan Afna menjawab dengan jujur.


"Iya Pak, tapi belum pulih sepenuhnya. Jika keluar rumah masih disarankan untuk membawa tongkatnya, takut tiba tiba kambuh." Jawab Zayen mencoba untuk beralasan.


"Oooh, sykurlah. Semoga cepat sembuh ya, Neng .... biar bisa berbaur dengan para ibu ibu disekitar sini."


"Kalau begitu, kami para tetangga yang siap ikut berjaga jaga satu sama lain mau pamit pulang."


"Terimakasih ya, Pak. Warga setempat benar benar siap tanggap, lain waktu saya akan ikut meronda."


"Iya, Nak Zayen. Kalau begitu, kami permisi ..." ucap Pak Kumis, kemudian pergi meninggalkan rumah Zayen beserta tetangga lainnya ikut keluar dari rumah Zayen.


Kini tinggal lah Zayen, Afna, dan Viko yang masih dengan posisinya masing masing. Sedangkan Zayen dan Viko sibuk mengenakan pakaiannya yang sudah dilepaskan gara gara disangkanya maling. Afna sendiri kembali masuk ke kamarnya, dirinya tidak ingin menggangu sang suami yang sedang bersama temannya.


"Bos, aku mau pulang."

__ADS_1


"Sudah lewat tengah malam Vik, nginap saja di rumahku."


"Kamu enak, aku ngenes."


"Ya sudah, hati hati kalau mau pulang. Makanya, buruan cepat menikah. Jadi, kalau kamu pulang ada yang bisa kamu peluk."


"Kalau bukan karena perjodohan, sama aja ngenes." Sindir Viko sambil menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu, Vik. Sudah sana pulang, aku mau melakukan ritual. Sayang, kan? kalau udah ganteng gini tidak dibuat ritual." Ucap Zayen sambil meninggikan satu alisnya, Viko yang mendengarnya pun bergidik ngeri.


"Iya iya iya iya, Bos ..." jawab Viko yang langsung pergi begitu saja.


Setelah Viko pulang, Zayen langsung mengunci kembali pintunya. Dengan penuh kemenangan, Zayen langsung masuk kedalam kamar. Dilihatnya sang istri yang sudah terbalut selimut, Zayen pun sedikit prustasi.


"Yah .... sudah tidur, apa penampilanku membuatnya kecewa. Bukankah istriku menginginkan suaminya untuk potong rambut, kenapa jadi terlihat ngambek begitu. Tergulung selimut lagi, persis lontong bahenol." Gerutu Zayen sambil mengacak ngacak rambutnya yang tidak lagi gondrong.


Tiba tiba Zayen kaget dibuatnya, bulu kuduknya pun berdiri. Seakan ada para demit sedang memeluknya, Zayen masih diam. Dirinya masih fokus menatap lurus ke tembok, dirinya belum berani untuk menoleh. Takut, tiba tiba saat menoleh bukan lagi wajah cantik, tetapi wajah penuh misteri.


'Kenapa badanku terasa dingin, kenapa aku jadi merinding. Sepertinya ada yang sedang memelukku, apa jangan jangan demit seksi. Aah! mana ada demit seksi, itukan asumsiku sendiri. Tuhan ... tolong aku, itu yang tergulung diselimut siapa? yang memelukku ini siapa?' batin Zayen yang sudah tidak karuan cara berpikirnya.


"Sayang .... kamu kenapa diam, kamu tidak suka dipeluk?" ucap Afna langsung melepaskan pelukannya dari belakang dan memasang muka masaknya dibuat cemberut.


"What? kamu?" ucap Zayen membalikkan badannya.


"Terus yang terguling selimut siapa? jangan jangan kamu hantunya." Ucapnya lagi yang masih bingung.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi aneh begini sih, aku istri kamu. Itu bantal guling, bukan demit ataupun aku. Oooh! kamu dendam untuk pura pura tidak mengenaliku. Baiklah, aku mau tidur. Aku kira seperti film film romantis gitu, dipeluk istrinya langsung la la la la la la... ini, disangka hantu lagi." Jawab Afna semakin cemberut.


"Bukan begitu, sayang ... aku benar benar tidak tahu. Kamu sih, guling saja ditutupin selimut. Mana aku tahu, sayang ... maafkan aku ya, sayang ... lihat dong suami kamu. Sudah tampan belum, kalau masih belum tampan juga aku akan mencukur habis rambutku." Ucap Zayen kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


__ADS_2