Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Tidak menyangka akan semuanya


__ADS_3

Waktu yang menurutnya benar benar tidak sabar menunggu akan datangnya hari esok, tidak ia sadari sudah tiba waktunya malam hari. Afna sendiri semakin gelisah menerima kabar tentang kebebasan suaminya. Berkali kali Afna mengganti posisi tidurnya, tetap saja ia tidak dapat memejamkan kedua matanya. Dengan terpaksa karena rasa lelah dan kantuk yang tidak lagi dapat ditahannya. Dengan mudahnya Afna langsung tidur begitu saja hingga bangun bangun sudah pagi, tepatnya jam lima pagi Afna terbangun dari tidurnya.


Dengan cepat, Afna segera bangun dari posisi tidurnya. Kemudian, Afna segera membersihkan diri dikamar mandi. Setelah itu, Afna mengenakan pakaiannya dan duduk didepan cermin sambil menyisiri rambutnya.


Tok tok tok tok.


Suara Ketukan pintu tengah membuyarkan lamunan Afna yang sedang menyisiri rambutnya, kemudian segera ia membuka pintunya. Dan dilihatnya sosok wanita yang begitu akrab dengannya.


"Adelyn ... ada apa?" tanya Afna merasa dikagetkan.


"Tidak ada apa apa, apakah aku boleh masuk?" jawab Adelyn dan bertanya.


"Tentu saja, kenapa tidak. Bukankah ini rumah kamu? masuklah." Jawab Afna, kemudian segera ia menuju meja berhiasnya dan meletakkan sisirnya.


"Hari ini aku akan menyulapmu bak model yang cantik, agar kak Zayen terpesona melihatmu." Ucap Adelyn menggoda.


"Aku sedang tidak suka berdandan atau apapun sejenisnya, Del. Aku tidak mau kemana mana, aku hanya ingin dikamar ini." Jawab Afna yang tiba-tiba tidak menyukai berdandan maupun pergi kemana mana. Afna lebih nyaman berada di dalam rumah, tepatnya berada didalam kamar.


"Baiklah, jika kamu menolaknya. Aku tidak memaksanya, aku mengerti akan kondisi kamu yang sedang hamil muda. Pasti sering berubah ubah apa yang disukai maupun yang tidak disukai." Ucap Adelyn yang tidak berani memaksa Afna yang kondisinya sedang hamil muda.


"Oh iya, setelah ini jangan lupa turun ke bawah. Kita akan sarapan pagi bersama, kebetulan Papa dan Mama mau pergi. Jadi, sarapan paginya sedikit kepagian. Aku pun juga mau menuntaskan tugasku di kantor, sepertinya kamu akan tinggal bersama pelayan setia. Tidak apa apa, 'kan? aku tidak lama kok." Ucap Adelyn beralasan.


"Tidak apa apa, lagian ini rumah bukan rumah penjahat." Jawab Afna meledek.


"Hem, bisa saja. Oh iya, nanti mau nitip apa, buah segar? manisan? atau ... asinan? atau ... buah yang super kecut? katakan saja." Ucap Adelyn menggoda Afna yang sedang ngidam.


"Yang benar? aku mau asinan. Dan buah yang manis, aku sudah bosan dengan masam." Jawabnya merasa tergoda dengan pilihan yang Adelyn berikan kepada Afna.


"Baiklah, buat calon keponakanku ini apa sih yang tidak. Kalau begitu aku pamit untuk bersiap siap, aku tunggu di ruang makan." Ucap Adelyn, kemudian segera ia ke luar dari kamar saudara iparnya.


'Aku benar benar sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu, sayang. Sungguh aku sangat merindukanmu akan perhatian kamu untukku, semoga benar yang dikatakan Mama, Papa, kakek, dan yang lainnya. Bahwa kamu akan dibebaskan hari ini juga, semoga benar kenyataannya.' Batin Afna yang sudah terlihat semangat dan tidak terlihat lagi kesedihan yang mendalam.


Setelah merasa sudah terlihat rapi, Afna segera keluar dari kamarnya. Kemudian dengan pelan, Afna menuruni anak tangga. Sesampainya dibawah anak tangga, Afna menuju ruang makan.


Dilihatnya kedua orang tua suaminya dan juga Adelyn yang kini sebagai adik iparnya. Senyum mengembang tengah Afna tunjukan didepan keluarga suaminya, Afna pun disambut hangat oleh mertuanya.


"Selamat pagi, Afna ... ayo silahkan duduk." Sapa ibu mertua dibarengi ayah mertua dan juga Adelyn.


"Selamat pagi Ma, Pa, Adelyn. Maafkan Afna yang sudah membuat Mama dan Papa menunggu lama." Jawab Afna balik menyapa dan tersenyum, kemudian segera ia duduk didekat adik iparnya.


"Tidak, kami tidak merasa menunggumu lama. Justru sarapan pagi ini terlalu kepagian, maafkan Mama yang sudah menyuruh Adelyn untuk memintamu sarapan sepagi ini." Ucap ibu mertuanya.


"Tidak apa apa kok, Ma ..." Jawab Afna.

__ADS_1


"Yuk, kita sarapan pagi." Ajak ibu mertuanya, kemudian segera mengambil porsi masing masing.


Saat menikmati sarapan paginya, tidak ada satupun yang membuka suara. Suasana tetap terasa tenang dan juga tidak menegangkan, Afna pun menikmatinya tanpa ada rasa canggung sedikitpun.


Setelah selesai sarapan pagi, kini kedua orang tua Zayen segera bangkit dari tempat duduknya.


"Afna, Mama dan Papa mau keluar sebentar. Kamu di rumah sendirian tidak apa apa, 'kan? maafkan Mama jika kamu harus sendirian dirumah." Ucap ibu mertuanya berpamitan.


"Iya Ma, tidak apa apa." Jawab Afna dan tersenyum, ibu mertua dan ayah mertuanya pun segera pergi meninggalkan rumah.


Kini tinggallah Afna dan Adelyn yang masih berada dirumah, Afna pun segera bangkit dari posisi duduknya.


"Adelyn, aku mau masuk kamar. Tidak apa apa, 'kan? bawaannya ingin bersantai." Ucap Afna berpamitan.


"Iya, tidak apa apa. Tapi jangan tidur lagu pagi, tidak baik untuk ibu hamil. Kalaupun kamu suntuk, kamu bisa duduk bersantai ditaman belakang." Jawab Adelyn.


"Iya ,Del. Nanti kalau aku sudah bosan berada dikamar, aku akan ke taman belakang." Ucap Afna, kemudian segera ia kembali masuk kedalam kamarnya, dengan pelan Afna menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya. Kemudian menutupnya kembali, segera ia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menatap langit langit kamarnya.


'Sungguh, aku benar benar tidak menyangkanya. Jika aku telah menjadi bagian dari keluarga Wilyam, kini kisahku tidak jauh dari omma Qinan. Hanya saja, aku yang harus mengalami cidera pada kakiku bukan suamiku. Semua keterpaksaan, kini menjadikan candu satu sama lainnya. Semoga, kesetiaan suamiku sama seperti kakek Angga yang tidak akan pernah berpaling kesetiaannya.' Batin Afna sambil menatap langit langit kamarnya.


Setelah cukup lama didalam kamar, Afna merasa bosan. Kemudian Afna memilih untuk keluar dari kamarnya dan duduk bersantai di taman belakang.


Sesampainya ditaman belakang, Afna mengelilingi taman berbagai macam bunga bunga yang bermekaran.


Sesampainya dilokasi, kedua orang tua Zayen langsung masuk kedalam ruangan.


Dilihatnya putra kesayangannya kini tengah memeluk kakaknya, yaitu Seynan.


"Kak, maafkan aku. Aku mohon maafkan aku yang sudah tega meninggalkan kakak sendirian, aku berjanji akan segera membebaskan kak Seyn. Dan secepatnya aku akan segera memenjarakan orang bia*dab yang sudah menghancurkan keluarga kita." Ucap Zayen bersedih, terasa berat untuk untuk meninggalkan saudaranya di balik jeruji besi.


Seyn pun segera melepaskan pelukannya, kemudian menatap lekat wajah adiknya yang pernah ia benci.


"Aku tidak apa apa berada didalam tahanan ini, percayalah bahwa aku baik baik saja. Sekarang sudah waktunya untukmu bahagia dan berkumpul bersama keluarga kamu yang sesungguhnya, kamu tidak perlu mencemaskan aku." Jawab Seyn berusaha untuk terlihat biasa biasa saja, ia tidak ingin membuat Zayen bersedih. Meski Seyn sendiri pun ingin segera keluar dari tahanan, namun ia sendiri harus bersabar untuk menunggu waktu yang tepat.


"Bersabarlah, Seyn. Tidak lama lagi kamu juga akan segera keluar dari tempat ini, paman akan berusaha untuk segera menemukan dalang dibalik penculikan Zayen dimasa lalu. Maafkan Paman yang harus membawa pulang Zayen, jaga diri kamu baik baik disini." Ucap ayahnya Zayen merasa kasihan melihat Seyn yang harus bertahan di dalam tahanan.


"Aku akan sering menjengukmu, kak Seyn. Aku pamit pulang, jaga diri kakak baik baik. Maafkan aku, maafkan aku." Ucapnya langsung pergi meninggalkan sang kakak dengan berat hati, Zayen pun mengusap kasar wajahnya. Berharap tidak lagi terlihat kedua matanya menitikan air mata.


"Jaga diri kamu baik baik, paman pulang." Ucap tuan Alfan memeluk Seyn dan menepuk punggungnya pelan, kemudian melepaskannya kembali.


"Tante juga meminta maaf, telah membawa pulang Zayen duluan. Bersabarlah, dan jaga diri kamu baik baik." Ucap ibunya Zayen yang juga merasa kasihan meninggalkannya sendirian di dalam tahanan.


Setelah itu, kedua orang tua Zayen mengikuti langkah kaki putranya dari belakang.

__ADS_1


Didalam perjalanan, Zayen masih dengan posisinya melamun sambil melihat luar lewat kaca jendela mobil. Dirinya benar benar teringat kembali akan kakaknya yang masih tertinggal di dalam tahanan.


"Zayen, kamu kenapa?" tanya sang ibu yang berada disampingnya.


"Mama, Zayen tidak kenapa kenapa. Zayen hanya teringat Afna, bagaimana ekspresinya jika melihatku benar benar berada dihadapannya." Jawab Zayen beralasan.


"Oh ... Mama kira ada sesuatu yang sedang kamu pendam, setelah ini kita akan pergi ke salon. Mama mau merubah penampilan kamu, supaya istri kamu terpesona melihatmu." Ucap sang ibu dan tersenyum.


"Mama, apa apaan sih. Tidak perlu lah, Ma .. penampilan seperti ini saja sudah cukup. Zayen yakin, bahwa Afna tidak mempermasalahkan penampilan Zayen." Jawabnya menolak.


"Tidak boleh begitu, setidaknya kamu memberi kejutan untuk istri kamu." Ucap sang ayah ikut menimpali.


"Terserah Mama dan Papa bagaimana baiknya, Zayen nurut saja." Jawab Zayen pasrah.


Setelah sampai di tempat yang dituju, Zayen pun heran dibuatnya.


"Bukannya ini salon sudah disita, kenapa masih berjalan seperti biasanya?" tanya Zayen tidak percaya.


"Papa menebus semua yang pernah menjadi milikmu. Tidak hanya salon dan butik ini, bahkan kedua perusahaan kamu kini sudah menjadi milikmu kembali." Jawab sang ayah menjelaskan.


"Papa tidak perlu melakukan itu semua kepada Zayen." Ucap Zayen merasa tidak enak hati.


"Kenapa? kepunyaan Papa juga kepunyaan kamu, siapa lagi yang akan menjadi penerus Papa kalau bukan kamu." Jawab sang Ayah dan tersenyum.


"Sudah, ayo kita keluar. Mama sudah tidak sabar ingin melihat penampilan kamu, tapi sebelumnya kamu harus menjadi model." Ledek sang ibu sambil tersenyum bahagia.


"Apa apaan sih Mama, kenapa harus menjadi model. Zayen tidak mau, ah. Zayen alergi dengan kamera, memangnya Zayen harus penampilan seperti apa?" jawab Zayen sedikit bergidik ngeri harus berurusan dengan kamera.


"Mama telah merancangnya sudah sangat lama, karena Mama sangat merindukanmu. Pada suatu saat itu, Mama berharap apa yang sudah Mama rancang akan menjadi sebuah kenyataan. Walaupun itu sebuah pakaian sekalipun, hanya itu harapan Mama disaat merindukanmu. Harapan yang semu dan jauh dari angan angan, semua itu karena rasa rindu yang begitu berat." Ucap sang ibu menjelaskan, Zayen pun tersentuh hatinya.


"Baiklah, apapun yang Mama mau akan Zayen wujudkan." Jawab Zayen meyakinkan.


Setelah obrolannya merasa sudah cukup, Zayen dan kedua orang tuanya masuk kedalam.


Setelah selesai dilakukan perubahan penampilan seorang Zayen, semua terbelalak melihat ketampanan Zayen yang begitu mempesona.


"Putra Papa benar benar sangat tampan seperti Papa." Puji sang ayah pada putranya.


"Siapa dulu perancangnya, Mama Zeil ..." ucap sang ibu yang tidak kalah dengan suaminya.


"Hem ... iya iya iya..." ucap tuan Alfan dan senyum lebar.


"Sudah, ayo kita keluar. Mama sudah tidak sabar ingin mengambil gambar kamu didepan sana, agar kamu mengingatkan Mama bersama Papa saat musim dingin di Korea." Pinta sang ibu, Zayen pun mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2