
Masih dalam perjalanan, Zayen masih dengan diamnya. Seyn terus menambah kecepatannya, ia tidak ingin melihat sang adik semakin larut dalam lamunannya.
Sedangkan di Rumah sakit, semua gelisah kesana kemari menunggu dan memikirkan keadaan Afna serta sang buah hatinya.
"Afna, kak Afna bagaimana keadaannya, Ma? maafkan Adelyn, ini semua gara gara Adelyn yang tidak menemaminya sampai ke kamarnya." Ucap Adelyn sambil meringkuk didepan sang ibu penuh rasa bersalah dan sesenggukan ia menangis, ia menyesali tengah mengabaikan iparnya begitu saja.
Sang ibu lalu berjongkok dihadapan putrinya, kemudian meletakkan kedua tangannya pada pundak milik Adelyn. Setelah itu, ditatapnya wajah putrinya dengan lekat. Sedangkan Adelyn tidak berani untuk menatap wajah ibunya, walau hanya sebentar.
"Adelyn, tatap wajah Mama. Lihatlah dan pandangi Mama kamu ini." Perintah sang ibu pada putrinya, Adelyn pun nurut dengan apa yang tengah diperintahkan dari ibunya.
"Tidak akan ada yang menyalahkan kamu, dan kamu pun tidak bersalah. Ini semua sudah terjadi, dan tidak perlu untuk diperdebatkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Jadi, berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri. Tidak cuman kamu yang menyesalinya, semua yang menyayangi Afna dan calon buat hatinya pasti akan menyalahkan diri sendiri. Karena apa? kenapa tidak aku tadi menemaninya, kenapa aku harus pergi meninggalkannya. Kenapa, kenapa, semua akan mengatakan hal yang sama untuk menolak kejadian itu terjadi. Sekarang, tenangkan pikiran kamu. Berdoalah, semoga Afna dan calon buah hatinya dapat diselamatkan." Ucap sang ibu mencoba menenangkan putrinya yang sedari tadi terus menyalahkan diri sendiri.
Setelah itu, sang ibu membantu Adelyn untuk bangkit dari posisinya. Kemudian, memeluk putrinya dengan erat dan mengusap punggungnya dengan lembut. Berharap, tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri.
"Zayen mana Vik? kamu sudah menghubunginya?" tanya tuan Alfan pada menantu laki laki.
"Sedang dalam perjalanan, Pa. Mungkin, sebentar lagi akan segera sampai." Jawabnya yang juga ikut mengkhawatirkan keselamatan Zayen dalam perjalanan.
Karena seorang musuh bisa datang secara tiba tiba tanpa diduganya. Karena merasa khawatir, Viko segera menghubungi kakak iparnya untuk memastikan keberadaannya sekaligus keselamatannya dalam perjalanan.
__ADS_1
Berkali kali Viko mencoba mengubungi Zayen, namun sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Ditambah lagi, panggilan terakhir tiba tiba nomornya tidak aktif. Seketika itu juga, Viko langsung cemas memikirkan keadaan Zayen dan juga Seyn yang dalam satu mobil.
Mau tidak mau, Viko segera mendekati ayah mertuanya untuk memberitahukan tentang Zayen.
"Pa, maaf sebelumnya." Ucap Viko sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Katakan, ada apa Vik?" tanya sang ayah mertua yang masih harap harap cemas menunggu sang Dokter yang sedang menangani menantunya sambil menunggu putranya dan juga besannya.
"Maaf Pa, Viko sudah berkali kali mencoba menghubungi kak Zayen. Namun, tidak ada jawaban dari kak Zayen. Kemudian, nomornya tiba tiba tidak aktif." Ucap Viko menjelaskan dengan cemas.
"Apa? nomor Zayen tidak aktif? sekarang kamu perintahkan suruhan kamu untuk mencari keberadaan Zayen dan Seyn. Sekarang juga, cepat kamu lakukan perintahku, Vik." Perintah tuan Alfan pada menantunya.
Dengan langkah yang lebar, Viko segera mempercepat jalannya setengah berlari. Ia tidak ingin masalah semakin runyam, sebisa mungkin dan secepatnya dapat teratasi dengan baik.
Sedangkan di depan rumah sakit, sudah ada dua orang laki laki yang tengah berlarian untuk segera masuk. Siapa lagi kalau bukan Zayen dan Seyn, keduanya tidak memperdulikan orang orang yang sedang lalu lalang kesana kemari tengah mendapatkan senggolan darinya.
"Viko!!!" teriak Zayen memanggil nama Viko. Seketika, Viko menoleh ke sumber suara.
Zayen dan Seyn kembali berlari untuk mengejar Viko yang sedang celingukan mencari sosok orang yang tengah memanggil namanya.
__ADS_1
"Vik, dinamakan istriku? cepat! katakan." Tanya Zayen sambil menggoncangkan tubuh Viko dengan kuat yang sedang berdiri hadapannya.
Viko bingung harus menjawabnya, mau tidak mau ia tetap menjawabnya dengan jujur.
"Istri kak Zayen sedang ditangani Dokter, ayo ikut aku sekarang." Jawab Viko sambil merangkul pundak Zayen, ia belum berani untuk berterus terang jika istrinya sedang melakukan operasi. Viko sendiri takut, jika Zayen mendengar ucapannya akan memberontak apabila terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
Dengan tubuhnya yang lunglai, Zayen melangkahkan kakinya menuju ruang yang dimana sang istri dan sang buah hatinya yang sedang sama sama berjuang untuk berjuang melewati masa masa kritisnya.
Disaat itu juga, Wajah Zayen berubah menjadi pucat, tatapannya seketika menjadi kosong. Dilihatnya anggota keluarganya yang sedang berdiri dengan cemas dan gelisah. Semua terlihat tegang, bahkan tidak ada senyum sedikitpun yang terlihat disudut bibir masing masing.
Sang ibu yang melihat kedatangan putranya, segera mendekatinya. Lalu, memeluknya dengan erat. Tanpa diminta, Zayen menitikan air matanya. Kabar bahagia yang sudah dinantikan kini bercampur aduk antara duka dan bahagia. Zayen masih berada dipelukan ibunya, seperti anak yang kehilangan harapannya. Namun tidak dapat dipungkiri, sesuatu yang sudah terjadi tidak lagi dapat diubahnya kembali.
"Tenangkan pikiran kamu, Nak. Percayalah dengan Mama, bahwa istri dan anakmu pasti baik baik saja dan dapat melewati semua ini. Doakan saja mereka berdua, itu jauh lebih baik dari pada kamu larut dalam kesedihan." Ucap sang ibu mencoba menenangkan putranya yang sedang berkecamuk dalam hatinya dan juga pikirannya sambil mengusap punggung putranya dengan lembut. Berharap, emosinya dapat dikendalikan dan tidak larut dalam kesedihannya.
"Ini semua salah Zayen, Ma. Jika Zayen selalu berada didekatnya, mungkin Afna tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Zayen telah ingkar janji pada Afna, padahal Zayen sudah berjanji untuk selalu berada didekatnya. Namun kenyataannya, Zayen sibuk dengan kesibukan Zayen sendiri." Jawab Zayen penuh sesal dan merasa sangat bersalah, berkali kali ia mengalahkan diri sendiri.
Setelah mendengar ucapan dari putranya, sang ibu melepaskan pelukannya. Kemudian menatap lekat wajah putranya yang terlihat pucat dan kedua matanya yang sembab. Dengan lembut, sang ibu mengusap air mata putranya dengan ibu jarinya. Lalu, berusaha untuk tersenyum. Meski senyumnya itu sangat sakit untuk dilakukannya, namun demi putranya untuk tidak bersedih selama operasi menantunya sedang berlanjut.
"Jangan berlebihan dalam menyalahkan diri kamu sendiri, itu sangat tidak baik. Semua yang terjadi, memang itulah kenyataannya. Tidak hanya kamu saja yang akan menyalahkan kejadian ini. Semua yang menyayangi istrimu pun akan berkata hal yang sama seperti yang kamu katakan, yaitu menyalahkan diri sendiri. Termasuk istri kamu sendiri, lebih menyesalinya dan pastinya akan lebih terpukul. Perempuan mana yang tidak menyesali sesuatu yang tengah terjadi pada buah hatinya, sekalipun itu bukan sang ibu yang melukainya. Tetap saja, seorang ibu akan tetap akan menyalahkan diri sendiri." Ucap sang ibu mencoba menenangkan putranya dan mengingatkannya.
__ADS_1