
Dalam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor miliknya, Zicko mempercepat laju kendaraannya. Bahkan, dengan berani ia menyalip mobil besar dengan kecepatan tinggi.
Sedangkan pengendara lainnya dibuatnya jantungan, tentu saja merasa takut jika terjadi sesuatu dalam perjalanannya.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya sampai juga di halaman sekolahan. Masih beruntung belum terlambat, Zicko dapat bernapas lega juga akhirnya.
"Woi! Bro. Baru berangkat, Lu? hampir aja telat."
"Iya nih, kena macet tadi di jalan. Gimana awal masuk? gak ada yang namanya apa itu, masa orientasi siswa, 'kan? males banget akunya."
"Ya ada lah, namanya juga awal masuk sekolah, kek gak pernah sekolah SMP aja kamu ini." Ucapnya.
Zicko langsung membuka helmnya, semua arah pandangan dari cewe-cewe sekolahan tengah memperhatikan Zicko dengan gayanya yang terlihat maco dan mempesona.
"Elu pake pelet apaan sih, tuh lihat, cewe-cewe pada liatin Elu." Sambung kawan yang satunya.
Zicko tidak peduli, justru dirinya sibuk merapikan penampilannya yang terbilang belum rapi. Apa lagi kalau bukan memasukkan bajunya, cukup sekian seringnya jika selalu mendapat teguran dari para guru, kini alih-alih untuk tidak terlihat seperti berandalan.
Saat itu juga, bunyi bel tanda waktunya masuk kedalam kelas, Zicko bersama kedua temannya bergegas masuk.
BRUG!
"Maaf." Ucap seorang perempuan dengan sengaja, yakni untuk mencari perhatian dari Zicko.
Sayangnya, Zicko sama sekali tidak merespon, dan memilih untuk mengabaikannya.
"Ih! sombong banget sih itu cowok. Perasaan aku juga tidak kalah cantik dengan artis di luaran sana. Mentang-mentang menjadi pusat perhatian, seenaknya saja dia." Gerutunya berdecak kesal saat tidak mendapat respon dari Zicko.
"Kamu kenapa, Jen? kek lagi kesel gitu. Gak lagi sedang patah hati, 'kan? siapa sih itu cowok, keknya sombong banget." Ucapnya ikut berkomentar soal Zicko.
"Ya mana aku tahu, secara aku saja baru kenal. Maksudnya baru ketemu. Kelihatannya sih, dia anak yang tajir, lihat aja itu motornya, gak sembarang orang punya motor gede kek gitu kalau cuma untuk bergaya." Jawab Jenny.
"Kamu kan, ratunya di sekolah untuk memikat para cowok-cowok ganteng. Kenapa gak kamu coba sama itu cowok yang tadi, yang kelihatannya sombong. Awas loh, ada banyak mangsa kalau gak kamu duluin." Ucapnya yang terus membuat Jenny bersemangat untuk mengompori.
"Siapa takut. Jenny gitu, apa yang gak bisa aku taklukkan itu perempuan." Kata si Jenny dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Ya udah, ayo kita masuk. Ingat, jangan mengabaikan kesempatan emas, ntar keburu diembat cewek lain loh, nyesel ntar kamunya." Ucapnya yang terus mengompori.
"Kita lihat aja setelah ini. Jenny, gitu." Kata Jenny dan bergegas masuk kedalam ruang kelasnya.
Siapa sangka, jika Jenny ternyata satu ruangan dengan Zicko. Kebetulan sekali bagi Jenny, rupanya Zicko duduk di sebelahnya.
Jenny semakin girang, lantaran cowok yang akan dijadikan targetnya, rupanya duduknya di sebelahnya.
Sedangkan Zicko sendiri merasa risih ketika dirinya selalu diperhatikan oleh Jenny. Karena tidak ingin mendapat masalah dan menjadi pusat perhatian, Zicko lebih memilih pindah tempat duduknya. Yang pastinya untuk menghindari dari Jenny, perempuan yang seperti haus akan laki-laki.
Zicko bergidik ngeri membayangkannya.
"Joni, Jon, tukar dong tempat duduknya. Ada cewek gilak tuh. Udah cepetan tukar posisi." Bisik Zicko yang semakin risih dibuatnya. Sebisa mungkin untuk tidak terus-menerus diperhatikan, risih dan tidak nyaman pastinya.
Joni yang melihatnya juga ikutan risih. Mau tidak mau, akhirnya Joni bertukar posisi tempat duduknya, yakni demi Zicko bisa menghindari dari Jenny.
Namun, bukannya mendapatkan untung, Zicko bertambah buntung. Pasalnya, cewek yang ada di sampingnya jauh lebih menggelikan ketimbang Jenny.
'Ini lagi, malah main kedip kedip mata segala. Benar-benar dah, ini sekolahan.' Batin Zicko bergidik ngeri melihatnya.
Awalnya sudah fokus untuk mengikuti pembukaan awal masuk sekolah, justru seperti masuk dalam kandang singa.
"Aaaaaaa!" teriak Zicko yang tak kuasa menahan geli saat otaknya tak mampu lagi untuk membayangkannya.
Bukannya aman, justru seperti tidak terselamatkan. Yang jelas, Zicko langsung menjadi pusat perhatian seisi ruangan kelasnya.
"Kamu yang duduk paling belakang, cepat maju ke depan." Panggil seorang guru yang menunjuk pada Zicko.
"Saya, Pak Guru?" tanya Zicko sambil menunjuk pada diri sendiri dengan jari telunjuknya.
"Iya, kamu, memangnya siapa lagi?"
"Gimana ini, Jon, Rud, mam_pus akunya."
"Ya udah buruan maju ke depan. Palingan juga tanya jawab doang. Udah cepetan maju ke depan." Jawab Joni sambil mendorong Zicko agar segera maju ke depan.
__ADS_1
Zicko yang awalnya tidak mau, pun dengan terpaksa akhirnya memilih maju ke depan. Masa bodoh, pikirnya.
Saat Zicko sudah menghadap Pak Guru, tentunya para murid yang lainnya begitu jelas memperhatikan Zicko. Lebih untuk kaum cewe-cewe, bertambah terpesona ketika melihat Zicko yang kelihatan cool dan mempesona karena tampan pastinya, karena mempunyai postur tubuh yang seperti olahragawan.
"Kamu kenapa berteriak-teriak seperti tadi, ha? apa kamu tidak ingin mengikuti aturan di sekolah sini?" tanya Pak Guru dengan serius ketika menatap Zicko.
Sedangkan Zicko sendiri tengah kebingungan untuk menjawab pertanyaan.
'Masa iya, aku harus bilang, murid cewe-cewenya pada naksir saya? gak mungkin lah. Entar yang ada juga, pak guru merasa tersaingi. Bertambah berat nanti hukumanku.' Batin Zicko penuh dengan percaya dirinya.
BRAK!
Zicko mendadak seperti jantungan ketika pak guru menggebrak mejanya untuk mengagetkan dirinya.
Dengan percaya dirinya, Zicko maju ke depan dan berbisik di dekat telinganya pak guru.
"Murid Pak Guru yang perempuan main mata semua pada saya, Pak. Gimana lah, ketampanan murid Bapak ini benar-benar terdzolimi." Bisik Zicko dengan berani.
Saat itu juga, Zicko langsung mundur beberapa jengkal dari posisi pak guru.
"Kamu!"
"Aw!"
Zicko meringis kesakitan saat pant_tatnya mendapat pukulan dari pak guru. Sakit sih enggak, panas mah, iya.
Zicko langsung mengusapnya karena cukup membuatnya meringis saat sebuah penggaris nemplok di pan_tatnya.
Bukannya pada diam itu semua murid, justru tertawa kecil ketika melihat ekspresi Zicko yang terlihat lucu.
"Diam! semuanya. Sekali lagi ada yang ribut, hukumannya akan lebih berat lagi. Jadi, jaga sikap kalian semua ketika jam masuk sudah dimulai. Apakah kalian semua sudah mengerti? kalau sudah, siapkan buku dan pena kalian. Untuk kamu, cepetan duduk dan jangan mengulangi lagi."
"Iya, Pak Guru. Sama juga, Pak Guru jangan mengulanginya lagi, itu, penggarisnya Pak Guru." Kata Zicko yang juga gak mau kalah dari gurunya.
Saat itu juga, Zicko langsung kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1