
Masih didalam ruangan khusus untuk beristirahat, jika ada salah satu tamu undangan yang benar benar sangat darurat.
Pak Ardi contohnya, sekarang sedang duduk bersandar ditemani salah satu rekan kerjanya di Kantor. Sedangkan Zayen sedang bicara dengan salah seorang Dokter yang baru saja memeriksa kondisi pak Ardi.
"Ar, bagaimana ini?" tanyanya yang juga merasa tidak enak hati dikarenakan rupanya yang memiliki acara pernikahan adalah keluarga dari Bosnya sendiri.
"Aku takut, Ben. Mana aku sudah memecat Adelyn, aku fitnah dia dan aku juga sudah jelek jelekinnya. Mam*pus aku, Ben. Aku yakin besok pagi aku diberi selembaran kertas pemecatan, aku benar benar menyesal." Jawabnya sedikit mengecilkan suaranya.
"Kamu sih, tingkah digedein. Sekarang tinggal penyesalan, untung saja aku tidak ikut ikutan. Secepat mungkin, kamu segera meminta maaf. Itupun kalau kamu benar benar menyesal dan akan merubah kelakuan kamu itu yang suka usil dengan orang lain." Ucap Beni mengingatkan.
"Iya Ben, apa yang kamu katakan benar semua. Aku sangat menyesal, gara gara si Merry yang selalu mendekatiku untuk membuat Adelyn jera. Tidak tahunya Adelyn adalah bagian dari keluarga Wilyam, aku baru menyadarinya jika keluarga Wilyam memiliki sejuta cara untuk menutupi identitasnya." Jawab pak Ardi penuh penyesalan.
"Bagaimana keadaanmu, sekarang? apakah sudah membaik? jika masih ada keluhan, katakan saja. Aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit, kami salaku pemilik acara akan bertanggung jawab adanya sesuatu yang terjadi di acara keluarga kami." Tanya Zayen.
"Tidak perlu, saya baik baik saja. Terima kasih ya Bos, ternyata tanggung jawabnya begitu besar terhadap para tamu undangan." Jawab pak Ardi merasa tidak enak hati dan merasa sangat bersalah atas perbuatannya.
Seketika itu juga, Pak Ardi tiba tiba teringat akan semua kesalahannya yang begitu besar.
"Maaf sebelumnya, Bos. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan dan dikatakan." Tanya pak Ardi untuk mencari pendapat sebalum terjun semakin dalam.
"Katakan saja, kamu tidak perlu sungkan terhadap keluarga kami." Jawab Zayen sambil duduk dengan tenang, berbeda dengan pak Ardi yang sedari tadi was was saat mengetahui kebenarannya.
__ADS_1
"Saya mau meminta maaf atas semua kesalahan saya terhadap saudaranya Bos Zayen, yaitu Nona Adelyn. Saya benar benar menyesalinya, saya janji untuk tidak mengulanginya. Saya mohon Bos, maafkan saya yang sudah sangat lancang dan tidak memiliki sikap baik." Ucap pak Ardi penuh penyesalan sambil menunduk malu, tanpa ia sadari ada sosok Viko yang sudah berdiri didekat kakak iparnya yaitu Zayen yang ikut mendengarkan ucapan maaf dari pak Ardi.
"Akhirnya kamu mengakui akan kesalahan kamu. Tapi maaf, kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan kamu. Sekarang juga, temui adikku dan meminta maaf lah dengannya. Karena yang telah berbuat salah terhadap saudara kembarku, sekarang sedang berada didalam ruangan bersama karyawan yang lainnya." Jawab Zayen, meski sosok pemaaf. Zayen tetap akan memberi sebuah pelajaran kepada pak Ardi, setidaknya bertanggung jawab atas kesalahannya.
"Maka dari itu, berhati hati lah jika berucap. Karena apa? setiap ucapan kita yang baik maupun buruk akan kita petik dikemudian hari. Apalagi sampai membuat orang lain kesal, akibatnya bisa fatal pada diri kita sendiri." Ucap Viko yang tiba tiba mengagetkan pak Ardi, seketika nyalinya langsung menciut dan tidak bisa berkata apa apa selain menundukkan kepalanya seperti sedang mengheningkan cipta.
"Ben, antarkan teman kamu ini ke ruangan disudut sebelah sana. Tepatnya para karyawan kantor berada didalamnya." Perintah Zayen. Beni pun mengangguk dan mengantarkan temannya sesuai perintah Bosnya.
Sedangkan Zayen dan Viko masih berada didalam ruang istirahat, keduanya pun segera beranjak pergi dari ruangan tersebut.
"Oh iya Vik, sedari tadi aku tidak melihat kak Seyn. Apakah kamu juga belum melihatnya datang?" tanya Zayen yang menunggu kedatangan saudara laki lakinya.
"Tidak Bos, sedari tadi aku juga belum melihatnya. Mungkin sedang dalam perjalanan, jugaan jalanan macet kata seseorang yang tengah mengobrol." Jawab Viko yang masih memanggil dengan sebutan Bos, Zayen pun merasa risih mendengarkannya.
"Iya ya, kakak ipar." Ucap Viko yang juga ikut tertawa lepas sedikit geli memanggil Zayen dengan sebutan kakak ipar.
Viko sudah terbiasa dengan panggilan Bos, meski bersahabatan tetap terasa nyaman memanggil Zayen dengan sebutan Bos.
"Ah sudahlah, ayo kita keluar. Aku ingin menemani istriku, takut membutuhkan sesuatu." Ajak Zayen, kemudian segera menemui istrinya. Sedangkan Viko sendiri yang juga menemui istrinya didalam ruangan bersama rekan kerjanya waktu bekerja di Kantor.
Sesampainya di kerumunan para tamu undangan Viko mendadak berhenti tatkala melihat beberapa anak anak dan pengasuhnya yang sangat ia kenal.
__ADS_1
"Kak Viko!!" teriak bocah laki laki lari kecil dan mendekati Viko. Sedangkan Viko segera jongkok dan merentangkan kedua tangannya dan memeluknya dengan erat, kemudian melepaskan dan menatapnya dengan lekat.
"Kamu, akhirnya datang juga diacara pernikahan kakak." Ucap Viko sambil mengusap rambut dan tersenyum mengembang.
"Kakak Adelyn mana?" tanyanya sambil celingukan.
"Kak Adelyn sedang berkumpul dengan teman temannya, nanti kakak ajak kamu untuk menemuinya." Jawab Viko, kemudian segera bangkit dari posisi jongkoknya. Dan, dilihatnya ibu Rani dan Heni sudah berdiri dihadapannya.
Dengan ramah, Viko mencium punggung ibu Rani. Kemudian ibu Rani tengah mengusap rambut milik Viko dengan lembut, lalu Viko mendongakkan kepalanya dan menatap ibu Rani dengan lekat.
"Selamat atas pernikahan kamu nak Viko, semoga kamu dan istrimu dilimpahkan kebahagiaan dan kesehatan. Semoga kamu dan istrimu segera diberi hadiah yang istimewa setelah ini, kebahagiaan yang sempurna dalam rumah tangga." Ucap ibu Rani memberi ucapan selamat serta doa untuk sepasang pengantin.
"Terima kasih atas doa dari ibu, semoga ibu juga selalu diberi kesehatan serta kemudahan untuk mendidik anak anak." Jawab Viko.
"Vik, selamat atas pernikahan kamu. Semoga bahagia selalu dan segera diberi kado terindah dalam rumah tangga kamu." Ucap Heni memotong pembicaraan ibu Rani dengan Viko, kemudian mengulurkan tangannya.
"Terima kasih, begitu juga dengan kamu semoga segera mendapatkan suami yang sesuai harapan kamu." Jawab Viko, lalu menjabat tangan milik Heni.
"Oh iya Hen, ajak anak anak untuk makan siang. Pelayan sudah menyiapkannya di ruangan khusus untuk anak anak dan kamu juga ibu, semua bisa bersantai dan istirahat didalamnya." Ucap Viko, kemudian menyuruh beberapa pelayan untuk melayani anak anak asuh dan juga ibu Rani serta Heni.
"Ibu, Heni, silahkan untuk mengikuti pelayan kami. Jangan pernah sungkan, Viko beserta keluarga istri Viko sudah mempersiapkannya untuk keluarga Rumah Bersama." Ucap Viko kembali untuk mempersilahkan kepada ibu Rani dan Heni dan juga anak anak asuhnya.
__ADS_1
"Terima kasih ya, nak Viko. Kami sudah disambutnya dengan hangat." Jawab ibu Rani merasa beruntung mengenal Viko, karenanya hidup ibu Rani jauh lebih baik dari sebelumnya.