Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Pesan misterius


__ADS_3

Kakek Zio mendengar Zayen yang menawarkan diri untuk ikut andil dalam pencarian cucu laki lakinya pun tidak merasa keberatan.


"Kamu yakin? kakek tidak ingin merepotkan kamu. Bukankah kamu juga sangat sibuk dalam bekerja? kasihan waktumu bersama istrimu jadi berkurang." Jawab sang kakek merasa merepotkan.


"Tidak, kek. Istri Zayen pasti mendukung, percayalah dengan Zayen." Ucapnya meyakinkan.


"Iya, kek. Afna tidak keberatan, jika suami Afna mau membantu mencari cucu kakek yang hilang. Justru Afna sangat senang, kek ..." ucap Afna ikut menimpali.


"Terimakasih ya, nak Zayen. Semoga kamu berhasil menemukan cucu kakek, semua keluarga sangat merindukan sosok Adevin." Jawab sang kakek penuh harap.


"Nak Zayen, bagaimana dengan kesibukan kamu." Tanya kakek Angga basa basi.


"Masih seperti biasa, kek." Jawab Zayen yang tidak mungkin berterus terang.


"Memang kamu kerja dimana, nak Zayen?" tanya kakek Zio basa basi.


"Kerja ikut orang, kek. Biasa, mengantar barang pesanan. Hanya itu saja kok, kek." Jawabnya berusaha untuk tenang, dirinya tidak mungkin untuk mengatakannya dengan jujur. Susah payah, Zayen mencari ide untuk menghindari dari pertanyaan pertanyaan dari kakek Zio maupun kakek Angga.


"Oooh mengantar barang, jenis barang apa itu, Zayen." Tanyanya semakin penasaran, sedangkan Zayen sendiri serasa sedang duduk didepan pengadilan.


'Beginikah rasanya di vonis bersalah, apa aku mampu ketika aku berada dijeruji besi. Sungguh, bayangan itu sangat menyakitkan. Bahkan aku sendiri tidak sanggup untuk membayangkannya.' Batinnya seakan sedang menghadapi meja hijau dan ketukan palu.


"Zayen hanya kerja sebagai supir, kek. Hanya mengantarnya saja, soal jenis barangnya bermacam macam. Zayen hanya mengantarkannya di gudang penimbunan barang. Sedangkan di gudang sudah ada pekerjanya yang akan mengemasinya, kek." Jawab Zayen beralasan. Sebisa mungkin untuk tenang, meski jawabannya sangat membingungkan.


"Ooooh, seperti itu. Kenapa kamu tidak memilih untuk bekerja dengan ayah mertua kamu, kasihan ayah mertua kamu yang setiap harinya kerja di kantor. Ditambah lagi masih mengurus Restoran, biarkan ayah mertua kamu beristirahat." Ucap kakek Zio menasehati.


"Iya, Zayen. Siapa lagi yang akan meneruskan ayah mertua kamu, kalau bukan kamu dan Kazza. Kasihan ayah mertua kamu, masih sibuk dengan kantornya." Ucap kakek Angga ikut menimpali.

__ADS_1


"Zayen masih merasa nyaman untuk bekerja di tempat Zayen bekerja sejak Zayen lulus dari bangku kuliah, kek." Jawab Zayen dengan santai.


"Baiklah, itu terserah kamu. Kamu yang mempunyai cita cita dan harapan, kakek hanya bisa mendoakanmu untuk sukses."


p


"Terimakasih, kek ... semoga kakek selalu diberi kesehatan."


Tidak lama kemudian, Tuan Alfan ikut duduk dan mengobrol bersama.


"Alfan, tadi Zayen menawarkan dirinya untuk membantu kita untuk menemukan Adevin. Bagaimana menurutmu, apakah kamu mengizinkannya? papa sudah menerima tawarannya. Sekarang giliran kamu, apakah kamu mau menerima tawarannya? jika tidak katakan saja tidak." Tanya kakek Zio kepada menantunya.


"Benarkah Zayen? kamu mau membantu kami untuk mencari Adevin? paman sangat berterimakasih denganmu. Kalau kamu besok kamu ada waktu, datanglah kemari. Paman akan mengajakmu untuk bertukar pikiran untuk memecahkan masalah." Tanya Alfan kepada Zayen penuh semangat. Entah kenapa, tuan Alfan sangat yakin dengan Zayen. Padahal Kazza maupun kedua putra tuan Ganan pun pernah melakukan pencarian bersama dengan tuan Alfan. Tetap saja, tuan Alfan tidak yakin akan rencananya berhasil.


"Baik, paman. Zayen akan usahakan untuk datang kesini tepat waktu, paman tidak perlu khawatir. Zayen bekerja hanya di malam hari, sedangkan untuk mencari Adevin bisa dilakukan siang hari." Jawab Zayen mencoba meyakinkan.


Drrrttttt ... drrttt ... tiba tiba ponsel milik tuan Alfan bergetar, seperti ada pesan masuk. Dengan cepat, tuan Alfan segera merogoh ponsel disaku celananya. Entah ada angin apa, tuan Alfan yang tidak biasa memegang ponsel, saat ada acara justru mengantongi ponselnya.


"Siap yang mengirim pesan, Alfan?" tanya kakek Angga yang juga penasaran.


"Kurang tahu, paman. Baru kali ini aku mendapatkan pesan di ponsel, sebelumnya ponselku sama sekali tidak pernah menerima pesan." Jawab tuan Alfan yang masih enggan untuk membukanya.


"Buka saja, siapa tahu penting." Perintah kakek Zio.


"Iya, paman. Buka saja, siapa tahu penting." Ujar Zayen yang juga ikut menimpali.


"Iya, paman. Buka saja, paman tidak sendirian disini." Ucap Afna ikut menimpali.

__ADS_1


"Ada apa, Alfan?" tanya tuan Ganan yang tiba tiba datang.


"Pesan masuk, tapi aku ragu untuk membukanya."


"Sini, aku saja yang buka." Ujar tuan Ganan sambil meraih ponsel yang ada pada tuan Alfan.


Sedangkan tuan Alfan tidak ada penolakan, tuan Alfan hanya nurut saja dengan tuan Ganan.


Dengan gesit, tuan Ganan segera membuka menggeser layar. Dengan seksama, tuan Ganan membaca pesan tersebut dengan teliti, dan pastinya tidak ada yang terlewat.


Tuan Alfan yang terhormat, apakah kamu masih ingat aku. Iya! tentunya kamu sekeluarga tidak mengingatku, karena kamu sudah bahagia sejak pernikahanmu. Kamu pasti sedang merindukan putramu, bukan? kasihan. Putramu kini masih hidup dalam pengawasanku, bahkan sudah memiliki seorang istri yang cantik dan bo*doh. Aku pastikan putramu akan hancur masa depannya.


Begitulah pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Tuan Ganan langsung menyerahkan ponselnya, agar tuan Alfan segera membacanya sebelum pesan tersebut hilang begitu saja.


"Baca." Ucap Ganan sambil menyerahkan ponselnya.


Tuan Alfan dengan cepat meraihnya, kemudian dengan seksama membaca pesan tersebut. Seketika itu juga, tuan Alfan tercengang saat membaca pesan masuk ke nomor ponselnya. Tuan Alfan benar benar tidak menyangka, bahwa ada seseorang yang memang benar benar berkhianat dengannya maupun dengan keluarga Wilyam.


Keluarga Wilyam tidak sekali dua kali dalam menghadapi masalah hingga melakukan dendam yang tidak pernah selesai.


Tuan Alfan langsung mengepalkan kedua tangannya, rahangnya pun mengeras. Dirinya benar benar tidak terima putranya dijadikan sasarannya. Sungguh, tuan Alfan maupun tuan Ganan pun sangat kesal. Bahkan ingin menghabi*sinya hidup hidup.


"Alfan, kenapa? ada apa dengan pesan yang masuk?" tanya kakek Zio yang semakin penasaran saat melihat ekspresi menantunya yang tiba tiba terlihat kesal dan geram.


"Adevin benar benar diculik, paman. Bahkan Adevin sudah memiliki seorang istri, dan sepertinya ada dendam dengan keluarga kita. Tetapi aku sendiri tidak dapat menyimpulkannya. pesan itupun telah mengancam akan menghancurkan masa depan Adevin." Jawab tuan Ganan ikut menimpali dan menjelaskannya kepada pamannya.


"Aku tidak tahu, siapa yang akan aku tuduh. Bahkan aku sendiri bingung untuk menyimpulkannya." Ucap tuan Alfan semakin prustasi, putranya kini benar benar dalam bahaya. Entah apa yang akan dilakukan oleh si musuh untuk menghancurkan putranya.

__ADS_1


"Paman, jangan khawatir. Besok Zayen akan bantu paman untuk mencari kebenarannya." Ucap Zayen ikut menimpali.


"Iya, sekarang kita makan siang terlebih dahulu. Kita hanya bisa berdoa, semoga Adevin baik baik saja dan tidak ada yang bisa menghancurkan masa depan Adevin." Ucap kakek Angga menenangkan keponakannya."


__ADS_2