Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Bertemu seseorang


__ADS_3

Setelah sampai berada didalam kamar, Adelyn menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menetap langit langit kamarnya. Kemudian, Adelyn mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Berharap dapat melupakan kejadian yang sudah ia lewati. Meski sudah bersusah payah untuk melupakannya, ingatan Adelyn semakin jelas dalam bayangannya.


"Kenapa sih! bayangan Viko selalu menghantuiku. Apa bagusnya dia, coba. Sampai sampai aku bisa gila karenanya, perasaan macam apa ini. Hingga aku seperti orang bodoh, yang begitu mudahnya tertarik dengan pria batu itu. Benar benar buatku semakin gila karena memikirkannya, mana paman Ganan seperti memberi peluang untuk mendekati Neyla." Gerutu Adelyn, kemudian mengacak acak rambutnya.


Karena rasa kantuk yang tudak dapat ia tahan, tanpa Adelyn sadari kini tengah tertidur pulas dan sampai membuatnya lupa tidak mengganti pakaiannya.


Dilain tempat, Viko masih menikmati secangkir kopi ditemani sang ayah yang kini tengah menginap di rumahnya. Dengan antusias, Viko memikirkan sesuatu yang membuatnya sulit untuk dikontrolnya.


"Kenapa kamu, Vik? apakah masih ada masalah? katakan saja. Siapa tahu saja, Papa bisa memberi solusi untuk kamu." Tanya sangat ayah dengan tatapan mencuriga putranya yang nampak gelisah.


"Viko baik baik saja kok, Pa. Viko hanya tidak bisa tidur saja, mungkin karena kebanyakan minum kopi." Jawab Viko mengelak, berharap sang ayah tidak dapat mengartikan kegelisahannya yang sedang menghantui pikirannya.


"Syukurlah, jika kamu baik baik saja. Papa mengira bahwa kamu sedang menghadapi masalah, itu saja kekhawatiran Papa sama kamu. Oh iya, besok Papa akan langsung pulang. Jika kamu merindukan kampung halaman dah juga merindukan ibu kamu. Maka dari itu, kalau bisa kamu pulang dengan membawa menantu untuk Papa dan Mama." Ucap sang ayah, kemudian tersenyum menggoda putranya. Sedangkan Viko hanya tersenyum tipis pada sang ayah.


Setelah cukup lama mengobrol, Viko maupun ayahnya segera masuk ke kamarnya masing masing untuk beristirahat.


Viko yang sudah berada didalam kamar, segera mengunci pintunya. Kemudian, Viko menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sambil menatap langit langit, Viko kembali teringat dengan sosok wanita yang sudah ia kagumi sejak pertama kalinya bertemu. Namun, nyalinya berubah menjadi menciut. Tatkala dirinya hanya seorang laki laki pecundang yang tidak mampu mengatakannya, Viko pun kembali bangun dari posisinya.


Viko memilih untuk duduk, lalu mencoba menenangkan gemuruh yang ia rasakan didalam dadanya. Segera ia meraih kunci mobil dan juga jaketnya, Viko terasa gerah didalam kamar dan memutuskan untuk keluar dan mencari angin segar.


Namun, saat dirinya keluar dari kamarnya tiba tiba langkah kakinya tertahan begitu saja. Dilihatnya sang ayah yang rupanya sudah duduk santai di ruang tamu. Viko sendiri merasa tidak enak hati untuk pergi ke luar dan meninggalkan ayahnya di dalam rumah sendirian.


"Papa kenapa ada di ruang tamu? bukankah tadi Papa sudah masuk kamar dan beristirahat?" tanya Viko yang penasaran.

__ADS_1


"Papa tidak bisa tidur, Vik. Papa kepikiran mama kamu, soalnya papa tinggal untuk mencari keberadaan kamu. Kamu sendiri mau kemana?" jawab sang ayah, dan bertanya kepada putranya penuh pertanyaan yang mbuat sangat sang ayah penasaran.


"Kenapa Papa tidak mengajak Mama, dan bisa tinggal bersama Viko. Lagian, ini rumah Viko. Jadi, tidak perlu Papan khawatir dan malu. Sedangkan Viko sendiri sekarang sudah mempunyai pekerjaan. Oh iya, Viko mau mencari makan malam. Nanti akan Viko kirim makan malamnya lewat jasa online, sekarang Viko pamit untuk keluar." Terang Viko meyakinkan ayahnya.


"Baiklah, hati hati di jalanan. Kamu jangan khawatir, nanti kalau kamu sudah menikah, Papa dan mama akan datang lagi kesini. Yang terpenting, jika kamu menyukai seseorang wanita jangan kamu menyimpannya dihati. Utarakan saja dengan jujur, soal diterima tidaknya itu urusan belakangan." Ucap sang ayah sedikit menyindir pada beberapa kalimat terakhir.


Viko hanya tersenyum tipis, ketika sang ayah menginhatkannya


"Papa tidak perlu mengkhawatirkan Viko, percayalah dengan Viko." Ujar Viko meyakinkan ayahnya.


"Ya sudah kalau mau berangkat, jangan terlalu malam kamu pulangnya." Ucap sang ayah mengingatkan, Viko pun mengangguk dan mengiyakan.


Setelah berpamitan, Viko segera pergi ke tempat tujuan. Yakni, ke sebuah Restoran yang ternama. Restoran mana lagi kalau bukan Restoran milik keluarga Danuarta, tepatnya Restoran Merpati Jaya.


Setelah itu, Adelyn bergegas menuruni anak tangga. Sesampainya di ruang keluarga sudah ia dapati kedua orang tuanya dan saudara kembarnya beserta istri tercintanya maupun sang kakek dan Ommanya terlihat rapi seperti akan ada acara diluaran sana.


"Adelyn, kamu sudah bangun?" tanya sang ibu sambil menatap putrinya yang sudah berdiri dianak tangga yang terakhir.


"Memangnya kalian semua mau kemana? kok terlihat sangat rapi." Tanya Adelyn penasaran.


"Mau melamar Viko, ayo cepat siap siap." Ledek Zayen kepada saudara kembarnya, yang kini sudah diketahui akan perasaan Adelyn yang sebenarnya.


"Hem! tidak lucu." Jawab Adelyn dengan ketus, Zayen tertawa kecil. Kemudian mendekati saudara kembarnya itu, dan tersenyum lebar didepannya.

__ADS_1


"Sudah, cepat ganti pakaian kamu. Kita akan makan malam bersama di Restoran, sudah lama kita tidak bersama sama. Karena Papa dan kakek akan berangkat ke Amerika, jadi sebelum berangkat kita adakan makan malam bersama di luaran sana." Ucap Zayen, kemudian pergi meninggalkan Adelyn yang masih berdiri.


Tanpa pikir panjang, Adelyn kembali masuk kedalam kamarnya. Segera ia mengganti pakaiannya, lalu setelahnya ia turun dengan penampilan yang sederhana. Namun, Adelyn tetap terlihat cantik. Meski terkadang tingkahnya seperti laki laki, Adelyn masih bisa untuk menempatkannya.


Sesampainya di ruang tamu, Adelyn mendekati ibunya. Kemudian ia tidak lupa untuk menggandeng tangan sang ibu, seakan dirinya membutuhkan kekuatan untuk menguatkan hatinya.


"Sudah tidak ada lagi yang tertinggal, 'kan? kalau begitu, ayo kita berangkat." Ajak sang kakek, kemudian semua segera masuk kedalam mobil. Sedangkan Zayen dan istrinya berada di mobil yang berbeda, Adelyn merasa iri akan keromantisan saudara kembarnya yang sama sama mencintai dan dapat menciptakan keharmonisan pada hubungannya.


"Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini telah sampai di sebuah Restoran milik keluarga Afna. Tepatnya Restoran Merpati Jaya yang kini tengah dijalankan oleh Kazza, yaitu saudara kembarnya Afna istri Zayen.


Sesampainya didalam Restoran, Afna maupun yang lainnya tengah disambut hangat oleh para pelayanan Restoran. Tidak hanya itu, semua pengunjung dikagumkan dengan sosok laki laki yang baru baru ini tengah muncul di media sosial. Apalagi kalau bukan pernyataan dari keluarga besar Wilyam membahas tentang Zayen yang merupakan bagian keluarga Wilyam dan berstatus beristri dengan pemilik Restoran yang ternama.


Seketika itu juga, ada sosok wanita yang sudah mengenal Zayen sejak masa sekolah. Dan kini, harapannya pupus begitu untuk mendapatkan Zayen. Siapa lagi kalau bukan Merry yang posisinya sedang duduk dengan seorang laki laki yang lumayan sudah kategori tua.


Kebetulan meja yang di pesannya tidak jauh dari pandangan Merry, sedangkan Zayen dan Afna begitu menikmati suasana yang begitu tenang meski banyak pengunjung.


Sedangkan Adelyn perutnya tiba tiba terasa nyeri, segera ia pergi ke belakang. Sedangkan kedua orang tuanya dan kakek neneknya masih duduk santai sambil menunggu pesanan.


Karena terburu buru, dan tidak begitu fokus untuk berjalan. Adelyn tidak perduli siapa saja yang sudah ia senggol.


BRUGG!!!!


Adelyn tengah menabrak seseorang.

__ADS_1


__ADS_2