Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Menginginkan sesuatu


__ADS_3

Vella masih pada posisinya menahan rasa malu karena ucapannya sendiri, Vella sendiri masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk bisa menutupi ekspresinya yang terasa memalukan. Bgitu juga dengan Kazza, dirinya sendiri bingung harus berbuat apa.


"Karena keputusan sudah terdengar sangat jelas, maka secepatnya kita akan menentukan tanggal pernikahan Kazza dan Vella." Ucap tuan Tirta meminta pendapat.


"Tunggu," ucap Kazza mengentikan obrolannya.


"Ada apa lagi, Kazza?" tanya sang ayah heran.


"Jangan buru buru menentukan tanggal, aku akan menikah jika Zayen suami Afna sudah dibebaskan. Selama Zayen belum dibebaskan, maka aku tetap pada pendirianku." Ucap Kazza mengagetkan semuanya.


"Kenapa menunggu Zayen keluar?" tanya sang ayah yang juga ikut penasaran.


"Aku tidak ingin berbuat yang tidak adil, Afna adikku sedang tidak lagi bersemangat. Aku pun tidak ingin melukai hatinya, cukup kesalahanku waktu itu yang sudah menghancurkan mimpi mimpinya." Jawabnya sedikit lesu.


"Lebih cepat lebih baik, kak. Afna tidak mempermasalahkannya, silahkan jika kakak ingin segera diadakannya resepsi." Ucap Afna ikut menimpalinya.


"Tidak, Afna. Kakak tidak akan pernah melakukannya sebelum suami kamu lepas dari tahanan." Jawab Kazza yang tidak ingin melukai perasaan saudara kembarnya.


"Ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Kazza, dan untuk Afna tidak perlu merasa tidak enak hati. Kita semua pun tidak ingin melihatmu bersedih." Ucap ibunya Vella ikut manimpali.


"Benar, aku pun ikut sependapat untuk menunggu Zayen bebas dari tahanan." Ucap Vella yang juga ikut menimpali.


"Benar sekali yang dikatakan Kazza, aku rasa juga seperti itu." Ucap tuan Raska menimpali.

__ADS_1


"Baiklah, kalau memang keputusannya akan menunggu Zayen. Aku pun mendukungnya, semoga menantuku akan segera dibebaskan dan putriku tidak lagi sendirian. Untukmu Afna putriku, bersabarlah dah berkecil hati. Kita semua menyayangimu, dan pastinya juga berusaha bersikap adil denganmu." Ucap tuan Tirta berusaha untuk menenangkan putrinya.


"Terimakasih semuanya, atas kebaikan dari kalian semua. Maafkan Afna yang sudah banyak merepotkan kalian semua." Jawab Afna merasa tidak enak hati.


"Sampai lupa, sekarang sudah waktunya untuk makan malam. Mari kita pinda ke ruang makan, setelah itu kita dapat duduk santai kembali." Ajak tuan Tirta, kemudian segera bangkit dari posisi tempat duduk. Kemudian, diikuti yang lainnya dari belakang.


Kazza maupun Vella kini kembali duduk berdekatan, Keduanya semakin canggung dan ada rasa malu malunya.


"Vella, kok melamun? ayo suami kamu diambilkan porsinya. Kok kamunya milih diam? tidak baik, ayo ladenin calon suami kamu." Ucap ibunya mengagetkan Vella yang tengah melamun entah kemana arah tujuannya.


Dengan sangat hati hati, Vella melayani Kazza sebaik mungkin. Disaat itu juga, Vella teringat saat dirinya baru pertama kalinya menginjakkan kakinya dirumah tuan Tirta untuk menjadi asistennya Kazza. Vella pun teringat saat dirinya menyuapi Kazza hingga tidak tersisa dipiringnya.


Meski ada rasa malu, Vella segera mengambilkan porsi makan malam untuk Kazza. Kemudian diletakkannya dengan sangat hati hati didepan Kazza, meski ada rasa malu pada diri Vella.


'Sialan, kenapa aku jadi kaku begini.' Batin Kazza heran, kemudian segera ia menyuapi dirinya sendiri.


Begitu pula dengan Vella yang juga tengah menikmati makan malam bersama, semua tidak ada yang bersuara. Hanya suara sendok yang tengah beradu, dan tidak ada satupun yang berani berucap saat menikmati makan malamnya.


Disaat itu juga, Afna teringat dengan keadaan suaminya yang makan dengan apa adanya dan juga yang tidur tidak beralaskan seperti yang ditempatinya di rumah. Sungguh, hati Afna masih terasa perih membayangkan kondisi suaminya yang berada di dalam jeruji besi.


Disaat itu juga, tiba tiba perut Afna terasa mual mual dan kepalanya terasa sangat pusing. Segera Afna bangkit dari posisi duduknya dan pergi untuk melegakan rasa mual yang sedari tadi sudah ditahannya.


"Afna, kamu kenapa sayang?" Tanya sang ibu khawatir, tanpa pikir panjang segera melihat kondisi putrinya yang tiba tiba bangkit dari posisi duduknya.

__ADS_1


Huwek huwek huwek huwek, berkali kali Afna memuntahkan makanan yang ada didalam diperutnya. Seketika itu juga, sang ibuk mengusap punggung putrinya berkali kali.


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang sama Mama. Jika kamu tidak menyukai makanan yang ada dimeja makan, kenapa kamu paksakan untuk memakannya." Ucap sang ibu sambil mengusap punggung milik Afna.


"Tidak apa apa kok, Ma. Tadi waktu menikmatinya sangat menggoda selera, saat Afna hampir selesai menghabiskannya tiba tiba perut Afna terasa mual dan kepala Afna sedikit pusing." Jawab Afna dengan lesu, karena sudah memuntahkan makanan yang baru saja dinikmatinya bersama yang lain.


"Sekarang katakan saja, apa yang kamu inginkan. Biar pelayan yang akan Menyajikannya, kamu cukup istirahat saja didalam kamar. Dan kamu tidak perlu ikut berkumpul dengan yang lainnya, lebih baik kamu beristirahat." Tanya sang ibu dan meminta putrinya untuk segera istirahat.


"Tapi, Ma ... Afna ingin sesuatu." Jawab Afna yang tiba tiba lidahnya sedikit tergoda dengan sesuatu yang diinginkannya.


"Apa yang ingin kamu minta, sayang? katakan saja." Tanya sang ibu sambil memegangi kedua pundak milik putrinya.


"Afna ingin makan buah jeruk yang masih segar dan tentunya terasa masam. Afna ingin kak Kazza yang mencarikannya, soalnya Afna tidak lagi ada suami." Jawab Afna sambil menunjukkan wajah sedihnya, entah kenapa bawaannya Afna semakin bersedih. Ibunya merasa tidak tega melihat putrinya yang sebenarnya menginginkan kehadiran suaminya untuk memanjakannya.


Mau bagaimana lagi, semua butuh proses untuk mengeluarkan tahanan. Apa lagi dengan masalah yang begitu besar, prosesnya pun lumayan sangat detail.


"Kamu masuk saja kedalam kamar, istirahatlah yang cukup. Biar Mama saja yang akan bicara dengan Kazza." Ucap ibunya yang juga meminta putrinya untuk segera istirahat, sang ibu benar benar tidak tega melihat kondisi putrinya yang tengah hamil muda. Apapun berbagai caranya, akan tetap berusaha untuk dicobanya, berharap menantunya dapat dibebaskan dengan cara yang mudah.


Afna yang mendengarkan penuturan dari sang ibunya hanya bisa mengangguk sambil menahan rasa mual yang sedang ia rasakan.


Dengan langkah kakinya, Afna menampaki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya didalam kamar, Afna merebahkan badannya diatas tempat tidur sambil menatap langit langit pada kamarnya.


'Sayang ... sampai kapan kita berdua akan terus terusan seperti ini dan terpisah jarak dan waktu, aku sudah sangat merindukanmu. Sungguh, aku merindukan perhatianmu. Aku sudah tidak sabar untuk tinggal bersamamu lagi seperti dulu. Meski dengan kesederhanaan sekalipun, tetapi kamu mampu membuatku gila karena cintamu.' Batin Afna yang tanpa ia sadari tengah menitikan air matanya menahan kerinduannya akan sosok suaminya berada didekatnya, kini hanya angan angan semata. Sungguh, begitu berat menahan rasa rindu akan rasa cintanya dari sang suami untuknya. Afna benar benar dilema akan perasaannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2