Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kejutan yang mengagetkan


__ADS_3

Zayen masih mencoba mengatur pernapasannya dan juga detak jantungnya yang sulit untuk di kontrolnya.


"Ayo kita turun, Nak. Barusan Adelyn mengirim pesan ke Mama, bahwa istri kamu sudah tidur. Pelan pelan langkah kakimu, jangan sampai Afna terbangun dari tidurnya tiba-tiba." Ucap sang ibu, kemudian membuka pintu mobilnya dan segera turun. Begitu juga dengan Zayen dan ayahnya ikut turun, keduanya mengikuti langkah kaki ibunya Zayen.


"Iya Ma, semoga saja Afna sudah lelap tidurnya." Jawabnya.


"Itu kan, maunya kamu ... hayo ngaku ..." ledek sang ayah. Zayen sendiri hanya tersenyum malu, ia pun mengakui bahwa dirinya sendiri pun sudah tidak sabar untuk bertemu dengN istri tercintanya.


"Selamat datang putraku, semoga kamu betah tinggal dirumah ini." Ucap sang ayah, kemudian memeluk putranya.


"Terima kasih, Pa. Sudah menerima Zayen sebagai anak Papa dan Mama, Zayen sangat bahagia. Zayen akan terus berusaha untuk tidak mengecewakan Papa dan Mama, Zayen benar benar bersyukur akan kebahagian ini." Jawab Zayen, kemudian segera melepaskan pelukannya.


Setelah itu, sang ibu pun memeluk putranya. Perasaannya sungguh sangat bahagia, bertahun tahun lamanya menahan rindu yang teramat sakit, kini harapannya telah didapatkannya. Sungguh, kebahagiaan yang sulit untuk diungkapkan.


Zayen pun tidak kuasa menitikan air mata bahagianya atas dipertemukannya dengan kedua orang tuanya dan juga saudara kembarnya.


Disaat itu juga, Adelyn mendekatinya. Perasaan haru bercampur menjadi satu, kebahagiaan yang benar benar utuh kini dirasakan oleh tuan Alfan beserta anak anaknya dan juga istrinya.


Adelyn pun ikut memeluk saudara kembarnya, begitu juga dengan sang ayah yang ikut memeluknya. Sungguh, kebahagiaan yang sempurna telah didapatkannya penuh perjuangan hingga kepuncak kebahagiaan.


Sesampainya di ruang tamu, dilihatnya Adelyn yang sudah menunggunya diruang keluarga.

__ADS_1


Setelah merasa cukup melepaskan kerinduan yang sudah bertahun tahun lamanya terpendam, satu persatu melepaskan pelukannya.


"Kakak, akhirnya kakak kembali bersama kita. Sudah lama kita merindukan suasana seperti ini, dan Tuhan kini telah mengabulkannya. Sungguh, Adelyn sangat bahagia bisa dipertemukan kembali bersama saudara kembarnya Adelyn. Selamat datang dirumah kita, kak. Adelyn berharap, semoga kakak betah tinggal dirumah ini." Sapa Adelyn dengan senyumnya yang mengembang, meski disertai dengan air mata yang baru saja ia menangis karena kembalinya saudara kembarannya di keluarga Wilyam. Zayen mengangguk dan tersenyum.


"Sudah malam, dan waktunya untuk istirahat. Masuklah ke kamar kamu, kamarnya ada diatas. Sepertinya Afna benar benar sudah pulas tidurnya, dan pakaian lengkapnya semua sudah ada dilemari. Jangan lupa, mandi dengan air hangat. Setelah itu istirahatlah, dan Mama maupun Papa dan juga Adelyn tidak bertanggung jawab atas istri kamu yang tiba tiba kaget karena ulah kamu yang tiba tiba sudah berada disampingnya." Ucap sang ibu dan tersenyum setelah kalimat terakhir.


"Iya Ma, Zayen ngerti. Kalau begitu, Zayen mau masuk ke kamar. Selamat malam Pa, Ma, dan Adelyn." Jawab Zayen, kemudian segera menapaki anak tangga.


Sesampainya didepan pintu kamar, dengan pelan Zayen membuka pintunya.


Dilihatnya Sang istri yang sudah terlelap dari tidurnya, dengan sangat hati hati Zayen menutup dan menguncinya kembali pintu kamarnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Zayen mengenakan pakaian tidurnya. Tiba tiba ada kilat dan disertai suara petir yang menggelegar, Afna pun masih pulas dengan tidurnya. Dirinya tidak perduli dengan suara petir yang bersahutan berkali kali, Afna tetap pulas dengan tidurnya.


Hujan deras pun turun, membuat suasana semakin menggoda. Zayen yang sederi tadi berada disamping istrinya hanya menatap lekat wajah sang istri sambil menelan salivanya, sesekali ia menepis pikiran kotornya.


Tidak dapat dipungkiri, sudah lumayan cukup lama tanpa ada istrinya disampingnya. Tanpa pikir panjang, Zayen mendaratkan ciumannya pada kening istrinya dengan lembut. Itupun Afna masih belum merasakan adanya sang suami yang sudah berada di dekatnya, Afna masih saja dengan posisinya.


'Mana hujan deras, istri tidur pulas. Apa yang harus aku lakukan, begini amat ini nasib. Mana istriku terlihat semakin cantik dan berisi lagi, aduh puasa nih malam. Aku bangunin saja apa, ya. Aaah! ngenes banget nasibku ini. Sabar Zayen, sabar ... tidak bisa malam ini masih ada malam besoknya. Tenang, istriku sedang hamil. Tidak akan ada hari libur 7 hari 7 malam, aman." Batin Zayen sambil mengacak acak rambutnya seraya prustasi karena gagal sif malam.


Karena merasa sangat mengantuk dan kedua matanya pun sulit untuk diajaknya kompromi, Zayen langsung memejamkan kedua matanya sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada bidangnya.

__ADS_1


Afna masih dengan posisinya, ia juga belum merasakan adanya sang suami yang sudah berada disampingnya.


Karena merasa bosan dengan posisi tidurnya, Afna pun mengganti posisi tidurnya menghadap kearah suaminya. Begitu juga dengan Zayen yang ikut pindah posisinya, keduanya pun saling menghadap satu sama lain.


Afna yang merasa semakin kedinginan karena cuaca diluar sangat dingin akibat hujan yang sangat deras, tanpa Afna sadari bahwa kini kepalanya sudah berada di dada bidang suaminya dengan tidur pulas. Zayen pun memeluknya seperti biasa Zayen dan Afna ketika tidur, keduanya terbawa mimpi masing masing. Sampai sampai Afna dan Zayen lupa dengan posisi tidurnya yang sama sama saling memeluk.


Afna yang sudah mulai merasa cukup dengan waktu tidurnya, dengan pelan ia membuka kedua matanya. Sedikit demi sedikit, kedua matanya pun terasa berat untuk dibukanya. Afna sendiri masih belum sadarkan diri sepenuhnya, ia pun mencoba meraba disekelilingnya. Kedua matanya pun mendadak membelalakan kedua bola matanya, ia tersentak kaget dibuatnya.


"Tidak .....!!!" teriak Afna sekencang mungkin.


"Siapa kamu, cepat! pergi dari kamar ini. Berani beraninya kamu tidur di kamar ini, pergi!! cepat!" teriak Afna. Zayen pun terbangun karena kaget.


"Sayang, aku suami kamu. Aku Zayen, aku bukan penjahat." Ucap Zayen sambil memegangi kedua lengan istrinya, Afna pun segera menepisnya.


"Kamu pasti siluman! dan kamu tidak lain telah menjelma menjadi suamiku. Pergi! cepat! aku tidak mau melihatmu." Bentak Afna dengan tatapan penuh kekesalan.


"Kamu mimpi apa semalam, sayang ...aku ini bukan siluman. Aku suami kamu, semalam aku pulang bersama Papa dan Mama. Sesampainya di kamar, rupanya kamu sudah tertidur pulas. Mana aku bisa tega membangunkan kamu yang sudah tertidur pulas, sayang." Jawab Zayen yang masih memegangi kedua lengan istrinya.


Afna pun memegangi kedua pipi milik suaminya, ia mencoba memastikan bahwa suaminya kini benar benar nyata berada dihadapannya.


Seketika itu juga, Afna langsung memeluk suaminya sangat erat. Seakan dirinya tidak ingin melepaskan, Afna merasa takut akan kehilangan suaminya. Kedua matanya pun menitikan butiran air mata, dan membasahi kedua pipinya itu.

__ADS_1


__ADS_2