
Semua yang ada di sekeliling Adelyn ikut kaget mendengarkan teriakan dari Adelyn.
"Kenapa kamu berteriak? apa kamu lupa dengan pesan Papa. Selama Papa tidak ada dirumah ini, kamu dalam pengawasan Viko dan kakak kamu. Karena tidak ada yang lain selain Viko yang bisa diandalkan, kamu harus ikuti peraturan dari Papa." Ucap sang ayah menjelaskan.
"Iya tuh, dengerin apa kata Papa. Kamu itu seorang wanita, sangat berarti untuk menjaga kehormatan kamu dan juga keluarga. Aku rasa Viko lah orang yang bisa di percaya, aku mengenalnya lebih jauh." Ucap sang kakak ikut menimpali.
"Hem ... iya ya, mana ada satu regu saling menjelekkan." Sindir Adelyn sambil melirik tajam ke arah saudara kembarannya, sedangkan Zayen tersenyum lebar pada Adelyn.
"Tidak lucu!" ucap Adelyn, kemudian mengerucutkan bibirnya. Semua menahan tawa saat melihat ekspresi Adelyn yang begitu lucu.
"Kakek sangat bahagia hari ini, meski kalian bebera waktu saling mengenal. Namun keakraban kalian terlihat jelas tanpa di buat buat, justru kalian terlihat dekat." Ucap sang kakek tersenyum bahagia.
"Benar sekali apa yang dikatakan oleh kakek kamu, Omma pun ikut bahagia melihat keakraban kalian berdua. Semoga, ini awal kebahagiaan keluarga kita untuk selamanya." Ucap Omma Serly ikut menimpali.
"Iya kek, Omma ... Zayen tidak akan lagi meninggalkan kalian semua. Zayen tidak akan pernah membiarkan orang lain mengganggu kebahagiaan keluarga kita." Jawab Zayen meyakinkan.
"Iya Omma, kakek ... Adelyn pun juga akan berusaha untuk tidak mengecewakan keluarga. Adelyn akan menuruti nasehat nasehat dari kalian semua, termasuk kakak ipar." Ucap Adelyn berusaha untuk meyakinkan.
"Sekarang, ayo kita sarapan dulu. Ngobrolnya nanti dilanjutkan lagi, sudah hampir terlambat. Nanti kamu telat, tidak baik memberi contoh kepada yang lainnya." Ujar sang ibu mengingatkan, Adelyn hanya mengangguk.
Saat semuanya sedang menikmati sarapan pagi, tidak ada satupun yang membuka suara. Hanya terdengar dentingan sendok yang dapat ditangkap oleh gendang telinganya masing masing.
Setelah selesai sarapan pagi, Zayen dan sang ayah segera bersiap siap untuk berangkat ke kantor. Tepatnya di Kantor yang akan Seyn kelola, hanya saja belum mendapatkan sekretaris tetap.
Zayen dan Afna segera bangkit dari posisi duduknya, kemudian Afna mengikuti sang suami dan berjalan beriringan sampai didepan rumaj. Setelahnya, Zayen berpamitan dengan istri tercintanya.
__ADS_1
"Sayang, aku berangkat. Jaga diri kamu baik baik, jika kamu bosan bisa mencari kesibukan dirumah ini. Tapi ingat, jangan melakukan sesuatu yang berat berat." Ucap Zayen berpamitan, Afna mengangguk dan tersenyum.
Dengan lembut, Zayen mencium kening milik istrinya. Lalu, segera ia masuk kedalam mobil dan disusul oleh sang ayah. Setelah bayangan mobil yang tidak lagi nampak, Afna kembali masuk kedalam rumah.
Namun, saat Afna masuk kedalam rumah tiba tiba langkah kakinya terhenti saat mendengar suara mobil yang tengah berhenti didepan rumah.
Afna pun segera menolehnya kebelakang dan langsung keluar untuk menemuinya, dan dilihatnya sosok laki laki yang tidak asing turun dari mobil.
"Viko, mau jemput Adelyn?" tanya Afna menebak.
"Iya Nona, apakah Nona Adelynnya masih dirumah?" jawabnya dan balik bertanya.
"Hem ... jangan pangggilan aku Nona, panggil saja Afna. Oh iya, ayo masuklah kedalam. sepertinya Adelyn sedang bersiap siap." Jawab Afna.
"Sampaikan saja pada Nona Adelyn, jika saya sudah menunggunya diteras rumah." Ucap Viko sedikit malu untuk menemui Adelyn.
Sesampainya di ruang tamu, dilihatnya Adelyn yang tengah sibuk merapihkan penampilannya sambil memasang jam tangan pada pergelangan tangan miliknya.
"Adelyn, Viko sudah menunggumu diluar. Hati hati diperjalanan, jaga diri kamu baik baik. Aku mau masuk ke kamar, jangan lama lama. Ada Viko yang sudah datang dan menunggumu." Ucap Afna, kemudian segera ia masuk ke kamarnya.
"Iya Kak, aku berangkat." Jawab Adelyn yang sudah tidak lagi dihadapannya, Adelyn pun segera ke luar menemui Viko dengan perasaan dongkol.
"Pria batu itu lagi, kenapa sih Papa sama kak Zayen begitu demen sama itu pria batu sedingin es balok." Gerutunya sambil berjalan dan berdecak kesal.
Sesampainya di teras rumah, Adelyn hanya berdiam diri dengan posisinya yang tidak berubah. Viko sendiri segera mendekati Adelyn yang tengah melamun, sedangkan Viko tidak memperdulikannya. Yang Viko ingat hanyalah sebuah amanat dan pesan untuk menjaga anak dari Bos nya, dan juga adik dari sahabatnya.
__ADS_1
"Ayo Non, buruan kita berangkat. Nanti kita bisa terlambat, kasihan karyawan yang lainnya." Ajak Viko dengan datar, sedangkan Adelyn sendiri bersikap cuek dan langsung masuk kemobil dikursi belakang setir.
Viko sendiri tidak memperdulikannya, baginya tetap percuma juga jika meminta Adelyn untuk duduk di depan.
Viko pun segera masuk ke dalam mobil dan mengenakan sabuk pengamannya, Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Didalam perjalanan, keduanya nampak canggung dan juga hanya saling diam tanpa bersuara.
'Da*sar pria batu, tetap saja pria batu. Kenapa juga aku tidak disuruhnya duduk didepan, apa mungkin dianya sudah mempunyai kekasih? sampai sampai aku duduk dibelakang saja tidak dihentikan. Hem ... sungguh menyebalkan.' Batinnya berdecak kesal sambil menatap luar jendela.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, Viko maupun Adelyn masih saja saling diam. Hingga tidak disadari oleh Adelyn, jika dirinya telah sampai didepan kantor.
"Kita sudah sampai, kamu mau tidur didalam mobil? jangan banyak melamun." Ucap Viko sambil melepas sabuk pengamannya. Adelyn sendiri kaget dibuatnya, segera ia ikut melepaskan sabuk pengamannya tanpa menjawab ucapan dari Viko. Sedangkan Viko segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Adelyn.
"Ayo, kita turun." Ucap Viko tanpa menatap Adelyn, disaat itu juga Adelyn langsung turun. Kemudian, keduanya pun segera masuk kedalam ruangan dengan langkah kakinya yang beriringan.
Sesampainya di dalam Kantor, semua wanita menatap kagum dengan sosok laki laki bersama Adelyn. Semua tidak ada yang tidak mencari perhatian pada Viko, Adelyn yang melihat kondisi Kantor pun bergidik ngeri.
'Setampan apa sih, sampai sampai semua wanita mencuri pandang dengan pria batu ini.' Batin Adelyn terasa tidak nyaman melihat para wanita berdecak kagum melihat sosok Viko.
"Adelyn, tunggu!" seru teman baru Adelyn waktu pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di perusahaan sang ayah dengan penyamarannya sebagai OB.
Disaat itu juga, Adelyn menghentikan langkah kakinya. Kemudian ia langsung menoleh ke sumber suara. Wanita itu pun segera mendekati Adelyn, berharap bisa mendapatkan informasi.
"Ada apa, Sa?" tanya Adelyn.
__ADS_1
"Laki laki yang berjalan denganmu barusan itu siapa?" tanyanya penasaran.
"Oooh, sekretaris baru di kantor ini. Ada apa ya? apakah kamu mengenalnya?" jawab Adelyn dan bertanya balik.