
Kini, Kazza sudah berada dihadapan Vella. Tepatnya, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kamu sudah mendengarnya?" tanya Kazza dengan tatapan seriusnya, Vella pun mengangguk.
"Karena aku tidak ingin membuat semuanya menjadi geram, maka aku akan mengatakannya sekarang juga. Apakah kamu mau mendengarkannya? jawab saja dengan jujur." Ucap Kazza.
"Katakanlah, aku siap mendengarkannya." Jawab Vella berusaha untuk setenang mungkin, meski kenyataannya dirinya tidak dapat mengontrol emosinya.
"Aku akui, aku menyukaimu sudah dari dulu. Saat aku memintamu untuk menjadi teman Afna ketika sakit tidak dapat berjalan, apakah kamu masih mengingatku di kala itu?" ucap Kazza dan mencoba mengingatkan.
Vella masih diam, ia kembali mencoba mencerna dan mengingat beberapa tahun yang lalu. Dimana dirinya pernah bekerja di sebuah Restoran besar milik keluarga Kazza, tepatnya di Restoran Merpati Jaya.
Tidak hanya itu, Vella dimintai untuk menjadi asistennya sekaligus menjadi teman untuk Afna saudara kembar Kazza. Vella pun teringat saat sikap aneh yang ditunjukkan dari Kazza, mulai yang meminta perhatian dan yang lainnya.
Seketika, Vella teringat saat Kazza memintanya untuk menyuapinya. Vella pun baru menyadarinya, jika disaat itu ternyata seorang Kazza sudah menaruh hati padanya.
Hanya saja, gengsi yang begitu besar tengah menguasai egonya. Hingga Vella sendiri tidak dapat mencerna disetiap sikap Kazza padanya.
"Aku terpaksa menyembunyikannya, karena kamu sendiri yang memintanya. Padahal, waktu itu aku sudah mempersiapkannya sebelum aku berangkat ke Amerika. Aku akan menyatakan perasaanku sebelum jadwal penerbanganku tiba waktunya. Tapi kenyataannya, kamu lebih dulu yang memintaku untuk mengakhirinya didepan kedua orang tuamu dan kedua orang tuaku. Seketika, duniaku gelap dan aku putuskan untuk bertahan di Amerika. Aku kira aku bisa melenyapkan bayanganmu, namun kenyataannya aku tidak mampu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air. Jika kamu masih ragu, jangan kamu paksakan. Intinya, aku sudah mengeluarkan beban yang selama ini tengah bersemayam dalam pikiranku." Ucap Kazza berusaha untuk jujur, meski kenyataannya tidak mendapat jawaban dari orang yang ia sukai.
Vella sendiri masih diam, ia pun bingung untuk menjawabnya. Kazza yang tidak mendapati jawaban dari Vella, ia langsung membalikkan badannya dan segera pergi dari hadapan Vella.
"Vella, tunggu apa lagi kamu. Ayo, buruan kejar Kazza. Apakah kamu masih ingin menyiksa perasaan kamu sendiri? sadis banget kamu, jika kamu masih sanggup menyiksa diri kamu sendiri." Ucap Zacky mengingatkan.
__ADS_1
Disaat itu juga, Vella menoleh kearah kedua orang tuanya dan sang kakak secara bergantian. Dilihatnya sang kakak dan kedua orang tuanya menberikan isyarat dengan cara anggukan.
Tanpa pikir panjang, Vella langsung berlarian untuk mengejar Kazza. Vella sendiri tidak sanggup untuk jauh dari orang yang sebenarnya pun sudah ia sukai sejak dirinya menginjakkan kakinya ditempat kerjanya, tepatnya di sebuah Restoran milik Kazza.
BRUGG!!!
Vella pun menabrakkan dirinya dari belakang dan memeluk Kazza dengan erat, seketika langkah kaki Kazza terhenti begitu saja.
Kazza pun tetap diam tanpa menggeser sedikitpun dengan posisinya. Hanya saja, dirinya dalam keadaan dipeluk oleh seorang perempuan.
"Maafkan aku, sebenarnya aku pun menyukaimu dan juga jatuh hati denganmu sudah dari dulu. Karena sikap dinginmu itu, membuatku merasa tidak memiliki harapan sedikitpun untuk mendapatkan cintamu. Jangan lagi kamu tinggalkan aku, karena aku tidak ingin jauh dari kamu lagi. Cukup beberapa tahun yang lalu kamu meninggalkanku dalam kondisi menahan perasaanku ini." Ucap Vella yang masih dengan posisinya memeluk sosok laki laki yang ia cintai.
Kazza pun melepaskan lingkaran tangan Vella pada dirinya, kemudian ia menatap wajah milik Vella begitu lekat. Keduanya pun saling beradu pandang cukup lama, seketika Kazza membuyarkan lamunannya.
"Cieee ... yang sedang kasmaran, tidak membagi tempat untuk yang lainnya nih ..." ledek Afna yang tiba tiba meledak sang kakak.
"Afna!! ganggu kakak kamu saja, kamu ini." Ucap Kazza pada sang adik.
"Vella, apa kabarnya kamu?" sapa Afna pada calon kakak iparnya.
"Kabar aku baik, Nona ..." jawab Vella mengulangi sikap dirinya pada majikannya.
'Hem, tidak usah meledekku." Ujar Afna sembari tersenyum mengembang.
__ADS_1
"Kazza, sekarang juga kamu ajak Vella dan temani Gio dan juga Zacky untuk memberi keterangan di kantor polisi. Pelakunya sudah diamankan serta barang buktinya, nanti kamu akan ditemani ayahnya Vella. Papa sedang ada urusan dengan Zayen untuk menyelesaikan masalah yang sudah tertunda." Ucap sang ayah meminta putranya untuk segera berangkat ke Kantor polisi.
"Memangnya mau menyelesaikan masalah apa, Pa?" tanya Kazza penasaran.
"Nanti akan Papa ceritakan kalau kamu sudah sampai di rumah, sekarang selesaikan masalah kamu terlebih dahulu." Jawab sang ayah sambil menepuk pundak milik putranya, seakan menyemangatinya.
"Tuan Raska, saya dan anak menantu mau izin pamit untuk pergi. Maaf, jika saya tidak bisa menamani sampai di kantor polisi. Saya hanya bisa berdoa, semoga masalahnya segera teratasi, saya titipkan putra saya. Jika amarahnya tidak dapat dikendalikan, saya serahkan Kazza pada tuan Raska bagaimana baiknya." Ucap tuan Tirta pada tuan Raska, sedangkan tuan Raska hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah tuan Tirta dan Zayen serta istrinya pergi dari dari rumah sakit, kemudian giliran Kazza untuk pergi dari rumah sakit. Namun sebelumnya, Kazza melunasi biaya pemeriksaan pada Vella.
Saat Kazza sedang membayar tagihan, Kedua orang tua Vella serta sang kakak dan Zacky maupun Vella menunggunya di mobil. Tepatnya di depan rumah sakit.
Sesudah membayarnya lunas, Kazza segera naik mobil dan duduk bersebelahan dengan Vella. Selama perjalanan, Kazza dan Vella seperti sepasang kekasih yang sedang tertangkap basah.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai didepan tempat dimana para tahanan berada didalamnya. Semua yang berada didalam mobil ikut turun mengikuti tuan Raska dan istrinya. Ketika semuanya sudah turun dari mobil, kini semua tengah berjalan beriringan dan segera masuk kedalam ruangan.
Sesampainya ditempat yang dituju, semua mata celingukan mencari sosok yang membuatnya penasaran.
Sedangkan tuan Raska dan Kazza segera menemui petugas untuk berhadapan langsung dengan siapa dibalik dalang semua masalah yang tengah mencelakai Vella.
"Maaf Tuan, mohon ditunggu sebentar. Saya akan panggilkan tersangka yang melakukan tindak kejahatan pada putri Tuan." Ucapnya, kemudian segera memanggil dan membawanya kehadapan tuan Raska dan yang lainnya.
Semua nampak penasaran dengan sosok yang sudah berani mencelakai Vella, begitu juga dengan Vella sendiri yang sangat penasaran dengan palaku yang hampir saja dirinya kehilangan segalanya.
__ADS_1