Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Permintaan yang aneh


__ADS_3

Setelah melakukan pertemuan, Viko segera kembali pulang. Kini tinggal lah Kazza yang masih berada di Restorannya, ia berusaha untuk tidak terlihat melakukan pertemuan dengan seseorang. Meski melakukan pertemuannya didalam Restoran sendiri, Kazza tetap waspada dengan apa yang ada di sekitarnya. Ia takut jika sewaktu waktu ada hal buruk yang akan mengenai Viko maupun dirinya sendiri disaat sesuatu hal buruk yang tidak diinginkannya terjadi secara tiba tiba.


Sambil mengawasi, Kazza mengelilingi bagian yang dimana Vella melakukan pekerjaannya. Sambil celingukan, Kazza mencari sosok Vella berada.


Dengan pelan Kazza melangkahkan kakinya, kedua matanya tertuju pada sosok Vella yang masih melakukan pekerjaannya seperti karyawan karyawan yang lainnya. Sangat terlihat jelas sosok Vella dengan menunjukkan wajah cerianya tanpa beban yang terpikul sedikitpun pada pundaknya. Vella tetap menikmati kesibukannya bersama yang lainnya.


Disaat Kazza sedang fokus dengan pandangannya, tiba tiba ada seseorang yang tengah menghampirinya.


"Ehem ehem." suara deheman tengah membuyarkan lamunan Kazza yang sedang fokus dengan arah pandangannya.


"Sialan, rupanya kamu Gio. ganggu saja orang sedang mengawasi karyawan." Ucap Kazza spontan.


"Cie ... si Bos, tumben tumbennya serius begini." Jawab Gio sambil meledek.


"Kenapa, tidak boleh? ngapain kamu tiba tiba sudah berada dihadapanku. Mau minta gaji? belum waktunya." Ucapnya yang kemudian segera duduk dikursi sebelahnya, Gio pun ikut duduk didepan Bosnya tanpa ada rasa canggung sedikitpun.


"Bos, serius amat mengamati Vella. Cie ... naksir ya? ngaku saja Bos." Ledek Gio sambil senyum senyum tidak jelas.


"Hem! sok tahu kamu, Gio. Tugas kamu itu bekerja, bukan meledek atasan kamu." Jawab Kazza dengan jutek, Gio pun hanya tertawa kecil saat melihat ekspresi Kazza yang terlihat jengkel.


"Bos, ada yang mau aku bicarakan." Ucapnya memasang wajah memelas, berharap tidak akan dicurigainya.


"Mau ngomong apaan, kamu? cepetan. Aku masih banyak pekerjaan, kalau bertele tele aku tinggal pergi." Jawab Kazza yang sudah tidak lagi bersabar.


"Begini Bos, sebenarnya aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaanku. Aku merasa ada sesuatu yang hal yang lebih penting untuk diselesaikan, maka dari itu aku mengundurkan diri. Mau tidak mau, aku tetap mengundurkan diri. Percayalah, saya tidak ada niat bisul untuk Bo Kazza." Ucap Gio mencoba bicara baik baik, ia tidak ingin menambah kekesalan pada diri Kazza. Namun kenyataannya ia lakukan demi masa depannya, Gio menyadari bahwa dirinya tidak lagi menjadi anak muda. Maka dari itu, Gio harus banyak lagi belajar tentang keberhasilan.


"Apa! mengundurkan diri? yang benar saja, pokoknya tidak akan aku izinkan kamu untuk lepas dari pekerjaan kamu. Aku akan menambahkan gaji kamu dua kali lipat, dan kamu tetap akan bekerja denganku." Ucap Kazza penuh harap, Gio yang mendengarnya hanya tersenyum.

__ADS_1


"Aku benar benar mau minta maaf, jika mulai sekarang aku tidak lagi bisa bekerja dengan Bos. Aku harus mengganti pekerjaan Papaku, ini keputusan yang sudah mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Aku rasa ini sudah cukup untukku berterus terang, karena tidak mungkin aku akan selalu berada disampingmu, Bos. Bukankah sekarang sudah ada Vella? jadi aku yang akan mengundurkan diri." Jawabnya berusaha untuk meyakinkan.


"Kamu merasa tersisih dengan Vella? atau ... jangan jangan kamu menaruh hati pada Vella, ayo katakan. Aku bisa memperkerjakan Vella kembali di Restoran ini bbersamamu" Ucap Kazza berusaha merayu Gio, berharap tetap bekerja dengannya.


"Bukanlah Bos, Vella bukan wanita yang aku cintai. Ada ada saja nih Bos, hem." Jawab Gio semakin bergidik ngeri atas tuduhan yang Kazza ucapkan.


'Yang benar saja nih, mencintai adik sendiri. Gile lu, ada ada saja.' Batin Gio sambil garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Lalu, maksud kamu apa? kenapa kamu memilih untuk berhenti dari pekerjaan kamu. Bukankah kamu sangat membutuhkan pekerjaan kamu, dan ingin membantu perekonomian keluarga kamu?" tanya Kazza yang semakin bingung dengan keputusan yang dibuat oleh Gio. Sedangkan Gio sendiri hanya tersenyum mengembang, ia berhasil telah membuat seorang Kazza bingung dibuatnya.


"Tidak perlu dibahas kembali, nantinya Bos Kazza juga akan mengetahuinya sendiri. Jadi hari ini aku harus segera pergi, jangan khawatir masih ada Vella yang masih bisa untuk dijadikan asistenmu Bos." Jawab Gio dengan santainya, kemudian segera ia pergi meninggalkan Kazza yang masih duduk dengan pikirannya yang masih kebingungan.


"Apa iya, Gio menyukai Vella. Bisa jadi sih, jika Gio suka. Setiap harinya saja berangkat bareng, dekatnya melebihi teman. Apa lagi Gio yang begitu perhatian dengan Vella, mungkin saja tebakanku benar. Tapi ... " ucapnya lirih sambil mengacak acak rambutnya sendiri hingga terlihat acak acakan tidak karuan.


Tidak berselang waktu lama ada pesan masuk diponsel milik Kazza. Dengan cepat Kazza membuka pesan yang masuk, kemudian segera ia baca pesannya. Terlihat cemberut terlintas pada bibir Kazza, tanpa pikir panjang langsung pergi meninggalkan Restoran.


"Hem! aku sampai lupa, jika ada Vella yang aku bawa." Ucapnya liri sambil mengeluarkan nafas kasarnya.


"Vella, ayo pulang. Malam ini ada pekerjaan untukmu, mau tidak mau kamu harus nurut denganku." Ucap Kazza mengagetkan tanpa peduli ada karyawan karyawan disekitarnya, dengan sigap Vella langsung mendekati Bosnya sambil memasang wajah angkuhnya.


"Pekerjaan apa lagi sih Bos, tidak sulit 'kan?" tanya Vella penasaran sambil melepaskan celemek yang menempel dibagian depan. Tidak begitu lama, tiba tiba ponsel Vella berbunyi saat Kazza sedang mengajaknya berbicara serius.


"Maaf Bos, bolehkah aku membuka pesan masuk?" tanyanya takut mendapat ancaman dari Kazza.


"Cepetan, tidak pakai lama." Jawab Kazza dengan ketus.


Vella pun segera membuka pesannya yang tengah masuk di ponselnya, seketika itu juga wajah Vella berubah masam. Kazza yang melihat perubahan pada Vella pun semakin penasaran.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba tiba bersedih, ada masalah? ayo katakan." Tanya Kazza yang masih penasaran.


"Tidak ada apa apa, aku hanya takut saja." Jawabnya dengan lesu.


"Takut kenapa? ah iya, kita bicarakan saja didalam mobil. Ayo kita pergi dari tempat ini, sangat rawan penggosip." Tanyanya dan mengajaknya untuk pindah, Vella hanya mengangguk tanpa menjawabnya.


Sesampainya didekat mobil, Vella segera masuk dan duduk dibagian belakang.


"Duduk didepan, kamu kira aku ini supir kamu." Ucapnya ketus, tanpa bersuara Vella hanya nurut dengan apa yang diperintahkan Bosnya.


'Ini anak sebelas dua belas dengan Gio, apa jangan jangan mau ikutan mengundurkan diri.' Batinnya yang merasa curiga, kemudian segera ia melajukan mobilnya.


"Oh iya, katanya kamu takut. Memangnya apa yang kamu takutkan, takut berpisah dengan Gio?" tanyanya tanpa ada rasa canggung sedikitpun.


Seketika itu juga Vella membelalakan kedua bola matanya, dirinya pun terkejut dengan pertanyaan dari Bosnya itu.


"Tidak segitunya juga kali, Vell. Biasa saja kedua mata kamu itu melotot didepanku, hem." Ucapnya sambil mengusap wajah Vella.


"Ngapain mesti takut berpisah dengan Gio sih, Bos. Ada ada saja nih Bos Kazza, ngelantur kok kemana mana arahnya." Jawab Vella sambil menatap lurus kedepan.


"Lah itu, ekspresi kamu kaget begitu. Terlihat jelas jika kamu menyukai Gio dan takut kehilangannya." Ucapnya asal menebak.


"Tidak ada hubungannya dengan Gio Bos, dia punya urusan sendir. Lagian si Gio juga sudah memiliki kekasih, dan pastinya jauh lebih cantik dariku. Jadi, stop! ngomongin yang tidak penting. Sekarang katakan pekerjaan apa yang harus aku lakukan nanti malam? jangan bilang disuruh jadi ba*bi nge*pet." Jawab Vella kemudian melirik kearah Kazza, disaat itu juga Kazza hanya tersenyum getir.


"Kamu akan menjadi kekasih pura puraku."


"Apa!! jangan Bos, serius. Aku tidak mau menanggung resiko, aku takut." Jawab Vella yang langsung memotong ucapan dari Bosnya.

__ADS_1


"Kamu harus mau, titik." Ucap Kazza memaksa.


__ADS_2