
Afna yang mendapat penjelasan dari suaminya masih penasaran, namun ia untuk tidak menuduhnya. Sebisa mumgkin, Afna berusaha untuk tenang dan berpikiran positif.
Setelah menikmati sarapan pagi, Afna dan Zayen kembali masuk ke kamar. Sesampainya didalam kamar, Afna kembali memasang muka masamnya. Berharap suaminya akan mengerti maksud darinya.
Dan benar saja, Zayen merasa aneh melihat gelagat iatrinya yang tidak seperti biasanya. Afna duduk di sudut tempat tidurnya dengan memasang muka masamnya.
Zayen yang mengerti maksud dari istrinya, segera ia mendekatinya dan duduk disebelahnya. Lalu, Zayen memegangi kedua pundak milik istrinya. Kemudian menatapnya dengan lekat, Afna sendiri masih terlihat lesu. Bahkan, Afna terlihat lesu dan tidak bersemangat. Sebisa mungkin Zayen mencoba untuk menjelaskannya, berharap tidak ada lagi kesalahpahaman.
"Sayang, kamu kenapa cemberut begitu sih? hemmm. Apa kamu masih belum percaya? baiklah akan aku jelaskan sedetail mungkin. Agar kamu tidak lagi salah paham dengan saudara kamu sendiri." Tanya Zayen dengan tatapannya yang teelihat serius, Afna masih belum bicara. Ditambah lagi kondisinya yang sedang hamil, membuat perasaannya semakin sensitif. Apalagi mengenai kecemburuan, terkadang bersikap ingin bermanja manja.
"Aku jelaskan sekali lagi, aku dan Neyney hanya berteman salah alamat. Bagaimana tidak, perempuan itu sangat tomboy. Dia lebih menyukai berteman dengan laki dari pada dengan perempuan. Aku mengenalnya ketika dia mendapat razia saat ada balap motor di jalan Xxx, mau tidak mau aku menolongnya. Disitu aku mengenalnya, tidak lebih." Ucap Zayen menjelaskan, sedangkan Afna hanya menarik nafasnya panjang.
Seketika itu juga, Zayen mendaratkan ciu*mannya dengan lembut. Kemudian mendekatkan ditelinga Afna dan berbisik.
"Kamu dan kamu lah wanita yang pertama aku kenal untuk selamanya, disini. Iya, disinilah tempatnya. Kamu akan selalu singgah dihatiku untuk selamanya, jika kamu mengabaikannya. Mungkin saja, aku bisa lupa segalanya. Lupa akan tentang cinta, dan ketulusan. Aku mencintaimu, sayang ... jangan pernah membuatku merasa kehilanganmu. Itu sangat menyakitkan, melebihi tubuh dicabik cabik dan dimangsa oleh musuh." Bisik Zayen tepat di telinga Afna.
Afna yang mendengarnya pun terasa merinding, sungguh membuat Afna semakin tidak bisa berkata apa apa selain memeluk suaminya dengan erat. Zayen pun menerima pelukan dari istrinya, kemudian melepaskan dan mencium kening milik istrinya.
"Sekarang kamu percaya denganku, 'kan? siapa lagi yang harus mempercayaiku kalau bukan kamu istri yang aku cintai." Ucap Zayen terus mencoba untuk meyakinkan istrinya. Meski sering menunjukan rasa cemburu, Zayen merasa senang melihat istrinya cemburu.
__ADS_1
"Aku percaya sama kamu, aku hanya ingin mendengar penjelasan dari kamu jauh lebih jelas dan tidak membuatku penasaran. Maafkan aku yang sudah membuatmu kesal atas sikapku yang memintamu untuk menjelaskan secara detail.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, sudah lumrah jika kamu memiliki rasa cemburu. Karena aku suami kamu, dan kamu istriku. Wajar saja jika kamu menaruh rasa cemburu. Sekarang bagaimana perasaan kamu? sudah mendingan, 'kan?" ucapnya dan bertanya. Afna pun mengangguk dan tersenyum.
Setelah masalah terselesaikan, keduanya segera bangkit dari posisi duduknya. Kemudian, Afna membantu suaminya untuk mengenakan dasi. Dengan senyum mengembang, keduanya nampak terlihat jelas tengah bahagia.
Dirasa sudah cukup dan tidak ada lagi yang kurang, Zayen mendekatkan dirinya pada siang istri. Lalu ia segera membungkukkan badannya dan mencium perut istrinya yang mulai membesar.
"Anak Papa dan Mama, Papa berangkat kerja dulu, ya ... kelak nanti kamu lahir akan Papa timang timang sebelum berangkat." Ucap Zayen, kemudian mengecupnya berkali kali dan mengusapnya pelan. Serasa sudah tidak sabar lagi untuk menunggu kehadiran sang buah hati.
Afna yang mendapati perlakuan dari suaminya hanya menahan geli saat sang suami berkali kali mengecup perutnya yang semakin membesar.
"Sayang, udahan dong ... nanti kamu terlambat." Ucap Afna berusaha menghindari tingkah suaminya yang tidak mau berhenti mengerjainya. Zayen pun tersenyum melihat istrinya.
Sesampainya di depan rumah, Zayen kembali mengecup kening milik istrinya. Kemudian Afna mencium punggung tangan milik suaminya, sedangkan Adelyn hanya bisa memperhatikan kedua insan yang saling mencintai.
"Cepetan masuk, sebentar lagi kamu juga akan mengalaminya. Siapkan mentalmu, agar kamu tidak seperti udang rebus." Ucap Zayen sedikit meledek sambil masuk kedalam mobil.
"Ih, menyebalkan. Awas saja, ya." Jawab Adelyn dan segera masuk kedalam mobil. Afna yang melihatnya pun hanya tertawa kecil, sedangkan Adelyn masih pura pura jutek terhadap saudara kembarnya.
__ADS_1
Setelah bayangan mobil yang dinaiki Zayen dan Adelyn tidak lagi nampak, Afna segera kembali masuk ke rumah.
Didalam perjalanan, Adelyn dan saudara kembarannya tidak ada henti hentinya saling mengejek. Keduanya nampak bahagia setelah sekian lamanya berpisah, kini keduanya nampak jelas bahagia karena dapat dipersatukan lagi dalam keluarga.
Sedangkan di posisi yang lain, ada Seyn yang sedang mengendarai mobilnya. Sambil menyetir mobilnya, Seyn mengamati gelang misterius untuk diingat kembali.
"Sebenarnya ini gelang milik siapa? kenapa aku baru mengingatnya. Mungkinkah wanita itu sudah berkeluarga? atau gadis kecil yang aku sangka gadis remaja dan dewasa? aaaah!! kenapa aku se penasaran ini. Hanya sebuah gelang, mana mungkin aku bisa menemukan pemiliknya." Gerutu Seyn prustasi, lalu meletakkannya kembali.
Sekilas dipinggir jalanan taman, kedua mata Seyn tertuju pada sosok wanita yang pernah bertemu. Seyn sendiri segera menepikan mobilnya dipinggir taman, ia menatap lekat dari kejauhan.
"Perempuan itu, sampai bosan aku bertemu dengannya. Untung saja, aku tidak turun. Jika ia, bosan lah aku bertemu dengannya. Tapi ... tunggu, bukankah ditaman ini aku tengah menolong gadis pemilik gelang itu. Aaah!!! mana mungkin semudah itu aku menemukan pemilik gelang itu, sungguh mustahil." Gerutunya, kemudian mengacak acak rambutnya yang sudah rapi.
Karena tidak ingin pusing memikirkan sesuatu yang sulit untuk ditemukan, Seyn kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Segera ia berangkat ke Kantor, selain ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Seyn pun ada pertemuan dengan seseorang, Seyn pun berharap akan berhasil untuk melakukan kerja samanya.
Sesampainya di dalam Kantor, Seyn selalu disambut hangat oleh para karyawan yang lainnya. Semua tunduk hormat, tidak ada yang tidak mengenali Seyn. Awal mula memang Seyn lah yang memegang kekuasaan perusahaan yang pernah dimiliki Zayen.
Tidak lama kemudian, seorang sekretaris tengah menemui Seyn didalam ruang kerjanya.
"Ada apa, Rif?" tanya Seyn sambil membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Ada kabar baru, Bos. Hari ini Bos Seyn akan ada pertemuan dengan seorang wanita yang cantik, siap siap kosentrasinya." Jawab Rifki sambil meledek.
"Hem, aku tidak perduli siapa yang mau datang. Cepat kamu urus semuanya, aku tidak ingin ada sesuatu yang kurang untuk melakukan pertemuan." Perintah Seyn.