
Di kediaman keluarga Gantara sedang bersiap siap untuk berangkat sesuai janji yang sudah disepakati. Vella yang masih berada didalam kamar sedang bermalas malasan, ia masih merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sang ibu maupun yang lainnya sudah sangat bosan menunggunya, Gio pun segera memanggilnya.
Tok tok tok, suara ketukan pintu tengan mengagetkan Vella yang sedang melamun sambil menatap langit langit kamarnya.
"Masuk saja, pintunya tidak aku kunci." Ucap Vella masih dengan posisinya.
Ceklek, Gio membuka pintunya. Dilihatnya sang adik masih berbaring diatas tempat tidur dengan santainya tanpa ada beban sedikitpun.
"Vell, kenapa kamu belum juga bersiap siap?" tanya sang kakak yang masih berdiri diambang pintu.
"Aku tidak mau dijodohkan, titik. Mana bisa sih, menikah tanpa ada saling cinta dan juga tidak pernah bertemu. Yang benar saja, pokoknya aku tidak mau." Jawab Vella sambil menutup kedua telinganya pakai bantal.
"Sudah cepetan, Vell. Nanti keburu papa marah loh, buruan dirapikan penampilan kamu itu." Ucapnya sang kakak, Vella sendiri langsung membalikkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
"Hem, Kamu tidak bakal kecewa setelah melihat seperti apa calon suami kamu nanti." Jawab Gio meyakinkan, Vella sendiri tidak memperdulikannya.
"Baiklah, jika kamu tidak mau. Papa akan menikahkan kamu sekarang juga, dan keluarga pihak laki laki yang akan datang kesini." Ancam Gio sambil mendekati adiknya.
Dengan sigap, Vella langsung mengganti posisinya untuk duduk. Begitu juga dengan Gio yang ikut duduk disebelah adik kesayangannya.
"Kak, serius nih. Aku benar benar mau dijodohin? kenapa tidak memberiku waktu beberapa hari gitu, agar aku bisa mencari calon suami sendiri." Tanya Vella sambil duduk.
"Kamu mau cari calon suami kamu dimana? yang ada calon suami bayaran, hem. Sudahlah, kamu kan belum bertemu siapa orangnya. Kamu berhak kok membatalkannya, itupun kalau kamu tidak mengenalnya. Jika ternyata kamu mengenalnya, maka kamu tidak bisa menolaknya." Jawab sang kakak sambil meninggikan satu alisnya sedikit meledek.
"Peraturan macam apa itu, kalau mengenalnya maka aku tidak bisa menolak. Tidak bisa, semua itu harus diawali dengan hati. Jika tidak ada rasa cinta, untuk apa? menyakitkan." Ucapnya, dan mengerucutkan bibir manisnya.
__ADS_1
"Kamu lupa, siapa Afna dan juga Zayen. Apakah mereka berdua diawali dengan rasa cinta? tidak. Bahkan keduanya diawali dengan rasa ketidaksukaan, keduanya sama sama tidak mencintai dan jauh dari perasaannya masing masing. Sekarang kamu lihat sendiri, 'kan? bahkan cinta diantara keduanya sangat kuat. Ditambah lagi dengan ujian yang begitu berat untuk dilewatinya, sedangkan Afna sendiri sedang hamil muda. Apakah kamu sanggup? hanya kami yang mengetahuinya." Jawabnya menjelaskan dan mengingatkan tentang hubungan orang lain.
Seketika itu juga, Vella teringat saat dirinya menemani Afna menjenguk suaminya yang berada dibalik jeruji besi.
"Kenapa kamu diam? bukankan kamu sudah melihatnya waktu mengantarkan Afna untuk menemui suaminya? jawab." Tanya sang kakak sambil melambaikan tangannya didepan wajah Vella yang sedang melamun.
"Iya, aku ingat dan menyaksikannya langsung saat itu. Sudahlah, jangan kakak teruskan lagi. Aku sendiri tidak sanggup membayangkannya, sungguh menyakitkan." Jawab Vella, kemudian segera ia bersiap siap untuk berangkat. Gio sendiri segera keluar dari kamar saudaranya dan segera ia menuruni anak tangga.
"Vella mana? kok tidak ikut turun? " tanya sang ibu penasaran.
"Sebentar lagi juga turun kok, Ma. Vella nya sedang bersiap siap, Mama tenang saja dan tidak perlu khawatir." Jawab Gio, kemudian segera duduk disofa.
"Syukurlah, Papa kira Vella tidak mau menerima permintaan Papa." Ucap sang papa ikut menimpali.
Tidak berselang lama Vella menuruni anak tangga dengan santai, seakan begitu berat untuk melangkahkan kakinya. Sesampainya berada di dekat kedua orang tuanya dan sang kakak, Vella masih berdiam diri tanpa bersuara.
"Apakah kamu sudah benar benar siap?" tanya sang ayah dengan serius.
Berat memang berat untuk berterus terang, Vella sendiri tidak dapat untuk menolak maupun memberontaknya. Selagi masih hanya sebuah pertemuan, Vella berusaha untuk tenang dan menyikapinya dengan sebaik mungkin.
"Vella sudah siap dengan pilihan Papa, semoga Vella tidak mengecewakan Papa." Jawabnya berusaha meyakinkan, meski perasaannya tiba tiba menjadi dilema akan pilihan dari orang tuanya.
Entah kenapa, hatinya terasa sakit saat menerima permintaan dari orang tuanya. Jiwanya seakan lemah begitu saja, Vella yang hari harinya terlihat ceria kini berubah total akan perasaannya sendiri. Vella merasa dirinya benar benar merasa rapuh dan tidak setegar seperti biasanya.
"Vella, ayo kita berangkat. Nanti kita telat, kasihan tuan rumahnya jika kita datang terlambat." Ajak Gio sambil menggandeng adik kesayangannya, Vella hanya pasrah dengan apa yang sudah direncanakan ayah maupun sang kakak.
__ADS_1
Didalam perjalanan, Vella masih saja terdiam sambil menatap luar jendela kaca mobilnya. Sang ibu yang melihatnya pun merasa kasihan dengan putrinya yang harus menerima perjodohan dari ayahnya sendiri. Namun, mau bagaimana lagi. Kedua orang tua Vella takut jika putrinya akan salah memilih pasangan hidupnya, tuan Raska benar benar tidak menginginkan putrinya mengalami hal yang serupa seperti Afna yang hampir saja menikah dengan Seyn.
Saat Vella sedang fokus melamun, tiba tiba suara ponselnya tengah mengagetkannya. Dengan cepat, Vella segera mengambil ponselnya didalam tas kecilnya.
Vella hanya celingukan saat mendapati ponselnya ada yang menelponnya, dengan ragu Vella mengangkatnya.
"Angkat saja, siapa tahu saja penting." Ucap sang ayah meyakinkan, tanpa pikir panjang langsung menerima panggilan.
"Hallo, ada apa Bos?" tanya Vella dengan suaranya yang sedikit lirih, ia takut jika sang ayah akan murka mendengarkannya.
"Tolongin aku dong Vell, cepetan kamu datang kerumahku. Aku sangat membutuhkan pertolonganmu untuk menjadi kekasih pura pura ku. Percayalah denganku ,aku akan memberi gaji untukmu sepuluh kali lipat. Bahkan apapun akan aku turuti, yang terpenting aku bisa beralasan. Bahwa aku sudah memiliki kekasih, kamu jangan khawatir." Tut tut tut tut, panggilan telfon pun diputus oleh Vella yang bingung harus menjawab apa.
Begitulah isi panggilan dari Bosnya, yang tidak lain Kazza yang tengah dilema akan perjodohannya dengan wanita yang menurutnya belum pernah ia temui. Vella hanya bisa diam tanpa bersuara, dirinya sendiri pun bingung untuk menjawabnya. Dengan terpaksa, Vella mematikan sambungan telfonnya.
"Vella, Vell ..." Seru Kazza memanggil nama Vella dengan Geram dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Dengan terpaksa, Kazza menuruti permintaan dari ayahnya yang memintanya untuk segera menikah dengan wanita pilihan ayahnya sendiri.
Sedangkan Vella yang masih dalam perjalanan hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang entah mau dibawa kemana perjalanan hidupnya.
"Sayang, jangan banyak melamun. Sebentar lagi kita akan sampai, persiapkan dirimu sebaik mungkin. Jangan memasang muka masammu itu, tidak baik." Ucap sang ibu mengagetkan, Vella pun segera tersadar dari lamunannya.
Kedua matanya merasa tidak asing dengan arah jalan yang kini tengah dilewatinya, dengan jeli Vella mencoba mengingatnya.
"Ma, memangnya rumahnya dimana?" tanya Vella penasaran.
__ADS_1
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri, susah untuk dijelaskan." Jawab sang ibu beralasan, berharap putrinya tidak dapat menebaknya.