
Setelah melakukan ritual panjangnya, Viko maupun Adelyn terlelap dari tidurnya.
Ketika jam lima pagi, sedikit demi sedikit Adelyn membuka kedua matanya. Saat kesadarannya sudah terkumpul, Adelyn tersadar jika dirinya tidur berbantalkan dada bidang milik suaminya.
Tidak hanya Adelyn terbangun dari tidurnya, Viko yang tertidur pulas pun ikut terbangun. Viko masih memeluk istrinya dalam balutan selimut yang sama.
Dengan pelan, keduanya menggerakkan salah satu anggota tubuhnya. Seketika itu juga, Adelyn maupun Viko meringis kesakitan. Bahkan ia tidak pernah merasa sakit melebih kerja rodi, Viko sendiri merasa tidak karuan dengan apa yang ia rasakan diantara anggota tubuhnya.
Begitu juga dengan Adelyn, bahkan ia merasa tersiksa seluruh badannya. Adelyn sendiri baru pertama kalinya merasa sakit yang menurutnya luar biasa, berkali kali hanya meringis menahan rasa sakitnya.
Viko yang melihat ekspresi istrinya yang kesakitan terasa tidak tega melihatnya. Viko semakin mengeratkan pelukannya, lalu mencium pucuk kepala istrinya.
"Maafkan aku, yang sudah membuat badanmu terasa sakit yang tidak karuan. Setelah ini, rada sakit tidak akan kamu rasakan kembali. Terima kasih ya, sayang. Kamu sudah memberiku sebuah mahkota yang sangat berharga untukku. Aku berjanji, aku tidak akan pernah menyakiti kamu, aku akan terus menjagamu dan akan selalu membuatmu bahagia. Aku sangat bahagia memilikimu yang benar benar sempurna untukku, aku sangat beruntung memilikimu. Aku menyayangimu, aku mencintaimu, selamanya." Ucap Viko, kemudian kembali mencium kening milik istrinya.
Sedangkan Adelyn, mendongak pandangannya ke wajah suaminya itu. Kemudian, ia tersenyum bahagia dan membalas pelukan suaminya dengan erat.
"Tidak hanya kamu yang beruntung, aku pun sangat beruntung dan bahagia memiliki suami sepertimu. Aku percaya sama kamu, bahwa kamu mampu membuatku bahagia walau hanya dengan kesederhanaan sekalipun." Jawab Adelyn, kemudian ia mencium pipi sebelah kiri milik suaminya.
Viko masih saja tersenyum, bahkan ia benar benar merasa sangat bahagia dan sulit untuk digambarkannya.
"Sudah terasa gerah, ayo kita mandi." Ajak Viko sambil bersandar.
"Duluan saja, aku masih mengendurkan otot otot ku yang terasa sangat kaku." Jawab Adelyn yang terasa masih malu untuk mandi bersama suaminya itu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Viko langsung meraih celana kolornya yang berserakan dilantai dan memakainya kembali. Kemudian dengan sigap, Viko langsung menggendong istrinya sampai ke kamar mandi.
"Kita akan mandi bersama, jangan malu. Kita sudah mengetahuinya satu sama lain, tidak perlu kita merasa malu malu lagi. Bahkan tidak ada sesenti yang belum aku lewati, semua sudah aku lewati tanpa tertinggal satu inc pun." Ucap Viko tersenyum menggoda, sedangkan Adelyn tersenyum malu malu saat suaminya mengakui semuanya.
Setelah tidak ada lagi kecanggungan pada diri Adelyn, keduanya berendam bersama. Tidak hanya itu, keduanya saling bergantian untuk menggosokkan bagian anggota tubuhnya yang sulit untuk dijangkauinya.
Berbeda dengan Zayen dan Afna, keduanya sama sama sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Zayen yang sibuk dengan laptopnya, meski diluaran sana masih terlihat gelap. Sedangkan Afna disibukkan dengan peralatan dapur. Meski sudah dilarang untuk beraktivitas didapur, Afna tetap melakukannya jika sudah bersikukuh untuk melakukan aktivitasnya. Hanya saja, jika sesuatu itu membahayakan kandungannya, Zayen selalu melarangnya. Namun, jika yang dilakukan istrinya hanya pekerjaan ringan, Zayen hanya mengawasinya lewat CCTV di laptopnya.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu tengah mengagetkan Zayen yang tengah fokus dengan laptopnya.
"Masuk saja, pintunya tidak terkunci." Sahut Zayen, kemudian pandangannya tertuju pada pintu yang terbuka dari luar.
"Sudah dari tadi Papa bangun tidur, Afna masih tidur?" jawab sang ayah, kemudian bertanya.
"Afna ada di dapur kok, Pa. Ada perlu apa, Papa menemui Zayen sepagi ini?" jawab Zayen dan balik bertanya karena penasaran.
"Sepertinya Papa akan menggagalkan kamu untuk berangkat ke Amerika, Papa dan mama tidak tega melihat Afna jauh dari kamu. Ditambah lagi sudah hamil besar, pasti sangat membutuhkan perhatian kamu. Papa tidak ingin, menantu Papa harus berpisah denganmu yang kedua kalinya. Papa dan mama benar benar tidak bisa melakukannya, biar Viko dan Adelyn yang akan berangkat ke Amerika." Jawab sang ayah memberi keputusan untuk putranya.
"Benar nih, Pa. Papa tidak bohong, 'kan?" tanya Zayen yang masih serasa tidak percaya atas ucapan dari ayahnya.
"Iya benar, Papa tidak bohong. Papa tidak akan membiarkan calon cucu Papa merindukan Papa nya, yaitu kamu. Sebenarnya Papa ingin menentukan siapa yang bersedia tinggal di Amerika. Tetapi, Papa masih menimbang nya kembali. Tentunya, Papa juga harus meminta persetujuan pada kedua mertua kamu dan kedua mertua Adelyn." Jawab sang ayah menjelaskan, seketika itu juga Zayen merasa dilema.
__ADS_1
'Sepertinya Papa akan memintaku untuk tinggal di Amerika, aku sendiri tidak bisa menjamin pada istri dan anakku nanti. Afna pasti akan menolaknya, semoga saja ada jalan keluar dan tidak menjadi beban antara aku dan Adelyn.' Batin Zayen mencoba menerka nerka ekspresi dari ayahnya.
Disaat itu juga, tuan Alfan dapat menangkap dari raut wajah putranya yang terlihat keberatan untuk tinggal di Amerika.
'Aku merasa tidak yakin, bahwa Zayen pasti tidak bisa untuk tinggal di Amerika, semoga saja Viko dan Adelyn tidak keberatan untuk tinggal di Amerika dan meneruskan kepimpinan di Perusahaan.' Batin tuan Alfan mencoba untuk menerkanya.
"Pa, kenapa diam?" tanya Zayen, tanpa ia sadari sendiri yang juga berdiam lama saat sang ayah menjaskannya.
"Tidak ada apa apa kok, Zayen. Papa hanya berpikir untuk mencari ide, Papa berharap semoga Viko dan Adelyn mau menerima permintaan Papa." Jawab sang ayah berusaha untuk mencari solusi, meski solusinya diantara salah satu anaknya yang harus bisa menggantikan posisinya.
"Maafkan Zayen ya, Pa. Jika Zayen tidak bisa memberi keputusan yang jelas, selain persetujuan dari istri juga ada pertimbangan untuk kedepannya." Ucap Zayen yang merasa tidak enak hati untuk menolak keinginan dari orang tuanya sendiri. Bukan bermaksud untuk menolak, namun ada seorang istri yang sedang hamil, pikir Zayen.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, Papa juga tidak memaksamu. Lagi pula, Adelyn tinggak di Amerika cukup lama. Berbeda dengan mama kamu ketika masih muda, justru memilih tinggal bersama kakek Angga. Berdoa saja, semoga Adelyn dan Viko mau tinggal di Amerika." Jawab ayahnya untuk meyakinkan putranya.
"Oh ... rupanya kalian berdua sedang sibuk mengobrol?" suara perempuan paruh baya tengah mengagetkan Zayen dan ayahnya yang sedang berada didalam ruang kerja milik Zayen.
"Mama," panggil Zayen.
"Afna sudah menyiapkan sarapan pagi, ayo turun." Ajak ibunya Zayen pada sang suami dan putranya.
"Iya ... jawab keduanya dengan serempak, dan segera keluar.
Sebelum meninggalkan ruang kerja, Zayen mematikan laptopnya. Kemudian segera ia turun dan menemui istrinya yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1