
Setelah banyak mengobrol dengan sang kakak, Neyla kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Serasa merasa capek dan jenuh, tidak terasa sudah waktunya untuk pulang.
Neyla segera bersiap siap untuk segera pulang, disaat hendak melangkahkan kakinya tersadar akan gelangnya yang masih diatas meja. Neyla segera meraihnya dan memasukkannya kedalam tas miliknya.
Selama berjalan hingga sampai didepan Kantor, Neyla menjadi pusat perhatian dari karyawan karyawannya. Terutama pada karyawan laki laki, semua tertegun dengan penampilan seorang Neyla yang terbilang sangat sederhana dan tidak menunjukkan sisi feminimnya. Penampilan tomboynya masih melekat pada jati dirinya. Meski tomboy, Neyla masih normal.
Namun, berita di luaran sana tengah membincangkan sosok Neyla yang dulunya terkenal Arogan. Lebih suka banyak teman laki laki dari pada perempuan, aktivitasnya pun lebih suka yang menantang. Bahkan, ia sempat ikut pelatihan bela diri. Namun sayangnya, keluarganya selalu menantang keras akan kebiasaan Neyla.
Meski demikian, Neyla pun tetap pada kodratnya. Hanya saja untuk menghilangkan kejenuhan, Neyla harus membuang energinya dengan cara berolahraga ataupun melakukan kegiatan yang menurutnya menguras keringat. Bahkan, Neyla lebih menyukai bela diri dan balap motor. Selain itu, hanya sebuah selingan semata.
Setelah mobilnya sudah berada di hadapannya, Neyla segera masuk kedalam. Selama perjalanan, Neyla menatap luar lewat jendela kacanya. Alih alih untuk menghilangkan kepenatannya selama duduk di kursi kerja.
"Pak, kita berhenti di sebuah bangunan yang selalu dijadikan pelatihan bela diri. Pak Rudi tahu, kan? tempat yang sering Neyla datangi." Pinta Neyla yang rindu akan masa masa dirinya masih remaja, usia yang masih belasan tahun itu.
"Baik, Nona. Tapi ... jika tuan Besar tahu, bagaimana?" jawabnya sedikit takut jika tuan Besarnya kembali mengetahui bahwa putrinya tengah berubah seperti dunia remajanya.
"Tidak perlu takut, serahkan saja pada Neyla. Pak Rudi tidak perlu khawatir, percaya saja dengan Neyla." Ucapnya untuk meyakinkan supirnya.
Dengan sigap, Neyla segera merogoh ponselnya yang berada didalam tas. Kemudian dengan cepat, segera ia mencari kontak nomor ayahnya.
Setelah muncul nama ayahnya, Neyla langsung menghubungi sang ayah. Berkali kali menghubungi, akhirnya sebuah panggilan masuk telah diterimanya.
"Pa, ini Neyla. Maafkan Neyla jika hari ini Neyla pulangnya sedikit terlambat, Neyla ada urusan di tempat pelatihan bela diri yang dulunya dijadikan tempat belajarnya Neyla dulu. Papa izinkan Neyla, 'kan?"
"Tapi, Ney ... untuk apa kamu mendatangi tempat itu? kamu sudah dewasa, jangan aneh aneh tingkah kamu itu. Sudah waktunya kamu harus segera menikah, apa kamu tidak ingin seperti Adelyn? sebentar lagi dia akan menikah. Kamu sendiri sibuk pergi ke pelatihan itu, apakah disana ada laki laki yang kamu sukai*?"
Neyla hening, dirinya bingung harus menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
__ADS_1
"Tidak ada, Pa ... soal jodoh, nanti juga bakal ketemu kok, Pa."
"Terserah kamu saja, pulang tepat waktu."
"Iya, Pa ..."
Seperti itulah percakapan Neyla dengan sang ayah, ia selalu mendapat larangan mengenai hobinya yang tidak kalah jauh seperti laki laki.
"Pak Rudi, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Neyla sudah meminta izin papa, pak Rudi tidak perlu khawatir." Ucap Neyla meminta untuk segera berangkat.
'Diizinkan sih, diizinkan. Masalahnya itu juga tanggung jawab saya, Nona. Saya harus menjaga Nona dengan baik, bahkan tidak ada satu goresan pada diri Nona.' Batinnya sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah memakan waktu cukup lama, Neyla telah sampai di sebuah pintu gerbang yang tidak asing dengan penglihatannya.
"Pak, bapak tunggu saja disini. Biar Neyla masuk kedalam, pak Rudi tidak perlu khawatir." Ucap Neyla sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Iya Nona, silahkan." Jawab pak Rudi pasrah.
"Neyla!!" teriak seseorang yang tengah mengagetkannya.
Neyla pun segera menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya seseorang yang tidak begitu asing di ingatannya.
"Vella!!" seru Neyla yang juga ikut berteriak memanggilnya. Keduanya pun saling berpelukan dan saling menepuk punggung satu sama lainnya.
"Apa kabarnya? kamu datang kesini juga?" sapa Neyla, ia pun tidak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan temannya sekaligus sahabatnya. Hanya Vella lah sahabat Neyla, yang lainnya laki laki semua.
"Kabar aku baik baik saja, Ney. Kabar kamu sendiri, bagaimana?" jawabnya dan balik menyapa.
__ADS_1
"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Ayo kita masuk, Vell. Aku sudah sangat merindukan dengan suasana yang dulu." Jawab Neyla dan mengajak sahabatnya untuk segera masuk kedalam.
"Ayo, aku juga sangat merindukan masa masa kita yang dulu." Ucap Vella penuh semangat.
Sambil berjalan, Neyla dan Vella saling bertukar cerita. Keduanya begitu menikmati obrolannya. Meski masih di kota yang sama, keduanya disibukkan dengan aktivitasnya masing masing. Hingga keduanya jarang mengadakan pertemuan bersama teman taman yang lainnya.
Sesampainya di dalam area pelatihan, Neyla dan Vella memberi salam hormat. Keduanya pun disambut dengan hangat, semua terasa saudara sendiri meski jarang untuk bertemu.
"Neyla, benarkah ini kamu?" seru seorang laki laki memanggilnya dan tidak begitu asing dimata Neyla.
"Iya, ini aku, Hen." Jawabnya datar.
"Bagaimana kabar kamu? kenapa kamu sulit untuk aku hubungi? apakah kamu pindah rumah?" tanyanya penuh pertanyaan.
"Kabar aku seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya?" jawabnya dan balik bertanya.
"Sama, kabarku baik baik juga." Jawabnya, sedangkan Vella segera pergi meninggalkan sahabatnya yaitu Neyla. Ia tidak ingin mengganggu obrolan dari sahabatnya itu dengan Hendi yang tidak lain adalah teman Vina.
"Vell, kamu mau kemana?" tanya Neyla yang tiba tiba suasana hatinya terasa mencekam. Bahkan, film horor pun kalah mencekamnya.
"Sudahlah, selesaikan dulu obrolan kalian berdua. Setelah itu, temui aku di area pelatihan sebelah ujung sana." Jawab Vella yang tidak ingin mengganggu.
"Neyla, tunggu! aku ingin berbicara denganmu." Panggil Hendi, disaat itu juga Neyla menghentikan langkahnya.
Hendi segera menghadang langkah Neyla yang akan menyusul sahabatnya itu. Dengan terpaksa, Neyla menuruti permintaan dari Hendi. Mau tidak mau, Neyla pun akhirnya pasrah dan tidak bisa mengelaknya.
"Apa yang mau kamu katakan padaku? bukankah sudah cukup kejalesan dariku yang dulu. Jangan mengganggu lagi, bukankan kamu sudah bahagia bersama Eva? sudahlah, jangan kamu ganggu aku lagi." Tanya Neyla yang serasa sudah bosan bila dirinya harus berdebat.
__ADS_1
"Ney, aku itu tidak memiliki hubungan dengan Eva. Percayalah denganku, Ney." Jawab Hendi berusaha meyakinkan Neyla.
"Apa? kamu bilang bahwa kamu tidak memiliki hubungan dengan Eva? bohongmu terlalu jujur. Aku melihatnya secara live, jika kamu tengah bertunangan dengan Eva. Kamu tidak perlu mengelak aku tau dari mana, karena aku jauh lebih tahu tanpa kamu ketahui." Ucap Neyla yang semakin geram melihat alasan yang sangat busuk keluar dari mulut Hendi.