
Adelyn dan Viko segera turun, keduanya nampak serasi. Sesampainya didepan butik, Viko menggandeng tangan milik calon istrinya. Semua karyawan menyambut kedatangan Viko dan Adelyn dengan hangat.
Semua menyapanya dengan hormat, Adelyn merasa bingung dibuatnya.
"Sayang, ayo kita kesana." Ajak Viko yang masih menggandeng tangan milik calon istrinya itu.
"Kemana, sayang?" tanya Adelyn penasaran.
"Hem ..." jawabnya berdehem.
Viko pun hanya berdehem, kemudian menarik tangan Adelyn menuju kesuatu tempat.
"Tunjukkan baju pernikahan kita berdua. Jika tidak cocok pada calon istriku, maka segera kamu ganti yang lebih baik lagi." Ucap Viko pada salah satu karyawan butik milik sahabatnya, yang tidak lain adalah Zayen.
"Baik Tuan, mari ikut dengan saya." Jawabnya, kemudian segera mengajak Viko dan Adelyn ke sebuah ruangan yang sudah disediakan tempat untuk mencoba baju pernikahan keduanya.
Viko maupun Adelyn mengikuti langkah kaki karyawan tesebut dari belakang.
Sesampainya didalam ruangan khusus, Adelyn dibantu oleh beberapa karyawan untuk mengenakan baju pernikahannya.
Dengan telaten dan penuh kesabaran, beberapa karyawan tengah merubah penampilan Adelyn secantik mungkin.
Viko hanya mengamatinya, ia pun mencoba menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sedangkan Adelyn masih mencoba baju pernikahannya.
Karena takut hasilnya tidak memuaskan, Adelyn sengaja untuk tidak membuka kedua matanya. Ia terus mrnhawasinya tanpa ada kata mengeluh apapun.
"Maaf Nona, sudah selesai. Silahkan dibuka kedua mata Nona, dan katakan saja jika Nona tidak menyukainya. Nanti akan saya menggantinya yang lebih bagus lagi." Ucap salah satu karyawan tersebut.
Disaat itu juga, dengan pelan Adelyn membuka kedua matanya. Dilihatnya perubahan pada dirinya sendiri, Adelyn pun kaget dengan penampilannya.
"Mbak, ini serius? benarkah yang ada dicermin itu, aku?" tanyanya serasa tidak percaya dengan baju pernikahannya.
__ADS_1
"Serius, Nona. Lihatlah, Nona sangat cantik mengenakan baju pernikahan." Jawabnya penuh yakin, seketika itu juga ia mendapat kode dari Viko. Segera ia menyingkir dari hadapan Adelyn tanpa berpamitan.
Disaat itu juga, Viko sudah berdiri di belakang Adelyn.
"Bagaimana? apakah kamu menyukainya? jika kamu tidak menyukainya, maka aku akan menggantinya yang lebih bagus lagi." Tanya Viko yang tiba tiba mengagetkan Adelyn yang tengah fokus dengan penampilannya.
Adelyn pun segera menoleh kebelakang, keduanya saling menatap satu sama lain. Viko yang merasa tergoda dengan penampilan calon istrinya, segera ia menepis pikiran kotornya.
"Jangan memikirkan yang aneh aneh, hem." Celetuk Adelyn yang tengah membuyarkan lamunan Viko yang masih fokus menatap wajah ayu milik calon istrinya itu.
Wajar dong, jika pikiran aku melancong ke wahana." Jawab Viko sambil meledek dan tersenyum menggoda.
Adelyn yang mendengarnya pun hanya menelan salivanya.
"Oh iya, bagaimana dengan penampilanku ini?" tanya Adelyn meminta kritikan.
"Kamu jelek, sangat dan sangat jelek." Jawab Viko dengan entengnya, seketika itu juga Adelyn mengerucutkan bibir manisnya didepan calon suaminya itu.
"Memang benar, sayang ... kamu itu belum sah jadi istriku. Jadi, cantiknya nanti setelah menikah menjadi istriku." Ucap Viko, kemudian tersenyum lebar.
"Sayang ... sudah dong ... aw!!" ringik Viko sambil melepaskan tangan milik Adelyn yang tengah mencubit pipi milik Viko dengan gemas. Lagi lagi Viko hanya bisa meringis sambil menahan pedas karena cubitan dari calon istrinya.
"Bagaimana rasanya? enak, 'kan?" tanya Adelyn, kemudian meninggikan satu alisnya sambil tersenyum pepsodent.
"Rasanya seperti bakso mercon, panas." Jawab Viko sambil mengusap usap kedua pipinya, Adelyn hanya tertawa kecil melihat ekspresi calon suaminya.
'Gile nih anak, tenaganya benar benar super. Pedas lagi cubitannya, apalagi ...' batinnya terhenti dari kalimatnya. Kemudian, ia senyum senyum sendiri tidak jelas. Entah apa yang sedang Viko hayalkan, hanya Viko sendirilah yang tahu dibalik pikiran konyolnya.
"Hei, senyum senyum sendiri lagi. Hem ... sangat mencurigakan, kamu ini." Ucap Adelyn sambil melambai lambaikan tangan didepan Viko yang sedang sibuk melamun.
"Mau tau, apa mau tau banget? hem." Ledek Viko, Adelyn hanya tersenyum getir mendengarnya.
__ADS_1
"Ah sudahlah, sekarang ganti pakaian kamu ini. Setelah itu, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang sudah aku janjikan denganmu tadi." Perintahnya, lalu mengajak Adelyn ke suatu tempat yang sudah ia janjikan. Disaat itu juga, senyum merekah tengah terlihat jelas di kedua sudut bibir milik Adelyn.
Tidak lama kemudian, salah seorang karyawan tengah membantu Adelyn untuk melepaskan baju pernikahannya.
Setelah semua sudah beres, Adelyn dan Viko segera pergi meninggalkan butik tersebut. Sesampainya di depan butik, Adelyn berpapasan dengan sosok perempuan yang tidak asing baginya.
"Neyla." Seru Adelyn memanggilnya.
"Adelyn." Neyla pun ikut memanggilnya.
"Cie ... yang sebentar lagi mau menikah." Ledek Neyla dan tersenyum menggoda.
"Iya dong, kamu kapan? aku dengar kamu dekat dengan saudara kak Zayen. Ngaku saja, ayo jujurlah." Jawabnya dan balik meledek.
"Hem, sok tahu kamu. Tahu dari mana, kamu? pasti kak Zakka. Siapa lagi kalau bukan dia orangnya, yang selalu mengikuti setiap langkahku. Bahkan, detik ini juga mata mata kak Zakka sudah berada di dekatku." Ucap Neyla yang merasa selalu mendapat pengawasan yang begitu mendetail, bahkan apa yang dibicarakannya pun sangat mudah untuk ditangkap.
"Kamu beruntung, Nona. Berarti keluarga Nona begitu ketat dalam menjaga Nona, karena Nona sangat berarti didalam keluarga Nona. Maka, bersykurlah." Ucap Viko ikut menimpali, Adelyn sendiri begitu serius memperhatikan calon suaminya itu yang sedang berbicara dengan saudara perempuannya.
"Iya, kamu benar. Jangan panggil aku Nona, aku dan Adelyn bersaudara. Panggil saja, Neyla. Dan, akupun pernah berteman dengan saudara kembar Adelyn, yaitu Zayen." Jawab Neyla yang merasa risih dengan panggilan Nona, Viko sendiri hanya mengangguk. Bahkan, senyum pun tidak pernah ia tunjukan pada perempuan lain selain didepan seseorang yang ia cintai. Berbicara pun terdengar sangat dingin, namun tetap menggoda dengan penampilannya.
"Oh iya, aku mau masuk. Aku tinggal dulu ya, Del. Sampai ketemu di hari pernikahan kamu nanti." Ucap Neyla berpamitan.
"Baiklah, aku tunggu." Jawab Adelyn, kemudian segera ia pergi meninggalkan butik bersama calon suaminya. Viko kembali menggandeng tangan milik Adelyn sampai diparkiran, setelah itu masuk kedalam mobil.
Didalam perjalanan, Adelyn dan Viko sama sama terdiam. Bahkan tidak ada yang membuka suara, keduanya sama sama menatap luar melalui jendela kaca mobil.
Setelah sudah dipertengahan jalan, Viko mencoba mencari ide untuk memberi sebuah kejutan untuk Adelyn. Berharap, rencananya akan berhasil.
"Sayang, lihat lah ini." Ucap Viko mengagetkan, Adelyn segera menoleh kearah calon suaminya.
"Maksudnya, apa? aku tidak mengerti." Tanya Adelyn penasaran.
__ADS_1
"Aku akan memberimu kejutan, dan aku ingin menutup kedua mata kamu dari sekarang." Jawabnya sambil menunjukkan sebuah kain kecil pada Adelyn.
"Hem ... kenapa mesti ditutup, sih?" tanya Adelyn.