Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Menahan sakit


__ADS_3

Setelah ibu tersebut duduk, Viko langsung bertanya ke pokok intinya.


"Bos, perkenalkan. Ibu ini namanya Marna, sekaligus seorang tukang pijat. Yang menurut orang lain bisa menyembuhkan orang yang mengalami sakit pada kaki atau tangan dan yang lainnya, contohnya yang berhubungan dengan saraf kejepit atau urat kejepit. Begitu intinya yang saya tahu, Bos." Ucap Viko berusaha menjelaskan. Sedangkan Zayen yang juga tidak mengerti tentang pijat memijat hanya nurut saja dengan Viko, anak buahnya sekaligus teman untuknya.


"Istrinya Bos sudah siap untuk pijat , 'kan?" tanyanya Viko dengan serius.


"Tentu saja, aku ingin istriku segera sembuh. Ajak ibu ini ke kamarku untuk segera memijat istriku."


"Iya, Bos." Jawabnya singkat.


'Rumahnya seperti ini, kenapa dipanggil Bos. Apa keduanya sedang tidak waras, apa laki laki ini kepala preman. Sehingga memanggilnya dengan sebutan Bos.' Gumamnya ibu Marna tidak percaya.


"Mari, Bu ... saya antar ke kamar."


"Baik, Nak." Jawabnya, kemudian ibu Marna maupun Zayen dan Viko segera bangkit dari tempat duduknya dan ibu Marna mengikuti langkah kaki Viko menuju kamar.


Didalam kamar, Afna sedang duduk di depan cermin sambil memotong kuku tangannya yang dirasa sudah cukup tidak nyaman.


Ceklek, Zayen membuka pintu kamarnya. Dilihatnya sang istri yang sedang sibuk memotong kukunya. Zayen segera mendekati istrinya, sedangkan Afna sendiri tidak meresponnya. Afna masih fokus pada alat potong kukunya, tanpa disadari sudah ada suaminya disampingnya. Tidak hanya itu, ibu Marna dan Viko sudah berdiri diambang pintu.


"Potong kukunya sudah selesai?" tanya Zayen yang tiba tiba mengambil alih alat pemotong kuku.


"Baru saja selesai. Ada apa, mau menagih yang tadi?" jawab Afna dan balik bertanya dengan polosnya, tanpa menyadari akan keberadaan Viko dan ibu Marna.


"Tidak, aku hanya ingin memberitahumu saja. Bahwa tukang pijat dan Viko sudah berdiri diambang pintu, lihatlah." Jawab Zayen kemudian jari telunjuknya menunjuk kearah Viko dan ibu Marna.


Sedangkan ibu Marna dan Viko saling pandang, keduanya sama sama menggelengkan kepalanya masing masing, seakan mengerti maksud dari ucapan Afna.


Zayen sendiri tidak perduli, jika Viko maupun ibu Marna mrngerti akan maksud dari ucapan istrinya. Mau bagaimana lagi, dengan enteng Afna mengucapkannya.


Afna tiba tiba tercengang saat melihat keberadaan dua orang yang sudah berdiri diambang pintu. Sedangkan Viko maupun ibu Marna hanya melempar senyumannya, tatkala Afna menatap kearah keduanya yang sedang berdiri diambang pintu kamarnya.


"Kenapa? kamu malu dengan ucapan kamu tadi, terlambat." Ucap Zayen sambil meninggikan satu alisnya. Afna sendiri hanya menelan salivanya, karena menahan rasa malu karena ucapannya sendiri.

__ADS_1


Setelah itu, Zayen kembali menghampiri ibu Marna.


"Silahkan masuk, Bu. Mari.." ucap Zayen mempersilahkan masuk untuk ibu Marna.


"Terimakasih, Nak." Jawabnya, kemudian segera masuk ke kamar. Sedangkan Afna terasa tegang saat ibu Marna mendekatinya. Perasaannya sedikit takut, ditambah lagi suaminya kini sudah keluar bersama Viko. Afna tidak dapat membayangkan rasanya dipijat pada bagian kakinya yang sakit.


"Jangan takut, Neng. Ibu tidak akan melukai Neng, kok."


"Iya, Bu. Maaf, apakah ibu tukang pijatnya?" tanya Afna memastikan.


"Benar, Neng. Kemarin nak Viko datang kerumah, katanya istri Bosnya kakinya bermasalah."


"Iya, Bu. Saya pernah mengalami kecelakaan, dan kata Dokter harus melakukan operasi. Tetapi saya tidak menginginkannya, karena disaat itu saya sedang mengalami trauma berat." Jawabnya lesu, Afna kembali teringat saat dirinya mengalami kecelakaan bersama Seyn.


"Oooh begitu ya, Neng. Maafkan ibu Marna, jika pertanyaan ibu membuat neng cantik menjadi sedih. Semoga setelah ibu pijat nanti, kaki miliknya Neng cantik segera pulih kembali."


"Iya Bu, semoga." Jawabnya yang merasa harapannya tipis untuk bisa sembuh, apalagi sang Dokter yang sudah memvonisnya tidak akan bisa disembuhkan.


"Kalau boleh tau nama neng, siapa? buat ibu enak memanggilnya." Tanya ibu Marna.


"Nama yang cantik, dan secantik orangnya. Kalau begitu, neng Afna silahkan duduk bersandar. Agar tidak begitu kesulitan saat menahan rasa sakit, atau boleh juga suaminya neng cantik menemani disisi sebelah neng."


Tanpa Afna sadari, Zayen sudah berdiri tidak jauh darinya. Tidak hanya itu saja, Zayen pun sempat mendengar ucapan dari ibu Marna.


"Jangan khawatir, aku akan duduk disampingmu. Jika kamu tidak dapat menahan rasa sakit, aku siap untuk menjadi pegangan untuk kamu." Ucap Zayen yang tiba tiba mengagetkan Afna, istrinya.


"Kenapa kamu sudah berada disini, bukankah kamu sedang bersama teman kamu si Viko."


"Oooh jadi kamu tidak mau aku temani, baiklah aku segera keluar." Jawabnya sedikit kesal, entah kenapa Zayen sangat sensitif jika istrinya menyebut nama laki laki lain, meski itu hanya seorang Viko sekalipun.


"Bukan begitu maksudku, ayolah temani aku disini." Ucap Afna sambil merengek dan menarik tangan suaminya.


'Andai saja, tidak ada tukang pijat. Aku sudah menerkam istriku tanpa jeda.' Gumam Zayen dengan pikiran kotornya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan temani kamu sampai selesai memijat. Setelahnya, aku akan meminta upah darimu." Dengan entengnya, Zayen asal berbicara terhadap istrinya didepan ibu Marna tanpa rasa malu. Sedangkan Afna sendiri menahan rasa malu atas ucapan dari suaminya. Afna hanya bisa mengangguk dan berdiam diri, takut apa yang diucapkannya akan salah.


"Apakah neng Afna sudah siap untuk di pijat?"


"Iya Bu, saya sudah siap. Memijatnya jangan kuat kuat ya, Bu. Saya takut menahan rasa sakit yang berlebihan, karena baru pertama kalinya saya pijat kaki." Jawab Afna sedikit takut.


"Jangan khawatir, ibu tidak akan membuatmu kesakitan yang berlebihan. Lagian ada suaminya neng Afna, ibu rasa akan hilang seketika rasa sakitnya." Jawab ibu Marna sambil meledek pada kalimat terakhirnya.


"Ibu bisa saja," jawabnya tersenyum. Kemudian melirik kearah suaminya, Zayen pun hanya meninggikan satu alisnya.


Perasaan Afna sudah mulai tegang, saat ibu Marna memegangi kakinya. Afna sendiri mulai mencengkram lengan suaminya sambil menahan rasa sakitnya.


"Awww!! sakit! cukup! cukup! sakiiiiit!" teriaknya menahan rasa sakit. Afna terus mencengkram lengan suaminya sekuat mungkin, sedangkan Zayen tidak emosi sedikitpun saat istrinya mencengkram lengannya dengan kuat.


"Sabar ya, tidak lama lagi selesai kok, Neng ... ditahan sebentar."


"Tapi sangat sakit, Bu .... aaaaw!! sakit! cukup!" afna masih terus berteriak sekencang mungkin sambil menahan rasa sakitnya.


"Sabar, Neng ..." ucap ibu Marna menenangkan.


"Sakit, Bu .... aaaaw!! sakiiit!" jawabnya sambil meringis kesakitan sambil mencengkram lengan suaminya dengan kuat.


Setelah melakukan pemijatan yang lumayan cukup lama, ibu Marna langsung menyudahinya. Dilihatnya dari raut wajah milik Afna yang sudah terlihat sangat merah karena menahan rasa sakit pada kakinya.


"Bagaimana rasanya, Neng? coba kakinya neng Afna di goyangkan pelan pelan. Masih terasa sangat sakit atau sudah ada perubahan." Tanya ibu Marna sambil mengelap tangannya bekas minyak urut.


Dengan pelan, Afna mencoba menggerakkan kakinya yang baru saja dipijat oleh ibu Marna.


"Apa!! benarkah ini. Aku sedang tidak lagi mimpi, 'kan? aaaw!! sakit!" ucap Afna merasa senang saat dapat menggerakkan pergelangan kakinya, namun tiba tiba berteriak saat merasakan sedikit sakit pada pergelangan kakinya.


"Pelan pelan, Neng. Jangan dipaksakan jika masih terasa sakit." Ucap ibu Marna menasehatinya.


"Iya, Bu. Mungkin karena saya sudah tidak sabar ingin segera sembuh." Jawab Afna sedikit terasa lega saat kakinya dapat gerakkan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Zayen, perasaannya pun ikut senang saat melihat pergelangan kaki Afna dapat digerakkan. Itu berarti, Afna masih ada kesempatan untuk bisa sembuh.


__ADS_2