Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kecewa


__ADS_3

Tidak lama kemudian, Afna mulai menggerakkan jari jemarinya. Sedikit demi sedikit, Afna membuka keduanya pelan.


"Ma ... suami Afna dimana? suami Afna baik baik saja, 'kan ma?" Ucap Afna sambil meraih tangan milik ibunya.


"Suami kamu ...." ucapnya terhenti, berat untuk berterus terang. Antara membohongi dan berkata jujur kepada putrinya yang harus dijaga perasaannya.


Kazza yang sekilas melihat adik kesayangannya berbaring di tempat tidurnya, perasaan Kazza seakan teriris perih. Nafasnya pun terasa sesak, dan penuh penyesalan. Kazza sendiri bingung untuk menjawab pertanyaan dari adik kesayangannya, hanya menunduk dan terdiam.


"Kenapa semuanya diam, apa benar yang dikatakan kak Kazza?"


"Kenapa kamu diam, Kazza. Jawab pertanyaan adik kamu, bukankah baru saja kamu menyombongkan dada kamu. Bukankah ini semua yang kamu mau? katakan." Ucap sang ayah yang menginginkan putranya bertanggung jawab akan kesalahannya sendiri.


"Iya, Afna. Aku yang sudah melakukannya, aku yang sudah memenjarakan suami kamu. Bahkan aku pun tidak mau mendonorkan darahku untuknya, karena kebencianku terhadap suami kamu yang tidak pernah jujur terhadap kita." Jawab Kazza yang masih dengan posisinya, menunduk tanpa mendongakkan kepalanya.


"Kenapa nyalimu menjadi menciut, kenapa kamu tidak menyombongkan bicaramu seperti yang kamu lakukan kepada papa." Ucap sang ayah yang masih berada didepan putranya. Hanya saja, posisi Kazza duduk di sofa. Sedangkan sang ayah berdiri didepan putranya.


Tanpa pikir panjang, Kazza langsung bangkit dari tempat duduknya. Dengan pelan, Kazza mendekati Afna yang tengah berbaring diatas tempat tidur yang masih ditemani ibunya.


Sedangkan Afna sendiri kini menunjukkan tatapan kebenciannya terhadap saudara kembarannya sendiri. Dengan nafasnya yang terasa berat, Afna mencengkram kuat sepreinya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih dalam genggaman ibunya.


Setelah berada dihadapan Afna, Kazza segera berjongkok untuk meminta maaf atas semua kesalahannya terhadap adik kesayangannya itu.

__ADS_1


Kazza berusaha meraih tangan Afna yang masih berada pada genggaman ibunya. Dengan cepat, Afna langsung menepis tangan milik saudara kembarannya.


"Jangan! sentuh aku. Sekarang, pergi! dari hadapanku. Aku muak melihat kakak, aku benci memiliki kakak sepertimu."


"Afna ... maafkan kakak, Afna. Maafkan kakak, yang sudah melukai hatimu. Kakak benar benar menyesali perbuatan kakak terhadapmu dan juga suami kamu. Kakak mohon, beri kesempatan untuk kakak meminta maaf." Ucapnya yang masih dengan posisinya berjongkok penuh penyesalan.


Afna masih terdiam dan membisu, bibirnya terasa berat untuk berucap meski hanya sepatah kata. Afna benar benar tidak pernah menyangkanya, jika sang kakak telah tega memisahkan adiknya dengan suaminya.


"Kazza, ikutlah ke ruangan kerja papa. Bawa ponsel dan juga laptopmu ke kamar papa. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan empat mata, tidak ada kata menolak." Perintah sang ayah dengan tegas. Kazza sendiri hanya bisa nurut, dirinya sudah tidak lagi berani untuk menyombongkan ucapannya itu.


Sedangkan Afna masih ditemani ibunya, sebisa mungkin untuk menenangkan putrinya yang sedang dirundung kesedihan.


Setelah sampai di ruang kerja, Kazza dan ayahnya kini duduk berhadapan. Kazza masih dengan diamnya, dirinya tidak lagi berani untuk bersuara walaupun hanya sepatah kata.


"Kazza mengerti, Pa. Sebisa mungkin, Kazza akan menjawabnya dengan jujur." Jawabnya, kemudian kembali diam dan tidak lagi mengeluarkan sepatah kata apabila tidak mendapatkan pertanyaan dari ayahnya.


"Katakan dengan jujur, siapa yang membuatmu melakukan semua ini."


"Orang tersebut mengatakan, bahwa dirinya mengaku anak buah dari paman Alfan." Jawab Kazza dengan menunduk.


"Lihat ke papa, jangan menunduk. Tunjukkan kepada papa, orang yang sudah mencuci otakmu." Perintah sang ayah yang sudah mulai penasaran.

__ADS_1


"Sebentar Pa, Kazza carikan bukti buktinya." Jawab Kazza sedikit gemetaran saat meraih ponselnya dan membuka laptopnya sendiri. Sedangkan sang ayah sudah berdiri dibelakang putranya, berharap tidak lagi mendapat kebohongan dari putranya sendiri.


Berkali kali Kazza mencari percakapan dengan seseorang yang mengaku anak buah tuan Alfan, tiba tiba semua percakapan maupun pesan yang masuk pun hilang begitu saja.


"Sial!! kenapa, semua pesan dan panggilan masuk pun menghilang." Gerutunya sambil menggebrak meja.


Sang ayah yang berada dibelakangnya pun merasa geram, entah siapa yang harus ia benci. Apakah putranya yang sudah menghapusnya, atau ... memang benar pemilik pesan tersebut yang telah menghapusnya. Tuan Tirta masih meragukan putranya sendiri, mau tidak mau akan terus menyelidiki putranya. Takut, jika putranya akan dijadikan kambing hitam dan sasaran empuk dari orang yang sudah merencakan misinya untuk menghancurkan bagian keluarga Danuarta maupun keluarga Wilyam.


"Pa, Kazza serius. Kazza tidak lagi bohong, percayalah dengan Kazza. Bahwa yang menghapus pesan dan panggilan masuk bukanlah Kazza. Percayalah dengan Kazza, Pa ..." ucap Kazza memohon, dan berusaha untuk berkata jujur didepan ayahnya sendiri.


"Papa akan mempercayaimu, namun tidak sepenuhnya. Soal Afna mau atau tidaknya memaafkan kamu, papa minta sama kamu untuk bersabar. Sekarang Afna sedang hamil, bahkan pikirannya pun harus benar benar tenang. Jika sampai pikirannya terganggu, maka resiko besar kemungkinan adalah janin yang dikandung adik kamu akan bermasalah. Dan, harapannya pun sangat tipis." Jawab sang ayah menjelaskan.


"Terimakasih, Pa. Maafkan Kazza yang sudah membuat kesalahan besar terhadap rumah tangga Afna dan dua keluarga besar Danuarta dan Wilyam. Kazza benar benar menyesalinya, dan Kazza pun akan meminta maaf kepada Zayen. Kazza akan mempertanggung jawabkan semuanya. Jika masih diizinkan, Kazza akan mendonorkan darah milik Kazza untuk Zayen." Ucapnya penuh sesal.


"Ini pelajaran buat kamu, agar kamu bisa lebih berhati hati untuk mendapatkan informasi." Tutur ayahnya mengingatkan.


"Iya, Pa. zmulai detik ini, Kazza akan lebih berhati hati lagi untuk mempercayai seseorang. Kazza tidak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya." Jawab Kazza mencoba untuk meyakinkan ayahnya.


"Jangan menampakkan wajahmu didepan Afna terlebih dahulu, biarkan jiwanya menerima kenyataan ini dengan lapang. Papa akan segera menghubungi paman kamu, Alfan. Apakah sudah mendapatkan pendonor ataukah belum. Jika ingin sarapan pagi, kamu bisa pergi ke Restoran. Ingat! ganti nomor ponsel kamu maupun ponselnya juga. Sambungkan penyadap dengan nomor papa, itu jauh lebih baik." Pinta sang ayah memaksa putranya.


"Baik Pa, Kazza pamit." Jawabnya, kemudian sang ayah memeluk putranya sebentar. Berharap, tidak lagi mudah menjadi hasutan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Setelah cukup lega, meski sedikit masih penasaran. Tuan Tirta berusaha untuk tidak memiliki prasangka buruk terhadap putranya sendiri.


'Semoga, Kazza tidak lagi dijadikan umpan. Jika ia, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kedua anakku dan juga menantuku serta calon cucuku nanti. Semoga semua masalah akan segera terselesaikan, dan tidak ada lagi kebencian maupun dendam yang berkepanjangan.


__ADS_2