Suamiku Anak Yang Terbuang

Suamiku Anak Yang Terbuang
Kejujuran


__ADS_3

Saat akan memasuki Restoran, Seyn menggandeng tangan Neyla dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam Restoran. Sesampainya didalam Restoran, semua pelayan menyambutnya dengan hangat. Neyla sendiri merasa heran dibuatnya, namun tidak begitu pedulikan.


Neyla menganggapnya hal yang lumrah jika ada pelanggan yang datang. Sedangkan Seyn, kemudian mengajak Neyla kesuatu tempat duduk yang bisa dijadikan tempat privatnya.


"Kita mau duduk disebelah mana, sih? perasaan dari tadi ada tempat duduk yang kosong dan juga lumayan tidak padat. Kenapa kamu masih saja jalan terus?" tanya Neyla dengan perasaan heran.


"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang nyaman untuk kita berdua, aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman saat menikmati makanan." Jawab Seyn yang masih menggandeng tangan milik calon istrinya itu sambil berjalan.


"Oh iya, kenapa tadi para pelayan begitu hormat denganmu? apakah ada hubungannya denganmu?" tanya Neyla yang tidak bisa menyimpan rasa penasarannya.


"Nanti akan aku jelaskan, kamu akan mengetahuinya setelah kita menikmati makan siang." Jawab Seyn, dan tidak terasa sudah berada di suatu tempat yang dituju.


"Ayo masuk, aku sudah memesannya tadi. Jadi, kita tidak perlu memanggil pelayan." Ajak Seyn, kemudian segera masuk dan duduk saling berhadapan. Seketika, Neyla merasa curiga dengan tempat yang didatangi oleh calon suaminya itu.


Neyla yang sudah tidak sabar, ingin rasanya secepat mungkin mendapat penjelasan dari Seyn. Namun, Seyn sendiri sudah mengatakan akan menjelaskannya ketika sudah selesai menikmati makan siangnya.


Mau tidak mau, Neyla hanya bisa nurut. Ia tidak ingin kecurigaannya akan menimbulkan masalah yang tidak penting, pikirnya.


Tidak lama kemudian, ada sekitar tiga pelayan tengah datang membawa berbagai macam makanan dan dua gelas minuman. Dengan telaten, Seyn ikut melayani Neyla dengan perhatiannya.


Neyla sendiri serasa tidak percaya, seorang Seyn yang terbilang tidak mempunyai perasaan, tetapi mampu menunjukkan sikap baiknya didepannya begitu nyata dan gamblang.

__ADS_1


Neyla terus memperhatikan Seyn yang sedang mengambil porsi untuknya dan untuk dirinya sendiri.


"Ayo, dimakan. Nanti keburu dingin, rasanya akan terasa hambar jika kamu melewatkannya. Apa perlu aku suapin? tenang saja, aku tidak keberatan." Ucap Seyn sambil menatap lekat wajah Neyla, seketika itu juga Neyla dibuat kikuk olehnya.


"Tidak perlu repot repot untuk menyuapi ku, aku bisa menyuapinya sendiri." Jawab Neyla, kemudian meraih sendok dan menyendoki makanan yang ada digiring. Lalu, Neyla menyuapinya sendiri.


Sedangkan Seyn sendiri lebih fokus dengan menatap wajah cantik milik calon istrinya itu, dari pada dengan porsi makanannya sendiri.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? ada yang lucu 'kah? atau ... ada yang aneh dengan caraku makan? katakan saja, aku akan merubahnya." Tanya Neyla sedikit bingung untuk mengartikan tatapan Seyn padanya.


"Kamu sangat cantik, dan juga berbeda dengan perempuan lainnya. Kamu sangat spesial untukku, tidak akan pernah tergantikan." Jawab Seyn sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya dan menikmati pemandangan yang tidak membosankan penglihatannya itu.


"Aku salah alamat, sudah aku katakan waktu ditaman. Aku mengira pemilik gelang itu Afna, tapi ternyata kamu lah sang pemilik gelang itu. Dan, aku pun tidak pernah memuji Afna seperti yang aku katakan padamu. Selain ada hal yang terselubung, aku tidak begitu yakin dengan rasaku ini. Aku masih penasaran dengan pemilik gelang itu, buktinya saja aku menyimpannya sangat hati hati. Apa bukti dariku masih kurang sempurna? Katakan saja, dengan cara apa agar aku bisa menyempurnakan bukti untuk kamu." Jawab Seyn dengan panjang lebar, berharap perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta akan percaya sepenuhnya.


Sedangkan Neyla sendiri masih diam, Neyla lebih memilih untuk melanjutkan suapannya. Begitu juga dengan Seyn, ia juga menikmati makan siangnya.


Keduanya masih nampak saling diam tanpa bersuara, bahkan tidak ada yang berani untuk membuka suara. Hanya suara sendok yang menyentuh piring ketika keduanya sibuk dengan suapannya masing masing.


Tatkala makanannya sudah tidak tersisa dipiring, Seyn maupun Neyla sama sama minghabiskan minumannya. Mungkin tidak hanya pikirannya yang panas, tetapi tenggorokannya pun ikut terasa panas. Hingga minuman satu gelas besar langsung habis begitu saja.


Setelah dirasa sudah tidak lagi keroncongan, Seyn kembali menatap lekat wajah calon istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu marah? maafkan aku, jika ucapan pujian untukmu tadi telah membuatmu kesal." Tanya Seyn yang berusaha untuk meminta maaf, ia menyadari jika dirinya sudah tercoreng buruk atas masa lalunya.


Sebaik mungkin caranya, tetap saja akan ada tanda tanya yang terkadang sulit untuk dipercaya oleh orang lain, pikirnya Seyn.


"Aku percaya kok, sama kamu. Apa yang dikatakan Papa, selalu mengingatkan aku. Oh iya, katanya kamu mau menjelaskan yang tadi aku tanyakan. Apakah kamu sudah siap untuk menjelaskannya padaku? aku sudah tidak sabar dan sangat penasaran tentang kamu dan Restoran ini." Jawab Neyla, kemudian ia teringat akan janji Seyn yang menjelaskan tentang Restoran yang didatanginya.


"Terima kasih, ya. Jika kamu sudah mau percaya denganku, aku sangat senang mendengarnya. Soal Restoran ini, tentu saja kamu pun harus mengetahuinya." Ucap Seyn dan tersenyum sambil menatap Neyla tanpa bosan.


"Kenapa berhenti? cepat dong jelaskan, kenapa kamu menatapku seperti itu? membuatku kikuk saja, kamu ini." Jawab Neyla memaksa.


"Iya ya, aku akan menjelaskannya padamu. Jadi begini, Restoran ini sebenarnya milikku."


"Apa!!! milikmu?" teriak Neyla tanpa sadar, Seyn yang mendengarnya hanya mengernyitkan dahinya.


"Hem ... iya, ini Restoran ini milikku. Aku sengaja membelinya tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan, Zayen dan mendiang papaku saja tidak mengetahuinya. Aku memiliki Restoran ini sengaja untuk berjaga jaga saat aku di penjara, karena aku sudah merasa jika akan ada hal buruk yang akan terjadi. Ditambah lagi Zayen yang juga tidak kalah pintarnya, maka aku harus berjaga jaga. Dan, kenyataannya pun terjadi. Tidak hanya aku yang dipenjara, tetapi juga Zayen." Jawab Seyn menjelaskan panjang lebar, Neyla pun mengangguk mengerti.


"Terima kasih, kamu sudah banyak menceritakan kebenaran. Meski itu menyakitkan, tapi sekarang kamu bisa lepas dari belenggu itu. Dan, sekarang kamu tidak lagi dihantui oleh masa lalumu itu." Ucap Neyla, Seyn pun tersenyum mengembang dan merasa bahagia dapat menemukan seorang perempuan yang begitu baik dan dapat menerima apa pun masa lalunya itu.


Seyn meraih kedua tangan milik Neyla dan menggenggamnya dengan erat, seakan tidak ingin melepaskannya.


"Aku janji, aku akan membahagiakan kamu dengan caraku sendiri. Biarkan masa laluku menjadi cambuk untuk menjadikanku sosok laki laki yang bertanggung jawab dan dapat merubah kepribadianku menjadi lebih baik lagi." Ucap Seyn untuk meyakinkan calon istrinya, Neyla mengangguk dan keduanya saling tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2